Seorang perempuan muda berdiri di balik pintu kayu Mahoni, menatap lurus ke arah lorong penghubung ruang kamar yang langsung menuju ke ruang tengah keluarga. Manik cokelat gelap matanya memperhatikan wanita yang sedang duduk di atas karpet permadani sembari memangku seorang malaikat. Ia pernah melahirkan dua kali dan jarak kelahirannya lebih dari satu dasawarsa. Tapi dari kedua kelahiran itu, satu tak merasa ia dipanggil anak. Telanjur ia diredam suaranya di dalam bak air dan ditikam punggung kecilnya menggunakan belati yang diasah dengan cadas. Dan sejak saat itu, yang tersisa hanya raga dan nama di kartu keluarga.
***
Langit hari Minggu menjelang tunggang gunung berkabut diselimuti awan kelam, tapi tak ada hujan renyai. Jihan duduk di belakang bapak yang sedang menarik gas sepeda motor, roda kendaraannya terus berputar di atas aspal kasar. Gadis itu bersedia repot-repot menoleh ke mana pun selain menghadap helm merah yang terpasang di kepala bapak. Hidungnya mengkerut tak sanggup menghirup asap tembakau yang terus menerus menyelinap masuk ke rongga hidung karena terbawa angin ke belakang, melintasi wajahnya.
Ia tak pernah suka aroma lintingan tembakau. Tetapi hidungnya terus dipaksa menghirup dari orang sekitar. Gadis itu pernah protes perihal kebiasaan si bapak menghisap tembakau saat berkendara, tapi respon lelaki itu tak pernah serius dan terus saja diulang. Seperti akar yang ditanam terlalu kokoh di dalam tanah yang subur, semakin mencuat pula kebiasaan si bapak menghisap lintingan tembakau.
Telinganya bahkan lebih mentolerir bising kendaraan yang lalu-lalang ketimbang hidungnya menghadapi asap pahit. Ragam bunyi-bunyi motor lain bersahutan di jalanan. Ada yang seperti kaleng dipukul tak henti-henti, botol plastik yang diselipkan di jari-jari roda, sampai lengkingan yang memekakkan telinga pun menemani perjalanan sore itu.
Jihan baru saja menemani bapak ke toko mainan membeli satu set kereta lengkap dengan gerbong-gerbong muatan batu dan rel besi yang melingkar. Harganya hampir seratus ribu. Untuk Naufal katanya, pangeran kecil di keluarga sejak tiga tahun terakhir. Padahal beberapa hari kemarin Jihan sempat meminta patungan dengan bapak untuk mengganti sepatunya yang rusak.
Malamnya ia mati-matian dalam kebingungan memikirkan haruskah ia bertanya? Pantaskah meminta? Tapi kalau tidak pada sang bapak, pada siapa?
Hari itu, ketika langit sudah layung. Jihan menghampiri bapak yang sedang mengisi blong air. “Pak, sepatu sekolahku sudah sobek. Bapak sedang ada uang tidak?” tanyanya hati-hati dan penuh ragu. Kemudian sebelum bapak membalas, ia menambahkan cepat-cepat, “Tak usah banyak-banyak, sisanya pakai uangku. Kita patungan.”
Bapak hanya melirik sekilas dengan tatapan yang semakin memompa keraguan dalam hati Jihan. Ia memasang selang ke keran air yang belum dinyalakan dan memutar kepala keran agar air mulai mengalir.
“Kapan-kapan saja ya, bapak mau belikan adikmu mainan baru.”
Jawaban itu jauh dari harapan tapi tak meleset dari tebakan, ekspresi wajah Jihan langsung jatuh dan lesu. Terhapus sudah harapan disetujui sekali saja permintaannya. Ia menganggukkan kepala dan langsung masuk kembali ke dalam rumah.
Namun, esok paginya ketika Jihan sedang menyapu dan melewati rak sepatu. Sepasang sepatu hitam dengan tali yang menjuntai menarik perhatian pemiliknya. Robekan yang ada di badan sepatu sudah rapat dengan benang gelap sedangkan pinggiran yang lepas direkat dengan lem dari warung. Pada saat itu hati gadis berambut panjang yang diurai dan tangannya masih mengapit sapu, sangat campur aduk. Perasaan kesal akan tak pernah diutamakan dan sayang bercampur miris karena bapaknya menolak tapi juga mengusahakan sebisa mungkin. Sejak hari itu, ia tahu tak bisa banyak berharap. Tapi tubuhnya tetap bangun setiap hari, seperti tak ada yang patah.
***
Hari silih berganti, pagi ini Jihan bangun seperti biasa, jam di dinding kamar tak pernah berbeda menampilkan angka. Jam lima dengan jarum panjang ke angka dua. Terasa seperti itu sejak dua tahun yang lalu, sejak adik lelakinya menginjak usia satu tahun dan perhatian Ibu yang awalnya masih ada tipis-tipis jadi berkurang drastis, atau bahkan ikut hilang bersama dengan jiwa anak perempuan pertama yang ia tikam perlahan-lahan tapi pasti, menyisakan hanya raga dan hati yang setengah mati untuk merasakan sebiji kebaikan tak pernah berpihak di dalam rumah yang tak pernah merangkul.
Maka dari itu, sejak dua tahun lalu pula ketika ia duduk di kelas sembilan, Jihan lebih memilih untuk sering-sering tidak di rumah. Main di rumah teman dekat. Bukan untuk hal aneh-aneh yang akan menyeretnya tenggelam dalam dunia gelap remaja, tidak seperti itu! Sama-sama di ruang yang disebut kamar tapi lebih hangat daripada miliknya sendiri.
Jihan sudah mengenakan seragam batik sekolah yang berwarna cokelat lalu ia keluar dari kamarnya yang dekat dengan dapur. Mariani baru saja mencolokkan steker listrik yang terhubung dengan kabel penanak nasi ke dalam stop kontak.
“Jihan, hari ini tidak usah bawa bekal ya? Ibu tak sempat. Adikmu pasti sebentar lagi bangun.”
Seingat anak perempuan Mariani, kalimat itu sudah sering sekali keluar dan Jihan hapal betul walau masih ada sisa-sisa harap untuk tidak demikian. Ia mengangguk kemudian mencium punggung tangan Mariani setelah menanggapi, “Ya sudah, nanti aku beli nasi di kantin saja.”
Bapak sudah tidak di rumah, ia sudah di tempat kerjanya. Mendorong gerobak sorong berisi batu atau pasir di rumah pak RT yang kebetulan mau meningkatkan rumah.
***
Jihan berlari kecil ketika sore itu gerimis mulai turun, tangannya memeluk erat sterefoam dengan cetakan kertas yang ditempel bertuliskan, “Juara 1 Lomba Story Telling Tingkat Kota”. Di bawahnya ada nominal hadiah sebesar dua juta rupiah.
“Bu, aku menang lomba! Bu!” ujar Jihan begitu girang sembari terus berlari mendekati rumah.
Mariani yang sedang duduk di teras rumah berdiri dengan senyum sama bahagianya dengan Jihan kala itu. Sesaat ia sempat melangkah ke depan, tapi tak ada pelukan yang diberikan sebagai wujud dari harapan hati gadis itu.
“Wah! Alhamdulillah kalo gitu,” ujar Mariani dengan nada yang memang berbeda dari datar yang biasa
digunakan, tapi tak benar-benar antusias.
“Lumayan uangnya, bisa buat bantu-bantu ibu dan bapak,” tambahnya, membuat Jihan hanya terus memasang senyum kecil kemudian mendorong pintu kayu kamarnya yang diplitur.
Bapak belum pulang dari kerja, biasanya menjelang Maghrib baru ia akan masuk ke rumah. Maka dari itu, Jihan menunggu Sofyan untuk diberi tahu soal kabar ia memenangkan lomba.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan teng, gadis bernama Jihan itu membuka matanya dengan enggan. Rasanya berat sekali kantuk yang menetap di matanya. Ia jadi ingat ucapan sang almarhumah nenek, “Kalau mengantuk itu mata kan menjadi berat, nah itu karena banyak setan sedang berayun-ayun di bulu mata. Menggoda untuk terus tidur.”
Jihan tersenyum sedikit mengingat kalimat itu, ia tak benar-benar percaya tapi mengiyakan saja saat itu. Telapak kakinya yang telanjang menyentuh ubin yang dingin, ia menggigil sedikit dan melangkah gontai sembari mengumpulkan seluruh kesadaran. Jemarinya meraih kenop pintu dan dibuka setengah, cukup untuk matanya mendapatkan pemandangan yang membuat jantungnya berpacu cepat.
Ia sempat tersenyum haru dan mata sedikit basah ketika melihat bapak berdiri di ruang tengah sedang memegang kue torta varian tiramisu dengan ceri di atas, kesukaan Jihan. Api-api kecil menyala di lilin beragam warna yang tertancap di torta itu. Detik berikutnya air mata yang menggenang di pelupuk mata kirinya tumpah lebih dahulu ketika ia sadar Sofyan tidak berjalan menghampiri ia sebagai anak, melainkan Naufal kecil yang menatap torta itu dengan binar.
Kilat polos yang gadis di balik pintu anggap licik, dari malaikat tanpa sayap dan pangeran rumah yang diagungkan, selalu membuat Jihan bertanya-tanya bagaimana ia bisa dihujani cinta sementara gadis itu hanya seperti Upik Abu? Pantaskah ia selalu merasa cemburu pada anak kecil yang tahunya hanya mengacak kamar kakaknya karena rasa penasaran? Ia jadi ingat percakapan singkat nan ringan buah hasil dari pertanyaan iseng yang ia lemparkan ke ibu di dapur.
“Bu, kalau aku punya kakak laki-laki. Ibu lebih sayang siapa? Abang atau aku si bungsu?”
“Ya abang lah, ibu suka dan pengin sekali anak laki-laki.”
Lutut Jihan terasa lemas, ia mendorong pintu tertutup sembari merosot dan bersandar di pintu kayu itu. Pandangannya seakan kosong, saluran pernapasannya seolah penuh air hingga sesak dan darah merembes di tengah dadanya bersamaan ujung belati yang tembus dari punggungnya. Tapi ia tetap diam di sana, dalam tubuh yang masih hangat, hanya lebih berat daripada biasanya.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 6 Juli 2025.
Tentang Cerpenis
Putri Anzelita
Menulis adalah cara paling sunyi untuk bersuara. Seorang penulis pemula yang gemar merangkai kisah dari potongan realita, luka, dan emosi-emosi kecil yang sering luput dipahami. IG: @aezurist
Testimoni Putri Anzelita
Saya selalu tertarik pada keindahan seni literasi, bagaimana ia menyentuh emosi paling personal, yang bahkan tak selalu bisa diungkapkan secara langsung. Sejak SMP, saya mulai menulis cerita-cerita kecil, meski sempat terhenti karena kesibukan sekolah dan kehidupan yang terus menuntut. Menulis kembali, bagi saya, seperti menemukan jalan pulang ke diri sendiri.
Cerpen Tak Ada Torta Upik Abu menjadi awal baru untuk saya tahun ini. Cerita ini saya angkat dari sesuatu yang saya amati di sekitar, seperti rasa ganjil dalam dinamika keluarga, khususnya dari sudut pandang seorang kakak perempuan yang merasakan perbedaan volume tangki kasih sayang terhadap adiknya. Hal semacam ini sering dianggap wajar. Tapi bagi sebagian orang, terutama mereka yang mengalaminya, ada luka kecil yang diam-diam tertinggal. Cerpen ini menjadi ruang sunyi bagi saya untuk menyentuh perasaan itu. Cerita memang fiksi, tapi emosi di dalamnya saya kenal. Terima kasih.
