Cerpen Sastra

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”
***
Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak tiga minggu belakangan ini, setiap pukul satu dini hari aku selalu terbangun karena suara ratapan dan tangis seseorang yang berhasil membuatku terjaga tanpa bisa kembali memejamkan mata.

Pada hari pertama, suara itu hanya berupa sesenggukan lirih yang akan hilang saat adzan subuh berkumandang. Hari kedua, mulai bertambah sedikit tangisan lirih yang tidak begitu jelas. Hari ketiga, sudah mulai terdengar tangisan cukup keras serupa raungan marah yang membuatku harus menyembunyikan kepala dalam selimut tebal dan menduselkan tubuh pada badan istri dan anakku yang ­­– anehnya – tetap tertidur nyenyak tanpa terganggu sedikit pun. Sejak hari itulah, aku tidak pernah dapat tidur dengan tenang. Suara itu bahkan muncul setiap kali aku terlelap, tidak peduli siang, sore, ataupun malam. Hal itu tentu berdampak sangat buruk bagi kesehatan fisik dan psikisku.

Semakin frustasilah aku saat tiada seorang pun yang mempercayai ceritaku ini. Sudah hampir tiga kali kuceritakan masalah ini kepada istriku. Tahu bagaimana tanggapannya?

“Kamu itu kebanyakan nonton film horor apa gimana toh, Mas? Omonganmu itu loh, aneh-aneh aja. Ini kalau sampai Joko Anwar itu denger, walahhh langsung dijadiin film, Mas.” Begitulah katanya. Aku tidak berani membantah apa pun. Toh, aku memang tidak memiliki bukti.

Pernah suatu saat aku mencoba memasang rekaman di kamarku dan menunggu suara itu muncul. Benar saja, suara itu muncul dengan begitu keras sampai-sampai aku harus menyumpal telingaku dengan headset dan memutar lagu dengan kencang. Tapi sama saja, suara itu seakan menembus telingaku dan langsung ke otak. Dan yang lebih aneh serta menjengkelkannya lagi, suara itu sama sekali tidak terekam! Istriku bilang, ia telah membuang waktu arisannya yang berharga hanya untuk mendengar bualan suaminya ini….

Pada akhirnya, setelah berminggu-minggu hidup dengan rasa takut, perubahan fisikku mulai terlihat jelas.

Tubuhku semakin kurus dengan rambut kusut tidak sehat, mata letih, cekungan hitam dan besar di bawah mata, dan tatapanku yang terlihat selalu ketakutan. Semua ini terlihat jelas hingga beberapa tetangga dan teman mulai bertanya apakah aku sedang tidak baik-baik saja. Aku hanya bisa berkata bahwa semuanya baik. Aku tidak ingin mengatakan apa pun kepada mereka dan berakhir membuat pandangan mereka menjadi aneh kepadaku. Istriku saja tidak percaya dengan apa yang kualami, bagaimana dengan mereka yang bisa dikatakan hanya orang asing? Aku hanya bisa menyimpannya seorang diri dan berharap suatu saat akan terbiasa dengan ketakutan ini.

Aku tidak tahu bagaimana asal suara ini bisa tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi, sepertinya kepalaku mulai sedikit memberikan gambaran-gambaran yang bisa membuatku semakin bergidik ngeri.

Bagaimana jika semua itu memang benar? Bagaimana jika ini yang harus kutanggung? Apakah yang kemarin kulakukan bisa berdampak sebesar ini?

Bekerja sebagai kepala pengawas sebuah pertambangan sebenarnya bukanlah pekerjaan yang dulu kuidamkan. Dulu sekali, aku ingin menjadi seorang petani atau pengawas hutan seperti almarhum Bapak. Aku ingin mengawasi penanaman pohon, pelindungan hutan, dan semua pekerjaan untuk menjaga alam. Sayangnya, semua itu harus pupus begitu saja dan pada kenyataannya, inilah aku dengan pekerjaan yang harus kujalankan agar istri dan anakku yang masih berusia tiga tahun itu bisa hidup tercukupi.

Kupikir, setidaknya aku masih bisa menjaga alam dengan mengontrol izin pertambangan batu kumbung yang ada di dekat rumahku ini agar bisa terkendali dan tidak terlalu cepat menimbulkan kerusakan dengan cepat. Walaupun aku sadar, pada akhirnya kerusakan akan tetap terjadi. Itulah prinsip yang dulu kugenggam. Sayangnya, beberapa bulan belakangan prinsip itu terlepas dari genggaman tanganku. Genggaman tangan yang dulu berisi prinsip untuk tidak merusak alam dengan cepat berubah menjadi uang panas yang diam-diam masih kukantongi hingga detik ini.
***
Entah malam keberapa sekarang. Aku sudah hampir lupa sudah berapa lama tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak.

Dengan tubuh yang sedikit gemetar takut, malam ini kembali kurebahkan badan di samping istri dan anakku. Berharap malam ini ada keajaiban yang turun dari Tuhan agar suara mengerikan itu tidak lagi terdengar di telingaku. Harusnya malam ini aku yakin. Toh, tadi siang baru saja kudatangi seorang ustadz yang terkenal alim dan pandai mengusir setan, jin, dan roh halus di sekitar manusia. Diberikanlah olehnya segelas air putih yang katanya “sudah didoakan” dan bisa menolak segala bala di sekitarku. Kuharap semua itu manjur. Aku sudah cukup lelah dan frustasi.

Perlahan, kedua kelopak mataku terpejam. Beberapa saat tidak kurasakan apa pun. Kupikir aku sudah berhasil tidur. Tidak ada suara apa pun. Air sakti itu sungguh manjur…..

Aku masih tertidur. Terus tertidur. Hingga hawa dingin perlahan menyentuh kulitku. Merayap melalui kaki, punggung dan menyebar ke seluruh tubuh.

Badanku menggigil hingga kupaksakan kelopak mataku untuk terbuka. Tepat saat kedua mataku terbuka, aku langsung bangun terduduk dengan mata melotot.

Kaget, takut, dan merinding.

Kuraba tempat yang tadi menjadi alas tidurku. Bukan … bukan sebuah kasur empuk. Batu! Aku terbangun di atas bebatuan putih yang keras. Belum sepenuhnya mencerna semua ini, tiba-tiba kembali kudengar suara yang sangat familiar belakangan ini. Tangisan! Napasku tersengal hebat dengan keringat dingin yang sudah membanjiri seluruh tubuh. Aku berusaha menutup telingaku dan berdiri hendak berlari pergi. Sayangnya, tubuhku terasa terkunci. Aku hanya bisa terduduk diam dengan tubuh kaku bak patung.

Suara itu semakin jelas. Semakin terasa dekat. Kuedarkan pandangan ke segala arah dan betapa terkejutnya diriku ketika menyadari bahwa ternyata aku berada di tepian tebing pertambangan ini. Masih terkejut menyadari posisiku saat ini, tiba-tiba tangisan wanita itu terhenti dan berganti dengan suara lain—tangisan seorang lelaki tua yang begitu familiar di telingaku.

Suaranya berasal tepat di bawah kakiku, jauh di bawah tebing ini. Entah dorongan kekuatan dari mana, kulongokkan kepalaku ke bawah sana. Ke tempat yang seharusnya ramai oleh kegiatan tambang. Kini, semua kegiatan itu seperti hilang begitu saja dan hanya menyisakan suara tangisan yang mencekik leher dan dadaku.

Tepat saat melongokkan pandangan ke bawah, sekujur tubuhku serasa mati. Otakku tidak bisa mencerna apa pun. Demi Tuhan, aku tidak bisa berpikir. Jauh di bawah sana, kulihat almarhum Bapak tengah melihat ke atas! Melihatku dengan tatapan kemarahan penuh luka. Ia menangis. Tangisan yang tadi kudengar……

Tak lama kemudian, tiba-tiba Bapak terdiam. Ia hanya melihatku dengan matanya yang penuh kebencian dan kemarahan tanpa mengeluarkan satu patah kalimat pun. Lalu, di belakang Bapak muncul seorang wanita yang menggendong bayi dengan daster yang sangat kukenal!

Istriku!!
Ia berdiri di samping Bapak dengan darah yang perlahan keluar dari bola matanya. Aku benar-benar sudah gila!

Lalu dari sela bibirnya, terdengar suara yang selama ini kutakuti. Suara tangisan itu… Mataku membola kaget. Selama ini, bagaimana bisa aku tidak mengenali suara tangisan istriku sendiri?

“Kamu tega menghidupi kami dengan uang seperti itu, Mas? Uang busuk yang kamu jejalkan ke dalam darah anak dan istrimu! Tidakkah lebih baik kamu mati daripada terus hidup membawa dosa sebesar itu?” Suara istriku menggema di bawah sana dalam kesunyian malam di sela tangisannya.

“Kamu pikir aku tidak tahu saat dirimu diam-diam menandatangani surat izin untuk kembali melanjutkan penambangan ini dengan ilegal hanya karena uang?”

Belum sempat kucerna, tiba-tiba suara Bapak terdengar, “Seumur hidup kuhabiskan waktu untuk merawat alam yang kucintai. Aku mencintai alam setara dengan cintaku pada darah dagingku sendiri. Kamu! Tapi ternyata aku sudah gagal mendidikmu. Darah dagingku sendiri mengizinkan kerusakan alam hanya untuk uang yang bisa hilang dengan sekali sobekan. Menukarnya dengan uang haram yang seharusnya tidak ia terima. Aku menyesal membesarkanmu! Tidakkah seharusnya kamu yang mati?”

Setelah suara Bapak berhenti, tiba-tiba telingaku berdenging hebat. Kembali kusaksikan transaksi ilegal yang pernah kulakukan di bawah sana. Kulihat istriku kembali menangis histeris dan Bapak yang menangis sambil mengumpatiku dengan kerasnya. Tidak bisa! Aku tidak bisa membiarkan mereka terus marah di bawah sana! Aku harus ke bawah dan meminta maaf kepada mereka! Harus! Tanpa pikir panjang, kulemparkan tubuhku ke bawah. Berharap adanya ampunan dan maaf dari istri, anak dan bapakku atas uang panas yang tidak seharusnya kuterima. Atas kerusakan yang baru saja kuciptakan.

Dan setelah malam itu, aku tidak pernah tahu bahwa akan ada berita yang menghiasi surat kabar “Seorang lelaki ditemukan tewas dalam dugaan bunuh diri di lokasi penambangan batu kapur.”(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 30 Agustus 2026.

Tentang Cerpenis

Rizka Junanda R.H.
Mahasiswa sastra Indonesia Universitas Diponegoro. Rizka juga tertarik dengan dunia peran.
IG: @tanya_katatanya

Testimoni Rizka Junanda R.H.

Pertama, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Cerpen Sastra yang sudah memberi ruang untuk karya saya. Cerpen ini sebenarnya sudah cukup lama mendekam di laptop, sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirimkannya. Senang sekali ketika karya yang sempat tersimpan lama ini akhirnya mendapat kesempatan untuk dibaca lebih banyak orang.

Saya kembali membuka file ini saat melihat banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini dan mulai bertanya-tanya, apakah tidak ada rasa takut dan bersalah dalam diri para perusak alam? Dan dari pertanyaan itulah cerpen ini lahir. Tentang rasa bersalah dan ketakutan yang mungkin diam-diam tetap ada dan menggema dalam diri seseorang yang coba ia sangkal. Tapi, lebih dari itu, semoga karya yang tidak lebih dari 1.300 kata ini dapat memberi manfaat dan menambah bahan literasi kita semua. Sekali lagi, terima kasih.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Anak Kecil dengan Seribu Kepalanya (Cerpen Gita Anindya)

Apa yang seharusnya dipikirkan seorang perempuan kecil di hari ulang tahunnya yang ke-13? Hanya saja kali ini berbeda. Sore ini, Mita tidak berada di rumahnya untuk merayakan pertambahan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *