Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen khas Barat tergeletak tanpa wujud yang jelas sehingga gadis itu harus duduk di lantai. Sinar matahari masuk ke celah-celah kaca dan menari dengan naskah usang yang sudah menguning. Di hadapan gadis itu, terdapat sebuah bundel naskah bertahun 1988. Ketikannya cukup rata, khas mesin ketik manual generasi lama.
***
Amare – gadis itu – mengusap pelan debu yang menempel pada bundelan naskah. Kain hitam yang menjadi sampul sudah sangat tidak berwujud. Naskah itu adalah satu – satunya petunjuk yang dapat menghubungkan Amare dengan ayahnya. Bundelan tersebut berisi coretan sebuah karya yang dikerjakan dengan peluh dan kopi puluhan tahun lalu. Bahkan, di dalam bundelan tersebut masih tertulis nama ayah dari Amare dengan jelas. Rasa asing menyelimuti ketika melihat nama itu tercetak secara formal, lengkap dengan nomor induk dan lambang universitas.
Amare selalu merasa lebih nyaman di tempat seperti ini. Buku, debu, serta ikatan yang terjalin di masa lalu lewat tulisan-tulisan mahasiswa yang katanya datang untuk meraup ilmu. Membaca apa yang ditinggalkan orang lain, atau sekadar memperhatikan bagaimana rayap-rayap menggerogoti isi buku. Hanya ada keheningan, lembar kertas, dan sisa-sisa pemikiran yang mungkin sudah dilupakan oleh penulisnya sendiri.
Jarinya membalik salinan naskah yang sudah usang dengan hati-hati. Takutnya, naskah itu akan sobek jika dibuka seperti layaknya buku biasa. Garis-garis tipis mesin ketik kuno itu terus berputar di kepala, meninggalkan ritme konstan yang melelahkan. Bundelan itu berisi corak pemikiran rumit yang menggabungkan elemen hermeneutika serta rentetan catatan kaki yang memusingkan bagi orang awam. Rasanya sudah berhari-hari Amare menyisir setiap rak sampai naskah itu ketemu. Setiap jengkal ingatan membawa Amare pada bau kertas tua yang sangat rapuh untuk dibuka. Amare ingat betul bagaimana diskusi dengan Pak Yanto, pustakawan tua berwajah teduh yang selalu membantunya mencocokan nomor arsip di meja depan.
Bahkan, Nona Sara, staf yang kerap mengetuk meja baca dengan sopan selalu mengingatkannya untuk pulang, sangat lazim ditemuinya di sana.
Di dalam kepalanya, pencarian ini sudah berada pada titik akhir. Perasaannya mengatakan bahwa bundelan tahun 1988 itu sangat mungkin ditelaah olehnya. Sesuatu yang terasa begitu nyata, seolah-olah Amare tinggal melangkah ke meja belajar agar analisis naskah itu cepat selesai. Semuanya nampak berjalan sempurna, persis seperti rencana akademiknya. Namun, ketika Amare mencoba meraih ujung bundelan naskah tersebut dalam pikirannya, halaman-halamannya mendadak buram. Barisan teks berisi ketukan manual itu mendadak meleleh dan menjadi garis-garis hitam vertikal yang menyerupai grafik kacau. Detik berikutnya, kepalanya diserang rasa pening dahsyat. Rasa sakit itu datang seperti hantaman palu ke kepalanya, menyumbat setiap jengkal ruang logika dan kesadarannya. Amare akhirnya meletakkan kepalanya ke meja dengan harapan rasa sakit itu cepat selesai.
***
Ketika sepasang matanya perlahan terbuka kembali, aroma kertas tua dan debu ruangan bawah tanah langsung lenyap dari indra penciuman Amare. Bau itu digantikan dengan sengatan antiseptik tajam dan menusuk hidung. Cahaya lampu neon putih menggantung kaku di plafon ruangan, memaksa kelopak matanya untuk berkedip beberapa kali agar menyesuaikan diri dengan intensitas ruangan yang asing. Tubuhnya terbaring pasrah di atas ranjang dengan seprai putih yang aromanya sangat steril. Dinding-dinding berisi rak tinggi berubah menjadi beton tebal berwarna putih tanpa hiasan atau pigura apa pun. Jendelanya kecil dan letaknya cukup tinggi, namun anehnya ditutupi dengan jeruji besi di bagian luarnya. “Penjara?” tanya Amare dalam hati.
Sesosok pria paruh baya mengenakan jas panjang putih berjalan pelan mendekati ranjangnya sambil membawa sebuah papan klip kayu. Wajah pria itu tampak sangat akrab di dalam ingatannya. Pria itu tersenyum kecil sambil meletakkan tangannya di tepi ranjang dengan gerakan sangat berhati-hati. “Bagaimana perasaannya hari ini? Apakah Nona sudah lebih tenang?” tanya pria itu dengan nada yang lambat, tenang, dan sangat terukur. Senyumannya tipis, seakan-akan sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini selama bertahun-tahun.
Amare mencoba memfokuskan matanya yang agak kabur, menatap nama plastik kecil di dada kiri jas tersebut. Sontak, ingatannya langsung kembali. “Pak Yanto? Bundelan naskah tahun 1988,” hela Amare sambil mengingat-ingat, “manuskrip tua yang kita cari di rak pojok bawah kemarin, di mana saya menyimpannya? Saya merasa sudah hampir menyelesaikan kode-kodenya sebelum tertidur.” Amare mencoba bangkit dari posisi berbaringnya, namun separuh tubuhnya terasa lemas dan menolak untuk digerakkan.
Pria dengan jas putih itu tidak langsung menjawab. Yanto – pria paruh baya itu – tidak ambil pusing dan hanya menghela napas pendek, menampilkan rasa maklum. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Seorang wanita masuk membawa sebuah baki kecil berisi obat dan cangkir plastik berisi obat serta air putih.
“Mare, waktunya minum obat dulu,” kata wanita bernama Sara. Nadanya sangat lembut, persis seperti suara staf dalam ingatannya yang selalu memintanya untuk bergegas pulang ketika hari sudah malam.
***
Di tengah keheningan itu, pandangan mata Amare tanpa sengaja jatuh pada papan kayu yang dipegang Yanto. Pada sudut kanan atas lembar pemantauan medis tersebut, terdapat sebuah catatan kecil yang ditandatangani oleh dr. Yanto sendiri. Tertera angka 13 dengan cetak tebal pulpen. Perkembangan Pasien – Terapi ke-13 (Bulan ke-13). Angka itu menghantam kesadarannya seperti aliran es yang mendadak meleleh dari pucuk kepalanya. Kesadaran perlahan muncul dengan diprosesnya obat pemberian Sara. Labirin besar yang Amare masuki dengan begitu gigih ternyata bukan realitas yang sedang berjalan. Semuanya hanyalah fragmen memori rusak yang diciptakan oleh otaknya yang cedera untuk melarikan diri dari kenyataan.
Angka itu bukan sekadar penunjuk waktu acak, melainkan jumlah pengulangan. Tiga belas penuh Amare berada di rumah sakit ini, dan selama itu pula otaknya memutar kaset rusak yang sama secara berulang. Setiap bulan, Amare bangun dengan keyakinan bahwa dia adalah seorang mahasiswa biasa yang sedang melakukan riset penting.
Setiap bulan, Amare menyusuri rak-rak imajiner yang sama, berdiskusi dengan proyeksi orang yang sama, dan merasakan kepanikan yang persis sama saat naskah tersebut meleleh menjadi kegelapan.
Seluruh dedikasi akademiknya berakhir di sini, kamar perawatan bernomor. Realitas medis yang dikunci rapat di alam bawah sadarnya kini memaksa masuk. Tiga belas bulan yang lalu, di tengah obsesinya yang terlalu dalam dan melelahkan, fisiknya ambruk. Tekanan mental luar biasa berat digabungkan dengan pola hidup yang abai mengakibatkan pembuluh darahnya di otak pecah. Sebuah serangan brainstroke mendadak menghantamnya di malam yang sepi, merusak sistem motoriknya secara permanen. Persepsinya menjadi kacau. Bahkan, terkadang Amare tidak ingat tentang waktu, memori, hingga ruang realitas yang sebenarnya.
Di dunia luar sana, riset tentang bundelan tahun 1988 telah sepenuhnya berhenti total sejak hari pertama ambulan membawanya pergi. Proyek intelektual di dalam kepalanya telah lama mati, ditinggalkan begitu saja dalam bentuk tumpukan kertas seperti halnya mendiang ayahnya.
Tidak ada kelanjutan, tidak ada kesimpulan, tidak ada pula yang menanti. Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pustakawan dan staf ruangan bawah tanah itu ternyata hanyalah topeng psikologis. Otaknya yang sakit meminjam wajah, nama, bahkan suara Dokter Yanto dan Perawat Sara. Kedua orang itu rutin mengganti seprai dan menyuapi obat di bangsal ini, mengubah mereka menjadi bagian dari “perpustakaan” impian agar Amare tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah kehilangan kewarasannya.
“Semua benar-benar sudah berhenti,” bisik monolog singkatnya di tengah keheningan dinding pucat bangsal jiwa ini, “bundelan naskah itu tidak akan pernah bisa diartikan karena aku belum menemukannya di dunia nyata. Aku hanya terjebak fatamorgana dari memori satu detik sebelum pembuluh darahku pecah malam itu. Tiga belas kali aku mengulangi hari yang sama … dan baru sore ini aku benar-benar terbangun… Oh? Apakah benar sudah tiga belas kali? Apakah benar aku belum menemukannya? Entahlah.”
Dengan tangan yang masih berfungsi, Amare mengembalikan cangkir pemberian Sara. Amare menyenderkan kepala secara pasrah di atas bantal yang keras. Pandangannya beralih ke jeruji besi di jendela langit yang tinggi, menatap pucuk-pucuk pohon tua yang sedang menari-nari di pelataran rumah sakit. Kali ini, tidak ada lagi rasa cemas yang mendesak jiwanya untuk mencari naskah yang hilang. Tidak ada lagi ambisi untuk mengurai teori-teori yang rumit.
Tersisa rasa lapang yang dingin dan sunyi, sebuah penerimaan mutlak dalam perjalanannya keluar dari labirin menuju kenyataan, meskipun jalan keluar itu harus ada dalam kungkungan ruang perawatan jiwa.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 19 Juli 2026.
Tentang Cerpenis
Indri Pangastuti
IG: @inilagiarsip888
Testimoni Indri Pangastuti
“Lantas, bagaimana sebenarnya seseorang dapat membedakan realitas?“ Menulis tentang seorang karakter bak menghantarkan sebagian diri ke dalam naskah. Tentu tidak mudah untuk mencurahkan apa yang sebenarnya ada dalam diri—belum lagi tantangan world-building agar dunianya benar-benar terasa ‘hidup’. Terlepas dari keraguan itu, jujur penulis kaget sekaligus bersyukur saat karya ini terpilih. Pihak penyelenggara dan panitia sangat sigap serta tangkas, baik dalam menyampaikan kabar maupun memberikan tanggapan.
Terima kasih untuk apresiasi dan waktu untuk membaca karya ini. Untuk teman-teman yang belum terpilih, teruslah berkarya! Selain meredam isi hati, hadiah yang tertera juga betul adanya, lho. Lebih lagi, platform ini terpercaya dalam memberikan hadiah bagi yang terpilih. Sampai jumpa di kesempatan lainnya, teman-teman!
