Cerpen Sastra

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli isi rumah orang-orang yang sudah tidak ada. Dan prinsip itu pula yang membuatku berdiri di depan pagar besi rumah nomor 12, Jalan Kenanga, pukul sepuluh pagi, memegang map berisi surat kuasa dari seorang anak yang tidak sanggup pulang untuk membereskan sisa-sisa ibunya sendiri.
***
Aku belum membaca nama pemilik rumah di surat itu. Aku jarang membacanya. Nama hanya membuat pekerjaan ini lebih berat daripada seharusnya.

Perempuan yang membukakan pintu memperkenalkan diri sebagai pengurus rumah, bukan keluarga. Ia bilang anak semata wayang pemilik rumah tinggal di luar negeri, sudah lima belas tahun tidak pulang, dan hanya mengirim uang serta kepercayaan lewat telepon.

“Semua boleh dijual,” katanya. “Kecuali yang di kamar belakang. Katanya jangan dibuka dulu sebelum Bapak lihat sendiri.”

Aku mengangguk, seperti biasa. Setiap rumah punya kamar yang tidak boleh dibuka dulu. Biasanya isinya cuma pakaian yang belum sempat disumbangkan, atau uang tunai yang disembunyikan dari perawat.

Aku memulai dari ruang tamu, seperti biasa: menghitung, memberi harga, menempel label kertas kuning di kaki kursi, di rangka lemari, di bingkai jam dinding yang berhenti di pukul dua lewat tujuh belas menit entah sejak kapan. Rumah ini kecil tapi terawat, dengan bau kapur barus yang sudah menjadi bagian dari udara, seperti di rumah-rumah lain yang pernah kumasuki.

Baru di ruang tengah aku berhenti. Ada foto pernikahan di atas bufet, bingkainya sudah pudar warnanya jadi kecoklatan. Perempuan dalam foto itu memakai kebaya putih, tersenyum setengah, seolah baru saja diminta tersenyum lebih lebar oleh fotografer dan menolak dengan sopan. Aku mengenal senyum itu. Aku mengenalnya dari jarak yang seharusnya sudah terlalu jauh untuk dikenali lagi. Namanya Salma.

Dua puluh dua tahun lalu, aku meninggalkannya tiga bulan sebelum pernikahan kami sendiri, dengan alasan yang waktu itu terasa sangat penting: pekerjaan di kota lain, masa depan yang lebih pasti, ketakutan yang tidak berani kusebut namanya. Aku tidak pernah tahu ia menikah. Tidak pernah tahu ia punya anak yang sekarang tinggal di luar negeri dan tidak sanggup pulang. Tidak pernah tahu, sampai hari ini, bahwa ibunya yang meninggal minggu lalu adalah perempuan yang pernah berjanji akan menungguku selama apa pun aku butuh waktu.

Aku menaruh label kuning di bingkai foto itu, lalu mencabutnya lagi.

Pekerjaan ini punya satu aturan yang selalu kupegang: jangan biarkan barang bicara lebih keras daripada harga. Tapi aku berdiri terlalu lama di depan bufet itu, dan pengurus rumah memperhatikanku dari ambang pintu dengan raut yang tidak kupahami, entah curiga atau kasihan.

Sebelum masuk ke kamar belakang, aku bertanya pada pengurus rumah, seolah pertanyaan itu hanya bagian dari prosedur biasa, apakah pemilik rumah dulu bekerja sebagai apa. Guru SD, katanya. Mengajar sampai pensiun, lalu terus datang ke sekolah lama sebagai relawan sampai dua tahun sebelum meninggal. Tidak pernah menikah lagi setelah suaminya, yang aku tanyakan lebih jauh tanpa berani terdengar terlalu ingin tahu, meninggal saat anaknya masih kecil.

Aku tidak bertanya nama suami itu. Aku sudah cukup yakin aku tidak akan pernah mengenalnya, dan bahwa pernikahan itu, entah bagaimana bentuknya, sungguh terjadi setelah aku pergi, dengan atau tanpa bayang-bayangku di dalamnya. Aku memilih percaya versi yang lebih ringan: bahwa hidupnya berjalan baik-baik saja tanpa aku, sebagaimana seharusnya, dan bahwa foto di bufet itu hanya kebetulan mirip wajah yang kuingat.

Kamar belakang terkunci dengan gembok kecil, jenis yang biasa dipakai anak sekolah untuk lokernya. Aku menemukan kuncinya di laci meja rias, di antara peniti dan kancing baju cadangan. Isinya bukan pakaian. Bukan uang tunai. Kotak-kotak kardus tersusun rapi di sepanjang dinding, masing-masing diberi label tanggal dengan spidol, bertahun-tahun mundur ke belakang.

Aku membuka satu, sembarangan, dan menemukan salinan surat lamaran kerja yang tidak pernah kukirim ke perusahaan itu, dulu, karena aku memutuskan berangkat ke kota lain lebih dulu. Aku tidak pernah tahu ke mana surat asli itu pergi. Ternyata Salma yang menyimpannya, mengetiknya ulang dengan mesin tik, seolah ingin memastikan ada satu versi dari hidupku yang tidak jadi kujalani, tetap ada, tersimpan, menunggu.

Kotak kedua berisi potongan koran tentang proyek jembatan yang kukerjakan sepuluh tahun lalu, digunting rapi, dengan namaku digarisbawahi pensil merah.

Kotak ketiga berisi surat-surat yang tidak pernah kukirim kepadanya, dan aku tahu itu karena tulisan tangan di sampulnya adalah tulisan tanganku sendiri, dari masa ketika aku masih berpikir mengirim surat lebih jujur daripada menelepon. Aku ingat menulis surat-surat itu di kamar kos, bertahun-tahun setelah kami putus, lalu tidak pernah berani mengirimkannya. Aku membakar semuanya sendiri, kupikir, di belakang kos, pada suatu malam yang kuputuskan untuk berhenti menyesal. Ternyata tidak semuanya terbakar. Atau ternyata seseorang, entah bagaimana caranya, pernah menyalin isinya sebelum abu itu selesai jadi abu.

Kotak keempat, paling kecil, hanya berisi satu benda: cincin murah yang pernah kubelikan untuknya dengan gaji magang pertamaku, yang kupikir sudah kuminta kembali sebelum aku pergi, karena waktu itu aku terlalu bangga untuk membiarkan sesuatu yang belum lunas kubayar tertinggal di tangan orang lain. Ternyata aku salah ingat. Cincin itu tidak pernah kuminta kembali. Aku hanya pergi, dan ia yang memilih menyimpannya, bukan mengembalikannya, bukan membuangnya, selama dua puluh dua tahun, di dalam kotak yang diberi label tanggal keberangkatanku.

Aku duduk di lantai kamar itu, dikelilingi kotak-kotak yang seharusnya hanya kuberi harga, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun bekerja, aku tidak tahu berapa nilai dari apa yang sedang kupegang.

Pengurus rumah muncul di pintu, membawa satu amplop lagi, yang katanya baru ditemukan terselip di balik lemari saat mereka beres-beres minggu lalu.

“Ini juga bagian dari kamar itu,” katanya. “Ibu bilang, kalau suatu hari orang yang datang membeli rumah ini kelihatan berhenti terlalu lama di depan foto di bufet, amplop ini harus diberikan padanya. Katanya dia akan tahu.“

Aku tidak membukanya di sana. Aku memasukkannya ke saku, menyelesaikan penilaian sisa rumah dengan tangan yang tidak lagi benar-benar hadir, memberi harga pada kursi, pada lemari, pada jam yang berhenti di pukul dua lewat tujuh belas menit, tanpa benar-benar melihatnya lagi.

Truk datang tiga hari kemudian untuk mengangkut barang-barang yang sudah dijual. Kotak-kotak dari kamar belakang tidak ikut terangkut. Aku memberi tahu pengurus rumah bahwa kotak-kotak itu tidak punya nilai jual, dan karena itu bukan tanggung jawabku, mereka bisa dibuang atau disimpan, terserah keluarga. Itu satu-satunya kebohongan yang pernah kuucapkan dalam pekerjaan ini.

Amplop itu masih ada di lacinya sendiri di rumahku, belum terbuka, dua bulan setelah aku membawanya pulang. Aku tahu bahwa membukanya berarti mengetahui apakah dua puluh dua tahun yang lalu itu adalah kesalahan yang bisa diperbaiki dalam kepalaku sendiri, atau kesalahan yang justru selesai sudah, tuntas, dan tidak menyisakan apa pun untuk diperbaiki.

Aku lebih memilih tidak tahu. Bukan karena aku takut jawabannya menyakitkan. Tapi karena selama amplop itu belum terbuka, ada satu bagian dari hidupku yang masih bisa berarti apa saja, dan aku sudah terlalu lama bekerja memberi harga pada barang-barang yang berhenti berarti apa-apa begitu pemiliknya pergi.

Setiap kali aku membuka laci itu, sekadar memastikan amplop itu masih di sana, aku memikirkan kotak-kotak yang kubiarkan tertinggal di kamar belakang rumah nomor 12. Aku tidak pernah bertanya apa yang akhirnya dilakukan pengurus rumah terhadapnya, apakah dibuang bersama sampah renovasi, atau disimpan seseorang yang bahkan tidak tahu nama-nama di dalamnya. Barangkali begitulah cara paling adil untuk sesuatu yang tidak pernah selesai dihargai dengan benar oleh siapa pun, termasuk oleh orang yang paling berhak menghargainya.

Aku masih membeli isi rumah orang-orang yang sudah tidak ada. Aku masih menempelkan label kuning di kaki kursi dan rangka lemari, masih menghitung dengan tangan yang tidak lagi benar-benar hadir. Tapi sejak rumah nomor 12, ada satu kebiasaan baru yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun: sebelum memberi harga pada apa pun, aku berhenti sebentar, dan bertanya pada diriku sendiri, siapa yang dulu pernah menyimpannya, dan untuk siapa.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 2 Agustus 2026.

Tentang Cerpenis

Elvira Turnip

Menulis fiksi, puisi, dan naskah lain untuk berbagai kompetisi dan penerbitan sastra nasional. Mahasiswa dan penulis lepas asal Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. IG: @elvira_turnip

Testimoni Elvira Turnip

Menulis “Penawar” bermula dari premis yang cukup menantang bagi saya: seorang lelaki yang bekerja membeli isi rumah kosong peninggalan orang yang telah meninggal, lalu pada suatu hari mendapati bahwa rumah yang ia beli adalah milik mantan kekasih yang dulu pernah ia tinggalkan. Proses kreatifnya tidak mudah, saya perlu menemukan cara agar kepedihan dan penyesalan tokoh utama terasa jujur tanpa jatuh ke melodrama, sekaligus menjaga agar twist di akhir cerita tetap masuk akal dan tidak dipaksakan. Beberapa kali saya menulis ulang bagian pembuka agar pembaca langsung tertarik sejak kalimat pertama.

Pesan yang ingin saya sampaikan lewat “Penawar” sederhana: bahwa masa lalu yang kita tinggalkan kadang menunggu untuk ditemukan kembali, dalam bentuk yang tidak pernah kita duga, dan bahwa penyesalan sering datang justru ketika kita paling tidak siap menghadapinya. Judul “Penawar” sendiri saya pilih sebagai ironi, sebab apa yang seharusnya meredakan luka justru menjadi pengingat yang paling menyakitkan.

Saya sangat mengapresiasi penyelenggaraan sayembara ini, mulai dari kriteria penilaian yang jelas dan menyeluruh, hingga proses yang transparan dari awal hingga pengumuman pemenang. Semoga ke depannya semakin banyak ruang serupa yang memberi kesempatan bagi penulis, khususnya penulis muda, untuk terus berkarya dan berkembang. Terima kasih atas kesempatan luar biasa ini.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Anak Kecil dengan Seribu Kepalanya (Cerpen Gita Anindya)

Apa yang seharusnya dipikirkan seorang perempuan kecil di hari ulang tahunnya yang ke-13? Hanya saja kali ini berbeda. Sore ini, Mita tidak berada di rumahnya untuk merayakan pertambahan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *