Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap sedia membantu orang di sekitarnya, entah itu di pukul satu siang tatkala mentari tengah gencar memamerkan kemampuannya, ataupun di pukul satu malam sewaktu manusia normalnya sedang tertidur.
***
Mungkin itulah mengapa mereka tidak bisa tinggal diam dan tutup mulut tatkala mendapati sebongkah tulang-belulang berbalut kulit tipis terbaring lelap di sudut paling terpencil di kampung itu. Kalau saja salah seekor ayam penduduk tidak hilang dan tersasar, mungkin saja bongkahan yang diyakini sebagai manusia itu—tidak peduli betapa minimnya daging yang melekat pada tulang-belulang tersebut—tidak akan ditemukan hingga … kapan? Barangkali tidak akan pernah. Itu benar-benar bukan area yang umumnya menjadi lalu-lalang penduduk.
Dulu sekali, area itu merupakan hamparan kebun jagung luas milik salah satu keluarga di sana. Ketika salah seorang anggota keluarga menderita penyakit keras, keluarga tersebut memutuskan pindah ke kota untuk mendapatkan akses pengobatan yang lebih baik. Mereka pergi, meninggalkan hamparan tanaman kering yang tak akan lagi disirami selain oleh air hujan, sebuah sumur tua yang kini kehabisan persediaan air, serta sebuah gubuk yang kini telah sangat reyot, hampir seolah satu jemari saja dapat membuat segalanya ambruk.
Tapi di situlah bongkahan tubuh itu bergelung. Kedua lengan—meski terlihat sangat-sangat kecil serupa gagang sapu, semua setuju bahwa itu adalah lengan—dengan putus asa memeluk kaki yang terlipat mendekati dada. Sia-sia mencari sisa kehangatan di udara terbuka itu. Tepat di situ pula penduduk—yang telah berhasil menangkap ayamnya—menemukannya. Kecil, sangat kecil. Mungkin sekitar lima-enam tahun. Tak akan lebih dari enam.
“Hei, Nak.”
Tubuh itu diguncang. Atau … bagaimana persisnya? Disentuh dengan tenaga? Entahlah. Yang jelas, di detik pertama jemari penduduk menyentuh pundak ringkih itu, pemiliknya segera tersentak, tersadar dari dunia mimpinya dengan cara yang sangat tidak ramah karena disusul dengan sekujur tubuh gemetar dan napas yang tercekat seolah oksigen mendadak disedot habis dari sekitarnya.
“Maaf, maafkan saya. Saya akan pergi, maafkan saya. Jangan pukul, tolong. Saya minta maaf. Pukul, jangan. Maaf. Akan pergi, saya pergi, maaf.”
Pada detik yang sama ketika mulut yang tampak kering dan pecah-pecah itu selesai memuntahkan kalimat tak beraturan tadi, penduduk tersebut memutuskan bahwa ini masalah serius dan ia jelas butuh bantuan. Dan penduduk itu tahu seluruh isi kampung tentu akan membantu.
***
Anak kecil itu praktis menjadi anak asuh seisi kampung. Ia kini punya tempat bernaung tetap, yakni rumah milik salah seorang penduduk yang mana lokasinya dekat dengan satu-satunya sekolah dasar di kampung. Setiap hari, semua orang mengunjunginya dengan bermacam alasan. Membawakan makanan, mengajarinya macam-macam hal, membawakan apa pun yang ia butuhkan seperti baju tidur atau tas sekolah, makan bersamanya, apa pun.
Anak-anak kampung seusianya juga tidak pernah absen mengajaknya bermain. Mereka sering berjalan-jalan menyusuri kampung, tertawa, bercanda sambil menepuk punggung. Menepuk. Ia mencatat baik-baik. Bukan memukul. Mereka juga sering bermain lompat tali, petak umpet, ataupun sepak bola. Bolanya yang ditendang. Ia mencatat lagi. Bukan dirinya.
“Terima kasih, Bibi Baik. Saya akan membalas kebaikan Bibi suatu saat nanti!”
—adalah apa yang selalu ia ucapkan setiap kali ada penduduk yang berkunjung. Ia tidak pernah menyebut nama. Selalu hanya Bibi Baik atau Paman Baik. Dan percayalah, di jangka waktu pendek kehidupannya yang baru berjalan selama enam tahun itu, ia sudah sempurna memahami hukum sebab-akibat. Semua hal akan ada konsekuensinya. Semua akan ada balasannya. Termasuk kebaikan seluruh penduduk kampung, tentu harus ia balas.
Tapi tidak ada yang menghardiknya untuk segera bernyanyi di perempatan besar setiap kali ia diberi makan. Tidak ada yang memukul kakinya dan menyuruhnya untuk cepat-cepat mengantarkan kopi atau nasi goreng ke pembeli setiap kali ia diberi baju layak pakai.
“Yang harus kamu lakukan adalah tumbuh besar dengan baik, pintar, sukses, untuk dirimu sendiri. Bukan untuk Bibi.”
—atau kalimat serupa adalah respons yang selalu ia dapat. Semua orang baik. Sangat baik. Terlalu baik hingga ia takut kalau-kalau ia terbangun di keesokan hari dan mendapati semua ini hanya mimpi.
“Saya pasti tumbuh besar dengan baik dan membalas kebaikan Bibi.”
—adalah apa yang ia janjikan pada akhirnya. Sebisa mungkin mengikat kebaikan tersebut agar tidak pergi semudah itu.
***
“Terima kasih, Paman, Bibi. Sungguh, terima kasih atas segalanya.”
Siapa sangka tahun-tahun berlalu begitu cepat. Di tahun-tahun itu pula, ia dan seluruh penduduk kampung mengetahui betapa pintar dirinya. Ia belajar dengan cepat, menyerap apa pun hampir seketika, mengerti dan mengingat setiap penjelasan tanpa tertinggal satu bagian pun. Ia cerdas luar biasa. Dan seluruh penduduk kampung meyakini bahwa itu adalah bakat yang tidak boleh disia-siakan.
Sejak tahun pertamanya di sekolah menengah atas, ia sudah mulai diperkenalkan dengan prospek pendidikan di luar negeri. Ia diberikan selebaran-selebaran informasi beasiswa. Diberikan buku-buku yang menampilkan pemandangan serta rupa dari kampus-kampus di luar negeri. Tapi tidak pernah ada yang memaksanya. Ia tahu mereka semua hanya ingin kehidupan yang lebih baik untuknya. Dan mereka semua selalu ingin yang terbaik untuknya selama ini. Maka ia pun ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri. Untuknya dan untuk seluruh penduduk kampung. Ia mendaftar ke berbagai beasiswa. Diterima hampir di seluruhnya. Dan pada akhirnya memilih kampus ternama di salah satu negara impiannya.
Sungguh, dirinya yang berusia lima—hampir enam tahun—bahkan tidak akan menyangka bahwa kini ia punya negara Impian.
“Hati-hati, Nak. Baik-baik di sana. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan. Semoga sukses selalu.”
Bahkan di momen perpisahan itu pun, semua doa hanya fokus untuk kebaikannya seorang. Tidak ada secuil pun yang menyinggung kebaikan penduduk kampung.
“Saya akan baik-baik saja, Paman, Bibi. Saya akan berusaha hingga sukses.”
Doa-doa masih terus mengiringnya hingga ia memasuki pintu keberangkatan bandara.
***
Tahun-tahun kembali berlalu tanpa terasa. Itu adalah sore yang damai tatkala salah seorang penduduk berlarian dari arah perbatasan kota ke tengah kampung, berteriak-teriak tak karuan, mengundang banyak penduduk untuk mengelilinginya.
“Dia sudah sukses. Benar-benar sukses.”
Menyadari siapa dia yang dimaksud, semua orang antusias meneliti lembaran koran di mana fotonya terpajang besar-besar di sana. Dengan jas rapi, rambut disemir, terlihat kinclong meski di lembaran monokrom.
“Dia jadi direktur utama perusahaan! Wah, bukan main pintarnya anak itu.”
Salah satu penduduk menyahuti. “Aku sudah tahu dari lama kalau dia akan jadi orang sukses.”
Kabar itu tersebar dari mulut ke mulut. Semua penduduk bersuka cita. Sama sekali bukan masalah jika dia tidak kembali ke kampung. Kesuksesan itu sungguh suatu hal yang patut disyukuri. Semua orang senang, sampai koran berikutnya muncul di tengah kampung.
“Penggusuran kampung?”
Semua orang kini mengernyit, berbisik-bisik. Lenyap sudah semua kegembiraan seminggu terakhir. Semua terlalu sibuk bertanya-tanya, bagaimana bisa fotonya kini berada di halaman yang sama yang membahas tentang penggusuran kampung mereka?
***
Penggusuran itu sungguh terjadi meski setelah menghadapi perlawanan sengit dari penduduk kampung. Mana ada warga yang diam saja ketika kampung yang sudah puluhan tahun mereka tinggali, warisan nenek moyang mereka, akan digusur begitu saja? Mereka sudah mengirim surat aduan serta penolakan resmi ke pihak-pihak yang mereka kira pantas menerimanya. Mereka sudah melakukan demo sedemikian rupa. Mereka menutup akses masuk ke kampung. Mereka mencoba menghubungi dia. Tapi apa pun yang dilakukan, orang-orang sana selalu punya kuasa untuk melangkahi mereka. Dan apa pun yang mereka lakukan, tidak ada balasan darinya.
Kampung mereka berganti dengan area wisata luas untuk menyaksikan pemandangan spektakuler dari matahari terbit tanpa harus repot-repot mendaki gunung, dengan deretan bangunan vila mewah, area golf, padang bunga, dan apa pun itu. Mereka tidak peduli detailnya.
Namun, sungguh, penduduk Kampung Kasih Sayang memang terkenal dengan kebaikan hati mereka. Meski setelah pindah ke lokasi baru, membangun seluruh kehidupan dari nol, mereka tetap tabah. Mereka tidak membenci. Dan mungkin, kebaikan itu pulalah yang menahan satu-dua kepal tinju untuk melayang atau satu-dua makian untuk meluncur dari mulut tatkala menyaksikan dia yang bertahun-tahun kemudian bangkrut dan kehilangan segalanya, kini kembali bergelung kedinginan di sudut terpencil perkampungan yang baru.
Kali ini, meski ayam penduduk kembali tersasar, tak ada tangan yang menepuk pundaknya yang kembali ringkih.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 16 Agustus 2026.
Tentang Cerpenis
Fathiya Haya
IG: @milaniversee
Testimoni Fathiya Haya
Sejujurnya, cerita ini disusun dengan ide yang setengah matang dan waktu yang terbatas karena hari itu adalah hari Sabtu dan tenggat pengiriman cerpen hanya beberapa jam lagi. Itulah kenapa rasanya kaget sekali saat menerima undangan kolaborasi. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena Cerpen Sastra masih menyediakan ruang untuk berkarya bagi penulis amatir ini.
Saat menulis tentang dia yang namanya tidak pernah disebutkan dalam cerita, saya berusaha mengemas perjalanan panjang dari rangkaian kebaikan hati, keikhlasan, tekad baja, kehilangan moral, pengkhianatan, hingga akhirnya berujung pada penyesalan dalam batas 1.300 kata. Maka, meski hasilnya belum sempurna, semoga tetap ada yang dapat memetik pelajaran darinya. Sekali lagi, terima kasih banyak.

cerita akhirnya sangat plot twist!