Langit petang itu kelabu, bukan karena hujan, tetapi karena hari yang terasa enggan berakhir. Di beranda rumah tua, seorang anak laki-laki duduk diam memeluk lututnya. Ia menatap jalan di depan rumah tanpa arah. Senyum tipis di wajahnya tampak pahit.
***
Anak itu bernama Sagara. Ia tidak kekurangan makan. Pakaiannya bersih meski tidak baru. Ia tidur di tempat yang layak. Dari luar, hidupnya terlihat cukup. Namun ada ruang kosong dalam dirinya, ruang yang seharusnya diisi oleh cinta dan kasih sayang.
Di dalam rumah, suara ayahnya terdengar berat dan tegas, bercampur dengan suara ibunya yang lebih pelan. Percakapan mereka tidak pernah terasa seperti keluarga. Tidak ada tawa, tidak ada kehangatan, hanya kata-kata seperlunya, seolah setiap kalimat adalah beban. Sebuah suara memecah sunyi dari dalam rumah. Pintu belum terbuka, tetapi suaranya jelas terdengar menembus udara malam.
“Sagara, kau masih di luar?” tanya ayahnya datar, lebih seperti penegasan daripada pertanyaan. Sagara yang berdiri di teras menoleh sedikit. Bahunya kaku. Ia menarik napas pendek sebelum menjawab pelan, “Iya, Ayah.”
Tak lama, suara itu kembali, lebih tegas. “Masuk. Jangan seperti anak yang tidak punya rumah.” Kata-kata itu terdengar tajam, menggantung di udara, meninggalkan kesan dingin yang jauh lebih terasa daripada angin malam yang menyentuh kulit Sagara. Kalimat itu tidak terdengar kasar bagi orang lain, tetapi bagi Sagara, ada sesuatu yang menusuk di dalamnya. Ia berdiri perlahan, jemarinya sempat mengepal tanpa sadar, sebelum akhirnya melangkah masuk. Tidak ada bantahan, tidak ada pula perubahan raut wajah, hanya gerakan tenang yang menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Ia sudah terlalu sering mendengar nada seperti itu untuk merasa terkejut; luka yang sama, diulang dengan cara yang hampir serupa, hingga akhirnya terasa biasa.
Di meja makan, Sagara duduk berhadapan dengan ayahnya, menjaga jarak yang terasa kaku. Ibunya sibuk menyendok nasi tanpa menatap siapa pun, gerakannya tenang namun terasa jauh. Lampu minyak di tengah meja bergoyang pelan, cahayanya bergetar dan menciptakan bayangan yang bergerak di dinding, membuat suasana semakin sunyi.
Sagara menunduk, memainkan sendoknya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara, suaranya pelan dan hati-hati. “Ayah … hari ini aku membantu memperbaiki pagar belakang.”
Ayahnya mengangkat kepala sedikit, menatapnya sekilas tanpa ekspresi. “Siapa yang menyuruh?” tanyanya datar.
“Tidak ada … aku hanya—,” Sagara mencoba menjelaskan, namun kalimatnya terpotong.
“Jangan melakukan hal yang tidak perlu. Itu bukan kewajibanmu.” Jawaban itu datang cepat dan tegas, menutup ruang untuk penjelasan. Sagara mengangguk pelan, kembali menunduk. Sendok di tangannya terdiam. Ia tidak melanjutkan kalimatnya karena ia tahu tidak ada gunanya. Sementara ibunya tetap diam, seolah tidak mendengar apa pun.
Malam semakin larut. Angin menyusup dari celah dinding, membawa dingin yang merayap pelan ke dalam kamar. Sagara berbaring di ranjangnya, menatap langit- langit yang gelap tanpa benar-benar melihat. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri, erat, seolah mencoba mengisi ruang yang tak pernah terisi.
“Begini saja cukup,” bisiknya pelan.
Namun, di dalam dirinya, ia tahu itu tidak benar. Di luar sana, ia sering melihat hal-hal kecil yang entah mengapa terasa begitu besar. Seorang ayah yang menunggu anaknya di ujung jalan. Tawa ringan seorang anak saat dipanggil dengan suara lembut. Atau tangan yang mengusap kepala tanpa alasan. Hal-hal sederhana yang baginya terasa mustahil.
Suatu sore, saat pulang setelah membantu tetangga mengangkat air, langkahnya sempat terhenti. Di kejauhan, seorang anak duduk di bahu ayahnya, tertawa tanpa beban. Sagara hanya memandang, diam, sampai pemandangan itu perlahan menghilang bersama jarak.
“Kau tidak akan pernah seperti itu,” gumamnya. Ia tidak merasa iri. Perasaan itu sudah lama ia tekan hingga nyaris tak tersisa. Yang tinggal hanya kesadaran, bahwa ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Hari demi hari berlalu tanpa perubahan berarti. Sagara tumbuh menjadi anak yang tidak banyak bicara. Ia tidak meminta, tidak mengeluh, tidak berharap. Ia belajar memahami batasannya sendiri, bahwa ada hal-hal yang memang tidak ditujukan untuknya.
Namun, ada satu hari yang sedikit menggeser sesuatu, meski tidak benar-benar memperbaiki apa pun. Hari itu, ayahnya pulang lebih awal. Wajahnya tampak lelah, garis-garis keras di wajahnya terlihat lebih dalam dari biasanya. Langkahnya pun tidak sekuat biasanya saat ia masuk dan duduk di kursi kayu tanpa sepatah kata. Ibunya sempat menoleh sekilas, ada kecemasan yang tertahan di matanya, tetapi seperti biasa, ia memilih diam.
Sagara berdiri di sudut ruangan, memperhatikan dalam jarak aman. Ia ragu, seolah setiap langkah mendekat adalah keputusan yang harus dipikirkan matang. Setelah beberapa saat, ia akhirnya memberanikan diri membuka suara, pelan dan hati-hati, seperti takut salah tempat.
“Ayah … kau tidak apa-apa?”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, berat, seolah lelah bukan hanya pada tubuhnya, tetapi juga pada hal lain yang tak terlihat. Tanpa menatap, ia menjawab singkat, suaranya rendah dan tertutup.
“Tidak perlu kau pikirkan.”
Kalimat itu terdengar seperti batas yang seharusnya cukup untuk menghentikan apa pun yang ingin Sagara katakan. Namun kali ini, Sagara tidak langsung mundur. Ia tetap berdiri di sana, jemarinya saling menggenggam pelan.
“Aku bisa membantu,” lanjutnya, lebih pelan nyaris seperti bisikan yang dipaksakan keluar.
Ayahnya menoleh. Tatapannya berbeda dari biasanya. Tidak setajam biasanya, tetapi juga tidak mengandung kehangatan, seolah hanya melihat, tanpa benar-benar memperhatikan.
“Kau masih kecil.” Jawaban itu sederhana tanpa penekanan. Namun justru karena itu, maknanya terasa jelas. Tidak ada ruang di sana untuk dirinya, tidak ada peran yang bisa ia ambil. Sagara mengangguk pelan, hampir tak terlihat. Ia mundur tanpa suara, langkahnya ringan agar tidak mengganggu, meski ada sesuatu yang terasa jatuh di dalam dirinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak langsung berbaring. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, memeluk tubuhnya sendiri lebih erat dari biasanya, seolah berusaha menahan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
“Apakah sulit … baginya untuk menyayangiku?” tanyanya lirih, suaranya nyaris hilang di dalam sepi.
Beberapa hari setelah itu, keadaan ayahnya semakin memburuk. Ia tidak lagi pergi bekerja. Suara langkah yang dulu memenuhi rumah menghilang, digantikan oleh keheningan yang terasa lebih dalam. Ibunya kini lebih sering duduk di sampingnya, menggenggam tangan ayahnya sambil terus berdoa. Sagara hanya melihat dari kejauhan, tidak pernah dipanggil dan tak berani mendekat. Sampai suatu malam, panggilan itu akhirnya datang.
“Sagara.” Ia terkejut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali namanya dipanggil dengan nada yang tidak keras. Ia segera mendekat, langkahnya cepat namun tertahan.
“Iya, Ayah!” jawabnya pelan.
Ayahnya menatap cukup lama. Ada sesuatu di matanya yang asing bagi Sagara, sesuatu yang terasa terlambat untuk dikenali.
“Kau … tidak pernah merepotkan. Ayah dan Ibu menyayangimu.”
Kalimat itu terdengar janggal di telinga Sagara. Bukan karena buruk, tetapi karena asing. Ayahnya menarik napas berat sebelum melanjutkan, “Kami tidak pandai, terutama aku, untuk menunjukkan hal-hal seperti itu.”
Sagara menunduk sebentar sebelum menjawab pelan, “Aku tahu.” Meski dalam dirinya, ia tidak benar-benar yakin pernah merasakannya.
Ayahnya mengangkat tangan sedikit ragu, lalu berhenti di udara. Gerakan itu canggung, seolah ia ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pelajari. Sagara yang melihatnya, perlahan meraih tangan itu dan mengusapkannya ke kepalanya sendiri. Sentuhan itu akhirnya terjadi. Terasa begitu hangat, meski sebentar.
“Ayah … akhirnya aku merasakannya…,” ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
Keesokan harinya, ayahnya meninggal. Rumah itu kembali sunyi, tetapi dengan cara yang berbeda. Ibunya lebih sering menangis dalam diam. Sementara Sagara tetap tenang dan tidak banyak bicara, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun pada malam hari, saat tidak ada yang melihat, ia kembali memeluk dirinya sendiri. Tapi kali ini berbeda, ia tidak lagi merasa kosong ataupun menyedihkan. Ia memejamkan mata dan mengingat satu-satunya momen itu.
“Sekali saja cukup…,” bisiknya pelan. Air matanya jatuh tanpa suara. Di luar, angin malam berembus seperti biasa, membawa dingin yang kini terasa akrab. Sagara tetap duduk di sana, memeluk dirinya sendiri. Namun di balik itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Bukan kebahagiaan dan bukan pula kelegaan, hanya penerimaan bahwa tidak semua anak mendapatkan cinta pada waktunya.
Ia mengangkat wajahnya dan menatap kegelapan.
“Aku tidak akan seperti itu,” bisiknya.
Tidak ada janji besar dalam kalimatnya. Hanya keteguhan yang lahir dari luka yang lama disimpan. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sepenuhnya sendirian, meskipun ia masih memeluk dirinya sendiri.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 26 April 2026.
Tentang Cerpenis
ReverieeKaryanya terbit di SIP Publishing dan MediumKata. IG: @museaura._
Testimoni Reveriee
Saya memilih tema keluarga karena masih banyak kesalahpahaman yang berawal dari kurangnya komunikasi. Saya ingin menyampaikan bahwa tidak semua orang yang terlihat cuek dan dingin berarti tidak peduli. Ada kalanya mereka sebenarnya memiliki rasa sayang yang besar, tetapi tidak mampu mengungkapkan melalui kata-kata maupun tindakan karena tidak terbiasa. Melalui cerpen ini, saya juga menggambarkan harapan seorang anak akan kasih sayang orang tuanya yang ia kira tidak ada, padahal sesungguhnya sangat besar.
Cerpen ini sebagai bagian dari upaya merekam jejak perjalanan kepenulisan. Dari beberapa karya, salah satunya saya kirimkan. Saya tidak pernah menyangka cerpen terpilih sebagai pemenang, karena sebelumnya saya merasa pesimis melihat karya penulis lain yang begitu bagus. Kurangnya rasa percaya diri membuat saya terkejut saat menerima notifikasi kemenangan, hingga saya menangis haru. Saya merasa sangat bangga karena dapat terkurasi. Saya berharap sayembara ini dapat menjadi wadah para penulis untuk menyalurkan aspirasi dan kreativitas, sekaligus mendorong mereka untuk terus berkembang melalui apresiasi yang diberikan.
