Cerpen Sastra

Rencana Pelarian Ayam (Cerpen Haniah Nurlaili)

Kukuruyuukkk…!!!
Suara kokok ayam nyaring terdengar pertanda pagi telah datang. Tak seperti hari-hari biasanya yang riuh, suasana pagi di sebuah kandang tempat suara kokok ayam tadi berasal sangat tenang. Ayam-ayam di kandang berukuran 3×2 meter itu saling berbisik sambil memasang muka pucat.
***

“Aku tadi tak salah dengar, bukan?” tanya salah satu ayam memastikan. Ia mencoba berdiri walau agak sempoyongan. Nampaknya tidurnya semalam terlalu nyenyak.

“Betul, yang barusan berkokok tadi adalah Jalu.” Jawab ayam berbulu putih kecoklatan.
“Pertanda buruk.” Timpal ayam berkaki pincang.
“Setidaknya kau aman.” Ucap ayam pertama menenangkan.

Bukan tanpa alasan mereka semua merasa cemas. Setiap ayam di kandang itu mempunyai jadwal berkokok yang sudah diatur oleh Jalu, sang pemimpin kandang. Jalu ditunjuk sebagai pemimpin karena dia adalah ayam jantan paling kuat di kandang itu. Tubuhnya tegap, lehernya panjang, bulunya hitam mengilat, cekernya kuat, dan jengger-nya berdiri tegak bak mahkota raja.

Ada delapan ekor ayam dewasa yang ditunjuk Jalu untuk berkokok sebelum matahari muncul. Mereka berkokok bergiliran sesuai hari pasaran Jawa. Dalam siklus pasaran Jawa, satu pekan terdiri dari lima hari pasaran yaitu Paing, Pon, Wage, Kliwon dan Legi.

Tiap pasaran Paing, Pon, Wage dan Kliwon masing-masing ada sepasang ayam yang berkokok. Sisanya pada pasaran Legi, Jalu memilih berkokok sendiri. Nah, pada pasaran Legi itulah digelar pasar hewan yang cukup ramai di dekat balai desa. Orang-orang saling bertransaksi hewan piaraan mereka. Ada sapi, kambing, kerbau, dan tentunya ayam. Tiap pasaran Legi tiba, ayam-ayam di kandang sempit itu selalu bertanya-tanya, siapa yang nanti akan mendapat giliran dijual oleh sang pemilik rumah.

Matahari belum nampak tatkala Ibu menuju dapur yang bersebelahan dengan kandang. Ibu adalah manusia yang selalu muncul pertama kali setelah ayam-ayamnya sibuk bersuara. Biasanya beliau akan duduk sebentar di dapur, mengambil wudu setelah usai menaruh seketel air di atas tungku.

“Kalian tahu kan, apa yang harus kita lakukan?” kata Trondhol, wakil pemimpin kandang setelah melihat Ibu hilang di sebalik pintu. Seperti pada pasaran Legi lainnya, mereka sibuk merencanakan pelarian.

“Kita harus memikirkan cara lain. Selama ini kita mudah sekali tertangkap.” Kata salah satu ayam was-was.

Mereka sadar, mata mereka yang terletak di samping membuat mereka kerap buta arah karena pandangan tak bisa lurus ke depan. Tak seperti hewan-hewan lainnya yang gampang melaju kencang. Maka dari itu, setiap ayam-ayam tersebut merencanakan pelarian, mereka mudah sekali tertangkap karena mereka hanya berlari tanpa arah yang pasti. Agar pelarian kali ini berhasil, tentu mereka harus membuat perencanaan sematang mungkin.

Trondhol turut khawatir. Apalagi pada pasaran Legi lalu ia menyaksikan Babon, si ayam betina primadona di kandang itu berhasil ditangkap oleh Bapak. Tubuh Babon yang montok itu membuat Ibu tergiur untuk menjualnya. Kakinya kemudian diikat dan dibawa Ibu ke pasar hewan. Dalam gendongan Ibu, Babon berteriak-teriak. Ia sungguh tak mau dijual, tapi apa daya keluarga itu sedang membutuhkan uang.

“Kalian tak memikirkanku?” si ayam pincang memecah keheningan. Kalau mereka yang cakarnya kuat-kuat saja khawatir dalam merencanakan pelarian, bagaimana dengan nasibnya?

“Jelas kau tidak akan dijual.” Jawab ayam bercorak coklat.
“Tapi mungkin akan berakhir di kuali, ha-ha-ha…” sambungnya terbahak-bahak. Si ayam pincang semakin lemas.

“Bagaimana kalau nanti setelah sarapan kita kabur saja?” usul ayam lainnya.

Di dalam kandang itu, ada 17 ekor ayam yang semuanya adalah ayam kampung. Tiap pagi keluarga itu akan memberi makan berupa bekatul. Setelah itu mereka akan dilepas dan mereka bebas mencari makan maupun beraktivitas di luar. Saat matahari hampir tenggelam, barulah mereka pulang ke kandang. Sebelum masuk kandang mereka akan kembali diberi makan malam, bisa berupa jagung maupun nasi sisa makan siang keluarga.

“Aku tak yakin, sebab tiap kita beraktivitas di luaran, mata Jalu tak pernah lepas mengawasi kita.” Jawab Trondhol ragu. Sedari tadi mereka masih belum menemukan strategi jitu untuk pelarian mereka. Dalam hatinya, Trondhol mengakui kalau dirinya memang teramat bodoh. Ia hanya sembunyi di sebalik pohon jati, di antara tumpukan sampah, atau di dekat sungai tempat biasa ia berkumpul dengan sekawanan ayam lainnya.

Tentu Jalu begitu mudah menemukannya dan menggiringnya untuk segera kembali ke kandang. Ia cuma beruntung belum mendapat giliran dijual Ibu ke pasar hewan.

“Hmm… ngomong-ngomong, kamu itu wakil pemimpin kandang. Kenapa kamu malah ikut merencanakan pelarian?” selidik ayam berkaki pincang sembari berbisik. Pandangannya tak lepas dari Jalu yang sedang duduk di pojokan kandang. Jalu terlihat sedang berbicara dengan ayam-ayam yang lebih muda.

“Semenjak Babon dijual, aku sudah tak punya semangat hidup di kandang ini.” Jawab Trondhol lemas. Dia teringat angan-angannya untuk membentuk keluarga kecil bersama Babon harus pupus seketika. Ia menyesal karena belum sempat mengawininya. Tiap malam ia teringat bulu-bulu putih Babon yang sangat cantik. Bulu-bulu itu menutupi tubuh montoknya, membuat pikirannya semakin kacau tiap mengingatnya. Dan sialnya, ia tak tahu harus berbuat apa.

“Apalagi kalau nanti kita dijual, apa kita tahu bakal jadi apa? Bisa-bisa jatuh ke tangan yang salah!” tambah Trondhol yang semakin mengkhawatirkan nasib mereka.

Sebenarnya, Ibu tak selalu menjual ayam-ayamnya pada hari pasaran hewan. Biasanya Ibu hanya menjual telur-telur dari para betina untuk sekadar menyambung hidup. Telur ayam kampung memang terkenal banyak manfaatnya, jadi banyak orang yang mencarinya. Namun jika beliau sedang membutuhkan uang, beberapa ayamnya ditangkap lalu dijual. Hasilnya lumayan untuk makan beberapa hari ke depan.

“Maksudmu, bertarung di arena sabung ayam?” tanya ayam bercorak kuning-hitam yang sedari tadi diam. Ia bergidik ngeri membayangkan bulu-bulunya rontok, kakinya patah, atau badannya berdarah-darah karena harus bertarung dengan ayam-ayam kuat dari desa sebelah. Trondhol mengangguk. Pembicaraan mereka terhenti saat air yang dimasak Ibu telah matang, sedangkan rencana pelarian mereka masih mentah. Kini mereka sedang menunggu sarapan sembari bertanya-tanya, apakah hari ini mereka akan berakhir di pasar hewan atau tidak.
***

Waktu sarapan pun tiba. Di luar kandang, bekatul yang sudah diaduk Bapak lantas diletakkan ke wadah-wadah bambu yang dilubangi serupa kentongan. Tak lupa air minum mereka yang dituangkan ke dalam batok-batok kelapa. Mereka segera menyantapnya dengan lahap.

“Sepertinya, hari ini kita aman.” Ucap ayam berbulu putih kecoklatan. Biasanya saat mau dijual, Bapak dan Ibu akan menunggui mereka makan. Setelah kekenyangan dan lengah, barulah ayam-ayam itu akan ditangkap. Namun sekarang mereka berdua tidak nampak.

Saat ayam-ayam sedang asyik menikmati makanan, tiba-tiba saja sebuah jaring berukuran besar menimpa mereka. Sontak suara riuh terdengar bersahut-sahutan. Ayam-ayam itu bingung dan buta arah. Bahkan mereka saling bertabrakan. Mereka terperangkap dalam jaring berukuran besar itu. Tak ada kesempatan sama sekali untuk melarikan diri.

Trondhol memicingkan mata untuk mengetahui apa yang terjadi. Sayup-sayup ia mendengar Bapak mengatakan kalau kepala desa membutuhkan ayam kampung dalam jumlah banyak. Entah buat apa, tapi yang pasti sang kepala desa sedang mempersiapkan pencalonannya untuk periode kedua. Kesempatan itu digunakan Bapak dan Ibu untuk melunasi hutang si anak bungsu yang terkenal begundal sedari dulu.

Trondhol lemas. Sementara itu matanya masih mencari-cari keberadaan Jalu. Ternyata dia aman dalam gendongan si anak bungsu. Trondhol tersenyum kecut. Pelarian dia dan teman-temannya memang hanya akan berakhir di kuali, tapi Jalu tentu akan bernasib lebih buruk. Tak lama lagi, dia pasti akan bertarung di arena sabung ayam karena watak picik si anak bungsu keluarga itu.

Trondhol bergumam, lebih baik langsung mati dengan sebilah belati daripada harus mempertahankan hidup dengan luka-luka di sekujur tubuhnya demi kelakuan manusia tak tahu diri. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 20 Agustus 2023

Cerpenis

Haniah Nurlaili
Cerpennya pernah dimuat di Solopos dan Detik.com. Bertempat tinggal di Sragen, Jawa Tengah. Hobi menulis dan penyuka dekorasi rumah. Cerpen-cerpennya pun pernah dimuat di Joglosemar, ideide.id, Kedaulatan Rakyat, Mbludus.com, Fiksi Islami, dan Harian Rakyat Sultra. Akun IG dan FB: @hanie_rahmadilla

Testimoni Haniah Nurlaili
Selasa, 22 Agustus 2023

Saat @cerpen_sastra hadir, saya cukup kagum dengan sistem pemuatannya. Saya sering merasa resah karena dalam mengirim karya ke banyak media cetak maupun daring harus menunggu minimal satu bulan untuk mengetahui karya kita dimuat atau tidak.

Di @cerpen_sastra, dalam kurun waktu maksimal satu minggu, kita dapat mengetahui nasib karya kita. Jika tidak dimuat, kita segera tahu harus berbuat apa dan tidak menunggu dalam ketidakpastian yang terlalu lama.

Untuk apresiasi honor, tidak perlu diragukan lagi. Pada hari cerpen kita dimuat, honor kita langsung dikirim pula. Luar biasa, padahal di media lain harus menunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Saya berharap @cerpen_sastra bisa terus berkembang dan menjadi wadah sekaligus angin segar bagi penulis pemula di tengah berita yang beredar bahwa media sastra lainnya tumbang akibat masalah finansial.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *