“Om Sarwa Wighna Sarwa Klesa Sarwa Lara Roga Winasaya Namah.”
“Om Bhur Bhuvah Svah Tat Savitur Varenyam Bhargo Devasya Dhimahidhiyo Yonah Pracodayat1.”
“Om ….”
***
Bibir tandus Nilam perlahan berhenti berkata-kata. Suaranya yang parau itu lama-lama hilang ditelan angin. Aku terus menyiraminya dengan cahaya senter, meski wajah layu itu tidak akan mekar lagi. Tubuhnya gemetar, sesaat kemudian ia pun terkapar di tengah-tengah mayat yang tidak berbau. Meninggalkanku membatu di antara barisan orang-orang mati.
***
Sudah dua hari Ni Laras tidak bangun. Wajah hitam manisnya perlahan memutih seperti kapas, padahal tidak pakai bedak. Jari-jari lentiknya mendadak kaku, kulitnya pun terasa dingin seperti es batu.
Keluarga dan ipar-iparku sudah berdatangan sebab kabar burung sudah menyebar. Kubiarkan mereka menggosok gigi-gigi istriku dengan beras yang telah digongseng, lalu menempelkan bumbu-bumbu dapur seperti laos, kencur dan daun sirih di bagian ulu hatinya. Terakhir wanita yang telah kunikahi selama tujuh tahun itu dipakaikan kain batik merah baru yang membungkus tubuhnya sampai mata kaki.
Aku sudah tak sanggup mengamati prosesi kematian Ni Laras. Mereka membuatnya tampak seperti hidup lagi. Di setiap sela jarinya disematkan jeriji2, dan di telapak kedua tangannya digenggamkan uang perak. Persis seperti biasanya ketika wanita itu hendak pergi menari. Namun lagi-lagi hatiku remuk seperti diinjak-injak gajah saat melihat beberapa pemuda sudah meletakkan tubuhnya ke dalam klakat3, lalu bersama-sama menggotongnya pergi ke sema wayah4.
“Biang5 mau ke mana, Aji6?” tanya gadis kecil berwajah mirip Ni Laras padaku.
“Ke nirwana,” jawabku seadanya.
“Di mana nirwana itu?”
“Di bawah pohon,” balasku asal-asalan.
Ia hanya terpaku dengan wajah penuh tanda tanya.
***
Sudah tiga hari Ni Laras pergi. Rumah ini lama-lama terasa seperti pemakaman yang ditaburi kelopak melati. Tidak ada lagi suara sendok dan piring yang membangunkanku di kala matahari masih mengintip. Aroma asam, gurih dan pedas ikan mujair nyat nyat7 yang selalu menyambutku di depan pintu pun sudah terkubur bersama orang yang sering memasaknya. Entah bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan separuh jiwa yang tersisa. Entah bagaimana aku bisa mengurus anaknya yang penyakitan itu sendirian.
Dulu memang aku menganggap Nilam seperti anakku sendiri. Namun sejak Ni Laras menyerahkan ginjal dan nyawanya pada anak itu, hanya benci yang bisa kusuguhkan setiap hari untuknya. Apalagi makin hari sifatnya semakin menyerupai bapak kandungnya saja. Laki-laki gila yang secara paksa menanam benihnya di perut wanita yang kucintai sejak dahulu kala.
Belakangan ini ia sering bicara sendiri sambil mencari-cari sesuatu di bawah pohon sampai larut malam. Namun aku tak ambil pusing. Aku sudah tak peduli lagi dengannya, pertanyaan-pertanyaan bodohnya, makannya, obatnya atau bahkan nyawanya. Entah mengapa setiap kata-kata yang keluar dari mulut anak kecil berusia tujuh tahun itu selalu saja membuatku naik darah. Seperti tadi pagi, ia sudah ratusan kali bertanya hal yang serupa.
“Kapan Biang pulang, Aji? Nilam lapar sekali,” ujarnya sambil terus menarik-narik lengan bajuku.
“Nanti malam, pukul 09.00,” jawabku lagi, datar. Biasanya Nilam memang sudah tidur setelah pukul 09.00 malam. Dengan begitu dia tak akan bertanya lagi. Sialnya, anak kecil kepala batu itu terus saja mencari ibunya. Ia tetap menodongku dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
“Sampai kapan Nilam harus menunggu, Aji? Nilam rindu, sangat rindu sama Biang. Antarkan Nilam ke tempat Biang sekarang!” teriaknya sambil mengobrak-abrik lembaran tugas di meja kerjaku hingga terkena tumpahan kopi karena tak kunjung kuhiraukan. Darahku yang dari tadi sudah mendidih membuatku menghempaskan tangan mungil Nilam sampai tubuhnya pun ikut terdorong membentur dinding.
“Jika kau sangat ingin bertemu Biangmu mati saja sana! Dasar anak sinting! Bikin susah saja!” pekikku hingga membelah angkasa. Seketika dari mata bulatnya itu turun hujan yang begitu deras. Ia ketakutan dan berlari entah ke mana.
***
Entah sudah berapa jam aku berkeliling desa, mencari pohon di mana Biang tinggal. Aku rindu pada nasi jinggo yang selalu Biang bawa pulang dari pasar. Saking laparnya aku bahkan sampai berebut rumput di bawah pohon dengan para kerbau di ladang yang entah punya siapa. Aku baru sadar sedang makan rumput ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“Hei Nilam, sedang cari apa?” tanya Wayan, teman sekelas di sekolah sekaligus teman sekamarku ketika di rumah sakit dulu. “Wayan? Kau sudah sembuh?” tanyaku balik.
“Ya begitulah. Sepertinya aku tak akan pernah ke rumah sakit lagi. Biang sudah membawa pulang semua barang-barangku. Apa yang kau gali di bawah pohon?”
“A-aku … sedang mencari Biang. Ajiku bilang Biang ada di bawah pohon, tapi entah pohon yang mana, sudah berhari-hari tidak kutemukan juga.”
“Biangmu yang rambutnya panjang sampai pinggang dan sering pakai kain batik merah itu kan? Kemarin aku melihatnya tertidur di bawah pohon trunyan.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Kemarin aku baru saja ke sana, ikut Biang mengunjungi Kakek. Rupanya Biangmu pun di situ juga, sedang tidur di dalam ancak saji8. Mungkin dia jatuh sakit karena terlalu lelah menari.”
“Di mana pohon trunyan itu?”
“Di tempat yang penuh dengan tengkorak. Ajaklah Ajimu pergi ke sana.”
“Tapi … Aji sedang marah padaku.”
“Baiklah, kalau begitu akan kuantar kau ke sana. Nanti kau pun harus baca mantra supaya Biangmu sembuh.”
“Mantra?” Keningku berkerut berusaha mencerna makna kata tersebut.
“Ya, sesuatu yang bisa menyembuhkan orang sakit, sepertiku, seperti Biangmu.”
“Nanti tengah malam, saat pemilik perahu dayung sudah pulang, ikutlah denganku.”
***
Malam tampak murung tanpa cahaya bulan. Aku diselimuti rasa ragu untuk membelah hutan. Di depan pintu masuk ke sema wayah banyak sekali tengkorak manusia yang disusun berjajar.
“Ayo, jangan takut,” ajak Wayan.
Aku pun mengikutinya sampai ke sebuah tempat yang dihuni oleh sebelas orang yang tidur di tanah, sepertinya mereka sedang sakit parah. Bahkan ada yang sudah tinggal kulit pembalut tulang. Aku segera mencari Biang di antara mereka. Itu dia!
“Kau benar Wayan, Biangku masih belum bangun juga. Bahkan keadaannya sudah semakin parah. Setengah tubuhnya sudah membusuk, sebelah matanya sudah pecah, kulitnya pun sudah terkelupas. Bisa kau beri tahu aku mantra itu sekarang?”
“Kau yakin? Sebab selama tujuh hari tujuh malam kau tak boleh berhenti merapalkan mantra tersebut.”
Aku mengangguk tegas. Aku mengikuti gerakan bibir Wayan dengan lantang dan sempurna. Satu hari … dua hari … tiga hari ….
Sampai pada hari ketujuh. Bibirku sudah kering, badanku semakin hari semakin ceking. Hingga akhirnya aku tak sanggup lagi mengucapkan kata-kata. Sementara suara Wayan juga sudah berganti dengan desau angin yang berpadu dengan gemerecik daun-daun pohon trunyan.
Saat itulah aku melihat seorang wanita muncul dari cahaya. Tubuhnya dililit dengan kain batik baru, rambutnya berkilau dibelai sinar rembulan. Di tangannya terdapat sebungkus nasi jinggo. Biang datang menjemputku pulang.
Sebelum ikut pergi, aku sempat melihat tubuh Biang kemarin yang sudah membusuk sempurna, tubuh Wayan yang digerogoti ulat tepat di samping ancak sajinya, tubuhku sendiri yang tergeletak dengan mulut sedikit menganga di atas kasur tanah dan Aji yang sedang banjir air mata sambil meraung-raung seperti orang gila.
- Mantra dalam bahasa Bali yang dipercaya bisa menyembuhkan orang sakit. ↩︎
- Gulungan daun sirih yang dimasukkan dalam uang kepeng. ↩︎
- Usungan mayat yang terbuat dari bambu. ↩︎
- Kuburan utama orang-orang Desa Trunyan yang meninggal secara wajar. ↩︎
- Ibu dalam bahasa Bali. ↩︎
- Ayah dalam bahasa Bali. ↩︎
- Makanan tradisional khas Desa Trunyan berbahan ikan mujair yang dimasak dengan racikan bumbu khas Bali (base genep) sampai airnya menyusut. ↩︎
- Pagar dari anyaman bambu yang berfungsi melindungi mayat dari serangan binatang buas. ↩︎
Tanggal tayang:
Minggu, 13 Agustus 2023
Cerpenis
Anggi Gayatri Purba
Cerpennya pernah terbit di Jawa Pos dan Medan Pos. Gadis yang berdomisili di Kota Binjai ini sangat suka merancang plot twist dan merawat kucing kesayangan yang bernama Misty. Pernah beberapa kali banjir air mata karena kehilangan kucing (walaupun bertemu lagi) dan saat kucing harus dipasang kateter karena kencing darah. Cerpen-cerpennya banyak yang tercetak dalam buku antologi juara seperti Percakapan Dua Mayat, Kalung Jali Jagung, dan lain-lain. Bisa dihubungi lewat IG: @anggie.gayatrii.
Testimoni Anggi Gayatri Purba
Selasa, 15 Agustus 2023
Bagi saya, @cerpen_sastra merupakan korek api yang mampu membakar semangat para penulis dalam terus menghasilkan karya. Sebab selain dapat hadiah sebagai bentuk apresiasi, cerpen pemenang juga diposting dan dapat dibaca oleh sesama penulis di akun @cerpen_sastra sendiri, sehingga penulis lain bisa diskusi dan tahu karya-karya seperti apa yang kemungkinan berpotensi jadi selera juri.
Sedikit cerita, cerpen “Pukul 09.00 di Bawah Pohon Trunyan” ini sendiri sudah lama berkelana ke media-media, tapi tidak pernah disambut. Akhirnya setelah revisi 3 tahun, baru ketemu jodohnya di @cerpen_sastra. Dari situ saya percaya jika setiap tulisan pasti ada jalannya masing-masing, jadi percayalah pada revisi, hehe.
Saya sendiri sangat salut terhadap kehadiran @cerpen_sastra di tengah gersangnya wadah-wadah kepenulisan yang shutdown dikarenakan masalah finansial. Ke depannya, saya berharap @cerpen_sastra bisa terus hidup dan berkembang demi kemajuan literasi bangsa.
