Bau karbol itu, lagi-lagi menyeruak dari dapur dan menyelinap masuk ke dalam kamarku. Bau itu seperti jeruk. Sesekali terasa menyengat, namun sangat memikat. Kulihat jam di dinding; pukul sebelas malam. Bapak pasti belum pulang, dan paling-paling Ibu sedang melakukan rutinitas biasanya setiap malam; mengepel lantai. Seperti tabiatnya, pekerjaan ini Ibu lakukan sehabis dia mandi. Katanya, “Mumpung habis mandi. Biar wangi!” Dan aku tahu Ibu hanya mandi satu kali dalam satu hari. Artinya dalam satu minggu, ia hanya mandi tujuh kali. Bukan empat belas kali. Itu pun bukan mandi pagi.
,,,
Kusingkap selimutku, lekas bergegas menuju dapur. Sambil berjinjit pelan, aku menghirup segala udara yang berada di sekitarku. Merasakannya, membauinya, menciuminya. Sampai-sampai dada dan perutku mengembang. Penuh oleh bau karbol.
Ibu hanya memakai handuknya yang menutupi sebagian tubuhnya dan dilipat di bagian dada agar tidak merosot. Kepalanya basah. Rambutnya masih lepek. Dari rambut-rambut itu, di antara uban Ibu, air bekas mandinya menetes-netes lamban di lantai, lalu memercik, membentuk jejak-jejak. Setelah jejak-jejak itu terbentuk dan menggenang, Ibu bersicepat mengayunkan gagang pelnya seperti tongkat penyihir, lekas mengelap lambat-lambat jejak-jejak itu; menyebarkannya ke seluruh lantai.
Aku melompat ke meja makan, menatap Ibu yang tengah sibuk melakukan pekerjaannya sehari-hari. Mengepel sana-sini, ke sudut-sudut ruangan, segala penjuru rumah, tak lupa juga ubin-ubin pada kandang ayam istimewa di belakang rumah kami. Semuanya Ibu pel tanpa ada yang terlewat. Dan semua itu Ibu lakukan pada setiap malam, pukul sebelas, dan Bapak belum pulang.
Dapur adalah target pertamanya untuk ia pel. Selanjutnya, Ibu berangkat ke ruang tamu, lalu kamarku, kamar Bapak, ruangan-ruangan lain di rumah ini termasuk gudang, lekas beranjak ke luar rumah. Tujuannya adalah teras dan kandang ayam. Keesokannya, seperti biasa, sebelum berangkat sekolah, aku menciumi satu per satu dinding di rumah ini. Oh, bau karbol itu membuatku sangat bergairah, dan membawa rohku mengawang-ngawang entah ke mana–yang pasti bukan ke sekolah.
Sekitar dua atau tiga jam, Ibu baru beres melakukan pekerjaannya. Ia tidur ketika hari sudah berganti. Dan aku sudah terlelap, memeluk gulingku erat-erat, lantas bermimpi taman bermain jenis apa lagi yang harus aku kunjungi. Apakah taman bermain jenis makanan yang aneka permainannya terbuat dari makanan, atau jenis taman bermain yang penuh bunga-bunga cantik, di mana sekelilingnya dijaga oleh sekawanan peri. Oh, aku tidak tahu! Sungguh, aku tidak tahu. Yang pasti saat itu–yang aku tahu– Bapak belum pulang. Alat pel milik Ibu masih teronggok di sudut dapur. Aku belum tidur.
***
Malam, pukul sebelas, setelah kudengar suara jebyar-jebyur Ibu mandi dan kucium bau karbol itu, lagi-lagi mampu menerobos lubang hidungku. Aku gegas beranjak menuju dapur. Di sana, kutemukan Ibu tetap sibuk melakukan pekerjaannya dengan syahdu. Air menetes dari rambutnya. Dengan cepat, Ibu menggarapnya seperti petani yang membajak lahan sawah. Kerbaunya adalah tongkat pel milik Ibu.
Suatu waktu, aku pernah melihat tongkat pel itu teronggok di dekat kamar mandi. Lantas, aku sempat bermain dengannya, entah itu berlagak seperti seseorang yang membawa tombak atau penyihir dengan sapu ajaibnya. Namun, tiba-tiba aku sadar. Kuperhatikan lamat-lamat kain pelnya yang berwarna kuning kencing dan berbentuk garis-garis panjang seperti rambut, ternyata mulai habis satu per satu. Beberapa di antaranya kutemukan tercabut dari tongkatnya, seperti rambut yang rontok lekas berjatuhan. Kadang kala kulihat kain pel itu mendadak utuh kembali. Sulur bulur kain pel itu mendadak terikat pada penyangga pel sesuai dengan jumlahnya. Pas.
Dan saat itulah, aku menyadari rambut-rambut milik Ibu juga mulai habis satu per satu. Tidak seperti kain pelnya. Di saat rambut-rambut Ibu berjatuhan dan aku terus memungutinya, kain pel itu tambah semakin banyak. Semakin lebat. Semakin menjalar lebih besar. Dan, rumahku semakin bersih. Semakin kinclong. Meski begitu, Bapak belum pulang. Dan Ibu terus mengepel setiap malam. Pukul sebelas. Setelah ia mandi.
***
Tiap jengkal lantai masih berdebu, kandang ayam masih kotor dan dipenuhi kotoran, bawah sofa masih lengket sebab remah-remah cemilan ringan yang jatuh atau air minum yang tidak sengaja tumpah, begitu pula dengan bawah meja makan, bawah ranjang tempatku tidur, bawah lemari, bawah kulkas, bawah jendela. Dan sebelum hal-hal itu akan menjadi suatu monster kotoran yang mengerikan, Ibu harus mengepelnya sebersih mungkin. Sekinclong mungkin. Setiap hari. Setiap malam. Pukul sebelas. Setelah ia mandi.
Aku pernah membantu Ibu mengepel rumah. Seminggu yang lalu, saat Bapak sudah pulang dan masih ada, aku mencoba untuk mengepel dapur. Pekerjaan ini tidak sesulit yang aku kira. Justru sangat menyenangkan. Aku bisa membersihkan sisa-sisa makananku sendiri yang terjatuh dari mulut dan ketika aku berhasil membersihkannya, entah kenapa hatiku merasa puas.
Aku hendak mencoba untuk mengepel ruang tamu, bahkan sampai ke kandang ayam di belakang rumah kami. Namun, Ibu mencegahnya. Katanya, rambutku masih muda. Masih lebat. Pula, masih hitam legam. Masih cocok untuk memikat para hati lelaki dan tidak cocok untuk dibuat kain pel. Pasti nantinya malah bakal rontok. Berserak-serak.
Aku bertanya, rambut Ibu juga masih muda. Masih lebat. Pula, masih hitam legam. Namun, kenapa Ibu malah mengepel? Ia lalu menjawab, karena rambutnya sudah berhasil memikat satu laki-laki, jadilah rambut Ibu harus dibuat kain pel. Rambut perempuan itu ditugaskan untuk membersihkan rumah tangganya kelak ketika telah menikah. Tidak sekadar membersihkan rumah saja, namun segalanya; dari debu-debu luka yang terus berdatangan, dari peluh keringat yang terus bertumpahan, dari tetesan darah yang terus berjatuhan–membuat rumah tangganya kotor serta menjijikkan. Seutas demi seutas rambut perempuan mesti dikorbankan. Hal itu membuatku tidak ingin mempunyai rambut. Besok aku mau ke tukang potong rambut. Aku mau botak saja.
***
Kata Ibu, aku tidak boleh botak. Seorang perempuan seharusnya memiliki rambut, bukan botak seperti kepala boneka barbie yang kucabuti helainya dahulu ketika aku masih balita. Katanya, rambut adalah mahkota. Dan tanpa mahkota, perempuan tidak bisa menjadi ratu, melainkan menjadi pembantu. Namun, selama ini, mengapa Ibu tidak menjadi ratu melainkan menjadi seperti pembantu?
Ibu tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sibuk menggarap genangan-genangan cairan hijaunya yang menetes pelan dari rambutnya setelah mandi. Ya, hujan cairan dari rambutnya itu tidak sederas dahulu. Rambut Ibu sekarang sedikit, dan akan semakin sedikit lagi. Sedang kain pelnya yang banyak, semakin banyak lagi.
Aku tidak mau Ibu seperti itu. Aku tidak mau pula bernasib sama seperti Ibu. Aku tidak mau seperti Bapak. Aku tidak mau mempunyai suami seperti Bapak. Aku mau tidak nikah saja. Ya, sendirian sampai tua. Daripada aku harus menjadi mesin pel; membersihkan setiap sudut-sudut rumah. Ah!
***
Malam. Pukul sebelas. Bapak belum pulang. Dan bau karbol yang sering kucium setiap malam, tidak kembali menyeruak. Aku pergi ke dapur–seperti biasa–aku akan menemani Ibu mengepel lantai dapur, ruang tamu, sampai kamarku. Lantas selepas itu aku beranjak tidur. Namun, langkahku untuk pergi menuju dapur kali ini agak berbeda.
Bau itu amis. Oh, sangat amis!
Aku berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh, berbelok ke arah kanan dari gudang, lalu menengok seisi dapur. Di sana, ada Ibu. Seperti biasa, sibuk mengepel lantai di bawah meja makan atau lemari peralatan masak. Namun, cairan yang Ibu gunakan bukan lagi cairan hijau yang menetes perlahan-lahan dari rambut tebalnya yang basah serta lepek. Ibu tidak lagi memakai cairan tersebut. Lagipula, Ibu tidak lagi mempunyai rambut.
Ia botak. Ya, botak! Seperti kepala boneka barbie. Bedanya, ada ratusan bintik-bintik merah yang mengeluarkan cairan kental dari kepala Ibu. Bintik-bintik itu lekas membentuk lubang. Lubang yang sangat besar.
Mahkota Ibu telah hilang. Ia bukan lagi seorang perempuan. Perempuan seharusnya mempunyai rambut, itu yang ia katakan padaku dulu. Kulihat pel yang sibuk diayunkannya ke kanan dan ke kiri, sulur bulur kainnya banyak sekali. Dan, aku tahu itu adalah rambut-rambut Ibu. Pel berambut Ibu.
Tiga detik berselang, Ibu jatuh. Pingsan. Aku lalu buru-buru mengambil gunting. Melepas mahkotaku untuk memberikannya pada Ibu. Namun di saat itu, bintik-bintik merah yang muncul di kepala Ibu sama pula muncul di kepalaku. Dan mengeluarkan cairan kental yang sama merah. Baunya amis. Jumlahnya banyak. Lantas mengalir sedemikian rupa.
Mengalir, mengalir, mengalir…
Ah, aku rasa rumah ini terlalu membosankan. Perlu didekorasi! Sepertinya enak kalau aku cat ulang rumah ini dengan cat berwarna merah pekat. Pastinya, ini akan menjadi sebuah kejutan! Bagi Bapak yang akhir-akhir ini belum juga pulang.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 19 Januari 2025.
Tentang Cerpenis
Gagah Pranaja Sirat
Mendapat lebih dari 50 juara dan prestasi lomba kepenulisan fiksi serta non-fiksi. Memenangkan lomba cerpen dan puisi Festival Kenduri Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, serta juara kedua pada Bulan Bahasa Universitas Gadjah Mada. Bukunya: Novel Kepala Kakap (Palaray Media, 2023) dan Himpunan Puisi Ilmu Pengetahuan Setan (Mili Publisher, 2023). IG: @gahpraja.
Testimoni Gagah Pranaja Sirat
Pergulatan saya selama ini untuk bisa lolos kurasi dalam media cerpen sastra sungguh bukanlah sesuatu hal yang mudah. Lolos dalam media yang bergengsi ini cukup sulit. Butuh evaluasi beberapa kali ketika ditolak agar kemampuan menulis saya semakin berkembang. Ini membuktikan bahwa media cerpen sastra adalah media yang objektif dan benar-benar menerbitkan suatu cerpen dengan kualitas terbaik serta kebaruan. Cerpen tidak sekadar “sebuah cerita yang ditulis dengan pendek” saja. Namun, media ini dapat menayangkan cerita-cerita pendek yang mampu membuat cerita-cerita itu begitu ‘panjang’. Panjang dalam artian potensi multitafsir cerita ataupun daya ingat para pembaca yang terhasut ke dalam karya-karya sastra tersebut.
Setelah beberapa kali ditolak, saya melakukan pengamatan terhadap cerpen-cerpen yang berhasil lolos kurasi di media ini. Ternyata, media cerpen sastra lebih menayangkan cerpen-cerpen dengan kebaruan dan keunikan. Baik plot, alur, maupun judul. Alhamdulilah, akhirnya saya bisa tembus juga di media bergengsi ini. Semoga kedepannya cerpen sastra semakin sukses dan tersohor namanya. Sebab, cerpen-cerpen yang ditayangkan benar-benar berkualitas serta memiliki kebaruan yang mampu menarik minat bagi para pembaca awam.

