“Jika x + y = 12 dan x – y = 4, maka nilai x × y adalah…?”
***
Aku sudah menatap soal matematika itu cukup lama, tapi angka-angka di kertas terasa seperti barisan kode asing yang tak bisa kupahami. Aku tahu betul, bagi banyak orang soal seperti ini bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Tapi bagiku, ini seperti membaca tulisan-tulisan alien.
Ini bukan soal matematika biasa, dan bukan pula ujian sekolah seperti yang pernah kulalui. Ini adalah usahaku yang ketiga dalam tes CPNS, setelah dua kali gagal sebelumnya. Aku tahu betul, jika gagal lagi, aku harus menunggu setahun penuh untuk mengulang segalanya dari awal. Dan aku tidak ingin itu terjadi.
Otak dan tanganku sudah mencoba menulis beberapa cara yang terlintas, namun semuanya berakhir dengan coretan-coretan acak yang memenuhi pinggiran kertas. Bukannya menemukan jawaban, kepalaku malah terasa seperti dipenuhi uap panas yang sebentar lagi meledak. Bahkan kusadari, dari dua puluh soal matematika yang tersaji, tak ada satu soal pun yang bisa kuselesaikan.
Waktu terus berjalan, semakin menipis dan membuat napasku terasa lebih pendek. Detik-detik terakhir yang semestinya kugunakan untuk mencoba, justru menjadi saat di mana aku menyerah sepenuhnya. Tanganku berhenti menulis, kepalaku tertunduk, dan pikiranku mulai menjauh dari ruang ujian. Yang muncul justru bayangan wajah ibu, dan janji yang dulu pernah kuucapkan padanya dengan penuh keyakinan: bahwa aku berjanji akan lulus CPNS tahun ini.
Kini, janji itu berubah menjadi beban yang berat, menjadi utang yang terasa mustahil untuk kulunasi. Janji yang kini menggantung di antara rasa takut dan rasa bersalah yang perlahan-lahan menghimpit dadaku.
***
Udara di dalam bus yang kutumpangi terasa pengap, meski aku sudah keluar dari ruang ujian yang menyesakkan itu. Kepalaku masih terasa panas, seolah sisa-sisa ketegangan belum juga reda. Di kursi belakang, seorang remaja berseragam SMA merokok tanpa peduli sekitar, asapnya menguar ke arahku, membuat napasku semakin sesak dan kepalaku semakin berat.
Tapi yang paling menyesakkan bukanlah udara di bus atau asap rokok itu, melainkan pikiranku sendiri. Aku masih memikirkan bagaimana harus menjelaskan semua ini kepada keluargaku, terutama kepada ibu. Bagaimana aku harus mengatakan kepadanya bahwa aku gagal lagi.
Bagaimana aku bisa menatap mata ibu yang penuh tuntutan, jika satu-satunya kalimat jujur yang bisa kuucapkan hanya: “Aku tidak mampu menjawab soal matematika itu.” Kalimat yang sudah cukup untuk membuat tangan ibu terangkat, seperti yang sudah-sudah. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, lagi-lagi nilai matematika yang menjadi sebabnya. Ketika waktu ujian habis dan layar menampilkan hasilnya, nilai matematikaku terpampang jelas di sana. Jauh dari kata layak, bahkan nyaris menyentuh angka nol.
Mungkin nilai matematikaku yang buruk hari ini memang sudah bermula sejak masa sekolah dulu. Andai saja waktu itu aku benar-benar mau memperhatikan pelajaran, duduk diam dan mencoba memahami setiap rumus yang guru ajarkan, mungkin segalanya akan berbeda. Mungkin aku tidak akan duduk di dalam bus dengan penuh sesal dan dada yang sesak karena kegagalan yang berulang.
Tapi nyatanya, tak peduli sekeras apa pun aku berusaha, minat itu tak pernah tumbuh dalam diriku. Puluhan kali aku didaftarkan les oleh ibu, berpindah-pindah tempat, siang dan malam dipaksa belajar angka. Tapi hasilnya selalu sama, nilai matematikaku tetap di bawah garis aman. Anehnya, tanpa disadari, justru di pelajaran lain aku mampu bersinar. Aku unggul di bidang sastra dan bahasa, bahkan tanpa bantuan les sekalipun, nilai-nilaiku selalu mendapatkan hasil yang sempurna di dalam rapor. Tapi sayangnya, nilai seratus di pelajaran sastra tidak pernah membuat ibu senang. Ibu tidak pernah bangga dengan nilai itu. Bukan karena tak tahu, tapi karena tak peduli. Baginya, aku baru dianggap berhasil jika angka-angka di kolom matematika tidak lagi mempermalukannya.
Sambil duduk di dalam bus, pikiranku masih dipenuhi rasa sesak itu. Aku menatap keluar jendela, mencoba mengalihkan pikiran. Tapi di saat itulah, aku menyaksikan sebuah transaksi kecil tapi penting antara sopir bus dan seorang penumpang. Kulihat penumpang itu menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah sambil berkata, “Ini, Pak. Saya tadi dari dermaga.”
Sopir mengangguk, menerima uang itu, lalu mengaduk-aduk kantong plastik kecil berisi receh dan lembaran, sebelum menyerahkan kembaliannya kepada penumpang. Sesederhana itu, tapi aku tahu persis, itu adalah bentuk paling nyata dari matematika.
Aku sadar, segala yang ada di dunia ini tak lepas dari perhitungan. Dari bentuk bus yang simetris, posisi tempat duduk di bus yang terukur rapi, jalan raya yang membentang, hingga jembatan yang berdiri melayang, semuanya dibangun dari logika dan rumus. Aku tak menyangkal, matematika itu penting. Sangat penting. Dan nyatanya, ia ada di mana-mana.
Namun hadirnya matematika juga membuatku membencinya. Andai saja pelajaran itu tak pernah ada, mungkin aku tak akan dipaksa ibu untuk memahaminya, tak akan diseret jauh dari hal-hal yang sebenarnya kusukai. Mungkin aku bisa lebih leluasa menekuni dunia sastra, menulis cerita, dan menjadi penulis atau bahkan sastrawan seperti yang dulu diam-diam kuimpikan.
“Kak, kakak bisa bantu aku?” suara seorang anak SD di sebelahku membuatku tersentak.
“Iya, Dek. Bantu apa?”
“Ini, Kak. Aku ada PR matematika.”
Lagi-lagi matematika, pikirku sambil menghela napas.
“Coba sini, PR-nya apa?”
Anak itu menyerahkan selembar kertas dengan sepuluh soal matematika dasar. Soalnya sederhana. 2 x 3, 5 x 2, 10 ÷ 2, 16 + 10, hingga soal-soal pengurangan kecil. Semua bisa kupahami, bahkan bisa kujelaskan sedikit demi sedikit. Dan anak itu memperhatikan dengan mata berbinar.
“Oh, jadi kalau dua kali tiga itu maksudnya dua ditambah dua ditambah dua ya, Kak?”
“Iya, betul banget. Kamu ngerti?” “Nggak terlalu sih, tapi kalau kakak yang jelasin jadi ngerti,” katanya sambil nyengir.
Tak lama kemudian, ia tersenyum lebar dan berkata, “Wah, makasih ya, Kak! Kakak hebat banget bisa ngerjain soal matematika ini. Kakak pintar banget.”
Aku terdiam sebentar, lalu membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis. Sekilas, kata itu terasa hangat. Pintar. Sesederhana itu. Orang akan langsung menganggapmu pintar kalau kamu bisa menjawab soal matematika. Aku pun mengangguk kecil, meski dalam hati bertanya, apakah ia akan tetap menganggapku pintar kalau tahu aku lebih jago menulis cerita daripada menghitung angka?
Rasanya seumur hidupku belum pernah ada yang memujiku hanya karena aku pandai membuat karya sastra. Padahal di sanalah kemampuanku tumbuh dan bersinar, tapi tidak cukup terang rupanya, untuk dilihat oleh mereka yang hanya memandang angka sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan.
Ponselku tiba-tiba berdering. Nama “ibu” tertera di layar. Aku sempat ragu untuk mengangkatnya. Bukan karena tak ingin bicara, tapi karena ini pertama kalinya ibu meneleponku. Ada harapan kecil bahwa mungkin kali ini, ibu khawatir padaku. Mungkin ia merasa aku terlalu lama di jalan. Mungkin ibu ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Tapi begitu kuangkat dan suara ibu menyelinap masuk ke telinga, yang pertama kali ia tanyakan adalah…
“Nak, gimana nilai matematikamu?” Lalu tanpa jeda, ia lanjutkan, “Kamu lulus atau tidak, Nak?”
Dugaan dan harapanku langsung ambruk. Kukira telepon ini akan terdengar hangat, atau setidaknya ibu menanyakan kabarku. Ternyata tidak. Telepon ini malah membuat matematika terasa makin buruk di mataku. Bukan hanya karena aku gagal, tapi karena sosok matematika lebih dicintai oleh ibuku daripada diriku sendiri.
“Maaf, Bu… Aku gagal lagi.”
Begitu mendengar pengakuanku, ibu langsung murka. Suaranya meninggi di seberang telpon, dan meskipun ini pertama kalinya ibu meneleponku secara langsung, nada yang kudengar tetap sama: marah, kecewa, dan penuh tuntutan. Aku tak kuat menahannya. Air mataku jatuh begitu saja, deras, dan buru-buru kuseka sebelum sempat dilihat orang-orang di dalam bus.
Saat kututup telepon itu, yang tersisa hanya kesunyian dan genangan air mata. Bus masih melaju, tapi pikiranku tetap tertinggal di kalimat terakhir ibu. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana matematika bisa begitu penting sampai menghapus seluruh bentuk kasih sayang yang seharusnya diberikan kepada seorang anak. Aku memang pernah membenci matematika karena rumus-rumusnya yang rumit dan jawabannya yang tak pernah bisa kutangkap utuh. Tapi kini, kebencian itu bergeser.
Sejak saat itu, bagiku matematika bukan lagi soal angka-angka dan logika, ia telah menjelma menjadi penentu cinta, penyebab luka, dan tolok ukur keberhargaan. Sejak saat itu pula, matematika di mataku bukan lagi sekadar mata pelajaran yang sulit. Ia telah menjelma menjadi musuh yang selalu menang dan diam-diam merebut tempatku di hati ibu.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 3 Agustus 2025.
Tentang Cerpenis
Ael
Lahir dan dibesarkan di Muara Enim dan gemar warna biru. Ia tahu bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari amarah. Mulai menulis sejak 2020. Beberapa cerpennya pernah dimuat di media digital dan antologi.IG: @bongsiiik
Testimoni Ael
Manusia punya banyak jenis kecerdasan. Selain logis-matematis, ada juga kecerdasan linguistik, musikal, spasial, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan naturalis. Tapi sejak kecil, kita dibiasakan dan sering diajarkan bahwa yang paling hebat adalah mereka yang pandai berhitung dan punya nilai matematika tinggi. Padahal banyak dari kita tumbuh di jalur lain, dengan kekuatan lain yang juga tak kalah penting. Dari kegelisahan itu, lahirlah cerpen ini.
Cerpen “Matematika di Mataku” ini saya tulis bukan untuk merendahkan hitung-hitungan, tapi untuk menunjukkan bahwa kemampuan selain matematika juga layak dianggap cerdas bahkan setara.
Saya berterima kasih pada Cerpen Sastra karena memberi ruang untuk kegelisahan ini tersampaikan. Cerpen saya diterima, dibaca, dan diperlakukan dengan hangat. Di tengah dunia yang suka memberi label ini, Cerpen Sastra justru membuka pintu seluas-luasnya untuk keberagaman cara berpikir. Terima kasih karena sudah menghadirkan ruang yang adil dan memanusiakan semua bentuk kecerdasan. 🙂
