Keluar dari stasiun, aku merasa turun di stasiun yang salah. Aku pernah berkunjung ke kota ini. Saat itu juga malam serta hujan. Namun, kota tidak semati ini. Saat itu, orang-orang melintas. Toko-toko buka, walau pelayannya terkantuk-kantuk di sudut toko.
…
Halte di depan seolah berteriak aku tidak turun di stasiun yang salah. Dulu aku menghindari hunjaman hujan pada puncak kepala dengan bernaung di situ. Sekarang, hujan hanya remeh, kuputuskan berteduh juga di sana. Aku merasa perlu mengamati keadaan sekitar. Perubahan ini sungguh menggaruk hati. Aneh sekali kota sebesar ini mati sebelum jam delapan malam. Aku duduk di ujung halte. Ujung lain diduduki perempuan bersama bayinya. Hidungku mengendus sembari meliriki wanita itu. Kurasa bayinya buang air besar. Baunya dibawa angin ke depan hidungku. Namun wanita itu seperti tidak terganggu.
Masih saja sesekali ia berbicara pada bayi dalam kain gendongnya. Kepalaku mengarah ke kanan, berusaha mengelak angin yang bertiup. Saat itulah tertangkap mataku seekor anjing merangkak di trotoar. Langkah anjing itu persis nenek-nenek renta, hingga lama sekali sosoknya jelas di mataku.
Astaga!
Aku terperanjat. Dia seorang bocah, telanjang. Saat lewat di hadapanku, ia merintih. Hanya sekejap ia menolehiku, kemudian terus merangkak.
“Anak siapa itu?”
Perempuan itu mengangkat bahu setelah memastikan aku bertanya padanya.
“Kita harus menolongnya.”
“Bawa saja pulang, untukmu. Sekalian kuburkan mayat bayi di tong sampah itu. Aku hampir tidak tahan dengan baunya.”
Entah bagaimana, kudapati tong sampah itu. Menyembul buah bokong kecil telanjang dari tumpukan sampah.
“Astaga!”
Jantungku berdebar. Perutku mual menyadari dari situlah sumber bau asing itu.
“Mayat bayi siapa itu?”
“Entahlah. Sudah beberapa hari ia berada di situ. Sangat kurang ajar orang yang membuangnya. Baunya sangat memuakkan.”
“Tak ada polisi yang datang mengevakuasi?”
“Polisi di kota ini tidak sekurang kerjaan itu.”
“Itu mayat manusia. Bukan bangkai kucing.”
“Justru karena bayi manusia ia berada di situ.”
Kurasa perempuan itu tidak waras. Sebaiknya aku pergi. Saat melintasinya, kain gendongan di dekapannya bergerak. Menyembul sebuah kepala kecil berbulu. Kepalanya meneleng menatapku. Karena baginya aku tidak istimewa, ia sembunyikan kembali kepalanya dalam kain gendongan. Perempuan itu menenangkannya dengan ucapan lembut. Langkahku terpaku oleh pekikan. Dua batita telanjang bertengkar di tepi bak sampah. Mereka bergumul demi berebut kesempatan pertama mengobrak-abrik tempat sampah.
“Hei!”
Keduanya tidak peduli seruanku.
Tidak! Tidak! Lebih baik kuteruskan langkah. Mereka jelas bukan manusia. Mungkin sebangsa tuyul atau bangsa lain yang belum familiar di negeri ini. Mustahil anak sekecil itu bermain di bak sampah, telanjang di bawah hujan serta hitam langit.
…
Aku senang melakukan perjalanan. Hampir semua kota di negeri ini pernah kusinggahi. Ini kali kedua kudatangi kota ini. Kunjungan pertama kulakukan tiga tahun lalu. Kota ini teduh, udaranya sejuk. Orang-orang selalu melangkah tenang. Berbagi canda dengan teman seperjalanan. Memberi senyum bila tanpa sengaja bertabrakan pandang dengan orang asing. Meski demikian, kota ini tidak pernah lagi kususun dalam rencana perjalanan. Aku lebih tergoda mendatangi kota yang belum pernah kukunjungi.
Kedatanganku sekarang bisa disebut semacam ucapan terima kasih. Akan kudatangi setiap sudut kota yang dulu pernah kusinggahi. Berbincang dengan satu dua orang yang kutemui. Rencana yang tidak spesial sebenarnya, karena ke kota mana pun aku berkunjung, hal-hal seperti itulah yang kulakukan. Di kota inilah Kota yang Tidak Mencintai Kucing kutulis. Tepatnya, ide ceritanya menyembur dari kepalaku saat berada di kota ini. Plot serta bab pertama kubangun di sini. Walau bab selanjutnya kuselesaikan di berbagai kota, entah bagaimana, dalam hatiku, Kota yang Tidak Mencintai Kucing adalah kota ini.
Maksudku seperti ini, ketika seorang atlet berdiri di podium tertinggi, ia pasti mengatakan kesuksesannya tidak lepas dari tangan pelatihnya, atau seseorang. Jadi seperti itulah, kota ini memberikan kontribusi vital dalam proses terciptanya novelku itu. Sangat masuk di akal bila akhirnya kota ini spesial bagiku.
Kota yang Tidak Mencintai Kucing bukanlah novel pertamaku. Tetapi, novel ini telah memberi banyak pengalaman pertamaku. Kota yang Tidak Mencintai Kucing cetak puluhan kali, diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing. Ide memang selalu datang tanpa teraba. Begitu pun ide Kota yang Tidak Mencintai Kucing.
Pada kedatangan pertamaku, tidak ada yang spesial pada kucing di sini. Mereka, kucing-kucing itu maksudku, memiliki hak berjalan di trotoar, meringkuk di sudut pertokoan atau mengais makanan di tempat sampah. Sebagian penduduknya kulihat melempar remah makanan tatkala seekor, atau beberapa ekor kucing, mengeong pada mereka. Sebagiannya lagi menjadikan kucing sebagai raja atau ratu di rumah masing-masing.
Aku sendiri sudah melupakan, mengapa waktu itu melintas ide cerita Kota yang Tidak Mencintai Kucing. Dalam novelku itu kugambarkan penduduk kota antah berantah sangat gemar membantai kucing. Bagi mereka kucing serupa dengan kecoa, layak dimampuskan bila terlihat. Bahkan lebih mengerikan dari itu. Mereka menyiksa kucing-kucing itu secara perlahan hingga tujuh lapis nyawanya terkelupas satu per satu.
Bisa kubilang Kota yang Tidak Mencintai Kucing sangat sadis. Di luar perkiraanku novel itu disukai pembacanya.
…
Sialan.
Hujan semakin menekan ubun-ubun, sementara penginapan yang kutuju belum terlihat. Seingatku, penginapan tersebut berada di deretan ruko ini. Sebab gelap menyelimuti kota, aku harus bersusah payah memerhatikan plakat yang terpasang di depan setiap ruko.
Kuhembus napas lega begitu menemukan tulisan BUKA di depan penginapan yang kucari. Sempat terpikir olehku penginapan itu turut tidak buka. Tanganku nyaris mendorong pintu saat kudengar erangan dari sisi kanan. Sesosok bayi telanjang meringkuk di emperan toko kue yang tutup. Ia seperti menahan lapar dan dingin. Bergegas kudorong pintu. Mataku mengerjap beradaptasi. Ruangan ini sangat terang. Aneh sekali sebab tidak setitik pun terang itu terlihat dari luar. Padahal pintu dorongnya berbahan kaca.
“Selamat datang di penginapan kami.”
“Ada bayi telanjang di emper toko roti.”
“Semakin banyak saja bayi terbuang di kota ini.”
Perempuan itu mendengus bosan.
”Pesan berapa kamar?”
Ketenangannya membuatku heran.
“Satu kamar. Tiga malam.”
“Kita bereskan dulu administrasinya.”
“Ada bayi telanjang di luar,” ulangku lagi.
Aku gemas melihat ketenangannya.
“Aku juga tau. Kadang, ia berisik sekali. Sangat menyebalkan. Untung kali ini ia tidak bersuara.”
“Maksudku, bayi manusia.”
Perempuan itu menatapku. Ia berhasil menahan tawanya.
“Tentu saja bayi manusia.”
Sembari perempuan itu membereskan administrasi, mataku menancap ke dalam kereta dorong bayi di sebelahnya. Seekor kucing hitam tampak gelisah di sana. Perempuan itu menenangkan si kucing dengan garukan lembut di bawah telinga. Kentara sekali ia sayang kepada kucing itu.
“Di mana orangtua bayi itu?”
“Aku ibunya.” Ia tidak senang.
“Maksudku, bayi di luar.”
“Aku tidak tau.”
Kucing hitam itu mengerang pendek dan pelan. Perempuan itu mengelus puncak kepalanya yang kecil. Perempuan ini tidak berbeda dengan perempuan di halte tadi. Mereka sama-sama pecinta kucing. Reaksi mereka terhadap bayi-bayi malang itu juga serupa.
“Kamar Anda di lantai dua. Ini kuncinya.”
“Terima kasih.”
Aku mendapat kamar paling ujung. Jendelanya menghadap jalan raya. Kamar inilah yang kutempati tiga tahun lalu. Aku senang mendapati kamar ini lagi. Dulu aku suka duduk di depan jendela kacanya yang lebar. Dari sana terlihat kehidupan kota dari pagi hingga pagi. Setelah memasuki kamar, kuhempas daunnya di belakang punggungku. Aku tidak sabar segera mandi, makan malam, kemudian bergelung di balik selimut hangat.
“Meooww!”
Aku tersentak. Suara itu berasal dari ranjang.
Aku menoleh ke sana.
“Akhirnya kau datang juga. Kemarilah, Beb. Sudah terlalu lama kau tidak mendatangi kota ini. Sudah kau lihat seperti apa kota ini sekarang? Meeooww!”
Ada kucing di ranjang. Kucing itu menyapaku. Ah, bukan. Itu kucing berkepala manusia. Bukan ternyata, ia lebih tepat manusia berbadan kucing. Ah, bukan. Badan itu terlalu besar untuk ukuran kucing.
“Jangan hanya menatapku. Bergabunglah bersamaku di sini. Meeoww!”
Aku mundur selangkah, tanganku tak berhasil meraba-raba pegangan pintu. Aku harus secepatnya keluar dari kamar ini. Dari penginapan ini. Bahkan dari kota ini.
“Kemarilah. Lihat buluku yang halus ini. Lihat bokongku yang montok ini. Meeoww!”
Aku gemetaran. Tanganku masih meraba-raba pegangan pintu yang tak kunjung kutemukan. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 29 Oktober 2023
Cerpenis
T. Sandi Situmorang
Cerpen tulisannya pernah tampil di berbagai surat kabar serta majalah. Lahir di tepi Danau Toba. Tumbuh dan menetap di Binjai, Sumatera Utara. Juga menulis puisi dan novel. IG: @sandimorang
Testimoni T. Sandi Situmorang
Selasa, 31 Oktober 2023
Kirim naskah Sabtu, Minggu tayang. Disusul honor masuk rekening. Benar – benar serba cepat. Meski demikian, cerpen tayang tidak tergesa-gesa. Ia terlebih dahulu melewati penyuntingan @cerpen_sastra.
Buat kamu yang tidak ingin berlama-lama menunggu nasib cerpen yang dikirim pada media, @cerpen_sastra adalah pilihan tepat. Terima kasih, @cerpen_sastra. Semoga @cerpen_sastra panjang umur dan lebih baik lagi.
