Cerpen Sastra

Kompas (Cerpen Sangkar Aksara)

Di tengah perdebatan panas petinggi Serikat Dagang, Mea Culpa hanya diam di kursinya dengan tangan di bawah meja sambil memegang kompas rusak. Ia tidak mengerti perdebatan yang sedang terjadi. Bukan berarti dia bodoh, tapi perdebatan yang sedang terjadi adalah perdebatan yang seharusnya tidak perlu didebatkan.
***
Perdebatan yang berlangsung adalah membahas besaran pajak yang perlu naikkan, tetapi seharusnya tidak perlu dinaikkan. Biaya pajak yang dibebankan kepada pedagang keliling saja sudah sangat memberatkan mereka. Culpa tahu itu semua karena dia awalnya adalah anak dari pedagang keliling. Sehingga ia tahu betapa sengsaranya pedagang keliling setiap membayar pajak kepada Serikat Dagang.

“Tuan-Tuan sekalian, kita memanglah harus menaikkan pajak! Para pedagang keliling mana mengerti betapa mahalnya kita mengurus perizinan berdagang setiap wilayah!” ucap Amni.

“Betul! Pedagang keliling mana tahu kita harus mengeluarkan uang pribadi setiap mengurus dan memperbarui perizinan dagang setiap wilayah!” ucap Racules dengan lantang.

Culpa dalam hatinya tahu bahwa perizinan dagang itu bisa negosiasi dengan bangsawan setiap wilayah di kerajaan, jika angkanya memberatkan Serikat Dagang. Serta, pajak yang dikumpulkan dari semua pedagang keliling pasti digunakan setiap petinggi Serikat Dagang saat melakukan dinas untuk mengurus perizinan dagang. Culpa yakin tidak ada sepersen pun uang pribadi anggota Serikat Dagang yang keluar saat petinggi melakukan dinas.

Culpa pernah mendengar dengan telinganya sendiri dari anggota Serikat Dagang, jika mereka tidak akan mengurus perizinan dagang jika uang dinas tidak dikeluarkan atau pajak sedang macet. Yang dibicarakan oleh Racules sekarang adalah sebuah kemunafikan yang sudah dinormalisasi oleh petinggi Serikat Dagang.

“Kalau dua belas persen?” tanya Julian.

“Mana ada pengaruhnya buat kita. Naiknya hanya dua persen itu kecil!” balas Racules.

“Betul!!” ucap serentak sepuluh anggota Inti Serikat Perdagangan kecuali Culpa, Julian, dan Racules.

Culpa mulai menghitung dan berpikir di kepalanya. Pendapatan rata-rata pedagang keliling setiap bulannya tidak lebih atau kurang dari seratus hingga dua ratus Zill. Lalu sepuluh persen pendapatan mereka melayang ke Serikat Dagang, menyusutkan pendapatan mereka menjadi delapan puluh hingga seratus delapan puluh Zill. Culpa berpikir masih masuk akal untuk menaikannya sebanyak dua persen, tapi dengan telinganya sendiri dia mendengar seluruh petinggi Serikat Dagang tidak setuju dengan kenaikan pajak sebesar dua persen.

“Dua puluh persen… Itu sudah cukup. Bubarkan rapat ini dan urus administrasinya,” ucap kepala Serikat Dagang, Berts.

Mendengar angka yang tidak masuk akal tersebut, Culpa hendak berdiri untuk menyampaikan keberatannya namun sesaat dia terpikir sesuatu. Dia tahu, jika dia melawan maka seketika akan mati di tempat. Segera dia hilangkan niatnya dan tetap menjadi pendengar di tengah rapat.

Setelah semua anggota Serikat setuju pajak pedagang keliling dinaikkan sebesar dua puluh persen, rapat pun selesai, dan semua anggota serikat pulang ke rumah mewah nan indah mereka. Hanya Culpa yang masih duduk di atas kursi rapat dengan sebuah kompas rusak di tangannya.

Dia masih memikirkan apakah yang terjadi barusan adalah hal yang benar? Culpa sejak kecil sering mendengarkan keluhan orang tuanya akan pajak serikat dagang yang tidak tahu dikemanakan oleh petingginya. Saat menjadi petinggi, Culpa sering mendengarkan keluhan yang sama dari para pedagang keliling yang mempertanyakan ke mana hasil pajak yang harus mereka bayar setiap bulannya. Serikat Dagang menjanjikan kepada pedagang keliling jika bergabung dengan mereka, pedagang keliling tidak perlu membayar biaya masuk setiap wilayah jika hendak melakukan perdagangan. Namun nyatanya, mereka tetap bayar setiap masuk wilayah kerajaan.

Para pedagang keliling pula secara tidak langsung dipaksa untuk tidak keluar dari Serikat Dagang karena akan diberikan sanksi denda sebesar sepuluh ribu Zill. Culpa sangat menyadari penyesalan pedagang keliling karena telah bergabung di Serikat Dagang, tetapi dia tidak berdaya untuk menjawab penyesalan tersebut.

“Kenapa Anda belum pulang, Tuan Culpa?” tanya Berts yang kembali ke ruang rapat.

Culpa menaruh kembali kompasnya di saku celana. Ia menoleh kepada Berts dengan penuh keberanian. “Tuan serius ingin menaikkan pajak sebesar dua puluh persen?”

Berts duduk di sebelah Culpa. Kemudian dia menggaruk jenggotnya yang begitu tebal, setebal rerumputan liar di hutan. “Mau bagaimana lagi, Tuan Culpa. Anda sendiri lihat ‘kan tadi, mereka berdebat demi berlimpah harta.”

Culpa menaikan sedikit nada bicaranya, “Tuan, berarti saya bisa asumsikan bahwa perkataan Anda barusan adalah bukti bahwa anggota lainnya memang melakukan tindak korupsi?!”

Berts tertawa kencang saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Culpa. Tertawa terpingkal-pingkal hingga memukul meja rapat berkali-kali. Sedikit tersentak saat mendengar tawa Berts, Culpa merasa ada yang salah dengan lawan bicaranya. Tidak, Culpa baru sadar dia salah memilih lawan bicara.

“Oh, Tuan Culpa yang baik. Anda pikir saya tidak tahu jika terjadi aksi pengerat di Serikat Dagang?”

Culpa menegang. Keringat bercucuran dari jidat hingga ke pipinya. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan koi. Jakunnya naik turun, meneguk air ludahnya sendiri. Ada sesuatu yang hendak ingin ia katakan namun terasa sangat berat.

“Saya tahu sekali, ada aksi pengerat di organisasi yang saya pimpin ini. Apakah saya diam? Iya, saya biarkan saja mereka! Biarkan dan membuat mereka menjadi gendut seperti babi.” Berts melihat wajah Culpa yang tidak karuan, melanjutkan perkataannya, “Kenapa saya biarkan? Yang terjadi sekarang ini sudah terjadi lamaaaaa sekali, Tuan Culpa!”

Mata Berts melotot, terlihat urat muncul di keningnya. Giginya dia rapatkan serapat tembok.
“Ini sudah menjadi sistem! Tidak ada yang bisa mengubahnya! Jika ada yang mengubahnya, hasilnya akan seperti roda lama diganti dengan roda baru di kereta kuda yang sama!”

Culpa terdiam. Dia tidak percaya apa yang dia dengar. Culpa bukanlah manusia yang polos, dia tahu bahwa ada beberapa hal buruk di Serikat Dagang sebelum dia bergabung. Namun dia sering mendapat kabar bahwa Serikat Dagang berangsur-angsur membaik dan kembali dipercaya oleh pedagang keliling. Karena itulah dia bergabung dan menjadi petinggi Serikat Dagang.

Wajah Berts yang mengerikan tadi, hilang seketika dan dia membenamkan wajahnya di meja rapat. Dia menghela nafas yang begitu panjang sebelum berdiri tegak dari kursi rapat. Dia menoleh kepada Culpa dan tersenyum. Bukan senyuman hangat, tapi senyuman prihatin.

“Saya seperti Anda dahulu, Tuan Culpa. Penuh optimis! Saya ingin mengubah kebiadaban! Saya bisa melawan 1000 orang sekaligus jika perlu! Tapi pada akhirnya, apa hasilnya?” tanya Berts kepada Culpa.

Bibir Culpa bergerak, membuka lalu menutup, tetapi kali ini dia tahu apa yang ingin dia katakan, “A-apa Pak?”

“Saya hidup di mansion mewah, Tuan Culpa!” jawab Berts dengan senyum sumringah. Kemudian Berts beranjak dari ruang rapat. Saat hendak keluar dari pintu ruang rapat, langkah kakinya berhenti dan menoleh lagi kepada Culpa. Kembali, dengan senyuman yang penuh keprihatinan.

“Oh ya, benar juga. Saya berbeda dengan Anda, Tuan Culpa. Saya saat itu berbicara dan melawan biadab-biadab itu. Anda? Diam mematung dan melihat keadaan. Siapa yang Anda tunggu? Juru selamat? Halah! Keburu babi biadab itu kaya baru dia datang!” Setelah itu, Berts keluar dari ruang rapat meninggalkan Culpa sendirian.

Culpa menatap meja rapat. Dia kembali mengeluarkan kompas dari saku celananya. Tidak ada perasaan yang muncul dalam dirinya. Dia bahkan tidak tahu apa yang harus dia rasakan setelah mendengar semua itu. Culpa setuju perkataan Berts, dia hanya diam saja saat rapat terjadi. Menyaksikan semuanya dan berharap ada juru selamat yang datang untuk mengatasi masalah.

Saat juru selamat itu datang, dia juga akan berdiri melawan kebiadaban. Culpa pun tertawa. Bukan karena bahagia. Bukan juga karena sedih. Tawa yang hampa. Menggelar di seluruh ruangan rapat. Culpa saat ini menyadari jika dia juga salah satu biadab itu dengan cara yang berbeda.

Tak lama kemudian, dia berhenti tertawa. Matanya memperlihatkan sebuah kekecewaan dan kemuakan yang besar. Culpa menaruh kompasnya di atas meja dan keluar dari ruang rapat. Jarum kompasnya tidak menunjukkan arah mana pun, karena sejak awal kompas tersebut memanglah kompas yang rusak.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 31 Agustus 2025.

Tentang Cerpenis
Sangkar Aksara

Seorang lulusan sastra di Universitas Mulawarman, dengan minat yang kuat dalam dunia kepenulisan. Sejak remaja, saya selalu tertarik pada dunia kepenulisan. Walaupun tertarik dengan dunia kepenulisan, saya tidak dapat menyebut menulis sebagai hobi karena hobi saya adalah mendengarkan lagu dan bermain game. Dari game dan musik itu muncul ide-ide di kepala saya. Bagi saya, menulis adalah satu-satunya cara menuangkan isi kepala saya yang begitu liar dan penuh ide. IG: @drws.22

Testimoni Sangkar Aksara

Cerpen “Kompas” awalnya saya rencanakan akan mengangkat tema obsesi buta manusia terhadap sesuatu. Entah kenapa dan bagaimana bisa, temanya berubah drastis menjadi praktik korupsi yang sudah dinormalisasikan. Judulnya, Kompas, saya artikan pribadi sebagai arah hidup yang bisa berubah setiap saat. Tetapi dalam cerpen, saya buat kompas tersebut rusak sebagai simbol bahwa tokoh utamanya sudah kehilangan moral dan arah hidupnya. Untuk isi ceritanya … itu fiksi ya, Saudara-Saudara. Silakan Saudara sekalian menginterpretasikan makna cerpen ini sesuai sudut pandang masing-masing.

“Kompas” pula salah satu dari lima cerpen yang saya rencanakan untuk saya kirimkan ke sayembara Cerpen Sastra. “Kompas” adalah cerpen keempat yang telah saya kirimkan dan akhirnya lolos sayembara minggu ini. Memenangkan sayembara kali ini bagi saya adalah sebuah bukti bahwa tulisan saya bukan sekedar imajinasi liar semata saja.

Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Cerpen Sastra yang telah menyediakan ruang kepenulisan terbuka untuk semua kalangan. Semoga Cerpen Sastra terus menjadi wadah bagi penulis awam seperti saya untuk menunjukkan karya-karyanya. Salam literasi!

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *