Cerpen Sastra

Kepada Bunga-Bunga, Ibu Berdoa (Cerpen Alfa Anisa)

Aku bergegas ke rumah ibu, ada perasaan khawatir yang terus saja tumbuh di rongga dada, meski sebenarnya ada Mas Abidin yang bergantian menjaga. Sudah hampir dua pekan ibu merasakan nyeri di bagian ulu hati, dada sering berdebar, dan rasa sakit menyebar ke sekujur tubuh. Keluhan yang sama diucapkan setiap hari, meskipun aku tahu, ada perih dan sesak di pikiran yang berusaha ibu sembunyikan.
…

“Kemarin kata dokter, ibu baik-baik saja, hanya pikiran buruk mengundang rasa sakit di sekujur tubuhnya.”

Mas Abidin mengucap dengan nada tenang. Aku terdiam cukup lama, memegang lengan ibu yang terbaring lemah di kamar. Tubuhnya terlihat mulai kehabisan lemak, tersisa tulang untuk membuatnya bertahan menghadapi kehidupan. Ibu masih tertidur sejak aku datang beberapa jam lalu, efek obat dari dokter membuatnya sejenak beristirahat dari pikiran buruk.

“Di mana bapak?” tanyaku kepada Mas Abidin yang masih berdiri di depan pintu kamar. “Di kamar tengah, pagi tadi sedikit tenang, jadi sepertinya sedang tidur juga.”

Syukurlah, aku menghirup napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Aku menduga pikiran buruk itu bersumber pada bapak. Meskipun sebenarnya aku tak ingin menyalahkan siapapun, tetapi semenjak usia mendekati 80 tahun, emosi bapak menjadi tak stabil, terlebih semenjak tak lagi diperbolehkan ke sawah, ada energi kuat untuk diluapkannya pada amarah.
…

Sudah dua hari berada di rumah ibu. Pagi ini aku mengajaknya mencari udara segar sekaligus berjemur di depan rumah. Menghabiskan waktu memandang bunga-bunga yang selalu mengucap selamat pagi dengan isyarat daun-daun bergoyang lebih berirama dari biasanya, barangkali melihat ibu tersenyum menatap satu per satu bunga yang berjajar rapi di teras rumah.

“Kenapa kutu putihnya makin banyak?” tanganku menyentuh daun Keladi yang dihinggapi kutu-kutu kecil berwarna putih bertebaran di sekujur tubuh daun. “Padahal kemarin masih sehat,” gerutuku kesal, memeriksa keadaannya satu per satu.

“Ada apa?” tanya ibu, menghampiriku yang menggerutu sendirian.

Aku menunjukkan kutu putih di balik daun Keladi, “Kasihan, mereka lagi sakit. Apa mungkin beberapa pekan ini tak mendapat perhatian ibu?” gumamku lirih, mencari ranting kayu untuk mengusir ulat daun.

Ibu hanya bisa tersenyum tipis, menyentuh daun-daun bunga yang sakit dengan lembut.
“Mungkin mereka turut merasakan rasa sakit ibu.”

“Padahal setiap pagi selalu kusiram, tapi kok bisa sakit, sih,” gumamku lirih.
Bunga yang dirawat ibu memang jumlahnya tak sedikit, bahkan teras depan sudah dipenuhi rak besi yang dipenuhi pot berbagai jenis bunga, mulai koleksi Aglonema, Sri Rejeki, Philo, hingga beberapa macam Keladi dan Calatea.

Sebelum ibu sakit, berbagai jenis bunga di rumah ini selalu tampak menenangkan dan memberikan kenyamanan bagi setiap orang yang datang, hal itu selalu kuamati dari kelopak bunga selalu mekar tiap hari, daun-daun menghijau, tanpa meninggalkan kekuningan, ataupun berlubang karena gigitan ulat daun.

“Semenjak ibu selalu mengeluh sakit di bagian lambung. Pikirannya selalu tertekan dengan amarah bapak, bunga-bunga menjadi tak subur seperti yang dulu. Beberapa bahkan mati tanpa pernah merasakan tangan dingin ibu ketika merawat bunga-bunga,” ucap Mas Abidin yang tiba-tiba telah berada di sampingku.

Pandangan Mas Abidin mengarah ke arah pagar dari Pohon Puring yang berjajar rapi dari barat hingga timur, tapi jauh di dalam tatapannya kulihat ada beban berat yang bergelayut di mata, “Kalau ibu sudah sedikit sembuh, cobalah mengalihkan pikirannya untuk merawat bunga-bunga. Barangkali pikiran-pikiran buruk yang selama ini tersimpan di kepalanya akan sedikit berkurang.”

Keningku mengernyit, tak memahami hubungan antara kesembuhan ibu dengan bunga-bunga, “Apa bunga-bunga bisa meredakan rasa sakit di tubuh ibu? Bisa menyembuhkan pikiran-pikiran buruk pemiliknya?”

Mas Abidin tersenyum simpul, menatap wajahku—adik bungsunya—dengan pandangan yang menenteramkan, “Kamu lihat, kan, bunga-bunga terlihat berbeda dari yang dulu sebelum ibu sakit?”

Ia menunjuk beberapa pot bunga yang tampak layu, padahal pagi-pagi sekali telah kusiram, “Ibaratnya ibu dan bunga-bunga telah memiliki ikatan batin tersendiri, jadi ketika pemiliknya sakit, mungkin mereka akan membantu mengurangi rasa sakit dengan mengorbankan dirinya sendiri.”

Aku terdiam cukup lama, menafsirkan hubungan pikiran buruk ibu dan rasa sakit bunga-bunga. Angin berembus pelan membawa sisa dingin semalam, kulihat ibu merapatkan jaket dan melipat tangan di depan dada. Raut muka ibu terlihat lebih tenang dari hari-hari kemarin.

“Apa bunga bisa berdoa?” aku bertanya kepada Mas Abidin yang masih berdiri tak jauh dariku.
Ia menoleh ke arahku, lalu mengalihkan pandangan ke arah ibu.

“Aku hanya percaya doa tumbuhan atau doa bunga itu lebih suci daripada doa manusia,” kulihat ada sorot mata sayu di wajah Mas Abidin, harapan kesembuhan ibu, “kita tak pernah tahu bahwa sebenarnya bunga menghabiskan waktunya untuk berdzikir. Dan aku percaya bahwa bunga memiliki ruang doa paling khusyuk untuk menjadi perantara agar dikabulkan Tuhan, jadi cobalah ajak ibu kembali menyibukkan diri dengan tumbuhan.”

Aku terdiam cukup lama, angin dan bias sinar matahari saling berkejaran menyentuh rerimbun daun, membawaku kembali pada kenyataan bahwa harus ada kekuatan doa untuk kesembuhan ibu.

Aku menghampiri ibu yang duduk berjemur di dekat Aglonema, tangannya menyentuh daun itu satu per satu dengan lembut, sesekali mematahkan daun tua yang telah layu, “Ibu percaya bunga bisa berdoa?” tanyaku tiba-tiba.

Lama ibu memandangi Aglonema, terlihat senyum kecil tersungging di antara kedua bibir. “Percaya, sebab sebenarnya mereka juga makhluk hidup. Mereka punya bahasa sendiri, bahasa tumbuhan agar bisa berbincang dengan sesama, dan bersembahyang kepada-Nya.”

“Bahasa tumbuhan?” aku sedikit terkejut dengan sesuatu yang tak pernah kudengar sebelumnya.
“Nenekmu pernah mengatakan kepada ibu, tentang filosofi orang Jawa di zaman dulu melibatkan pohon besar dalam setiap ritual doa lalu disiapkan hidangan yang berisi berbagai jenis bunga,” pandangan ibu menerawang jauh. Masa lalu.

Ibu menghela napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan, “Lantaran pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun, orang-orang Jawa melalui sesepuh adat meminta bantuan untuk menyampaikan doa dan harapan agar sampai kepada Tuhan dengan perantara pohon besar tersebut. Orang zaman dulu percaya bahwa doa tumbuhan lebih suci.”

Aku mangut-mangut, menafsirkan ucapan ibu dengan Mas Abidin yang selaras tentang doa bunga-bunga lebih tulus karena mungkin tumbuhan tak memiliki riwayat dosa yang membuat doa menjadi terhambat dikabulkan.

“Sapalah bunga-bunga setiap pagi, Bu. Barangkali pikiran yang tersimpan rapat di kepala ibu sejenak teralihkan. Bukankah ibu juga percaya bunga-bunga bisa berdoa, cobalah beberapa hari ini untuk mengajaknya berbicara, meluangkan waktu untuk sekadar bercerita tentang beban berat ibu,” kataku berusaha menyimpulkan, meskipun sebenarnya aku dan ibu tak memahami bahasa bunga, setidaknya masih ada rasa percaya bahwa bunga adalah makhluk hidup yang senantiasa mengingat-Nya. Ibu menatap mataku dengan binar mata teduh, ada harapan yang tumbuh diam-diam dalam ucapanku. Harapan kesembuhan.

Menjelang sore, aku pamit pulang ke rumah karena ibu sedikit demi sedikit telah sembuh. Aku mendekati ibu yang sedang duduk menenangkan diri di teras rumah, menatap bunga-bunga, mulutnya tak henti merapal wirid dengan lirih.

“Bu, aku pamit pulang dulu. Percaya saja, ada bunga-bunga yang selalu menguatkan ibu. Ketika pikiran-pikiran buruk itu terus tumbuh dan menggoda, bakal ada doa mereka yang berusaha menyembuhkan,” pamitku. Ibu membalas dengan anggukan pelan dan mengelus kepalaku lembut.
…

Satu minggu kemudian, aku kembali ke rumah ibu lagi. Aku khawatir karena beberapa hari lalu tiba-tiba teringat perkataan Mas Abidin tentang kondisi ibu jika terlalu lama tubuhnya dihuni pikiran-pikiran buruk.

“Kemarin ibu bikin kreasi bonsai dari Bunga Krokot, loh. Lihat, yuk!” ajak ibu ke teras rumah, menunjukkan hasil kreasinya. Aku tersenyum menatapnya. Ada sepasang mata yang tak lagi sayu, ada binar mata yang seolah menghadirkan kesabaran itu kembali, ada ketulusan merawat bunga-bunga sebagai salah satu cara mengingat Tuhan dalam setiap embusan napas.

Ibu merangkai batang Bunga Krokot itu dengan kawat kecil, sambil tersenyum berkata pelan, “Benar seperti katamu, ada ketenangan yang seolah hadir di pikiran dan hati. Ketika pikiran buruk berusaha memasuki sekujur tubuh, ada hal-hal yang seolah mengalihkan. Dan ketika ibu melampiaskan ke tanaman, melepas pikiran-pikiran buruk, menyibukkan dengan merawat mereka, ada doa-doa yang seolah menguatkan.”

Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan, sepertinya doa bunga-bunga itu memang benar-benar ada. (*)

Blitar, Juli 2022

Tanggal tayang:
Minggu, 24 Desember 2023

Cerpenis

Alfa Anisa
Berkegiatan di Komunitas Sastra Hangudi Blitar. Mencintai puisi, kereta api, dan sunyi. Beberapa karya pernah dimuat di media massa dan antologi bersama. Bisa dihubungi di FB: alfa anisa, IG: @alfaanisa dan rumah karyanya di alfaanisaa.blogspot.com.

Testimoni Alfa Anisa
Selasa, 26 Desember 2023

Cerita “Kepada Bunga-Bunga, Ibu Berdoa” telah ditulis sejak tahun 2021, Terinspirasi dari percakapan dengan Mas dan kisah orang sekitar. Pernah dikirim ke beberapa koran, namun nyatanya tak ada harapan. Akhirnya kuputuskan untuk menyimpannya, barangkali cerita ini lelah berkeliling tanpa kepastian.

Akhirnya, kubuka lagi dari penyimpanan, kubenahi, merapikannya tiap sisi dan unsur cerita, lalu membiarkannya terlahir penuh harapan di ruang sastra bernama @cerpen_sastra. Tiba-tiba, Minggu sore dapat kabar baik, akhirnya cerita telah menemukan tempat ternyaman untuk lahir sebagai penutup akhir tahun, seolah mengingatkan bahwa masih ada harapan untuk mimpi di tahun depan.

Terima kasih @cerpen_sastra. Buat kalian yang punya cerita pendek, kirimlah ke @cerpen_sastra, proses yang cepat dan singkat, mulai dari kabar dimuat dan honor yang satset. Percayalah, ada harapan di balik setiap usaha. Ada cerita-cerita yang layak diperjuangkan hingga siap dilahirkan.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *