Manca terus mengikuti diam-diam ke mana seekor binatang buruannya pergi. Dia tak ingin langsung membunuhnya. Meski rasa lapar meremasi lambungnya. Tapi nanti tetap akan membunuhnya jika insting hewaninya telah menuntunnya pada tempat yang dia cari. Sebuah sumber mata air. Sebagai kaum pemburu dan pengumpul yang masih hidup dalam gua atau di bawah tebing bebatuan dan berpindah-pindah jika sumber daya untuk hidup habis, keahlian berburu harus dia kuasai selama alam masih jadi salah satu yang paling berkuasa. Menggunakan busur panah yang diberi racun mematikan dari bisa ular atau tanaman Euphorbia. Manca juga bisa membuat jebakan dengan menggali lubang dan menutupinya dengan semak. Tapi kali ini dia sendirian, sementara kawannya berburu di tempat lain.
…
Kaumnya hidup tak jauh dari sumber air yang akan segera mengering. Binatang buruan yang semakin langka. Sudah barang tentu pencarian lokasi lain harus menemukan hasil. Semua itu adalah sumber kehidupan bagi kelompok, atau bahkan bisa jadi sumber peperangan antarkelompok.
Manca mengendap pelan-pelan dan cukup jauh di belakang binatang buruannya. Kaki binatang itu ramping seperti kaki meja. Telinganya bergerak-gerak seperti sedang menangkap suara-suara yang berlalu-lintas samar, atau ada hewan-hewan kecil beterbangan yang mengganggu telinganya. Tak ada pepohonan untuknya bersembunyi. Sebuah gurun membentang luas di hadapan. Semak-semak kering meranggas seperti tumpukan sampah yang siap untuk dibakar. Manca tengkurap di tanah dan bergerak seperti kadal.
Sudah cukup lama Manca berjalan seperti itu. Ayahnya seorang pemburu yang handal. Bahkan dia yang mengajarkan Manca bagaimana cara membedakan jejak langkah binatang yang terluka. Hari terakhir dia melihat Ayahnya sekitar dua kali matahari muncul dan terbenam. Saat itu Ayahnya berburu sambil mencari sumber mata air. Dia tak kembali lagi setelah itu. Dan seakan lenyap diisap waktu.
Binatang itu terus berjalan ke mana dia ingin melangkah. Sesekali berhenti jika menemukan serumpun rumput segar. Lalu berjalan lagi dan Manca mulai bosan mengikutinya. Hingga dia dalam hatinya ingin mengakhiri saja semuanya. Tak ada yang bisa diharapkan dan hanya buang-buang waktu. Mungkin para pemburu lain sudah pulang dengan memanggul binatang buruan.
Saat ingin mengambil mata panah yang dia gendong di punggungnya. Lebih dulu sebuah panah melesat dari arah lain mengenai binatang itu. Manca terkejut namun masih di posisinya. Semak di depannya cukup menutupinya. Binatang itu jelas meronta sambil berlarian kesakitan. Lalu dua orang pemburu yang tak Manca kenali muncul dari semak-semak. Rupanya mereka juga mengendap-endap seperti Manca. Mereka kegirangan sambil teriak-teriak. Lalu beberapa saat binatang itu mulai melemah, bahkan hanya untuk sekedar berdiri saja hampir tak bisa.
Ada debar yang menakutkan dalam dada Manca. Mereka bukan bagian dari kelompoknya. Kalung dari taring binatang buas yang terlampir melingkari lehernya menandakan dia juga pemburu yang handal. Tak ada yang bisa dia prediksi selanjutnya jika mereka menemukan Manca, mungkin bakal segera membuatnya berkalang tanah. Namun tiba-tiba Manca mengingat sosok Ayahnya sendiri. Dia juga memiliki kalung dengan rentetan taring binatang buas.
Di pertengahan untaian kalung itu ada semacam lempengan tulang batok kepala binatang buruannya dulu. Jika kalung itu dipakai, tulang selebar hampir satu telapak tangannya itu berada di bawah dagunya. Manca makin terkejut saat kalung yang dipakai salah satu pemburu itu seperti identik dengan milik Ayahnya. Dia tetap pada posisinya sampai pemburu itu memanggul binatang itu dan berjalan menjauh. Ada kebingungan di hati Manca tentang kalung itu, dan yang ingin dia lakukan adalah mengikutinya sampai tempatnya menetap. Mungkin juga Ayahnya ada di sana. Jika Manca pulang untuk mengabarkan pada kawannya, mungkin saja bakal kehilangan arah.
Dia tetap berjalan merangkak hati-hati sambil sesekali berhenti dan bersembunyi di balik semak. Setelah cukup jauh, dia melihat pepohonan yang tak terlalu berhimpitan. Mereka terus berjalan memasuki wilayah itu sambil sesekali tertawa-tawa dan menepuk-nepuk binatang buruan yang dia panggul. Matahari mulai turun, namun Manca terus mengikutinya semakin dalam memasuki pepohonan yang mulai lebih rapat.
Setidaknya sekarang Manca bisa berjalan dengan berdiri dan sesekali bersembunyi di balik pohon. Melompati akar-akar yang merambat di tanah dan mulailah terdengar suara-suara cukup ramai, mungkin itu adalah kelompoknya. Ada juga suara batu-batu yang saling beradu. Manca tak pernah tahu seberapa bahayanya mereka.
Sama dengan Manca, mereka berkulit gelap dan hanya sebagian kecil tubuhnya yang tertutupi. Kebanyakan dari mereka memakai kalung, anting, gelang, dan sesuatu yang dipasang pada hidungnya dengan cara ditusuk. Laki-laki lebih banyak daripada perempuan, dan anak kecilnya lebih sedikit lagi.
Manca harus berhati-hati dalam jarak sedekat itu. Dia berusaha mengintip sedikit saja dari balik pohon cukup besar. Saat itulah Manca melihat Ayahnya terduduk di bawah pohon dengan wajah penuh darah dan terlihat cukup payah. Kakinya diikat dan dibiarkan selonjoran. Sementara tangannya diikat ke belakang pada pohon yang juga jadi sandaran tubuhnya. Seperti ada emosi yang membakar hati Manca tiba-tiba. Tapi dia sendiri tak tahu harus berbuat apa di sarang kawanan berbahaya.
Beberapa dari mereka berkumpul membicarakan sesuatu. Manca berusaha menajamkan pendengarannya setajam telinga kelinci hutan. Dia tahu meski sedikit, apa yang dibicarakan adalah tentang sebuah pelenyapan. Seorang tawanan akan dianggap membebani kehidupan sebuah kelompok, Manca tahu itu. Bahkan menurut cerita dari Ayahnya, setelah Manca lahir, karena sumber air dan makanan mulai langka kelompoknya punya aturan keras untuk mempertahankan jumlah kelompok agar tak bertambah.
Bahkan mereka bisa saja akan menghabisi janin yang masih dalam kandungan jika ada yang melanggar aturan itu, karena kelompok yang besar akan membuat ketersediaan makanan mereka cepat habis. Sementara Manca tak mengingat lagi wajah Ibunya yang meninggal saat Manca masih kecil.
Sekarang Manca melihat seorang dari mereka yang bertubuh kekar mengambil sebuah batu, lalu berjalan mendekati Ayahnya. Saat itulah dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat Ayahnya dilenyapkan dengan cara yang menyakitkan. Amarah Manca makin bertambah, namun disertai rasa takut. Dia juga tak ingin bernasib sama. Namun jika dia kabur, ini bukan waktu yang tepat.
Mereka bisa saja menyadari kehadirannya jika dia berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Kebanyakan dari mereka sekarang sedang duduk-duduk menghadap ke arah pohon tempat Manca bersembunyi. Satu-satunya cara yang mempermudahnya untuk kabur adalah dengan menunggu matahari benar-benar terbenam. Kegelapan akan menutupi pandangan mereka, dan dengan sabar yang terpaksa dia tetap pada posisinya dengan ketakutan luar biasa.
Cukup lama dia menunggu hingga matahari terbenam. Saat dia rasa cukup gelap, Manca bersiap diri sambil melihat situasi. Namun dia tak tahu, di sampingnya ada seekor ular beracun yang menegakkan kepalanya, lalu mematok Manca pada kakinya. Dia nyaris teriak namun segera membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri, sementara tangan satunya mencekik leher ular itu, lalu menggosok-gosokkan kepala ular itu dengan brutal pada pohon sambil menekan kuat hingga mati. Jika dia memukul-mukulkannya pada pohon bisa jadi mereka akan mendengarnya dan membongkar persembunyiannya.
Setelah dia rasa aman, Manca pelan-pelan keluar dari sana, melompati akar-akar pohon, memasuki gurun dan dia tak sempat mengambil tanaman khusus untuk mengobati luka bekas gigitan ular. Manca terus berjalan cepat, bahkan memaksa tubuhnya yang terlalu lemah untuk berlari. Manca juga tak yakin bakal selamat sampai ke tempat kawanannya berkumpul. Jika dia mati di perjalanan, mungkin takkan pernah ada yang mencarinya, seperti saat Ayah Manca tak kembali selama dua kali matahari muncul dan terbenam.
Dengan sisa tenaganya Manca menguatkan dirinya. Bertahan dalam keadaan tubuhnya merasakan ganasnya bisa ular. Setelah cukup lama berjalan, dia mulai melihat api yang menyala meski masih cukup jauh. Kakinya mulai kebas, keringat bercucuran dan tubuhnya sakit semua. Pandangannya mulai goyang namun masih sadar arah. Gua itu sudah semakin dekat, bahkan cuping hidungnya sedikit bisa mencium aroma pembakaran.
Saat mendengar langkah kakinya, mereka memandang ke arah Manca dengan sedikit terkejut karena datang dari kegelapan. Manca jatuh tersungkur karena lelah dan racun yang menyiksa tubuhnya. Lalu dia menunjukkan luka itu pada mereka.
Salah satu dari mereka buru-buru mencari tanaman penawar. Meski semua tahu, mungkin itu bakal terlambat. Dan saat itu juga dengan susah payah Manca menceritakan pada mereka bahwa Ayahnya ditangkap oleh suku asing kemudian dilenyapkan. Setelah itu Manca mulai menghitung napas terakhirnya. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 8 Oktober 2023
Cerpenis
Suyat Aslah
Penulis antologi cerpen ‘Puspa’ (2016) dan novel ‘Sehelai Jiwa Sepi’ (2018). Penulis kelahiran Cilacap tahun 1995. Novel yang selesai ditulis namun belum terbit berjudul ‘Philogynik’. Beberapa cerpennya dimuat di media online dan ada juga di blog pribadinya, https://suyataslah.blogspot.com dan channel YouTubenya yang baru dibuat: Aslah S, https://youtube.com/@Aslah_S. IG: @suyat_aslah.
Testimoni Suyat Aslah
Selasa, 10 Oktober 2023
@cerpen_sastra masih jadi salah satu media favoritku untuk pengiriman karya. Cerpen “KaumPemburu” ini adalah cerpen ketujuh yang pernah saya kirimkan, dan jadi cerpen keduaku yang dimuat. Sementara lima yang lain hanya masuk nominasi saja.
Sistem penyaringan yang singkat dan menampilkan nama-nama penulis terpilih membuatnya ada rasa kompetitif yang berbeda. Format tampilan karya yang dimuat juga terasa lebih menarik untuk dibaca. Saya rasa @cerpen_sastra adalah media yang penting untuk para penulis bisa berkembang lebih baik.
