Cerpen Sastra

Fobia Ibu (Cerpen Solu Erika Herwanda)

Semua memang akan lebih baik bila orang tua kita gagap teknologi. Tidak berurusan dengan media sosial. Setidak-tidaknya, aku tidak akan melihat kesedihan yang tak bisa terurai dari wajah lbu. Tak akan terenggut senyum Ibu yang lepas, dan tak akan kukenal ibuku yang murung. Seburuk-buruknya, Ibu tak akan pernah mengidap fobia akut sebegini parah.
…

Semenjak Ibu diizinkan pulang ke rumah kembali, Ibu bukan ibu. Suatu kala, aku melihat Ibu mendekati wastafel. Saat itu aku mencari ponselku yang berdering. Rupanya dering ponsel berasal dari tangan Ibu. Ponsel itu bergetar di telapak tangannya. Air mengucur perlahan dari bibir keran. Menimpa ponselku.
 
“Jangan main hape! Sudah berapa kali ibu bilang ke kamu!”
“Sudah enggak mau nurut dengan ibu?” tanyanya ketus.

Ibu benar-benar sentimen dengan ponsel. Seperti orang pengidap fobia. Tentu saja bukan tanpa alasan, fobia Ibu ada gejalanya.

Penasaran? Begini, biar kujelaskan: saban malam, aku melihat Ibu cemas. Matanya selalu menunggu. Menunggu seseorang yang dulu tak pernah lekang memuji apa saja yang ada pada Ibu. Nahas hingga malam makin pekat, pintu tak pernah puaskan harapan Ibu satu itu.

Lelah mengharap pada pintu, Ibu juga menyalakan cita pada ponsel. Berulang kali Ibu dekatkan ponsel ke telinga, takut telinga berkhianat padanya, tapi yang terjadi justru pesanlah pengkhianatnya. Pesan Ayah.

Sementara pada malam lain ketika Ibu tak lagi menunggu, aku terbangun dan menengok jam beker di nakas. Lewat pukul sepuluh. Ini bukan kali pertama aku terbangun karena suara keributan. Entah, sampai aku tak telaten menghitungnya.

Orang yang Ibu harapkan itu baru masuk rumah di jam-jam terjagaku. Ucapan kasar, makian, umpatan, dan teriakan seperti lepas dari sarang. Dari kamarku suaranya teramat gentar. Mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Mesti berakhir dengan kata terserah. Lalu paginya, di meja makan, tinggal kami berdua. Saat seperti itu, Ibu mesti tampak terburu-buru.

Sendok berdenting beberapa kali. Tubuh Ibu menguar wangi, penampilannya rapi. Ibuku cantik, dulu Ayah suka memuji.

Ia tak meletakkan ponsel sama sekali, sampai menyuap makanan ke mulut pun, ponsel tak bergeser dari pandangannya. Ibu selalu titip pesan padaku, semangat belajar ya, Nir. Jangan main ponsel kalau di kelas, dan batasi ponsel kalau di rumah kecuali ada pelajaran yang harus dikerjakan pakai ponsel.

Seperti yang kukatakan, ia terburu-buru sampai lupa mengecupku. Dan ketika aku bertanya ke mana dia pergi, pulang jam berapa, Ibu hanya menjawab pertanyaan itu dengan seulas senyum dan lambaian tangan. Sejak itu dunia kecil kami tercipta. Dunia milik masing-masing. Dunia milik Ibu, Ayah, dan aku yang masih tak tahu soal dunia macam apa aku berada.

Ini gejala fobia Ibu paling serius yang aku tahu; suatu malam, saat aku membuka beranda Facebook, satu postingan muncul. Ayah berfoto dengan perempuan yang hanya tampak rambut ikalnya dari belakang, di tepi pantai ketika matahari tampak akan pamit menenggelamkan diri ke laut.

Perempuan asing yang kupilih sebagai salah satu tokoh di tulisanku saat hari ibu. Saat itu aku berpikir apakah Ibu sudah tahu dan Ibu tidak keberatan? Sehingga Ayah memposting foto perempuan berambut gelombang itu? Aku membaca kolom komentar. Ibu tidak berkomentar juga.

Mataku terus menggeser komentar ke bawah. Kau tahu, ada satu akun yang namanya hanya tersusun oleh abjad dan angka acak memaki Ayah. Namun, Ayah tak meresponsnya. Aku terlelap setelah itu. Hingga aku bermimpi buruk dan ajaib. Sebab setelah aku bangun, mimpi itu seketika terwujud.

“Saya begitu karena dia merebut suami saya, Pak!”

Pagi itu, rumah tak seperti biasanya. Begitu mencekam dan keheningan selayaknya membungkam mulut semuanya kecuali Ibu. Kudengar dari kamar, Ibu menjelaskan sesuatu dengan tegas meski suaranya parau. Aku keluar kamar dan menyaksikan perempuan di postingan Ayah semalam itu ada di sana.

Dia berdiri tegap di samping Ayah, melipat tangannya ke dada sementara Ibu setengah mati menjelaskan sesuatu yang kudengar seluruhnya sebagai elakan, pembelaan. Mbok Jah berdiri di pinggir tembok penyekat antara dapur dan ruang tengah.

“Non Nirma, sini!” panggilnya lirih. Dari gerakan tangannya mengisyaratkan supaya aku lekas mendekat kepadanya.

Sampai juga aku di samping Mbok Jah, perempuan tua yang suka menggelung rambutnya itu merangkulku. Sedangkan aku tak tahu apa maksud pelukan Mbok Jah. Ya, keadaan itu semakin membuatku bingung.

Ayah melihat kami berangkulan, tapi tak sepatah kata pun dia menyapaku apalagi memberi ketenangan dengan bilang, tidak akan ada apa-apa Nirma. Ya aku tahu, Ayah memang tak mungkin berbohong. Aku tahu keadaannya sedang tidak baik. Namun semua orang tak ingin memberi tahuku yang sebenarnya terjadi.

Air mataku mulai merembes. Satu per satu menjulur ke pipi ketika Ibu dibawa oleh para lelaki itu pergi. Aku menahannya tapi orang-orang itu bilang Ibu hanya sebentar. Perempuan itu, dia juga bilang, ibumu sedang diberi pelajaran Anak Cantik. Kalimat itu tak bisa kuterima.

Hingga tulisan saat hari ibu itu lahir, aku tak pernah lupa kata-kata yang keluar dari mulut perempuan itu. Pagi itu, Ibu, Ayah, perempuan itu dan keempat lelaki yang membawa Ibu hilang di balik pintu. Aku menjerit sekencang-kencangnya. Aku akan berlari mengejar Ibu, tetapi Mbok Jah tak membiarkanku.

Ibu berusaha meminta izin untuk menemuiku, tapi orang-orang itu tak membolehkannya. Nyatanya Ibu tak pulang-pulang. Mbok Jah menjelma ibu di rumah. Ayah yang membayarnya. Ketiadaan Ibu yang membuat Mbok Jah menjelma ibuku ini rahasia. Rahasia besar.

Tidak ada yang percaya jika aku mengatakan Ibu tidak di rumah lagi, ia pergi dan punya dunia baru di jeruji besi. Bukan karena apa-apa lagi, Ayah memainkan semua ini dengan rapi. Sehingga ialah satu-satunya orang yang ucapannya dianggap paling jujur.

“Apa Ayah tidak dihukum karena menyakiti Ibu, Mbok?”  Aku mengungkit kembali kejadian yang bagai dilupakan semua orang itu.

Mbok Jah diam saja. Dua tahun, Ibu dikurung di lapas. Sementara Ayah merayakan perempuan itu di postingan-postingannya. Sebenarnya aku ingin mengumpat seperti akun dengan huruf dan angka acak itu, yang akhirnya Ibu akui itu dirinya. Namun, Ibu melarangku melakukan hal serupa.

Kalau diingat-ingat lagi runut perkaranya, perempuan itu sangat licik. Dia kumpulkan bukti Ibu mencacinya lewat inbox, pesan, seluruh sosial media yang lumrahnya itu hak Ibu untuk marah.

Kurasa, tak ada istri yang diam jika perempuan lain masuk merebut separuh jiwanya. Ibuku tidak salah. Ibuku tak pernah salah dalam hal ini. Semua itu kubeberkan pada tulisan hari ibu waktu itu dan kujadikan novel tema perempuan sekarang yang berhasil lolos parade.

Ibu benar-benar pengidap fobia akut. Tak kudapati lagi Ibu yang dulu. Sekarang Ibu menyukai kesendirian, menangis, dan takut pada ponsel.

“Jauh-jauhlah dari benda itu, Nir!” ucapnya selalu. Ketika aku menemuinya di kamar, atau kami sedang berdua di beranda rumah. Kami masih pakai uang Ayah untuk hidup. Sedang Ayah tak pernah menginjakkan kaki ke rumah.

Kondisi Ibu semakin memprihatinkan. Setelah lulus SMP, mungkin kuputuskan untuk bekerja saja. Tak sudi berlama-lama hidup cukup dari uang lelaki yang telah membikin Ibu seperti ini. Mulai saat itu, aku sering memeluk ibu meski rasanya tak sehangat dulu. Justru perih dan kosong, itu yang kurasakan ketika tubuhku melekat ke tubuhnya. Semua itu kutulis pada novel pertamaku yang langsung disambut hangat oleh pembaca.

Tentang kemarahanku terhadap ayah, terhadap perempuan itu, terhadap keadaan yang membikin Ibu sebegini buruk. Aku kehilangan ibuku, keadaan ini lebih buruk dari menyaksikan kematian Ibu. Memang napasnya masih kurasakan, tapi tidak dengan napas cinta yang kuhirup dalam-dalam ketika di dekatnya pada sedia kala.

Kulihat akun Instagram, tepatnya akun yang mengumumkan aku sebagai salah seorang pemenang parade novel, banjir komentar positif apalagi akun milikku ditandai oleh pemilik akun lomba itu.

Satu pesan dari temanku masuk, kubaca pada notifikasi, begini katanya, “Pasti saat ibumu melihat ini, dia bangga sekali, Nir!”

“Iya,” aku hanya membalas seadanya. Aku tahu, Ibu memang akan bangga tapi bukan karena postingan ini. Mungkin Ibu akan bangga ketika ada kiriman piala. Piala itu akan menjadi piala pertama milikku. Piala yang kupersembahkan untuk Ibu di hari ibu. Dua tahun lalu, hanya sebuah tulisan biasa dan sekarang telah menjadi novel yang akan dicetak menjadi buku.

“Selamat, Nak! Kamu hebat, ayah selalu mencintaimu!”

Membaca itu, mendadak aku merasa seperti Ibu. Ingin membanting dan melenyapkan ponselku. Apa menurutmu, fobia memang bisa menular? (*)

Cerpen Minggu,
4 Februari 2024


Cerpenis

Solu Erika Herwanda
Mahasiswi Ponorogo. Lahir di Madiun. FB: Solu Rika IG: @me.soluryka

Testimoni Solu Erika Herwanda

Ini kali kedua saya kirim cerpen dan langsung dimuat. Sempat gemetar dan tidak percaya, tapi Cerpen Sastra memang salah satu media yang menayangkan cerpen berkualitas meskipun jejak digital cerpenisnya belum terlalu merambah di jagat platform lainnya.

Itu yang saya suka dan sangat percaya diri mengirim cerpen di sini. Cerpen “Fobia Ibu“ bukan cerpen dadakan, sebab cerpen ini sudah pernah saya ikutkan lomba, tetapi belum beruntung, akhirnya saya tarik. Setelah itu, saya baca lagi dan poles sedikit untuk saya kirim. Waktu itu, ada beberapa cerpen yang saya kirim ke media, dan ternyata media yang berjodoh pertama kali baru Cerpen Sastra.

Harapan saya, semoga Cerpen Sastra eksis dan selalu mengutamakan kualitas. Tidak hanya terpacu oleh jejak digital atau eksistensi cerpenisnya di media online maupun cetak. Semangat terus bagi kamu yang suka menulis cerpen. Jangan ragu untuk kirim di Cerpen Sastra. Teruslah mencoba buat yang belum lolos kurasi dan jangan sungkan mengirim lagi bagi yang sudah pernah dimuat. Good Luck!

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *