Matematika di Mataku (Cerpen Ael)
“Jika x + y = 12 dan x – y = 4, maka nilai x × y adalah…?”*** Aku sudah menatap soal matematika itu cukup lama, tapi angka-angka di…
Lukisan Gajah (Cerpen Febrina Silalahi)
Detak jantung sang mesin penanda waktu menggema di ruang sunyi, bagai genderang yang mengiringi kesendirian. Rana memejamkan mata, bukan untuk tidur, melainkan untuk melarikan diri dari terangnya kenyataan….
Tak Ada Torta Upik Abu (Cerpen Putri Anzelita)
Seorang perempuan muda berdiri di balik pintu kayu Mahoni, menatap lurus ke arah lorong penghubung ruang kamar yang langsung menuju ke ruang tengah keluarga. Manik cokelat gelap matanya…
Kana (Cerpen Auranita Gibrani Darmawan)
“Apa yang sakit, Kan?” tanya seorang wanita tua yang biasa dipanggil ibu oleh Kana, lebih tepatnya ibu tiri.*** Kana mengeluh, badannya gemetar, keringat dingin mulai bercucuran. Tangannya meremas…
Abdi Cerobong Asap (Cerpen Felis Catus)
Di padatnya rumah-rumah warga pinggir kota yang saling berhimpitan, berdiri deret bangunan angkuh bercerobong asap milik orang di negeri sebrang. Jelaga hitamnya mengepul, meliuk liar di atap kota…
Pohon Pisang di Jalan Berlubang (Cerpen Ricardo Marbun)
Bruuk! Astagfirullahaladzim. Neneng seketika menutup mata, menggigit bibir, dan berusaha menenangkan diri. Belum ada lima menit Neneng menutup pintu setelah mengantar Arip, suaminya dengan banyak pesan, bunyi keras…
Iblis dalam Semalam (Cerpen Fafa)
Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kulihat kedua tanganku yang bersimbah darah. Tidak jauh dari tempat tubuhku berdiri, aku melihat sebilah pisau dengan gagang emas yang tergeletak begitu saja…
Jantung Sang Perempuan (Cerpen Nie)
Ancaman-ancaman ayah menusuk tubuhku, dibantu hempasan dingin angin malam. Kertas papirus yang begitu kasar seolah mengungkapkan hatinya. Jauh berbeda ketika aku masih belia. Andai ayah tak berubah, aku…
Tiga Kali Mati (Cerpen FAW Nugroho)
“Ki Warso tiga kali mati(1). Dua kali ia mati dan hidup kembali. Tapi pada kematiannya yang ketiga, ia tak pernah bangkit lagi. Ia memilih untuk tetap mati.”***“Apakah tidak…
Demi Tembang yang Naik ke Pantai (Cerpen Mariemon Simon Setiawan)
Dedi segera membuka matanya begitu ia mendengar ketukan-ketukan kecil dari luar dinding halar(1) kamarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Dedi duduk di atas tempat tidur, lalu dari celah–celah…
