Bruuk! Astagfirullahaladzim. Neneng seketika menutup mata, menggigit bibir, dan berusaha menenangkan diri. Belum ada lima menit Neneng menutup pintu setelah mengantar Arip, suaminya dengan banyak pesan, bunyi keras seperti benda berat jatuh dengan sangat kuat itu seketika terdengar. Ya Allah! Apakah itu Mas Arip?
***
Yang tadi di luar awalnya tenang kini berubah ramai. Suara-suara terdengar. Raung kendaraan menumpuk. Orang-orang saling berbicara. Neneng tetap memilih tidak bergerak. Detak jantungnya bertalu-talu. Tidak menginginkan ada suara menyebut namanya. Tidak ingin ada orang memanggil-manggil dirinya. Neneng tetap bertahan menutup kedua matanya. Rapat. Kesibukan di luar kian ramai. Tidak ada tanda-tanda orang memanggil. Berarti? Pelan-pelan Neneng berani membuka mata. Keberanian pelan tumbuh untuk membalikkan badan lalu mengintip ke luar. Berangsur-angsur kelegaan menghampiri dirinya. Ya Allah, berarti bukan Mas Arip. Setelah itu baru Neneng membuka pintu untuk memberi pertolongan seperti sebelum-belumnya.
Korban seorang lelaki setengah baya. Seorang pemuda dengan sigap menolong korban yang terjerembab. Pangkal pahanya tertindih sepeda motor yang bokongnya cukup besar. Model sepeda motor sekarang berbeda jauh dengan dahulu. Sekarang ini model sepeda motor seperti keberatan pinggul. Tampak beberapa orang lain ikut membantu memapah lelaki setengah baya itu. Penolong yang lain membantu menepikan motor yang terjatuh. Neneng segera membuka pintu pagar karena posisi rumahnya tepat di depan jalan raya utama. Kejadian yang sering terjadi belakangan ini. Jalan sepanjang lebih dari 500 meter ke utara memang sangat parah.
Neneng menyediakan halaman rumahnya untuk menolong korban itu. Tak lama arus jalan raya perlahan normal kembali. Kemacetan pelan-pelan terurai. Orang-orang mulai meninggalkan tempat menuju tujuan masing-masing. Setelah itu jalan raya kembali normal. Orang-orang yang tadi memapah lelaki setengah baya itu tak lama pamit permisi. Hari itu memang masih sangat pagi. Hari di mana orang-orang berangkat kerja atau tujuan-tujuan lain.
Tinggal dua orang yang kebetulan masih tetangga dengan Neneng. Seragam yang dikenakan lelaki setengah baya itu kotor penuh lumpur. Ada bekas genangan air dari hasil hujan tadi malam. Kondisi jalan raya yang hancur menjadikan permukaan jalan penuh lumpur. Beruntung tidak ada luka serius. Lelaki setengah baya itu sibuk dengan HP-nya sepertinya hendak menghubungi kerabatnya.
Rumah Neneng posisinya persis di tepi jalan raya utama. Jalan itu sudah rusak sejak lama. Bagian badan jalan terdapat lubang-lubang seperti baru diinjak kaki gajah dewasa. Banyak hal penyebab jalan raya itu sering rusak. Campuran bahan material untuk membangun jalan itu sepertinya tidak mengikuti campuran semestinya. Jalan raya di depan rumah Neneng memang jalan penghubung dua desa dan sering dilalui kendaraan ukuran raksasa. Belum lagi cuaca belakangan itu sering tak terduga. Hujan terus-menerus hingga mempercepat penggerusan material jalan raya yang memang tidak kuat. Kecelakaan sering terjadi. Paling banyak kendaraan roda dua. Biasanya saat hujan turun cukup deras. Lubang seukuran kaki gajah dewasa itu tertutup air.
Kendaraan yang melintas ingin segera sampai ke tujuan untuk menghindari hujan deras. Mereka tidak menduga bahwa di depan ada lubang yang menganga. Kendaraan roda empat sedikit lebih aman. Hanya saja pasti mengalami kerusakan bodi akibat goncangan yang cukup keras. Kejadian itu sering didengar Neneng dari dalam rumah.
Tak lama kerabat lelaki dewasa itu datang menjemput. Neneng ikut lega karena lelaki setengah baya itu tidak mengalami luka serius. Kerugian terbesar adalah hari ini lelaki setengah baya itu tidak dapat bekerja. Neneng hanya dapat menyimpan getir di hatinya.
Malamnya sekelompok bapak-bapak dari warga setempat berkumpul di rumah Neneng. Mas Arip suami Neneng selalu membuka pintu rumah untuk mereka berkumpul. Setelah kejadian tadi pagi, siang dan sore ada lagi kecelakaan yang sama. Kejadian sore lebih mengerikan. Korbannya seorang pelajar. Pelajar itu terluka, dari pelipisnya mengucur darah segar yang cukup banyak. Kejadian beruntun itu mengusik emosi warga setempat terutama para bapak yang ikut memikirkan keselamatan anggota keluarganya. Neneng tidak ikut dalam pertemuan itu. Neneng memilih mendengar dari dalam rumah.
“Jalan rusak ini sudah terlalu lama. Lebih dari enam bulan tidak ada perhatian dari pemerintah. Paling tidak kepala desa turun mikir agar kecelakaan tidak sering terjadi di wilayah kita. Setiap kali kita melapor selalu disuruh sabar,” dengus Pak Bagyo.
“Halahh! Kepala Desa selalu berdalih,” cetus Pak Wayan.
“Awal-awal dulu malah kita yang turun sendiri untuk memperbaiki jalan itu. Kita minta sumbangan dari pabrik-pabrik sekitar wilayah kita. Setelah jalan bagus, Kepala Desa malah tidak ada reaksi. Berhubung dana seadanya tak lama jalan itu kembali rusak. Seharusnya ini tanggung jawab pemerintah setempat. Paling tidak Kepala Desa sebagai perantara kita ikut memikirkan. Bukannya ikut memikirkan, malah kita disuruh sabar terus. Lama-lama warga bosan untuk mengeluh!” ujar Pak Bono lantang.
“Sudah waktunya kita melakukan tindakan tegas!” Terdengar suara Bagus pemuda yang ikut hadir malam itu.
“Tindakan apa?” sahut Bapak lain.
Hening sejenak. Mas Arip bersikap menampung segala unek-unek warga. Neneng ikut menguping dari dalam rumah. Neneng ikut tak sabar menunggu rencana tindakan apa yang menjadi usul Bagus.
“Tindakan apa, Bagus?” cecar Pak Bono.
“Kita tanam saja Pohon Pisang sepanjang jalan berlubang. Semua warga gotong-royong menanam pisang itu. Kita tidak boleh membiarkan lebih banyak korban lagi. Bagaimana?” Bagus menatap seluruh bapak-bapak yang kumpul di situ.
Neneng menelan ludah susah payah. Pasti Bagus sangat mengikuti perkembangan di luar sana. Aksi menanam pohon pisang itu sudah menjadi viral dari media sosial. Neneng tidak bisa menyalahkan warga. Jalan raya di wilayah mereka sangat parah kerusakannya. Tidak baik juga untuk keselamatan warga. Belum lagi sering terjadi korban kecelakaan di sana. Neneng hanya bisa pasrah.
“Setujuu!!” Serentak suara Bapak-Bapak itu menggaung.
Esok harinya di kantor desa bertolak belakang kondisinya. Pak Edi selaku kepala desa terpilih justru menyalahkan pengendara yang tidak hati-hati saat berkendara. Siang itu ada rapat kecil di kantor kepala desa. Neneng sebagai salah satu staf ikut mengusulkan untuk dilakukan perbaikan jalan raya secepatnya.
“Saya sering lewat jalan di depan rumah Mbak Neneng, menurut saya kerusakan tidak separah berita yang tersiar. Kerusakan biasa saja. Warga terlalu membesar-besarkan.” Respon Pak Edi gampang.
“Hanya saja tingkat kecelakaan cukup tinggi belakangan ini. Apa tidak sebaiknya ada perbaikan jalan raya, Pak?” Usul Neneng kalem.
“Selama ini apa ada warga setempat yang mengalami kecelakaan? Ada? Tidak, kan. Rata-rata korban bukan dari warga sekitar. Berarti pengendara kurang hati-hati saat berkendara. Sudah tahu hujan harusnya lebih hati-hati bukan malah ngebut.” Pak Edi mematahkan usulan Neneng.
“Justru Pak. Korban tetap korban. Tidak memandang mereka berasal dari mana. Kalau tingkat kecelakaan di wilayah itu sangat tinggi akan berpengaruh buruh dalam pandangan masyarakat luas. Saya setuju usulan Mbak Neneng.” Mifta orang kepercayaan kepala desa berusaha menengahi.
“Ahh! Bukan urusan mendesak. Saat ini cukup diberi tanda saja supaya pengendara lebih berhati-hati. Urusan perbaikan jalan melibatkan banyak pihak. Tidak semudah yang dipikirkan warga. Masa perkara itu saja harus saya jelaskan.” Suara Pak Edi berubah ketus.
Rapat siang itu berakhir buntu. Mifta seperti mengubah sikapnya. Tatapan tajam Pak Edi menciutkan nyalinya. Neneng kembali menelan pil kecewa. Padahal Neneng tahu Pak Edi seharusnya mampu melakukan tindakan cepat untuk masalah ini.
Setelah ba’da Isya Neneng dan suaminya berbincang di ruang tamu. Mas Arip mengutarakan perkembangan rencana warga untuk menanam pohon pisang di jalan berlubang. Neneng tidak memberi reaksi. Dalam hati kecilnya Neneng setuju dengan sikap warga. Neneng memiliki hati nurani dia harus berpihak ke mana.
Gedeboom. Duarr! Neneng dan suaminya terperanjat di ruang tamu mereka. Secepat kilat Mas Arip lari keluar untuk melihat kejadian. Tak lama orang-orang bermunculan. Malam itu sangat cerah. Langit penuh bintang dan warna terang. Dari kejauhan mereka melihat seorang pengendara mencelat jauh. Motornya terhampar di sudut jalan. Mas Arip segera memberi pertolongan. Dibantu warga setempat mereka turut membantu. Tidak ada genangan air di sana. Penerang lampu jalan tidak terlalu redup. Korban tergeletak di jalan dengan penutup helm. Seorang warga berusaha melepas helm itu.
“Aditt!” Pekik Neneng tak percaya. Adit anak sulung Pak Edi kepala desa mereka. Andai saja rencana menanam pohon pisang di jalan berlubang itu lebih awal mereka lakukan? Neneng segera menelpon Pak Edi untuk mengabari tentang ini.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 25 Mei 2025.
Tentang Cerpenis
Ricardo Marbun
Seseorang yang bersahaja. Suka membaca apa saja. Masih proses belajar menulis secara otodidak. Berharap proses menulis semakin baik. Tinggal di Surabaya. IG: @ricardo_mrb.
Testimoni Ricardo Marbun
Bisa dikatakan saya mengenal Cerpen Sastra mulai sejak lahir, Maret 2023. Waktu itu cukup sering ikut audisi atau lomba cerpen dari IG. Menurut saya, Cerpen Sastra ini unik dengan syarat yg tidak bertele-tele seperti akun IG sejenis. Karena suka membaca, saya selalu membaca cerpen pilihan tiap Minggu awalnya dan kemudian berubah dua Minggu sekali.
Pilihan cerpen yang tayang menurut saya beragam dan menarik. Sejak itu saya jadi rajin mampir di Cerpen Sastra. Untuk teman-teman, terus kirim karya ke sini. Ikuti cara penulisan yg diminta, dan tulis sesuai gaya teman-teman saja. Saya rasa ini semacam tantangan.
Untuk Cerpen Sastra, tetap bertahan ya. Saran saya, coba buat jadwal live agar pengikut Cerpen Sastra makin dekat dengan akun ini. Mungkin kolaborasi dengan penulis yang tayang. Sebab dari banyak komentar yang saya baca, masih banyak yang belum paham cara menulisnya. Semangat menulis teman-teman.

