Cerpen Sastra

Suara Tersembunyi di Teluk Kasuari (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Maruna, pemuda Papua dengan darah pegunungan dan laut yang mengalir dalam nadinya, berdiri tegak di tengah Teluk Kasuari. Air payau yang dingin merangkul pinggangnya—ia sengaja masuk ke teluk ini sejak fajar, mengikuti petunjuk mimpi yang membawanya mencari kotak pusaka leluhur. Di antara akar bakau yang seperti tangan raksasa memeluk bumi, matanya menangkap kotak kayu usang terselip. Di dalamnya, sayap kulit kayu berpola lingkaran oker, merah, dan hitam terbaring, masih dihiasi dua helai bulu cendrawasih asli yang memudar. Saat ujung jarinya yang basah menyentuhnya, getaran halus merambat ke siku, lalu terdengar desis pelan—bagi Maruna, desis itu adalah suara nenek moyang yang hampir hilang, sebuah jawaban yang datang dari dalam air.
***
Dalam gubuk sederhana di tepi ladang sagu, Ina Lolo, sang penjaga lagu, mengelus-elus sayap kulit kayu itu dengan penuh khidmat. “Nenek Cendra punya nama. Beliau itu roh penjaga langit, nyanyian pertama kitorang punya,” bisiknya, suaranya serak oleh usia dan beban ingatan. “Dulu, ko pu kakek buyut yang tenun sayap terakhir buat upacara. Sejak dia su tada lagi, langit sama kitorang su terpisah jauh sekali.”

Maruna, yang magang di bawah bimbingannya, terdiam memandang lengannya sendiri. Di sana, tato sederhana terukir: gelombang laut, rintik hujan, dan matahari. Di hadapan tato para tetua yang rumit dan sarat makna, pola itu terasa asing, seakan masih mencari tempatnya dalam sejarah panjang mereka.

Sebuah kapal berwarna kelabu dengan lambung yang lebih kecil di cakrawala laut, menggotong deru mesinnya mendekati teluk. Di warung kopi, kabar beredar tentang perusahaan yang hendak mendirikan pabrik pengalengan ikan dan menambang timah di bukit. Bapak Sefnat, ayah Maruna, menatap genting bambu yang sudah lapuk dan bocor di beberapa bagian, lalu pandangannya beralih ke perahu tuanya yang berkarat. “Uang bekerja di sana bisa buat beli mesin tempel; jaring pun kitorang bisa ganti yang lebih lebar. Habis itu, kitorang tra usah dayung-dayung lagi sampai tangan dapa luka,” ujarnya.

Maruna membantah, “Tapi Bapak, itu kan bukit tempat cendrawasih cari makan. Kalau dorang gali, semua habis. Limbah pabrik itu bisa kasih mati bakau, telur kepiting pun nanti kena racun semua.”

Bapak Sefnat menghela napas panjang. “Cendrawasih? Mau dia cantik macam mana pun, burung itu tra bisa kasih kenyang kitorang pu perut. Tradisi juga tra akan bisa bayar kitorang pu utang-utang yang su menumpuk itu!” katanya.

Dengan langkah hati-hati dan dorongan ingin tahu yang tak tertahankan, Maruna mendekati pos perusahaan. Ia perlu mengetahui sendiri janji-janji apa yang mereka bawa, setelah mendengar kabar yang beredar di warung kopi. Seorang pria berkemeja rapi menyambutnya, lalu mengulurkan selembar brosur. “Kitorang datang ke sini bawa kesejahteraan untuk kam semua,” ucapnya, sambil jari telunjuknya menunjuk gambar lampu jalan terang dan jalan beraspal mulus yang terpampang di brosur itu. Saat berjalan pulang, keringat dingin membasuh tubuhnya sementara pikirannya terombang-ambing antara janji dan kenyataan.

Setelah beberapa minggu perusahaan mulai beroperasi, perubahan alam pun datang dengan laju yang mencemaskan. Truk-truk raksasa hilir mudik mengusik kesunyian di sekitar bukit dekat teluk. Dari dalam perut bukit, suara peledakan dinamit mulai bergemuruh, membelah udara dan mengoyak kedamaian. Perlahan, air teluk berubah menjadi kecoklatan, sementara bau logam yang menusuk menyelinap dalam helaan angin laut. Dengung generator yang tak kenal lelah pun akhirnya menenggelamkan nyanyian abadi debur ombak.

Pada suatu senja, Maruna menemukan seekor cendrawasih jantan terkulai lemah dengan bulu rontok dan warna yang kusam. Ia membawanya pulang, tetapi burung itu mati di pelukannya saat fajar. Saat hendak menguburkannya, sayap kulit kayu peninggalan leluhur bergetar keras dan memancarkan cahaya keemasan.

Dalam visi alam bawah sadar, Maruna menyaksikan teluk sekitarnya yang mati, bakau mengering, serta ladang sagu berubah menjadi kolam limbah. Lalu, dari dalam cahaya itu, terdengar suara lirih yang terdengar seperti kumpulan bisikan nenek moyang, ‘Maruna, badanmu itu bahasa. Ambil kembali nyanyian moyang kita, lalu ukir itu di kulit kam.’

Tiga hari tiga malam lamanya Maruna menyepi di gubuk Ina Lolo. Perlahan, ia memecahkan kode: setiap lingkaran pada sayap itu adalah notasi nada, setiap garis adalah irama yang mengalun. Ternyata, tato leluhur adalah sebuah partitur hidup yang menunggu untuk dibaca. Dibimbing oleh Ina Lolo yang kian lemah, Maruna mulai menusukkan iboki dan gini—dua alat tradisional nenek moyang— mengukir tato ke lengan bawahnya. Terciptalah pola baru: bulu cendrawasih patah dan gelombang laut tercemar. Dan setiap tusukan yang menitikkan darah itu sekaligus menjadi doa yang tersulam pada kulitnya.

Ketika bulan purnama menggantung sempurna, Maruna pun melangkah. Beberapa pemuda-pemudi yang sudah lama resah dengan perubahan di teluk itu mengikutinya naik ke tebing. Di bawah langit yang dihiasi gemintang, Maruna membuka lengan, memamerkan tato barunya, lalu mengalunkan suara. Lagu itu adalah keluh kesah untuk teluk yang merana dan seruan memanggil roh-roh yang sirna. Yang lain segera menyambut, merajut harmoni, sebelum akhirnya badan mereka bergerak luwes dalam tarian yang menyatu.

Nyanyian mereka memuncak, dan angin pun menggulung kencang menerpa. Sekumpulan burung mendekat, mengitari mereka dalam formasi melingkar. Sementara itu, cahaya bulan menangkap pola tato di lengan Maruna dan memantulkannya ke langit, merajut siluet seekor cendrawasih raksasa yang terbuat dari cahaya dan gema suara. “Nenek Cendra,” terdengar bisik penuh haru dari antara para saksi.

Saat harmoni nyanyian mereka mencapai puncaknya, sebuah pemahaman baru merambat bagai arus listrik dari satu pikiran ke pikiran lain. Itu bukan suara dari langit, melainkan kebenaran yang selalu ada, yang kini terbangunkan: ‘Kam su hampir lupa itu nyanyian sendiri. Padahal itu yang bikin kam ada sampai sekarang.’ Kesadaran itu tumbuh makin jelas, ‘Lagu itu yang bikin kam jadi penjaga, bukan perusak. Ko lihat kam pu teluk itu. Lihat langit yang su sunyi itu. Sekarang kam bisa pilih: mau jadi gema terakhir dari lagu lama—sekadar pengulangan usang yang akan memudar, atau jadi suara pertama dari lagu yang baru—sebuah melodi yang lahir dari jiwa yang sama namun berani mengisah dengan cara berbeda?’

Seakan memberi konfirmasi, burung cahaya mengepakkan sayapnya sekali. Gelombang energi halus yang terpancar menyentuh permukaan teluk, bergetar sejenak, sebelum akhirnya sirna ditelan langit—meninggalkan pilihan murni milik mereka.

Esok paginya, Bapak Sefnat menghampiri Maruna. Wajahnya penuh penyesalan saat berkata, “Kitorang su salah, Anakku. Sa dengar ko pu nyanyian tadi malam; kakek pu suara itu terdengar jelas di dalam ko pu suara.” Dia lalu memeluk erat anaknya, hangat dan dalam. “Kalau kitorang kejar uang terus, nanti kitorang malah makin haus,” bisiknya pelan. “Tapi anugerah dari alam ini, dia macam mata air yang tra pernah berhenti mengalir.“

Masyarakat akhirnya bersatu padu. Mereka mengundang perwakilan perusahaan dan pemerintah untuk duduk bersama. Di hadapan mereka, Maruna berdiri. Dengan suara yang tenang namun penuh ketegasan, ia mulai berbicara, “Bukan cuma tanah sama air saja yang rusak, Tuan-tuan. Yang terputus itu kitorang pu benang hubungan dengan leluhur, juga hukum alam yang su jaga keseimbangan selama ribuan tahun ini.”

Ia mengambil napas dalam sebelum melanjutkan, “Kitorang minta pembangunan, tapi jangan yang kasih hilang suara alam kehidupan paling utama di tempat ini.“

Komitmen baru perusahaan itu lahir bukan dari kemauan baik, tetapi dari desakan yang tak terbantahkan: masyarakat yang bersatu, dukungan organisasi lingkungan, dan ancaman sanksi hukum. Akhirnya, di bawah perjanjian yang mengikat secara hukum, mereka berjanji tidak akan menambang di bukit keramat, beralih ke teknologi pengolahan limbah terbaik, serta mendanai penuh pemulihan bakau dan program pengawasan cendrawasih selama lima tahun ke depan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, perusahaan juga wajib mempekerjakan dan melatih pemuda kampung sebagai tim pemantau independen—sebuah solusi yang memastikan bahwa mata warga lokal akan terus mengawasi setiap langkah mereka di tanah leluhur ini.

Di sebuah pagi yang tenang, Maruna kembali duduk di tepi teluk. Airnya telah mulai jernih, memantulkan cahaya mentari yang hangat. Seekor cendrawasih jantan muda tiba-tiba hinggap di dahan dekatnya, lalu menari-nari dengan gemulai. Maruna tersenyum. Tato di lengannya telah mengeras, garis-garisnya masih kemerahan, tetapi telah melebur kuat dalam ingatan dan jiwanya menjadi saksi kisah hidupnya.

Ia akhirnya paham: menjaga suara nenek moyang bukanlah membeku dalam sejarah, tetapi keberanian untuk menciptakan suara baru yang tetap setia pada roh nyanyian itu sendiri. Dan selama suara itu masih bergema, kemungkinan untuk terbang kembali akan senantiasa terbentang.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 4 Januari 2026.

Tentang Cerpenis
Gema Surya Hendrawan
@gemasurya7

Testimoni Gema Surya Hendrawan

Terima kasih sudah memberi saya kesempatan menjadi bagian dari Sayembara Cerpen Sastra. Proses kreatif ini muncul dari keresahan atas eksploitasi alam yang cenderung menimbulkan kerugian besar dan berdampak pada keseimbangannya. Memang manusia membutuhkan bantuan dari alam, tetapi bukan berarti kita mengambil hasilnya seenaknya. Hanya segelintir kalangan tertentu yang menikmati pundi-pundi rupiah dari eksploitasi alam.

Penyelenggaraan sayembara menurut saya sangat profesional dan mendukung: brief jelas, tenggat teratur, serta komunikasi panitia cepat dan konstruktif — hal yang jarang didapati di banyak kompetisi. Kehadiran pembaca dan komunitas yang membangun juga memberi energi baru; bukan sekadar kemenangan, tetapi jaringan kritik yang membuat saya ingin terus menulis dan bereksperimen. Saya berharap karya ini bisa menemui pembaca yang mencari cerita yang tenang, tetapi menempel lama di ingatan. Terima kasih dan semoga acara seperti ini terus menjadi ruang lahirnya suara-suara baru dalam sastra Indonesia.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *