Desember tiba. Dan aku tetap merayakan sepi. Lampu warna-warni gemerlap, tapi aku merasa dunia hanya putih dan abu-abu.
***
Kaus kaki kugantung lagi untuk kesekian kali di dekat jendela. Seperti tahun-tahun yang telah berlalu, di dalamnya kusematkan sesobek kertas dengan sedikit tulisan kata terima kasih dan pengharapan. Kau mungkin akan menertawakanku karena masih percaya dongeng kaus kaki ini. Atau mungkin mengejekku karena terlalu percaya pada mitos Nikolas. Namun, tak ada lagi cara lain.
Bertahun-tahun aku menggantung kaus kaki di jendela sebelah ranjang kecilku. Aku memercayai setiap cahaya yang hadir di malam-malam sunyi. Aku merapalkan doa dalam kegelapan, berharap setiap detik adalah ketukan yang membangunkanku untuk bertemu seseorang. Pada akhirnya, sunyi tetaplah sunyi.
Ketika aku masih kanak-kanak, menggantung kaus kaki di antara bola-bola lampu dan wreath, adalah kegiatan paling membahagiakan. Suster Beth akan meninabobokkanku bersama cerita bagaimana Nikolas mengirimkan koin emas lewat jendela. Pagi hari, aku akan menemukan hadiah kecil di dalamnya, entah itu pengikat rambut, bandana, pensil, boneka kecil, mug, apa pun. Aku pun memeluknya dengan sukacita. Sesederhana itu.
Semenjak aku memahami sebuah doa yang setiap malam kami dengungkan, pikiranku berubah rumit. Suster Beth mengajak kami sekamar melantunkan harapan baik serta maaf bagi orang tua kami, baik yang sudah meninggal ataupun yang sedang bekerja keras di luaran sana. Orang tua? Bukankah orang tuaku adalah Matron Rut? Paling tidak, selama bertahun-tahun, fakta itu yang kupegang.
Matron Rut jelmaan peri bagiku–dengan kasihnya yang penuh, dengan omelannya yang protektif jika aku berbuat kesalahan membahayakan diri. Namun pikiran bahwa aku memiliki orang tua di luar sana, sudah merusak apa yang kupegang teguh selama ini.
“Suster Beth, apakah aku dilahirkan oleh seorang mama?“
“Tentu saja. Ode adalah bayi cantik yang dilahirkan oleh seorang mama.“
“Lalu siapa mamaku?“
Suster Beth diam sejenak. Namun diamnya menceritakan banyak hal.
Aku sering bertanya siapa aku pada Matron Rut sebagai suster kepala, tapi yang kudengar hanya cerita usang yang dituturkan ratusan atau ribuan kali bahwa aku adalah anak yang dibuang di depan kapel, di tengah kidung Veni Creator Spiritus enam belas tahun lalu. Surat-surat kecil pun kutulis setelahnya, kumasukkan dalam kaus kaki merah dan menunggunya tiap malam.
“Hai, Nikolas. Tolong sampaikan ke Mama. Mama, ikutlah bersama Nikolas datang kemari.“
Begitu bunyi surat pertamaku. Dan paginya, aku hanya menemukan sapu tangan.
***
Satu teman kamarku berulang tahun pada hari Minggu itu. Suster Beth menuntun tangannya, mengajak keluar kamar. Aku mengikutinya. Di beranda yang hangat, telah duduk seorang lelaki bertampang keras. Suster Beth memperkenalkannya sebagai ayah Eris, teman sekamarku itu. Mereka ditinggalkan berdua. Lelaki itu memberi kue coklat kecil. Eris dengan canggung menerimanya. Mereka berdua tampak saling berbisik.
Payahnya, aku menangis untuk mereka. Mungkin seperti itu memiliki orang tua, menerima kue coklat saat ulang tahunmu–hanya untukmu sendiri, bukan sesuatu yang dibagi-bagi seperti selama ini. Seketika anganku melayang. Aku membayangkan jika aku yang berada di posisi Eris. Tapi sayang sekali, seisi panti pun tak tahu kapan tanggal lahirku.
Selain pertanyaan siapa orang tuaku, pertanyaan kapan ulang tahunku juga sering kuajukan serupa teror. Matron Rut sempat marah padaku kala itu. Walau pada akhirnya beliau berusaha mencari informasi tentangku dengan menyewa detektif.
Pada hari aku ditemukan, data rumah sakit menunjukkan tak ada seorang perempuan pun melahirkan dan tak ada DNA yang cocok dari seluruh perempuan di kota tempat tinggalku. Artinya, bisa jadi keluargaku atau siapa pun yang berkaitan dengan kelahiranku, bukanlah warga kota kecil ini.
Seisi dunia terasa begitu sulit untukku. Berbeda sekali dengan pencarian informasi tentang Eris. Meski pada akhirnya, gadis itu malah dipertemukan dengan ayah brengseknya yang terus meminta uang. Kami memang sering mendapatkan uang jajan sebagai hadiah saat ada kunjungan dari instansi ataupun perseorangan. Mereka merayakan hal-hal yang tak pernah kami rayakan, misalnya ulang tahun.
Aku pun menemui detektif tersebut. Aku diam-diam menarik tangannya ketika kaki kanan detektif itu sudah menginjak keset depan ruangan suster kepala. Dalam diam kuserahkan selembar kertas berisi tulisanku.
“Pak detektif, titip sampaikan ke Mama. Mama, tolong temui aku di sini.“
Detektif itu terlihat mengerutkan kedua alisnya.
“Ini saja? Kupikir kau akan menulis surat panjang untuk mamamu dan aku akan menyerahkannya saat bertemu.”
“Aku tidak tahu caranya.”
Aku memang tidak tahu caranya. Bukan cara menulis surat, melainkan cara mengungkapkan rasa yang campur aduk ini. Ingin menulis apa kabar, terasa janggal buatku. Kami belum pernah bertemu. Menyatakan perasaan kasih, itu juga tak mungkin. Aku tak pernah mengenalnya. Lalu aku harus menulis apa? Sejujurnya memang tidak ada rindu, karena kami tak pernah melewati waktu bersama. Namun, saat aku merasa ada orang yang menyebabkanku berada di dunia ini, sebagian hatiku kosong.
***
Pada hari-hari tertentu, aku mendengar pengumuman dari satu tempat ibadah tak jauh dari panti. Dengan penuh tekad, aku mendatangi tempat itu. Aku bertemu lelaki berpeci. Kuserahkan kertas bergaris dengan tulisanku.
“Mama, jika kau mendengar panggilan bapak salih ini, tolong temui aku di panti. Aku hanya ingin mengenalmu. Dariku, Ode si anak panti.“
Bapak berpeci itu tampak memerah matanya. Dia mengusap lembut punggungku sebelum memasuki tempat ibadahnya. Tak seberapa lama, beberapa pengumuman dibacakan lewat toa, termasuk suratku salah satunya.
Pada hari lain, dua orang sahabat yang kukenal lewat kegiatan warga sekitar panti, menyarankan agar menggunakan jalangkung. Menurut mereka, saudaranya pernah berhasil menemukan barang hilang setelah bertanya pada benda mistik itu.
Maka di sinilah kami. Duduk melingkar di tanah kosong pada malam buta, dikerubuti nyamuk yang menggila, bau kenanga, bersama boneka jerami yang bergerak tiada henti. Segumpal doa kudengungkan. Surat kuselipkan di tangan boneka itu.
“Mama, apakah kau sudah mati? Jika iya, datanglah bersama boneka ini.”
Berbulan-bulan aku menanti. Nikolas tak lagi datang di malam-malam sunyi. Detektif, hanya menggelengkan kepala ketika bertemu denganku. Bapak berpeci menatap dengan sendu ketika melewatiku yang tengah duduk melamun di kursi taman. Dan jalangkung, aku tak pernah percaya mahluk itu sebenarnya. Hingga pada satu sore, Matron Rut memanggilku ke ruangannya. Tangan rentanya menggenggam erat tanganku. Kuat tapi lembut di sisi lain. Matanya memandangku rumit.
“Ode, surat-suratmu pada Mama sudah terjawab,” tuturnya pelan.
Aku menatap tak bereaksi. Cerita itu kemudian meluncur begitu saja. Tampak ringan, tapi berat di waktu yang sama. Aku kembali harus bertanya pada diri sendiri. Apakah aku bisa menerima kenyataan bahwa mamaku adalah korban dari pemerkosaan tragedi itu, yang lebih mementingkan egonya untuk tampak baik-baik saja dengan meletakkanku di panti.
Pada akhirnya, hatiku belum siap. Dan kelak selanjutnya aku hanya akan menulis surat untuk Matron Rut sebagai mamaku. Jangan hujat aku, dunia memang sekejam itu.(*)
Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXXI.
Tentang Cerpenis
Tia Sulaksono
Buku solo: Petualangan Warna-Warni (kumpulan cerpen anak), Belajar Menjadi Orang Mati (novelet), JERAT KELAM (antologi cerpen horor), dan 17 buku antologi puisi dan cerpen. Cerpen ‘Tledhek Desa Kedungmati’ juara 1 sayembara pulpen Kompasiana XVII. Cerpen ‘Oetari’ juara 1 lomba cerpen Arkaiscreative Publishing. Cerpen ‘6174’ dan ‘Boneka’ juara harapan 2 Geladerikata. ‘Multikultur Budaya Leluhur’ juara 2 lomba menulis bersama Golagong. Cerpen ‘Dunia Belum Kiamat’ juara harapan 2 lomba Epilog Geladerikata. Buku kumcer Jerat Kelam meraih juara 2 Arkaiscreative. Penulis terfavorit versi Ellunar Publisher tahun 2022 dan 2023. Perempuan biasa dari bahan organik tanpa pemanis buatan. Introvert yang hanya ingin dikenal melalui karyanya. Betina misterius dan keras kepala. Jangan panggil bu, karena bukan buibu. Antimainstream yang muak dengan hal template. IG: @tia_sulaksono
Testimoni Tia Sulaksono
Terima kasih lagi dan lagi kepada Pulpen dan juri, Kak Lilik. Prestasi ini bukan saja sekadar juara bagi saya, melainkan sebuah pelajaran. Yang memang dalam setiap kompetisi selalu saja ada hal baru yang saya temukan.
Cerpen ini adalah cerpen terkilat saya. Menjelang sore dapat ide, langsung saya ketik saat itu juga. Dengan kekuatan jari jemari Thinker Bell, akhirnya selesai juga dalam kurun waktu kurang lebih empat jam.
Awalnya, saya sudah hampir menyerah untuk mengikuti sayembara kali ini. Sejak pertama diumumkan hingga hari terakhir, saya belum juga menemukan ide. Begitu membaca karya teman-teman di Kompasiana, makin ciutlah nyali saya. Beruntung, dalam beberapa jam terakhir, ide itu bermunculan. Terima kasih.
