Pulpen Kompasiana

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas lumpur penuh jejak logam berat. Saat gubuk-gubuk tetangga ambruk ditinggalkan, Sena bergeming. Di tanah mati itu, ia mengakar bak pohon tua yang menolak tumbang.
***
Dari laci meja, Sena mengeluarkan kotak kusam berisi jurnal ilmu tanah yang menguning. Jurnal itu sisa masa lalunya sebagai guru sains honorer, sebelum terpaksa memulung. Matanya menelusuri deretan tulisan pudar tentang asamnya lindi, racun timbal, kadmium, dan syarat pH tanah. Bertahun-tahun sebelumnya, ia pasrah melihat tanah itu mati perlahan. Namun, rencana penggusuran dari perusahaan pembeli lahan-lahan sekitarnya, memutus kepasrahannya. Ia bertekad, tanah sekarat ini harus kembali bernapas dan merawat kehidupan seperti sedia kala.

Keriuhan hari terakhirnya mengajar lenyap, terkubur luapan lumpur panas akibat keteledoran perusahaan tambang. Sejak saat itu, tak ada lagi kapur di tangannya. Semangat para murid menguap jadi kenangan. Bayangan papan tulis dan bangku-bangku kayu, menguburkan sisa pengabdiannya.

Berbekal uang seadanya hasil memulung, Sena berjalan sepuluh kilometer ke toko pertanian. Ia menebus dua karung kapur murni, sekam bakar, dan kotoran kambing, lalu menyeretnya pulang dengan gerobak pinjaman dari pemilik toko. Menembus terik, bayangan penggusuran terus mengejarnya. Setibanya di gubuk, ia langsung membuka jurnal. Setiap percobaan pemulihan tanah dicatatnya, menjadikan catatan itu saksi pengabdiannya. Tulang tuanya selalu ngilu, namun tangan Sena terus bergerak. Petak demi petak ia garap, membenamkan campuran kapur, sekam, dan kotoran kambing. Peluh terus menyapu kulit tubuhnya.

Beberapa bulan berselang. Tanah abu-abu pucat itu perlahan menggelap jadi cokelat. Sena meraup segenggam, melarutkannya dengan air hujan, lalu mencelupkan secarik kertas lakmus. Hasil menunjukkan pH tanah kembali netral. Tanah sekarat ini perlahan pulih. Sena mulai menanam sawi liar dan bunga matahari sebagai penyerap racun. Ia hanya mengandalkan tadahan air hujan dari drum bekas. Seminggu berlalu, tunas-tunasnya layu karena akarnya keracunan. Sena menarik napas panjang, lalu kembali menebar kompos dan menanam ulang. Lima bulan berselang. Barisan bunga matahari dan sawi berhasil tumbuh, menyedot sisa racun. Tanaman berbahaya itu lantas ia cabut, keringkan, lalu menyegelnya dalam karung plastik. Semuanya ditimbun ke lubang berlapis semen di ujung kebun, ditandai sebuah papan peringatan.

Cahya, bocah sepuluh tahun, kerap melintas di dekat gubuk Sena. Sejak ibunya tiada dan ayahnya tak kembali, ia bertahan dengan mengais sisa makanan pemulung lain. Suatu hari, langkah bocah itu terhenti. Perut laparnya terlupakan. Matanya terpaku melihat tangan keriput Sena bergerak aneh yang sibuk membenamkan jari-jarinya ke dalam tanah. Cahya perlahan mendekat, lalu memberanikan diri bertanya dengan ragu, “Kakek sedang menanam apa di tempat bau ini?“

Sena menghentikan gerak tangannya sejenak, lalu menjawab pelan, “Kakek sedang menanam, tapi bukan untuk dimakan. Tanaman ini bertugas menyembuhkan tanah.”

Jari-jari mungil Cahya ikut memecah gumpalan tanah. Sejak hari itu, ia mengekor ke mana pun Sena melangkah. Di sela kesibukan, Sena selalu mengajari bocah itu kosakata baru setiap hari, mulai dari ‘tanah’ dan ‘akar’ hingga ‘pH’ dan ‘timbal’. Guratan tulisan Cahya berantakan. Ejaannya kerap keliru. Namun, setiap kata yang tertoreh susah payah di atas kertas perlahan merapatkan jarak di antara mereka.

Tanah dan dedaunan disulap menjadi alat peraga. Di atas tanah, Sena menggambar lingkaran lambang tanaman. Cahya membalas dengan goresan silang. Perlahan, coretan acak itu berubah menjadi deretan huruf miring, menjiplak gaya tulisan Sena. Ingatan bocah itu ikut menajam. Berbulan-bulan kemudian, Cahya tak sekadar mahir menulis; ia pun tahu kapan harus menanam dan kapan waktunya memanen.

Deru mesin mobil memecah teriknya siang. Rangga pria muda berseragam dari perwakilan perusahaan, turun menenteng pemindai logam bersuara nyaring. Namun, bisingnya alat itu senyap saat diarahkan ke kebun Sena. Rangga tertegun menatap layar digital, memaku pandangan pada deretan angka yang muncul. Rangga mengangkat wajah, menatap Sena lekat. “Bapak, sebenarnya ini tempat apa?” tanyanya. “Kadar logam berat di tanah ini sangat rendah. Jauh di bawah area sekitarnya.“

Sena menjawab dengan tatapan tajam. “Kau dari perusahaan yang mau menggusur tempat ini, kan?” 

Rangga bungkam. Alat pemindai masih di genggamannya. Sena berdecih, menyodorkan buku jurnalnya. “Kau bilang logam beratnya rendah, kan? Lihatlah catatan pengamatan saya.”

Rangga mengambil jurnal, mengamati setiap halaman. Mata pemuda itu berbinar, menelusuri deretan catatan layaknya seorang ilmuwan.

“Bapak memulihkan lahan yang kadar timbalnya setinggi ini … hanya dengan tanaman-tanaman ini?” Rangga mengangkat wajah dari buku itu.

Sena menatapnya. “Dulu aku guru sains. Tanah ini bisa sembuh jika kita mau memberinya waktu.”

Rangga duduk di kursi kayu. Ia menarik napas, menata suaranya. Mengatakan penggusuran dimulai enam bulan lagi, termasuk kebun ini. Sena terdiam. Segala usahanya kelak luluh lantak di bawah roda ekskavator.

“Kalau begitu, bawa buku pengamatanku ke perusahaanmu. Bawa juga alat canggihmu itu kemari setiap bulan. Lihat sendiri apa yang terjadi, sebelum kalian benar-benar menghancurkannya.“

Tiga bulan berturut-turut, Rangga rutin kembali. Alat pemindainya menyisir petak kebun Sena. Setiap kali diukur, skala di layar selalu turun. Tanah itu perlahan sembuh dan hidup kembali di bawah sentuhan tangan yang sabar.

Suatu sore, dua pria berseragam mirip Rangga mengobrol seraya menunjuk gubuk Sena. Cahya mendekat. Terdengar sayup obrolan mereka bahwa penggusuran demi lahan parkir perusahaan dipercepat.

Setelah mendengar itu, seminggu penuh Sena duduk mematung di depan gubuk. Matanya terpaku pada jalan setapak, menanti info dari Rangga. Ia khawatir catatannya diabaikan. Sempat terbesit berniat membawa segenggam tanah kebunnya ke kantor gubernur, namun lutut tuanya takkan sanggup lagi melangkah jauh.

Iringan mobil menepi di depan gubuk. Bukan pekerja kasar yang turun. Rangga melangkah keluar bersama pria sepuh berkacamata, seorang guru besar pertanian universitas ternama. Rupanya jurnal Sena tak pernah sampai ke meja perusahaan. Rangga membawanya ke laboratorium kampus, demi menyelamatkan tanah ini.

“Data lapangan yang dibawa Rangga sungguh luar biasa,” puji sang profesor seraya berjongkok. Tangannya meremas tanah yang kini terasa gembur, lalu menancapkan sebuah alat uji ke dalamnya. Matanya terbelalak melihat angka di layarnya.

Sang profesor berdiri, menatap Sena dengan sorot penuh penghargaan. “Perusahaan sepakat memindahkan area penggalian ke sisi barat,” jelasnya hangat. “Kami telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup. Lahan ini akan disewa selama dua tahun sebagai stasiun penelitian, dan Bapaklah pengelola utamanya. Mulai hari ini, kebun ini resmi menjadi kawasan konservasi terbatas.“

Meski tak sepenuhnya paham, antusiasme sang profesor dan sorot mata Rangga memberikan jalan terang. Kebun kecil Sena kini memiliki sesuatu yang bermanfaat.

Sang profesor menoleh ke arah Cahya yang bersembunyi di balik punggung bungkuk Sena. Menatap sosok berwibawa itu, sang bocah seketika merasa kerdil. Pakaian rapi pria tersebut seakan menegaskan betapa kumuh dirinya. Sang profesor tersenyum, melembutkan suaranya saat menatap Cahya. “Rangga bilang, kamu rajin mencatat jadwal panen di kebun ini,” sapanya ramah. “Kami butuh asisten. Jika kamu mau, pihak fakultas akan membiayai sekolahmu sampai lulus.“

Beliau memberi jeda sejenak, “Syaratnya tidak berat. Kamu hanya perlu ikut sekolah kesetaraan, dan bersedia membantu laboratorium kami tiap akhir pekan.”

Cahya menatap Sena dengan mata berkaca-kaca. Melihat secercah harapan bersemi di wajah bocah itu, Sena tersenyum lalu mengangguk. Ia tak menyangka, kesempatan justru terbuka di atas tanah kotor yang terbengkalai.

Dua tahun berlalu dalam damai. Sekelompok mahasiswa datang dengan peralatan penelitian. Dengan hati-hati, mereka memindahkan rumpun bunga matahari dan sawi liar tersisa ke dalam pot untuk diteliti kampus. Sena menyerahkan selembar peta buatan tangannya kepada Rangga. Denah itu menandai letak karung-karung beracun yang ia timbun bertahun silam, agar sang pemuda tahu area mana yang kelak harus ditangani secara khusus.

Rangga mengangguk seraya menepuk pelan bahu Sena. “Rumah dinas di dekat kampus sudah kami siapkan, Pak. Bapak bisa huni kapan saja.“

Sena membisu. Ia memang butuh tempat bernaung, namun sebelum beranjak pergi, ia harus menyaksikan sendiri kepingan bumi ini diangkat dengan penuh hormat.

Di sisi Sena, Cahya berdiri dalam seragam putih biru barunya. Matanya terpaku pada petak tanah yang perlahan dibongkar. Pengerjaannya begitu hati-hati, seolah setiap genggam tanah sangat berharga.

Cahya tak menangis ataupun tersenyum. Ia sekadar menyaksikan lahan dari masa lalunya itu diangkat dengan penuh penghormatan. Ia menatap Sena.

“Kakek sedih ya kebun ini digali?“

“Tidak sama sekali,” sahut Sena tenang. “Tanah ini sudah sembuh. Sekarang tugasnya berpindah, memberi kehidupan baru di tempat lain.“

Cahya terdiam, meresapi maknanya.

Sena terpejam. Ia tak berkata-kata; tanah ini seakan berbicara untuknya. Ia menyadari, bumi yang terluka tak pernah meminta ampunan. Tak ada dendam maupun tuntutan. Hanya kesabaran, menanti tangan yang sedia menyembuhkan.(*)

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXVII.

Tentang Cerpenis
Gema Surya Hendrawan


Seorang fana di panggung cerita
IG: @gemasurya7

Testimoni Gema Surya Hendrawan

Sebuah kebanggaan besar karya saya, Tanah Pun Mengerti, dipercaya meraih Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXVII. Cerita ini pada dasarnya lahir dari keseharian saya yang kerap mengulik rumus dasar kimia dan perhitungan konsentrasi larutan. Saya merasa tertantang untuk membawa prinsip-prinsip sains tersebut keluar dari atas kertas, lalu menghidupkannya ke dalam sebuah fiksi untuk menunjukkan bahwa alam yang rusak masih bisa disembuhkan jika kita mengerti penanganannya.

Terima kasih yang tak terhingga saya haturkan kepada Bapak Horas yang tanpa lelah merawat Cerpen Sastra Grup sebagai rumah bagi para pencerita, serta kepada Ibu Lilik Fatimah Az-Zahra atas proses kurasi dan penilaiannya yang sangat tajam. Bagi teman-teman penulis, Sayembara Pulpen adalah panggung terbaik untuk menguji gagasan, menajamkan pena, dan memastikan karya kita dibaca oleh mata yang tepat. Teruslah berkarya dan jangan ragu menjadikan ajang ini sebagai batu loncatan!

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Kodel (Cerpen Syifa Dwi Maharani)

“Kodel! Pergi kau!” usir wanita paruh baya itu dengan tubuh yang menahan gerak pintu.***Bibirnya yang pecah-pecah meluncurkan makian tanpa rem. Seolah ia sengaja meninggalkan otaknya di suatu laci…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *