Pulpen Kompasiana

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan suara tinggi dan sebatang kretek yang berapi-api, Alim menatap satu per satu wajah rekan kerjanya di pabrik: “Aku tidak pernah takut dengan si Datuk.”
***
Mereka menyebutnya Datuk. Atau—lebih lengkapnya—si Datuk Belang. Meski bukan singa, tapi hewan itu kerap diibaratkan sebagai raja hutan. Dan, ia sangat jarang menyerang manusia; tidak pernah salah sasaran. Setiap tindakan harimau memiliki perkara. Karena itu, setelah diangkut, Alim Musyakir segera disalatkan lalu dikuburkan, tanpa percakapan yang terlalu dalam, tanpa curahan air mata yang begitu panjang. Terutama rekan-rekan kerjanya. Di hari esok atau seterusnya, cerita tentang Alim Musyakir akan menjelma pusaka berharga—sebagai pengingat pula cerita seram—untuk karyawan-karyawan baru dari kepulauan jauh. Sebab, “Harimau tidak pernah salah menentukan korbannya.”

Mungkin, ketika matahari terbit, aku perlu terbangun menjadi harimau, bukan hanya untuk menentukan, tapi juga untuk melihat … siapa korban sebenarnya.
***
Sebelum ingin menjadi harimau, aku pernah ingin terbangun dan berharap menjadi rumput. Sebelum itu pula, aku pernah ingin terbangun dan berharap menjadi teman sebangkuku—Nafira. Itu hari di mana rapor dibagikan. Orangtuaku datang bersamaan dengan orangtua Nafira. Susah-payah aku berusaha untuk tidak menemukan keduanya, tapi takdir berkata lain. Ketika melihat perempuan mungil berambut sebahu itu, ibuku spontan memberi senyum dan salam. Orangtuanya pun membalas jabatan tangan ibu. Aku segera memutarbalikkan mata, rasa malu memenuhi dadaku, apalagi usai dirinya mengetahui: aku tidak mendapat juara satu.

“Ibu tidak percaya kamu sebangku dengan Nafira.”

Air mataku sudah mencair, mulutku terus berbicara: “Aku sudah sebangku dengannya … selama tiga tahun, Bu.”

“Lantas, kenapa kau tidak pernah seperti dirinya?”

Aku tidak tahu. Aku belum menemukan jawabannya, Bu. Batinku bergejolak, aku menundukkan kepala. Ibu menutup pintu. Lantas, air mataku bertambah mencair ketika melihat lembaran-lembaran kertas raporku mendadak berhamburan di atas lantai. Tidak hanya satu-dua kali aku mendengar pertanyaan itu … sepotong pertanyaan mengapa aku tidak seperti Nafira. Hingga detik ini, aku juga tidak tahu. Setiap kali ayam berkokok dan wajahku menghadap cermin: aku pun … tidak pernah merasa seperti diriku.

Bukan mulut ibu saja yang senantiasa membikin air mataku meleleh, tapi mulut-mulut orang lain. Perempuan-perempuan di dalam kelasku, misalnya. Mereka pernah menggunjingku. Kala itu, aku tidak tidur. Kamarku tidak bermandikan lampu temaram, melainkan buku-buku pelajaran. Tapi, aku malah melupakan pelajaran yang tidak pernah ada dalam buku: pelajaran olahraga.

“Sebenarnya mereka berdua itu temenan enggak, sih?”

“Kurang tahu, ya. Mungkin, kurang dekat?”

“Atau mungkin dekat di depan saja? Tapi, seharusnya … meski dekat di depan kita saja, setidaknya Rani terciprat kepintaran Nafira. Ini enggak sama sekali. Ha-ha!”

“Ha-ha!”

“Takut malah Nafira yang terciprat kebodo—” Gegas, aku menutup mata, menutup telinga.

Hari itu, aku pulang dengan satu pertanyaan yang membikin rambutku perlahan berguguran: perlu sedekat apa hubunganku dengan Nafira … agar diriku bisa diterima dengan mereka?

Aku menutup pertanyaan itu—tanpa sengaja—dengan sebuah senyuman. Sebab, kendati mereka menggunjingku, tapi—setelah sekian lamanya—akhirnya aku mendengar satu kata itu diucap kembali: namaku, oleh mulut orang lain. Ketika bercermin dan menyisir: aku tidak pernah melihat sosok Rani—sosok yang senantiasa muncul di kartu identitasku, halaman depan raporku, atau akta kelahiranku. Bahkan, ibu jarang menyebut kata itu. Dengan demikian, saat masih berada di lintasan dan mendengar nama ‘Rani’, aku merasa kembali pulang ke diriku yang dahulu—yang dilahirkan ke dunia ini dengan senyuman, dengan sambutan, di bawah langit-langit putih dan dikelilingi ucapan ‘selamat’. Suatu waktu, ibu pernah mendapat banyak apresiasi karena … diriku—karena berhasil melahirkan diriku. Tapi, kini telinganya lebih sering mendapat kalimat penolakan. Atau angka-angka berwarna merah yang menjadi warna paling dibenci oleh matanya. Selain mendengarnya dari sekolah atau lembar ujian, telinga ibu pula sering mendengarnya dari mulut bapak.

“Kau mau anakmu berakhir menjadi seorang penjerat harimau? Kenapa nilai-nilai ujiannya tidak naik. Selalu begitu?”

“Aku sudah berusaha mengajarinya sebaik mungkin…”

“Atau tidak? Kau tidak berusaha? Mengapa kau tidak coba bertanya pada ibu Nafira? Istri juragan kebun itu? Supaya anakmu nanti akan bernasib sama seperti mereka, bukan bernasib sama seperti keluarga ini: seorang penjerat harimau dan seorang pencuci piring.”

Aku rasa, entah kapan, aku perlu mengajak ibu tidur bersama—jika ia tidak selalu marah padaku. Ketika matahari fajar menelisik jendela, kami akan terbangun dan bercermin dan bukan melihat sosok Ranti dan Rani, tapi sosok orang asing yang kami kenali … melalui perkataan orang lain.
***
Untuk beberapa saat, sekolah diliburkan. Kabarnya, harimau sumatera kembali terlihat di area perkampungan kami pula sekitar pabrik. Si Datuk Belang tengah mencari orang yang telah melanggar atau berani menentangnya. Dan, untuk beberapa saat pula, aku lebih sering mendengar kata ‘harimau’ dibanding perempuan mungil berambut sebahu itu…

Hari sebelum sekolah diliburkan, aku sempat bertengkar dengan Nafira. Aku tahu betul kami akan bertengkar, dan aku tahu betul jika wajar sekali untuknya marah. Bukan. Aku tidak melampiaskan rasa insecure-ku pada dirinya. Bukan. Aku tidak menjauhinya tanpa alasan tersebab orang-orang selalu mengagung-agungkan namanya. Bukan, aku tidak melakukan itu semua. Nafira marah tersebab … akhir-akhir ini, aku selalu menguntitnya ketika pulang sekolah.

“Sebab aku ingin menjadi dirimu.”

“Siapa yang menyuruhmu begitu?”

“Orang-orang sekitarku.”

“Termasuk ibumu?”

“Termasuk ibuku.”

Lantas, selepas itu, Nafira berbalik badan dan aku menganggap percakapan kami sebagai sebuah pertengkaran—deklarasi perang dunia, mungkin. Sejak aku mengenalnya tiga tahun lalu, Nafira tidak pernah memutus percakapan dan membelakangiku dengan tengkuknya yang putih. Jantungku seperti sempat berhenti berdetak, tapi kembali berdetak seperti biasanya ketika aku ingat: aku tahu apa yang dilakukan Nafira setiap harinya. Dan, aku percaya, keesokan hari, aku sudah terbangun dan bercermin sebagai dirinya.

Di ruang makan, aku harap ibu tak lagi memanggilku dengan bunyi piring dan uap makanan saja, tapi juga nama bertuliskan: Nafira. Di sekolah—terutama—aku harap teman-temanku atau wali kelas atau guru olahragaku atau bahkan kepala sekolahku tak lagi memberikanku senyuman palsu dan sindiran, tapi juga memberikanku perlakuan semanis madu hutan layaknya yang mereka berikan pada Nafira. Hingga kegiatan belajar mengajar kembali diadakan dan harimau yang lalu-lalang itu kabarnya telah mati di tangan seorang penjerat, ayam berkokok dan matahari menelisik jendela, menciptakan cahaya pada cermin: aku masih menemukan diriku terbangun … sebagai seseorang yang tak pernah mereka sebut.

Aku berdoa, di kehidupan selanjutnya, aku akan bereinkarnasi menjadi rumput.
***
Suara motor bebek bapak kali ini lebih nyaring. Setelah menurunkanku, ia langsung pergi begitu saja, seperti dikejar seekor harimau. Padahal, ia mengantarku karena banyaknya berita kemunculan hewan tersebut. Aku tidak mengerti dengan dirinya. Setidaknya, meski ibu selalu marah padaku, tapi aku tahu apa yang ia inginkan dariku: untuk berprestasi seperti Nafira. Sedangkan bapak … untuk memahami dirinya, aku perlu terbangun, bukan sebagai orang lain, tapi sebagai seekor harimau untuk melihat: siapa korban sebenarnya. Aku, ia, atau justru sistem yang telah dibentuk sedari dulu?

Belum juga membuka pintu kelas, langkahku tercegat. Bu Ambar menepuk pundakku, dan memanggil namaku—akhirnya. Ia memintaku untuk pergi bersamanya ke ruang guru. Air mukanya tidak jauh berbeda ketika mulutnya memanggil namaku untuk mengambil kertas ujian di depan kelas. Namun, kali ini ia tidak menyebut sederet angka yang rendah, melainkan nama itu… “Apa yang kau lakukan pada Nafira?”

“Saya tidak melakukan apa-apa, Bu…”

“Yakin? Jika tidak, lantas mengapa kau sempat menguntitnya setiap hari? Sampai kapan kau mau terus memberi kabar buruk seperti ini, Rani? Mengapa kau tidak aneh-aneh barangkali untuk sebentar saja … dan duduk manis seperti Nafira?”

Aku mendongakkan kepala. Menatap Bu Ambar. Menyeka air mataku. Bagaimana bisa aku duduk manis jika kalian semua terus mengatur di kursi mana bokongku harus duduk? Tidak. Aku tidak bisa. Daripada duduk, lebih baik aku pergi—berlari. Menuju hutan. Terbangun sebagai harimau. Harimau tidak pernah salah menentukan korban, tentu juga ia tidak pernah salah mengenali kaumnya sendiri. Pagi esok, aku tidak akan lagi menjelma orang lain (Nafira, astronot, pengusaha, matematikawan, atau apa pun itu) melainkan menjelma seekor hewan, dengan tubuh belang-belang, sehingga dalam cermin itu: tidak ada bayang-bayang manusia bernama Rani. Sebab, sejak kapan pendidikan mengajarkan kita untuk menjadi diri sendiri?(*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXXVIII.

Tentang Cerpenis
Gagah Pranaja Sirat


Penulis muda cerpen dan karya sastra lainnya.
IG: @gahpraja

Testimoni Gagah Pranaja Sirat

Melalui cerpen Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain, saya berhasil membawa pulang penghargaan juara menulis Sayembara Pulpen lewat kisah pendidikan yang amat menyentuh, di mana seorang anak dipaksa mengubur jati dirinya demi memenuhi ekspektasi dan tuntutan linear orang tua.

Cerita ini menjadi refleksi tajam bahwa sistem pendidikan sering kali mencetak robot penurut dan mengorbankan impian murni anak demi menjadi ‘orang lain’ yang dianggap sukses oleh masyarakat.

Related Posts

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Kodel (Cerpen Syifa Dwi Maharani)

“Kodel! Pergi kau!” usir wanita paruh baya itu dengan tubuh yang menahan gerak pintu.***Bibirnya yang pecah-pecah meluncurkan makian tanpa rem. Seolah ia sengaja meninggalkan otaknya di suatu laci…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *