Haji Mursid bukan tukang urut biasa. Di Banjarmasin, namanya tersohor dan sangat dihormati. Orang-orang menyebut tangannya seperti mempunyai mata, memiliki berkat luar biasa mengembalikan tulang patah, menyembuhkan sendi-sendi bermasalah dan sakit-sakit tak terdeteksi rontgen hanya dengan urutan ataupun pijatan.
***
Uniknya, keahliannya itu didapat bukan dari sekolah medis, tapi dari rantai panjang warisan bagampiran,
“kontrak” eksistensial dengan entitas gaib secara turun-temurun. … yang menarik, Fahri dan Ridwan anaknya, sama-sama antitesis abahnya! Jika Ridwan sang kakak memilih menghindar dengan bekerja di Qatar, maka sosok Fahri dikenal sebagai arsitek sukses di Jakarta. Rasionalitas keduanya menganggap “bagampiran”, berdampingan untuk bekerja bersama-sama dengan jin hanyalah residu takhayul masa lalu. Wajar jika sejak lama, hubungan bapak-anak ini, terutama Fahri yang dianggap punya tanda-tanda sebagai penerus “kontrak” leluhur, cenderung kaku, setegang kawat baja pada jembatan gantung di Pasar Terapung, Lok Baintan.
Konflik keduanya memuncak, setelah Haji Mursid sakit misterius sepulang umrah kesepuluhnya. Tubuhnya kurus kering, tapi tangannya tetap hangat seperti berenergi. Tapi Sidin(1) tidak bisa mengurut lagi, hingga orang-orang mulai berbisik tentang kemungkinan “kontrak” yang harus diperbarui.
Dari ranjangnya yang beraroma minyak angin dan kemenyan yang disamarkan harum parutan kayu gaharu itu, Haji Mursid memanggil si-bungsu yang terpaksa pulang ke Banjarmasin, meninggalkan proyek di Jakarta, untuk menjenguk abahnya.
“Tanda-tanda itu semakin jelas mengarah kepadamu,” bisik Haji Mursid, sambil tangannya mencengkeram bahu Fahri.
“Abah, tolonglah hentikan ini! Haji dan umrah Abah yang berkali-kali itu harusnya sudah cukup untuk memutuskan hubungan makhluk-makhluk itu!” Balas Fahri, frustrasi.
Haji Mursid menggeleng. “Ini bukan soal iman. Ini soal perjanjian para leluhur kita sebelum Abah lahir dan sekarang giliranmu…,” setelahnya Haji Mursid menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan Fahri.
***
Sehari setelah pemakaman… Hajjah Raudah, Mamanya Fahri, menyerahkan kotak berbahan kayu ulin tua berwarna kehitaman yang disebutnya sebagai amanah dari Abah untuk Fahri. Tidak ada tambahan pesan dari Abah, termasuk cara membuka kotak hitam tanpa lubang kunci, tapi serasa terkunci rapat itu, hingga membuat Fahri dan mamanya juga kebingungan untuk mengetahui isinya. Setelah memperhatikan lebih seksama, Fahri baru menyadari keberadaan 4 simbol ukiran stilasi kaligrafi Arab di keempat sudut kotak yang guratannya tersamar oleh hitamnya kayu. Keempatnya adalah huruf Hijaiyah, Alif, Lam, Mim, dan Ra yang biasa disebut sebagai Muqatta’at, huruf-huruf terputus di awal surah tertentu Al-Qur’an.
“Lalu apa maksudnya? Kok nggak ada engselnya?” Fahri mencoba membuka kotak dan mengawalinya dengan bacaan Basmallah, tapi tidak ada reaksi apa pun pada kotaknya. Gagal! Fahri kembali mengamati kotak hitam di hadapannya. Berbeda dengan huruf Alif dan Mim yang netral, ternyata di ujung bawah guratan huruf Lam dan Ra yang sama-sama menghadap ke kiri, ada tanda panah yang sangat halus dan tersamar oleh stylish huruf.
“Pasti digeser ke arah kiri,” batin Fahri. Ternyata benar, dengan sedikit effort, akhirnya tutup kotak itu bisa dibuka. Isinya, bukan jimat, mantra atau sejenisnya, hanya mori yang membungkus sebotol ramuan “minyak urut kelapa hijau warisan leluhur” turun-temurun yang wajib dijaga! … dan selembar kertas usang berisi pesan Haji Mursid, rapi namun penuh tekanan.
“Anakku, perjanjian ini bukan tentang menyembah jin. Tapi menjaga keseimbangan! Mereka ada sebelum kita, dan mereka akan ada setelah kita. ‘Pendamping’ kita itu penjaga ‘keseimbangan’ di tanah ini. Manfaatkan sebaik-baiknya untuk menolong orang yang membutuhkan!”
Fahri melempar surat itu. Air matanya menetes. Abah, kenapa harus ulun(2)?
***
Keesokan harinya… Fahri menatap nanar monitor laptopnya, setelah pesan video terbaru dari anak buahnya di Jakarta mengabarkan proyek high-rise mereka yang mengalami anomali! Aneh, pilar-pilarnya tiba-tiba miring tepat 3 derajat, seolah ada yang menahan beban di sisi sebaliknya.
Apa iya, bangunanku ber-ulah karena aku terlalu angkuh dengan logikaku? Apakah aku mengabaikan “sendi” tanah tempat gedung itu berpijak?
Fahri bimbang! Sebagai Muslim, ia takut terjerumus kesyirikan. Tapi, ia teringat pesan ayahnya, menolong sesama juga ibadah. Jika bangunannya roboh dan banyak nyawa melayang?
“Ada apa, Nak?” tanya Hajjah Raudhah yang tiba-tiba ada di samping Fahri.
“Ulun bingung Ma! Proyek di Jakarta tiba-tiba tiangnya miring!”
“Bagampiran itu sabujurnya(3) syirik atau tidak, Ma?” tanya Fahri kepada mamanya, sambil tetap fokus memantau layar laptopnya.
“Abah selalu bilang, bagampiran itu bukan menyembah. Ini simbiosis, kongsi saling menguntungkan. Seperti punya teman pandai melihat yang tak terlihat mata kita, tapi mereka tidak bisa menyentuh seperti yang tangan kita lakukan.“
“Kuncinya ada pada niat dan tanda yang kau bawa di darahmu!“
Tiba-tiba, Fahri merasakan rasa hangat di ujung jari-jemarinya, rasa hangat yang sangat akrab, seolah dialiri listrik statis yang lembut dan sensasinya menenangkan. Tak hanya itu, tiba-tiba penglihatan Fahri di layar laptop juga berubah. Garis-garis digital CAD yang kaku menghilang, berganti dengan aliran energi yang berputar di bawah pilar gedung itu. Ternyata ada “sumbatan” akibat ketidakseimbangan unsur tanah yang tak tertangkap alat ukur canggih milik kantor.
Fahri menggerakkan kursor-nya, bukan dengan mouse, tapi dengan “rasa” yang mengalir dari jemarinya. Ia menggeser tumpuan pilar itu beberapa milimeter, mengikuti aliran energi yang dirasakannya. Ajaib! Di layar, semua garis struktur yang tadinya merah tanda stres material mendadak berubah menjadi hijau stabil. Saat itulah, tiba-tiba pintu depan rumah digedor keras dari luar.
“Ji, tolong! Tolong kami, Ji! Anak ulun jatuh dari pohon, kakinya melintir!” Terdengar suara panik dan memelas Pak RT dari luar.
“Pak RT, Abah sudah meninggal….” Jawab Fahri, setelah pintu terbuka.
“Tolonglah Fahri! Ke mana lagi kami meminta tolong? Anaknya kesakitan, sendinya keluar!“ Pak RT merangsek masuk membawa anaknya yang mengerang hebat. Kakinya menekuk pada sudut yang mengerikan.
Fahri diam membeku tidak tahu harus berbuat apa. Dia sama sekali tidak paham anatomi tulang secara medis, apalagi detail teknik mengurut. Seketika Fahri ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia seorang arsitek, bukan paurutan(4)! Tapi, demi melihat mata anak itu yang menyiratkan rasa sakit luar biasa, jemarinya yang hangat kembali berdenyut hebat.
“Fahri, Bismillah, niatkan karena Allah,” bisik mamanya sambil menyodorkan botol minyak kelapa hijau dari kotak ulin tadi.
Dengan tangan gemetar, Fahri mengoleskan minyak beraroma gaharu yang menenangkan itu. Saat jemarinya menyentuh kulit anak itu, dunia seolah berubah. Serasa dalam dunia paralel, Fahri tak lagi melihat daging atau kulit. Dalam pandangannya, kaki itu tampak seperti struktur bangunan yang gagal, ia melihat “besi-besi” tulang yang bergeser dari porosnya. Fahri teringat cara ayahnya menyentuh pasien yang sesekali tetap juga diperhatikannya. Beliau tidak pernah menekan keras, hanya mengusap lembut, seolah sedang bernegosiasi dengan jaringan otot yang tegang.
Sampai di situ, Fahri justru merasa tangannya bergerak sendiri dengan presisi matematis yang luar biasa menuju “titik koordinat” yang perlu perbaikan. Setelahnya, ia hanya menekan satu titik saraf kecil di pangkal lutut yang secara logika medis mungkin tak berarti apa-apa, tapi tiba-tiba… Klak! Suara sendi yang masuk kembali ke tempatnya terdengar begitu renyah. Anak itu seketika berhenti menangis. Napasnya yang memburu mendadak tenang.
“Sudah?” tanya Pak RT tidak percaya.
“Hanya begitu?”
Fahri sendiri terpaku. Ia melihat tangannya. Hangatnya perlahan memudar, meninggalkan rasa tenang yang asing. Di saat yang sama, ponselnya bergetar. Ada pesan dari mandor di Jakarta, “Pak! Ajaib, pilar utamanya lurus sendiri setelah kami melakukan penyesuaian kecil seperti pesan Bapak tadi. Pas sekali!“
Fahri terduduk lemas. Mungkinkah proyeknya di Jakarta dan kaki anak ini memiliki “sendi” yang sama. Apa iya, Bagampiran memang tentang keseimbangan alam? Ia menoleh ke arah cermin di sudut ruangan. Bayangannya masih di sana. Tapi, saat ia berkedip, kedipan dari bayangannya terlambat sepersekian detik.
Selanjutnya, Fahri memang tidak mendengar suara gedoran lagi, tapi anehnya bisa merasakan ada getaran halus dari langkah kaki seseorang yang sedang menuju rumahnya dari jarak satu kilometer jauhnya. Ada seseorang yang memiliki “patahan” yang lebih rumit dari sekadar kaki keseleo sedang menuju rumahnya! Fahri menuju laptopnya. Ada notifikasi email masuk dari kantor!
Subjek: Proposal proyek pembangunan di Pedalaman Hulu Sungai
Status: Disetujui.
Haaaaaah, proposal?
Pedalaman, Hulu Sungai?
Apa pula ini, saya tidak pernah mengajukan proposal apa pun!?
“Hmmmm… Jadi ini Bagampiran…?” gumam Fahri sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tanda mulai memahami semuanya. … dan dia tahu, mulai malam ini, tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi!(*) (BDJ29326)
(1) Sidin: Beliau
(2) Ulun: Saya
(3) Sabujurnya: Sebenarnya
(4) Paurutan: Tukang Urut
Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXXIII.
Tentang Cerpenis
KaekahaPenikmat buku cerita, kuliner berkuah kaldu dan kajian sosial budaya khas nusantara. IG: @kaekaha
Testimoni Kaekaha
Jujur, sayembara cerpen edisi XXXIII yang secara spesial bekerja sama dengan novelis spesialis thriller @Acek Rudy yang berlatar numerolog, temanya cukup berat bagi saya yang biasa menulis cerpen bertema alam dan sosial-budaya khas nusantara. Tapi memang menantang, sih!
Beruntung, saya yang kebetulan lagi riset tentang tradisi kuno khas Urang Banjar yang sebenarnya lumayan ngeri-ngeri sedap juga, yaitu “bagampiran” yang biasanya berhubungan dengan dunia paralel di paurutan atau pijat tradisional untuk sebuah job sebagai ghost writer, mencoba untuk mulai mengotak-atiknya menjadi thriller yang orisinal, unik dan menarik, hingga akhirnya ketemulah puzzle-nya dengan dunia bangunan yang juga ada unsur tulangnya, hingga jadilah cerpen yang akhirnya dipilih Acek Rudy sebagai pemenang pertama.
Alhamdulillah, terima kasih banyak buat Pulpen, Mas Horas, dan Acek Rudy untuk semua apresiasinya, apalagi hadiah cuan+novel DE OUDE ZIEL-nya doping aktual yang bikin bersemangat eksplorasi dan risetnya! Karena event ini, saya jadi sering nulis cerpen dan luar biasanya, angka keterbacaannya nggak kalah loh sama artikel-artikel sosbud saya. Panjang umur ya event-nya, Pulpen!
