Kopaja71

Tiga Jenis Pahlawan yang Lahir dari Sampah (Artikel Agustina Purwantini)

Sampah sesungguhnya merupakan tanggung jawab masing-masing orang. Kemudian bergulirnya zaman menyebabkan munculnya profesi tukang pungut sampah atau penggerobak sampah. Terutama di wilayah perkotaan.
***
Tentu kehadiran para tukang pungut sampah memudahkan hidup warga kota. Iuran sekian puluh ribu rupiah per bulan untuk membayar mereka, tak jadi soal. Pertimbangannya, ketimbang puyeng melihat sampah menumpuk di rumah. Pun, ketimbang repot-repot membuang sendiri ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) atau ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Meskipun terlihat sepele, tak semua orang kota mudah mengakses TPS atau TPA yang lokasinya tentu jauh di pinggiran kota. Faktanya seperti itu. Hingga akhirnya timbul ketergantungan pada tukang pungut sampah. Lambat-laun fakta bahwa sampah adalah tanggung jawab masing-masing orang pun menjadi kabur. Entah sengaja dikaburkan atau tak sengaja terkaburkan sebab kondisi dan situasi.

Hmm. Mengapa begitu, ya? Apa karena orang-orang kota memang punya tabiat lempar tanggung jawab ke pihak lain? Atau, karena mereka berlimpahan duit dan kemudian sengaja cari-cari ide untuk membagi-baginya ke orang lain? Tentu saja tidak begitu. Memang ada sejarah panjang terkait kemunculan profesi tukang pungut sampah. Namun, penyebabnya tidaklah se-alay itu. Tabiat orang kota pun tidak sejelek itu sekaligus tidak sebaik itu.

Singkat cerita …

Problema sampah, terutama di wilayah perkotaan, merupakan sebuah keniscayaan. Kehadiran manusia selalu bersamaan dengan kemunculan potensi sampah. Jadi makin banyak manusia, makin besar potensi sampahnya. Oleh sebab itu, wajar kiranya jika persoalan sampah di perkotaan lebih pelik daripada di pedesaan. Sama pelik dengan situasi masyarakat kota yang heterogen. Alhasil, tanpa bantuan tukang pungut sampah yang rutin mengambil sampah dari kompleks permukiman, urusan kebersihan kota bisa kacau-balau. Di titik inilah tukang pungut sampah menjadi tokoh sentral.

Sebagai tokoh sentral, tukang pungut sampah bisa diomeli warga ketika terlambat memungut sampah. Sementara penyebab keterlambatan bisa jadi di luar kendali kekuasaannya. Mungkin gerobak pengangkut sampahnya mendadak rusak atau TPS/TPA overload sehingga tukang pungut sampah pun dilarang sementara waktu untuk berkeliling ambil sampah di rumah-rumah.

Beberapa kali saya mengalami situasi TPS/TPA overload. Automatis beberapa kali juga saya menyambut kedatangan tukang pungut sampah dengan gegap gempita penuh suka cita. Sekian lama tidak muncul, lho. Dengan kemunculannya, berarti rumah dan lingkungan sekitar bakalan terbebas dari sampah. Seluruh warga pun menyambut bahagia. Serasa menyambut pahlawan kebersihan yang membebaskan dari belenggu tumpukan sampah.

Sebetulnya pilah sampah telah saya lakukan. Demikian pula para tetangga. Hanya saja, bagaimanapun untuk jenis sampah yang acakadut campuran tak karuan, mesti diangkut penggerobak sampah. Dalam hitungan hari atau maksimal seminggu, jumlahnya masih aman. Kalau sampai sebulan gara-gara tukang pungut sampah tak muncul, ya jadi masalah.

Selain tukang pungut sampah, ada dua pahlawan kebersihan lain di sekitar saya. Keduanya adalah pemulung dan pembeli rongsokan keliling. Akan tetapi, kini pemulung tidak lagi masuk ke kampung tempat saya berdomisili. Mengapa? Sebab tak ada lagi yang bisa dipulung.

Beberapa tahun belakangan ini di kampung saya ada kebijakan wajib pilah sampah. Linear dengan kebijakan pemkot, sih. Salah satu dampaknya adalah ditiadakannya tempat sampah umum di kampung. Tiap rumah pun mesti menyimpan sendiri-sendiri sampahnya, sebelum dipungut penggerobak sampah. Sejak saat itulah pemulung tak pernah muncul di kampung kami.

Sekarang secara periodik, yang masih muncul adalah para pembeli rongsokan keliling. Kemunculan mereka adalah solusi, pada saat pilahan sampah anorganik saya menggunung. Meskipun hasil penjualan ke mereka tak seberapa, saya lega sekali sebab terbantu dalam membersihkan rumah.

Itulah tiga jenis pahlawan yang ada di sekitar saya. Mereka memang lahir dari sampah, tetapi hasil pekerjaan mereka justru menihilkan sampah. Salam.(*)

Artikel merupakan Juara I Lomba Menulis Artikel: Ceritakan Sosok dengan Semangat Pahlawan di Sekitarmu.

Tentang Penulis
Agustina Purwantini
Pada dasarnya full time blogger, sedang belajar jadi content creator, kadang jadi editor naskah, suka buku, serta hobi blusukan ke tempat heritage dan unik. Aktif pula di blog pribadi www.tinbejogja.com. IG: @agustinapurwantini

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *