Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern dan transportasi canggih, namun memori tentang Jakarta yang ‘dulu’ akan selalu punya tempat yang hangat.
***
Bicara tentang Jakarta, memori saya tidak pernah lepas dari kemacetan dan bisingnya mesin angkot hingga metromini dengan kepulan asap hitamnya, hingga sensasi melompat turun sebelum kendaraan benar-benar berhenti total.
Jika sedang naik kendaraan umum seperti KRL maupun TransJakarta, memori saya suka membawa kembali ke tahun 2000 hingga 2009, yang mana sebagai warga Jakarta hampir semua transportasi umum sudah saya coba, mulai dari mikrolet, kopaja, metromini, dan bajaj. Keempat kendaraan tersebut kalau dinaiki memiliki sensasinya masing-masing. Gerah sudah pasti karena tidak ada AC, jadi supaya enggak kegerahan, maka harus buka jendela selebar-lebarnya atau duduk dekat pintu kendaraan.
Saya punya kenangan yang menyebalkan dengan angkot DO1 kala itu. Rata-rata sopir angkot kebanyakan ngetem dan memaksa penumpang tetap masuk ke dalam meski sudah penuh. Melihat perawakan saya yang kecil dan kurus, sopir angkot menyarankan supaya saya dipangku oleh seorang ibu di dalam angkot.
Jadi kalau sudah begitu, saya pun pasrah dan “duduk ngambang” saja supaya si ibu tidak merasa keberatan meski badan saya enggak berat. Berbeda dengan sekarang, yang mana angkot Jaklingko atau Mikrotrans sudah ada SOP bahwa tidak memperbolehkan penumpangnya duduk desak-desakan, jadi kalau bangkunya sudah terisi penuh, ya, sopir harus jalan.

Kenangan menyebalkan dengan angkot yaitu sopir yang sering ngetem. Terlebih jika sudah lama ngetemnya, terus minta penumpang pindah ke angkot di depannya (dikenal dengan istilah “oper angkot”) dikarenakan sopir kejar setoran. Saya sering mengalaminya beberapa kali setiap berangkat sekolah. Kalau abang angkotnya sudah bilang, “Pindah ke angkot depan, Dek,” rasanya cuman bisa pasrah, sudah nyaman, eh, malah disuruh pindah.
Selain perkara tempat duduk yang dempet-dempetan dan juga oper angkot, kenangan yang tidak pernah saya lupa ialah baik angkot, Kopaja dan Metromini yang selalu ngebut. Pernah waktu itu saya dan teman saya sepulang dari Senen dan baliknya naik Kopaja. Sopir yang mengemudi ugal-ugalan tersebut membuat saya dan teman saya yang duduk paling belakang setengah loncat saat sopir melewati polisi tidur. Saya dan teman saya kala itu langsung kaget, refleks saling pegangan satu sama lain, dan kami saling tertawa melihat ekspresi satu sama lain.
Tidak melulu perkara sopir angkot yang ugal-ugalan, transportasi umum zaman dulu juga kerap diwarnai dengan aksi pengamen yang bernyanyi dengan nada memaksa bahkan tak jarang memamerkan silet di sela jarinya.

Ditambah lagi dengan kalimat andalannya yang berbunyi, “Kami di sini cuma cari makan, daripada kami menodong atau berbuat kriminal…” Kalau sudah begitu, biasanya suasana penumpang di dalam angkot jadi berbeda. Rasanya beda aja gitu….
Kini jumlah armada angkot, Kopaja, Metromini sudah jauh berkurang dari tahun-ke tahun bahkan saya sudah jarang melihatnya lagi di beberapa daerah. Kini berkendara menggunakan tranportasi umum seperti KRL, MRT, TransJakarta, dan Jaklingko sudah lebih nyaman dan adem, tanpa drama “ngetem”. Tarifnya pun jauh lebih murah dan ramah di kantong, bahkan gratis pada event-event tertentu.
Bikin puasnya lagi, transportasi umum sudah terintegrasi dengan mal yang memungkinkan pengunjung turun dari stasiun atau halte bisa langsung masuk ke dalam mal tanpa perlu kepanasan atau kehujanan di jalan. Dan saya pun merasakannya sendiri, bagaimana nyaman dan mudahnya ke mal yang lokasinya dekat sekali dengan stasiun maupun halte.

Seiring dengan kenyamanan transportasi umum yang terus diperbaharui, Jakarta sudah memfasilitasi warganya dengan menawarkan ruang rekreasi gratis lewat ruang terbuka hijau.
Tahun 2010-an saat saya masih SMA, jikalau mau hangout bersama teman biasanya, satu-satunya tempat yang pas ya mal lagi mal lagi. Kini kehadirkan ruang terbuka hijau sudah bermunculan di beberapa titik di Jakarta, yang tidak hanya estetik, namun juga didesain lengkap dengan jalur jogging hingga area bermain. Tentu keberadaan area terbuka ini menjadi alternatif tempat yang pas untuk berekreasi tanpa mengeluarkan biaya yang banyak. Terlebih kehadirannya mampu mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dikarenakan udara di sekitar bisa membuat pengunjung lebih rileks dan meminimalisir stres.
Saya pun merasakannya sendiri bagaimana nyamannya piknik bersama teman di Taman Hutan Kota GBK. Pemandangan yang estetik dan keindahan alam berpadu dengan suasana perkotaan cocok buat berswafoto atau sekedar ngobrol sembari menikmati suasana taman yang sejuk. Saking nyamannya, saya dan teman-teman pernah sampai diusir satpam yang berjaga dikarenakan waktu operasional akan segera berakhir.
Jadi, di tengah hiruk pikuknya gedung tinggi, bersyukurlah Jakarta terus menghadirkan banyak ruang terbuka hijau sebagai alternatif healing maupun hangout gratis.

Selain transportasi yang terus berbenah dan bertambahnya ruang terbuka hijau, kenangan Jakarta akan kuliner jadulnya pun tidak akan pernah pudar meski sekarang banyak cafe kekinian.
Sewaktu saya mengikuti walking tour ke kawasan Jakarta Pusat, masih banyak kuliner jadul yang kokoh berdiri seperti salah satunya Es Krim Ragusa yang kata pemiliknya resepnya masih terjaga hingga saat ini. Sewaktu saya ke sana, suasana tokonya pun masih terbilang lawas dan pas masuk ke sana seakan dibawa kembali ke masa lalu.

Di samping warisan kuliner jadul, kuliner Jakarta juga sudah bertranformasi menjadi lebih modern dengan kehadiran coffee shop estetik maupun makanan cepat saji yang viral. Terlebih jikalau ke kawasan Blok M, sudah begitu menjamurnya tempat-tempat berdesain minimalis yang menawarkan kopi, roti, hingga makanan berat.
Saya pun tidak menyangka jikalau Blok M yang sekarang sudah sangat padat. Baik weekday maupun weekend selalu ramai dengan orang-orang yang menghabiskan waktu buat sekadar nongkrong, ngopi, makan, maupun belanja. Padahal dulu sewaktu saya ke sana sebelum tahun 2024, kawasan tersebut sempat sepi bahkan sempat mati suri, terlebih di era pandemi Covid-19, di mana saya banyak melihat kios tutup dan lorong pertokoan bawah tanah terbengkalai. Namun siapa sangka, sejak ada Blok M Hub, kawasan Blok M hidup kembali dengan masuknya puluhan UMKM kuliner terlebih jikalau ada event di Taman Literasi.
Perubahan Jakarta tidak melulu dari aspek pembangunan fisik, namun juga munculnya komunitas dengan hobi yang sama. Kehadiran berbagai komunitas di Jakarta membuktikan bahwa warga ibukota sangat suportif dan kolaboratif, mematahkan anggapan bahwa warganya individualistis.
Saya merasakannya sendiri bagaimana kini untuk bergabung dengan komunitas atau mencari informasi event yang diselenggarakan oleh komunitas, sudah lebih mudah lewat media sosial. Terlebih kini sudah banyak komunitas dengan tujuan serupa yang muncul bukan hanya untuk berkumpul dan bersenang-senang, namun juga menjadi medium kolaborasi produktif yang ikut membentuk kultur, menggerakkan roda ekonomi kreatif, dan memperkenalkan sejarah Jakarta menjadi lebih dekat.

Itulah ragam kenangan dan memori tentang Jakarta dulu dan kini. Meski wajah Jakarta terus berubah. Namun, satu hal yang tidak boleh luntur adalah jiwa kota ini, mulai dari ketangguhan warganya, kehangatan komunitasnya, dan ruang-ruang memori yang selalu membuat rindu untuk berlama-lama di sini.
Harapanku untuk Jakarta yang berulang tahun ke-499 ialah semoga Jakarta tumbuh menjadi kota yang semakin inklusif, adil, dan menyejahterakan warganya dari ujung gang sempit hingga pusat kota. Dan tetaplah menjadi kota yang selalu memeluk erat mimpi-mimpi para warganya.(*)
Artikel merupakan Juara III Lomba Menulis Artikel Harapan untuk Jakarta.
