Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.
***
Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah saya lakukan dalam mengisi kemerdekaan ini? Ini yang menjadi pertanyaan yang terus-menerus berulang di setiap pergantian tahun. Saat hari kemerdekaan Indonesia datang untuk diperingati. Dan, pada suatu titik, saya memaknai kemerdekaan sebagai guru yang sederhana. Dalam tiga puluh tahun terakhir.
Sekolah, kursus, bimbel, les privat. Semua itu menjadi ‘daerah perjuangan’ saya. Ladang saya.
Sebagai Guru yang Sederhana
Saya mendapuk diri sendiri sebagai guru yang sederhana. Ada 3 (tiga) alasan untuk itu:
1. Saya tahu kapasitas diri.
Saya sadar diri. Saya tahu diri. Kapasitas diri yang saya punya tidaklah seberapa. Saya bukan orang yang genius. Saya hanya manusia biasa dengan kecerdasan semenjana. Saya menyadari. Kemampuan saya sangat terbatas. Finansial saya juga tidak banyak. Mengembangkan diri butuh modal. Modal yang besar. Sangat besar.
Dengan segala keterbatasan. Waktu juga semakin menipis. Kesibukan yang mendera, ditambah dengan bertambahnya usia. Semua berpadu. Menjadi satu.
Di atas langit masih ada langit. Begitulah adanya kenyataan di dunia. Mendapuk diri paling unggul adalah kebodohan yang seharusnya tidak terjadi. Meskipun begitu, saya terus mengasah diri. Belajar dari berbagai sumber. Selalu haus akan pengetahuan. Demi peningkatan kualitas mengajar.
2. Saya hanya berada di daerah yang belum mendapat perhatian yang lebih saat itu dan di bimbel yang jauh dari kata baik dalam tata kelola.
Tinggal di daerah memang menjadi tantangan tersendiri. Berjuang tanpa adanya dukungan yang penuh. Apalagi dengan adanya sistem top-down. Dari atas ke bawah.
Saya berhenti untuk menuntut perhatian. Karena menunggu datangnya atensi mengakibatkan tertundanya murid mendapat pendidikan yang sepantasnya mereka dapatkan. Sederhana tapi tetap berdaya. Begitulah yang bisa saya lakukan.
Ada kursus di mana saya pernah mengajar dan memberikan pelayanan prima. Tapi di bimbel di mana saya juga mengajar, hal yang bertolak belakang yang saya hadapi. Buruknya tata kelola di bimbel. Saya hanya guru yang sederhana. Suara saya tidak didengar oleh pimpinan. Hanya dianggap angin lalu belaka.
3. Status sebagai guru honorer doeloe kala dan guru privat biasa sejak itu sampai sekarang.
Saya tak perlu menyebutkan kapan saya berprofesi sebagai guru honorer. Cukup menginformasikan di waktu doeloe kala. Beberapa tahun yang lalu. Saya pernah dalam posisi guru yang sederhana dengan pengertian yang sebenar-benarnya. Hanya bisa bersuara lantang di rumah. Di luar, tidak ada suara. Bukan karena tak bisa berbicara. Namun percuma menyuarakan. Karena suara tidak didengar.
Demikian pula menjadi guru privat. Menjadi “budak” dari para orang tua. Memang. Simbiosis mutualisme. Sama-sama saling menguntungkan. Tapi, ketika satu atau dua tahun berlalu, kerja sama berakhir. Tanpa ucapan terima kasih. Kalau pun ada, sekadar formalitas. Tidak ada ketulusan.
Bagaimana memaknai kemerdekaan sebagai guru yang sederhana?
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Saya tidak bisa berpikir dan bertindak lebih. Saya hanya guru yang sederhana. Sekali lagi, saya hanya guru yang sederhana. Ingin berbuat banyak. Ingin menyumbangkan tenaga untuk negeri tercinta. Tapi terbatas karena “kesederhanaan” yang ada dalam diri.
Saya hanya punya dua tindakan yang saya bisa lakukan untuk memaknai kemerdekaan sebagai guru yang sederhana.
Pertama, menyiapkan segala perangkat mengajar sebaik mungkin.
Meskipun waktu seakan tak pernah cukup. Walaupun hidup semakin sulit. Pendapatan yang tidak memadai. Semua itu hanya persoalan yang sudah menahun adanya. Dan, itu semua tidak akan mengurangi motivasi untuk maksimal dalam menjalankan “tugas negara”. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
Perangkat mengajar. Sesederhana apa pun. Itu lebih baik daripada tidak ada perencanaan sama sekali. Di tengah berbagai upaya menambah pemasukan, sedapat mungkin saya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Memang, saya sudah tidak mengajar di sekolah lagi. Saya juga tidak lagi mengajar di bimbel dan kursus.
Namun, tidak menjadi alasan bagi saya untuk sekadar mengajar tanpa kompas. Ada arah yang jelas. Ada metode yang sistematis. Ada evaluasi yang terukur. Semua itu berpadu untuk mendidik generasi yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini kelak. Karena sukses berpola. Gagal juga ada polanya.
Kedua, mengajar dengan sepenuh hati meskipun honor jauh dari layak.
Memang sukar. Melakukan pekerjaan sebagai guru, tapi mendapatkan imbalan yang jauh dari harapan. Terlepas dengan kondisi memprihatinkan tersebut, saya tetap mengajar dengan sepenuh hati. Meskipun honor jauh dari layak.
Selain karena tidak punya pilihan lain, bagi saya pribadi, bekerja adalah ibadah juga. Menjadi guru adalah panggilan dari Sang Pencipta untuk saya jalani dengan sepenuh hati. Tidak ada yang setengah-setengah. Itu yang saya usahakan untuk lakukan dalam bekerja. Karena, kebermanfaatan tetap harus hadir. Jangan sampai mengorbankan hak murid untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan benar.
Doa dan harapan ke depan
Saya hanya “sebutir debu” kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah dua ratus juta lebih. Saya hanya bisa berdoa dan berharap. Berdoa bahwa saya masih diberikan kesehatan dan kekuatan untuk bisa berkarya, memberikan yang terbaik yang saya mampu, demi mendidik murid-murid yang dipercayakan kepada saya.
Berharap kehidupan saya sebagai guru pada khususnya dan guru-guru lain pada umumnya bisa lebih baik lagi ke depannya. Harapan akan penghargaan yang sepantasnya. Bukan sekadar lewat perkataan lisan dan selembar piagam. Lebih dari itu.
Karena kesejahteraan kehidupan membutuhkan kecukupan pangan, sandang, dan papan.(*)
Artikel merupakan Juara I Lomba Menulis Artikel Caramu Menghayati Kemerdekaan Indonesia.
