Kopaja71

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman tersebut mulai saya rasakan ketika pertama kali mengikuti memperingati hari ulang tahun Kemerdekaan HUT RI sebagai mahasiswa di UIN Raden Fatah Palembang.
***
1. Saat memperingati HUT RI pada tanggal 17 Agustus yang Terasa Berbeda
Saat itu, saya baru saja menjadi mahasiswa baru. Setelah sekian lama menempuh pendidikan di sekolah, akhirnya saya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang saya impikan. Perasaan saya saat itu bercampur antara senang dan gugup. Saya menyadari bahwa kehidupan sebagai mahasiswa akan berbeda dengan kehidupan saya ketika masih menjadi siswa.

Sebagai mahasiswa baru, saya harus banyak beradaptasi dengan lingkungan yang masih terasa asing. Teman-teman yang saya kenal belum banyak, begitu juga dengan dosen yang masih menjadi orang-orang baru bagi saya. Saya masih belajar menyesuaikan diri dengan suasana perkuliahan dan kehidupan kampus yang berbeda dari masa sekolah.

Di tengah masa penyesuaian tersebut, tibalah tanggal 17 Agustus. Untuk pertama kalinya, saya mengikuti upacara Hari Kemerdekaan bukan sebagai seorang siswa, melainkan sebagai seorang mahasiswa. Kebetulan, ada seorang teman yang masuk ke kampus dan program studi yang sama dengan saya. Kami kemudian saling mengajak untuk mengikuti upacara bendera di lingkungan kampus. Kami berusaha datang tepat waktu agar tidak melewatkan rangkaian upacara. Sesampainya di lokasi, sudah banyak mahasiswa baru yang berkumpul. Selain mahasiswa, terdapat juga siswa dari salah satu MAN yang lokasinya tidak jauh dari kampus dan ikut melaksanakan upacara bersama.

Kami berdiri bersama peserta upacara lainnya dengan tertib. Suasana pagi itu terasa berbeda. Banyak peserta mengenakan pakaian yang rapi, barisan mulai disusun, dan semua orang bersiap mengikuti upacara dengan khidmat. Sampailah pada saat yang membuat saya terdiam sejenak. Pasukan pengibar bendera mulai menjalankan tugasnya.Saya melihat beberapa siswa dari MAN yang dipercaya untuk membawa dan mengibarkan Sang Merah Putih. Ketika bendera mulai dinaikkan, seluruh peserta berdiri tegap dan memberikan penghormatan. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang.

Saya menatap bendera Merah Putih yang perlahan naik dan berkibar di depan kampus. Angin pagi membuat bendera tersebut bergerak dengan indah. Pada saat itu, saya tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hati. Sebenarnya, saya sudah sering melihat bendera Merah Putih sejak masih sekolah. Saya juga sudah terbiasa mengikuti upacara setiap hari Senin maupun upacara peringatan Hari Kemerdekaan. Namun, kali ini terasa berbeda. Dulu, saya melihat bendera Merah Putih sebagai seorang siswa yang hanya menjalankan kewajiban untuk mengikuti upacara. Sekarang, saya melihatnya sebagai seorang mahasiswa yang sedang memulai perjalanan baru dalam kehidupan.

Di hadapan bendera yang berkibar tersebut, muncul sebuah pertanyaan dalam pikiran saya, “Kemerdekaan sebenarnya bukan hanya tentang bagaimana para pahlawan dahulu merebut kemerdekaan. Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini?”

Pertanyaan sederhana tersebut membuat saya melihat makna 17 Agustus dari sudut pandang yang berbeda. Saya menyadari bahwa perjuangan untuk Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan mengangkat senjata atau turun ke medan perang. Sebagai seorang mahasiswa, perjuangan saya mungkin terlihat sederhana. Saya dapat belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga sikap, menghargai orang lain, mengembangkan kemampuan, serta menggunakan ilmu yang saya peroleh untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

2. Perjuangan Mahasiswa Mapala di Atas Gedung Kampus FISIP UIN Raden Fatah Palembang
Setelah upacara selesai, kami ternyata belum langsung meninggalkan lapangan. Ada sesuatu yang menarik perhatian kami. Beberapa mahasiswa dari Mapala sedang bersiap untuk mengibarkan bendera Merah Putih di atas gedung kampus FISIP. Saya dan teman-teman langsung melihat ke arah gedung tersebut. Kami memperhatikan para mahasiswa Mapala yang mulai mempersiapkan diri dan perlengkapan yang mereka gunakan. Kami hanya dapat menunggu dari bawah sambil melihat apa yang akan mereka lakukan.

Ketika mereka mulai bergerak menuju bagian atas gedung, saya merasa sedikit tegang. Saya membayangkan bahwa tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Mereka harus menghadapi ketinggian dan berbagai tantangan untuk mencapai bagian atas gedung. Sementara itu, kami yang berada di bawah terus memberikan semangat. Terdengar suara dari kerumunan, “Semangat, Kak!”

Saya pun ikut menyaksikan dengan penuh perhatian. Sampai akhirnya, bendera Merah Putih berhasil dibentangkan di atas gedung FISIP. Suasana langsung berubah menjadi ramai. Tepuk tangan dan sorakan terdengar dari berbagai arah. Saya hanya bisa terdiam sejenak sambil melihat Merah Putih berkibar di atas gedung. Pemandangan tersebut membuat saya merasa kagum dan salut kepada anggota Mapala yang telah berusaha mengibarkan bendera dengan penuh keberanian dan perjuangan.

Dari aksi Mapala, saya belajar arti perjuangan melihat mahasiswa Mapala mengibarkan Merah Putih membuat saya semakin sadar bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang sama seperti perjuangan para pahlawan dahulu. Sementara itu, kita sebagai generasi sekarang memiliki tugas untuk mengisi kemerdekaan tersebut. Apa yang dilakukan mahasiswa Mapala pada hari itu mungkin terlihat sebagai salah satu bagian dari rangkaian peringatan HUT RI. Namun, bagi saya, ada pesan yang lebih dalam di balik kegiatan tersebut, yaitu keberanian, usaha, kerja sama, dan rasa cinta terhadap tanah air serta bangsa Indonesia.

Saya kemudian berkata dalam hati, “Ternyata, menghargai kemerdekaan juga dapat dilakukan dengan berani melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa setiap orang dapat memiliki cara masing-masing dalam memaknai kemerdekaan. Tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh juga dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap kemerdekaan.

Arti Kemerdekaan bagi Saya sebagai Mahasiswa
Kemerdekaan bagi saya adalah kesempatan untuk belajar, mengejar cita-cita, mengembangkan diri, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain serta bangsa Indonesia. Sebagai mahasiswa, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menggunakan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kemerdekaan yang saya rasakan bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa batas, tetapi kebebasan untuk berkembang dan menentukan masa depan dengan tetap bertanggung jawab.

Cara Sederhana Saya Menghayati Kemerdekaan
Saya dapat menghayati kemerdekaan melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah mengikuti upacara dengan tertib dan menghormati bendera Merah Putih seperti yang saya lakukan ketika mengikuti peringatan HUT RI sebagai mahasiswa.

Selain itu, saya juga harus belajar dengan sungguh-sungguh karena menjadi mahasiswa bukan hanya untuk bermain-main, tetapi untuk menuntut ilmu dan mempersiapkan masa depan. Saya juga ingin menjaga persatuan dan kesatuan dengan menghargai perbedaan yang ada di antara teman-teman, baik perbedaan suku, bahasa, warna kulit, maupun daerah asal.

Sebagai mahasiswa, saya juga perlu menaati aturan yang berlaku di kampus, baik dalam bersikap, berperilaku, maupun berpakaian. Saya juga dapat mengisi kemerdekaan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan positif yang dapat menambah pengalaman, kemampuan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Pelajaran yang Saya Dapat dari Mahasiswa Mapala
Setelah melihat perjuangan mahasiswa Mapala dalam mengibarkan bendera di atas gedung kampus FISIP, saya mendapatkan pelajaran bahwa sebuah perjuangan membutuhkan keberanian, kerja sama, usaha, dan semangat. Saya juga semakin memahami bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dapat ditunjukkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Apa yang dilakukan mahasiswa Mapala membuat saya menyadari bahwa setiap orang dapat berkontribusi dengan caranya masing-masing.

Dari pengalaman tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa kemerdekaan merupakan sebuah kesempatan sekaligus tanggung jawab. Pengalaman mengikuti upacara peringatan HUT RI sebagai mahasiswa membuat saya melihat kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda. Jika dahulu para pahlawan berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tugas generasi sekarang adalah menjaga dan mengisi kemerdekaan tersebut dengan hal-hal yang positif.

Sebagai mahasiswa, saya ingin mengisi kemerdekaan dengan belajar sungguh-sungguh, mengembangkan diri, menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menaati aturan, serta melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain dan bangsa. Pada akhirnya, saya memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang sudah diberikan kepada kita, tetapi juga tentang apa yang dapat kita lakukan untuk meneruskan perjuangan tersebut.

Kata-kata: Kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang sudah diberikan kepada kita, tetapi juga tentang apa yang bisa kita lakukan untuk meneruskannya.(*)

Artikel merupakan Juara II Lomba Menulis Artikel Caramu Menghayati Kemerdekaan Indonesia.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Menguji Ego di Jalur BKT: Karung yang Menambal Kemalasan (Artikel Ditta Atmawijaya)

Matahari baru saja mengintip di sela beton Jakarta saat aku menyusuri jalur Banjir Kanal Timur (BKT). Udara pagi yang biasanya menyisakan sisa embun perlahan mulai bersaing dengan aroma…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *