Konflik antara US-Iran berdampak besar terhadap krisis global yang sedang terjadi saat ini. Salah satunya harga plastik naik, yang mempengaruhi harga barang lainnya. Walau begitu, di tengah krisis yang perlahan mulai terasa mengancam finansial, aku sedikit lega, karena kebiasaan bawa bento dan tumbler saat bepergian yang membuat kantong masih bisa bernafas lega. Apa hubungannya?
***
Krisis Ekonomi di Tengah Konflik US-Iran
Konflik antara US dan Iran masih bergejolak dan mengacaukan perekonomian dunia. Di mana konflik membuat terbatasnya pasokan minyak bumi pengaruh dari penutupan Selat Hormuz. Kelangkaan minyak bumi, berdampak terhadap semua lini industri di dunia. Sedangkan minyak bumi sendiri sumber pembuatan nafta sebagai bahan utama pembuatan plastik, bahan bakar kendaraan, dan masih banyak lagi.
Dampak yang paling terasa saat ini yaitu kenaikan harga plastik naik drastis. Sedangkan digunakan oleh seluruh rantai pasok dari kemasan hingga manufacturing. Bahkan perusahaan tempat aku bekerja yang bergerak di bidang chemical, tengah mengalami kelangkaan bahan baku solvent. Harga juga naik 100% yang membuat industri mulai terasa sulit untuk bertahan.
Solusi terbaik saat ini yaitu menghemat agar sisa pasokan tetap aman dan industri tetap jalan. Menghemat juga tidak hanya berlaku untuk industri, melainkan oleh masyarakat luas dalam menghemat energi. Mulai dari hemat BBM kendaraan, yang mana bisa beralih ke transportasi umum atau kendaraan ramah lingkungan lainnya. Hemat listrik dan penting juga untuk beralih dari kemasan sekali pakai.
Langkah-langkah tersebut bisa kita mulai dari diri sendiri yaitu mengubah kebiasaan kecil dari rumah dalam menjalani aktivitas yang lebih ramah lingkungan.
Konflik Masih Memanas, Haruskah Hemat Energi?
Setuju tidak kalau di mana ada sisi negatif, di sana ada sisi positifnya juga. Kita bisa berkaca pada Covid-19 saat ekonomi tidak berjalan normal, tetapi UMKM justru naik dan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Begitu juga dengan saat ini, ekonomi sedang kacau. Terutama di manufacturing automotive, karena aku bekerja di industri ini.
Manufacturing tengah kesulitan karena material biji plastik naik berkali lipat. Begitu juga dengan bahan kimia, seperti thinner, toluen, dan jenis solvent lainnya mengalami kelangkaan yang diperparah dengan kenaikan harga 90-100%.
Masalah utama dari bahan baku langka ini, karena sulit mendapatkan penggantinya. Sedangkan di Indonesia hampir semua chemical impor dari luar. Itulah mengapa penutupan Selat Hormuz berdampak besar terhadap supply chain di Indonesia dan sebaliknya negara lain, seperti Jepang dan Korea juga dalam mode bertahan karena kelangkaan bahan baku plastik dan chemical lainnya.
Dampak dari kelangkaan ini juga sudah terasa ke bisnis kecil. Sebagai contoh, cerita temanku yang sekarang kalau beli gorengan, kemasan plastik dikenai harga Rp500. Jujur, aku kaget karena selama ini selalu bawa wadah makan atau tumbler saat bepergian. Tidak menyangka, plastik kresek sudah dikenakan harga juga. Terdengar receh, tapi tanpa disadari ini akan mengacaukan perekonomian.
Walau begitu, dengan kondisi krisis yang tengah kita alami saat ini, menjadi pelajaran penting untuk, ”Ayo, beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan.” Kalau bisa semua aktivitas setiap hari kita sudah eco-friendly. Tidak perlu pusing harus mulai dari mana, apalagi memikirkan hal besar. Cukup mulai dari hal kecil, perlahan akan berdampak besar.
Seperti kantong plastik tadi yang sudah dihargai 500 Rupiah. Kalau dalam satu hari ternyata belanja 5x, maka perlu uang Rp2.500. Dikalikan sebulan maka harus mengeluarkan uang Rp75.000, dan dalam satu tahun lalu setahun harus mengeluarkan uang Rp900.000.
Hal yang dianggap receh ternyata membuat kita malah rugi. Terutama, bagi kaum mendang-mending kaya aku, uang Rp900.000 bisa untuk kebutuhan lain atau bisa ditabung. Mungkin buat kamu yang dalam mode menghemat, tanpa disadari pengeluaran semakin meningkat. Berbeda jika beralih ke produk ramah lingkungan, kita tidak akan menjadi miskin.
Selain bisa tetap hemat, langkah kecil kita membantu bumi tetap hijau karena kemasan plastik pemicu terjadi global warming. Proses pembuatan plastik juga meninggalkan jejak karbon yang merusak lingkungan dan mengancam kehidupan manusia maupun makhluk hidup di bumi.
Beralih dari Kemasan Plastik Sekali Pakai, untuk Hidup Lebih Hemat dan Jaga Lingkungan
Apa hubungannya plastik dengan jejak karbon dan kerusakan lingkungan? Bahan baku pembuatan plastik adalah nafta yang merupakan turunan dari minyak bumi. Minyak bumi yang digunakan saat ini berasal dari sisa-sisa organisme laut mikroskopik, seperti plankton yang hidup jutaan tahun lalu. Lalu mati dan terperangkap dalam lapisan sedimen.
Sayangnya dalam proses pembuatan menjadi bahan bakar BBM atau plastik, meninggalkan jejak karbon yang merusak bumi. Selain memerlukan energi tinggi, dalam prosesnya juga melepaskan emisi karbon yang besar yang menyebabkan terjadinya global warming.
Bayangkan, sebelum menjadi plastik saja, proses pembuatan bahan bakunya berdampak buruk terhadap lingkungan. Kabar buruknya lagi, setelah menjadi plastik pun, menjadi penyumbang terbesar kerusakan lingkungan. Itu karena plastik yang sudah tidak terpakai, ketika dibuang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai. Beberapa plastik mungkin dapat didaur ulang, tetapi tidak bisa menjadi solusi dalam pengendalian kerusakan lingkungan.
Membakar plastik juga tidak menjadi solusi, karena melepaskan zat berbahaya. Baik itu dioksin, furan, zat lainnya yang dapat memicu penyakit kanker, mengganggu sistem pernapasan, maupun penyakit kronis lainnya. Plastik juga mencemari darat, udara, dan laut. Belum lagi fakta mikroplastik sudah terdeteksi berada di tubuh manusia. Di dalam darah, paru-paru, plasenta, fan feses.
Itulah mengapa beralih dari kemasan sekali pakai harus segera dihentikan. Dengan krisis minyak bumi, menjadi peluang terbaik untuk konsisten beralih dari kemasan plastik sekali pakai. Di sini kita tidak hanya menghemat energi, melainkan melindungi bumi dari kerusakan yang lebih parah. Selain itu, selalu bawa tas belanja. Ini jauh lebih hemat daripada menggunakan kemasan plastik sekali pakai. Beli tumbler atau tempat makan cukup mengeluarkan uang sekitar 100 ribu dan jadi hemat 800 ribu.
Aku paham ini tidak mudah saat mengubah kebiasaan, namun jangan ragu buat gerak. Dari kebiasaan bawa bento dan tumbler, akan menjadi penyelamat di era krisis kelangkaan plastik.(*)
Artikel merupakan Juara II Lomba Menulis Artikel Kiat-Kiat Menghemat Energi Versi Kamu.
