Kopaja71

Senja Sehabis Kerja (Foto Septa Apriyansah)

Kereta berhenti di salah satu peron stasiun Tanah Abang, terdengar azan magrib berkumandang.
…

Gw yang pulang kerja bareng temen gw turun dari kereta dan buru-buru transit menuju peron samping arah Manggarai. Karna gw orangnya alim dan taat beribadah, gw putuskan untuk sholat Maghrib dulu gak. Gw sholat bareng sama temen gw sampai gak lama selang sholat Maghrib gw keluar bareng sama temen gw juga.

Karna gw penikmat senja, gw lihat senja yang indah dalam hati gw foto dululah minimal. Jeprat-jepret jepret dapet gw foto di atas.

Kata gw kok kaya ada yang kurang ya setelah gw inget-inget lagi oh iya gw punya temen, otomatis gw panggil teman gw “di Budi dimana Lo” udahlah karena gw gak mau lama lama ya udah gw telepon sebelum gw telepon di-WA, ternyata temen gw udah buat sw.

“Gw emang setia Ama teman tapi kalo soal transit di tanah Abang, maaf kita siapa ya”
Dalam hati njiirr!! (*)

Foto merupakan Juara I Lomba Foto Jakartamu dan Ceritakanlah.
Foto telah tayang di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *