Kopaja71

Sekilas Pertemuan Kopaja71 dan Semarkutiga (Kopaja71 Ngetem)

Sabtu, 11 November 2023, bertempat di Soto Sederhana Bu Djatmi, Kudus, di atas sebuah meja panjang dan aroma rempah yang menguar nikmat dalam semangkuk soto, pembicaraan hangat antar Kompasianer terjadi.

Di tengah keriuhan para pendatang yang ingin meredam “musik keroncong” tabuhan cacing dalam perut mereka, ada tiga pribadi yang seirama hendak melakukannya. 

Bukan sebuah kebetulan karena sudah direncanakan, meskipun berbau sedikit dadakan.

Sama-sama hendak makan, tetapi dalam pertemuan hangat. Siapa yang tidak tahu soto legendaris Bu Djatmi bagi sekitar wilayah Kudus? Tanpa santan, daging empuk, kuah berempah, dinikmati hangat-hangat, tetaplah nikmat kendati suasana terik.

Ya, perwakilan Kopaja71, Bang Horas, menyantapnya dalam pertemuan dengan perwakilan Semarkutiga (Kompasianer Jateng): Mbak Lia Wahab dan Bu Bekti.

Sembari makan, mereka berbincang. Walaupun baru pertama kali bertemu, alur pembicaraan lancar. Masing-masing mengenalkan diri dan masing-masing pula menyajikan cerita.

Ditemani kelezatan soto berempah, tidaklah terasa cerita berlangsung hampir dua setengah jam. Suara terbahak sering terdengar akibat anekdot lucu yang terlontar.

Pertemuan antara Bang Horas, Mbak Lia Wahab, dan Bu Bekti, sumber: dokumentasi Bu Bekti.

Dari yang ringan sampai serius, seperti rencana kembali kolaborasi acara antara Kopaja71 dan Semarkutiga, termasuk dibahas. Sungguh, sebuah pertemuan hangat yang menjadi kenangan manis yang rindu terulang.

Semoga suatu saat, Kopaja71 dapat bersua kembali dengan Semarkutiga dalam sebuah pertemuan yang indah.
…
Jakarta,
15 November 2023

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *