Kopaja71

Saya Dijuluki “Bibi Mati Lampu” (Artikel Muthiah Alhasany)

Hemat energi sudah menjadi bagian hidup saya sejak dahulu, terutama dalam bidang perlistrikan. Entah kenapa saya sangat tidak suka jika ada aliran listrik yang terbuang percuma. Mungkin karena tertanam dalam ingatan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang belum mendapatkan aliran listrik yang memadai.
***
Saya pernah berkeliling ke 21 provinsi di Indonesia. Jadi saya mengerti betapa tidak enaknya di daerah-daerah yang pasokan listriknya sangat terbatas.

Di dalam keluarga, saya dikenal mempunyai kebiasaan mematikan lampu jika sudah tidak dipakai. Pada malam hari ketika sudah mulai jam tidur, saya mematikan lampu satu per satu dan memastikan hanya lampu di teras yang menyala. Kalau anggota keluarga ada yang terbangun pada waktu tengah malam, dia boleh menyalakan sesuai keperluan, lalu dimatikan lagi setelah selesai.

Kami sudah dibiasakan tidur dalam gelap oleh orang tua sejak masih kecil. Toh di dalam kamar tidak sendirian. Saya punya kakak lima orang. Jumlah sekeluarga menjadi delapan orang termasuk bapak dan ibu. Kami butuh tiga kamar. Satu untuk orang tua dan dua untuk anak-anak. Ada satu kamar yang diisi dengan ranjang tingkat supaya muat empat orang.

Sebagai anak bungsu, saya paling tahu pengeluaran bulanan rumah tangga. Ibu paling banyak bercerita kepada saya. Tentu saya berusaha membantu ibu, dengan melakukan penghematan energi seperti listrik. Kepedulian saya sangat tinggi karena saya tidak ingin ibu bertambah susah.

Lampu hias (dok.rupa-rupa.com).

Bibi mati lampu
Sayangnya kakak-kakak saya lebih banyak sembrono dan abai mengenai masalah ini. Mereka sering sekali nonton TV sampai tertidur. Akhirnya, saya yang mematikan TV dan lampu. Saya tidak bisa tidur sebelum semua lampu dalam rumah dimatikan.

Saat pagi subuh terbangun. Lampu tengah dinyalakan karena bapak bakal pergi ke masjid menjadi imam. Dapur juga dinyalakan sebab saya memasak air untuk membuat kopi, bapak pasti minum kopi setelah kembali dari masjid. Pada saat itu, saya mematikan lampu teras meskipun fajar baru menyingsing.

Akibat kebiasaan saya tersebut, kakak menjuluki saya “bibi mati lampu”. Saya sih tidak protes, biarlah untuk menjadi pengingat. Bagi saya itu bukan sesuatu yang negatif. Bahkan ketika kakak-kakak sudah menikah dan memiliki anak-anak, saya yang mengajarkan mereka untuk hemat listrik.

Beberapa keponakan ada yang sifatnya penakut, tidak mau tidur dalam gelap. Tetapi ketika mereka sering dititipkan orang tuanya ke rumah, saya mendisiplinkan mereka agar berusaha hemat listrik. Lama-kelamaan mereka juga mengikutinya. Sekarang mereka semua juga terbiasa mematikan lampu jika tidak dipakai.

Hidup sendiri semakin hemat energi
Sudah sepuluh tahun saya hidup sendiri, justru saya semakin hemat energi. Ini juga merupakan tuntutan karena biaya hidup semakin mahal. Saya harus berhemat agar bisa bertahan. Saya tidak memiliki televisi, kulkas bahkan juga kompor. Saya tidak membutuhkan barang-barang tersebut. Saya bukan penggemar sinetron, hanya menyimak berita yang bisa dipantau melalui gawai.

Benda-benda yang perlu energi listrik hanya lampu, laptop, handphone, dan panci listrik untuk memasak sekadarnya. Saya menggunakan token sehingga tidak menyia-nyiakan energi listrik. Kalau saya pergi, tidak ada lampu menyala, tidak ada kabel yang terpasang pada stop kontak. Bahkan jika saya ada di rumah, lampu hanya menyala satu di ruang tengah pada malam hari. Karena itu, saking hematnya mengisi token 50 ribu Rupiah bisa bertahan tiga bulan.

Hemat energi di luar rumah
Penghematan energi ketika ke luar rumah adalah dengan menggunakan transportasi umum. Kendaraan utama saya untuk beraktivitas adalah commuter line, kereta listrik yang murah meriah.

Commuter Line (Dokumentasi Pribadi)

Commuter line membawa saya mengelilingi Jabodetabek dengan biaya yang sangat rendah, paling murah bila dibandingkan moda transportasi umum lainnya.

Sebagai pengguna commuter line sejak zaman SMA, saya tahu pergerakan commuter line di wilayah ini. Kebetulan sebagian besar aktivitas juga didukung oleh commuter line. Di samping commuter line, saya senang berjalan kaki. Kalau tempat tujuan masih di bawah dua kilometer, saya memilih berjalan kaki. Kecuali jika cuaca sedang buruk atau tubuh saya sedang tidak fit, maka saya membutuhkan jasa ojek online.

Saya sering prihatin karena kebanyakan perempuan, bahkan ke warung yang jaraknya hanya 50 meter saja menggunakan motor. Padahal jalan kaki cukup baik untuk kesehatan kita. Selain itu, tanpa disadari mereka melakukan pemborosan BBM.

Penggunaan kendaraan pribadi hanya terjadi ketika ada acara keluarga. Saya biasanya ikut mobil kakak atau keponakan. Saya sendiri tidak memiliki kendaraan sama sekali, hanya mengandalkan kaki dan transportasi umum.

Saya menjalani hidup minimalis karena disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan hemat energi, saya berharap generasi penerus akan bisa ikut menikmati energi yang makin menipis. Apalagi pada masa perang di mana sumber energi diperebutkan oleh negara-negara adikuasa.(*)

Saya di stasiun Rangkasbitung (Dokumentasi Pribadi)

Artikel merupakan Juara I Lomba Menulis Artikel Kiat-Kiat Menghemat Energi Versi Kamu.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *