Sebagai seorang insan, saya pernah berada dalam kondisi tidak percaya diri yang sangat akut. Keadaan di mana saya berada di titik terendah dalam kehidupan.
***
Masa kecil yang awalnya indah seperti pelangi, di mana ekonomi keluarga sangatlah berkecukupan, tiba-tiba berubah drastis menjadi sangat berkekurangan. Tempe dan tahu menjadi teman makan nyaris setiap hari. Sayur bening menemani dengan setia. Kalau uang tidak cukup, mi instan akan menjadi makanan pendukung dengan nasi. Entah itu ditambah sayur atau topping yang lain.
Ya, usaha ayah gulung tikar. Rumah kami disita oleh pihak bank karena tak mampu melunasi utang. Menjadi kontraktor. Kontrak rumah dari tahun ke tahun. Begitu terus. Nomaden. Harus packing-packing barang, lalu berlalu, mencari rumah dengan sewa yang terjangkau.
Beberapa teman mengetahui keadaan kami dari orang tua mereka yang juga teman-teman ayah dalam berbisnis. Mengetahui kondisi ayah, mereka undur. Terasa sepi di rumah. Saat djaja, mereka datang. Setelah ayah jatuh, mereka menghilang.
Sebagai anak terakhir dalam keluarga, anak bungsu, anak ke-7, saya sangat merasakan kekurangan yang amat sangat. Sewaktu SMP, saya bersepeda ke sekolah. Sudah tidak ada mobil yang mengantar jemput. Uang saku juga tak seberapa. Untuk beli makanan pas jam istirahat harus berpikir ribuan kali. “Lebih baik kutabung,” begitu pikiran saya dulu.
Beranjak ke SMA, keadaan masih tidak berubah. Bedanya, sekarang sepeda sudah dijual untuk kebutuhan keluarga. Saya harus naik angkot empat kali. Dua kali saat berangkat dan dua kali saat pulang. Menghabiskan masa SMA di angkot. Mungkin bisa menjadi judul novel yang tepat untuk menggambarkan hari-hari semasa saya bersekolah di SMA.
Hidup prihatin. Begitulah hidup yang saya jalani. Rasa minder sangat besar. Ketakberdayaan bersemayam di dada. Hiburan satu-satunya yang masih tersisa saat itu adalah limpahnya bacaan di rumah. Buku, majalah, surat kabar, komik, novel. Kami keluarga yang suka membaca. Meskipun saat itu, saya tidak menyadari pentingnya membaca bagi masa depan, karena suramnya kondisi keuangan kami.
Kuliah membuka wawasan. Ternyata selama di dalam kota dan rumah saya, ada dunia lain yang menarik. Dunia baru. Perkuliahan yang mencelikkan mata bahwa ternyata mirisnya kehidupan saya tak seberapa. Ada beberapa teman kuliah yang bahkan mempunyai masa kelam di masa kanak-kanak dan remaja.
Saya tidak sendiri. Kenyataan itu menyadarkan saya untuk berusaha. Maju. Mengubah keberadaan bahwa saya berharga.
Menulis adalah Awal
Saya kagum dengan berbagai penulis yang menuangkan buah pikiran mereka sehingga melahirkan berbagai buku yang sarat makna. Dari membaca, saya menyadari, cakrawala saya berkembang. Apakah itu sudah cukup? Saya merasa masih ada ceruk yang kosong. Ceruk yang harus diisi dengan pengembangan dari membaca.
Sampai pada suatu saat, saya membaca salah satu pernyataan salah seorang sastrawan terkemuka di Indonesia. Beliau berkata: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer
Saya tidak merasa pintar. Kemampuan saya secara akademik hanya semenjana sejak SD. Sampai kuliah pun, nilai-nilai saya biasa-biasa saja. Yang menohok dari pernyataan Pramoedya adalah perihal keberadaan yang hilang di masyarakat dan dari sejarah, dan yang terutama, menulis mengabadikan buah pikiran saat orang tersebut sudah tiada.
Memang saya bukan siapa-siapa. Hanya orang biasa. Mungkin saja tulisan saya tidak ada artinya. Namun mungkin juga buah pemikiran saya bisa bermanfaat bagi sesama. Meskipun cuma menceritakan hal-hal remeh belaka.
Menulis adalah awal. Awal memperkenalkan diri kepada dunia. Setelah menggali diri, saya menyadari kapasitas diri yang “hanya” bisa menulis. Main gitar, yah begitu-begitu saja. Hanya mengisi waktu. Tidak ada perkembangan.
Menulis, saya bisa mengatakan bahwa kemampuan ini di diri saya agak mendingan. Mendingan dibandingkan keterampilan-keterampilan lainnya di diri saya. Terkadang (atau malah sering kali), menulis bagaikan sebuah wadah bagi saya. Wadah untuk “mengeluarkan” keluh kesah yang tak bisa diucapkan. Tak ada seorang pun yang mau mendengarkan keluhan lisan saya. Kebanyakan dari mereka langsung memotong perkataan saya, menghakimi pola pikir saya, dan berlalu tanpa memberikan solusi.
Meskipun masalah masih tetap ada, walaupun kepedihan masih terasa, namun menuangkan kegundahan di atas kertas saat itu, hitam di atas putih, melegakan dan menyembuhkan kepahitan hidup yang saya alami. Dan pada suatu titik, saya berangan-angan, bermimpi, ingin menjadikan menulis sebagai kegiatan yang menghasilkan. Saya tidak mau muluk-muluk. Paling tidak, ada beberapa rupiah sebagai tambahan penghasilan.
Proses Menulis sebagai Titik Balik Perubahan Hidup
Perlahan menulis. Saya bukan penulis cepat. Ada pekerjaan yang harus saya jalani. Dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. Dari pagi ke siang. Siang ke sore. Sore ke malam. Begitu seterusnya di esok hari. Dari suatu ruang kelas ke ruang kelas lainnya. Dari les privat yang satu ke les privat lainnya.
Namun, literasi mendidik saya. Menjadi pribadi yang disiplin dalam membaca dan menulis di tengah seabrek kesibukan. Sangatlah tidak mudah. Meskipun banyak orang mencibir dan mempertanyakan kenapa saya berjerih lelah untuk membaca di mana saja dan menulis kapan saja ada kesempatan.
Saya tidak peduli dengan omongan miring di luaran. Karena saya melihat kekuatan dari menulis dalam hidup saya. Dan saya berharap, insan-insan yang lain juga melihat kekuatan tersebut dalam berbagai karya yang saya torehkan.
Mengunggah satu demi satu tulisan ke Kompasiana. Meskipun dengan kecepatan yang sangat lambat. Walaupun saya mengusung topik keseharian yang sangat sederhana.
Dari tanpa label sama sekali, sampai mendapat label Pilihan di beberapa artikel dan segelintir artikel memperoleh predikat Artikel Utama, itu semua menunjukkan bahwa suara dari siapa pun, meskipun dalam bentuk tulisan yang sederhana dan dari pribadi yang mungkin tidak dipandang sebelah mata, ternyata sangatlah berarti.
Apakah hanya cukup sampai di situ? Ternyata, pencapaian saya dalam menulis tidak terbatas hanya lewat label sematan. Manfaat menulis semakin menguatkan saya dengan perolehan prestasi yang saya dapatkan di berbagai kompetisi blog, khususnya di Kompasiana. Tentu saja, saya tidak pernah membayangkan, bahkan belum pernah memimpikan sebelumnya, kalau saya bisa meraih gelar juara dalam bidang menulis.
Mengubah Paradigma
Memang tidak seketika. Ada proses panjang. Tidak sekali jadi. Terkadang melemah. Undur dari menulis. Di saat yang lain, menguat kembali. Menulis menggebu-gebu.
Pada akhirnya, menulis mengubah paradigma saya. Kerangka berpikir saya berbalik 180 derajat. Dari seorang pecundang di masa lalu yang tidak diperhitungkan; menjadi seorang pemenang di masa kini, dan saya percaya, juga di masa yang akan datang.
Literasi bukan sebatas rekaan. Literasi nyata mengubah hidup saya. Dari awalnya hanya sekadar membaca. Menulis menyempurnakan lingkaran literasi dalam kehidupan saya. Memberikan makna yang sangat mendalam. Menaungi saya dengan nilai-nilai yang tidak semua orang punyai.
Sekarang, semua orang melihat saya dengan cara yang berbeda. Karena sekarang, mereka menghargai “suara” saya. Dan saya akan tetap menulis. Walau pun sekiranya tak ada yang mau membacanya, saya akan tetap menulis. Sampai Tuhan memanggil saya pulang kepada-Nya.
Artikel merupakan Juara I Lomba Menulis Artikel Manfaat Literasi Bagimu.
