Kopaja71

Jangan Remehkan Sate Ayam Pikulan (Opini Widi Kurniawan)

Niatnya berolahraga, eh pada akhirnya mampir jajan. Siapa yang gitu, hayo?
…

Manusiawi sih, itulah mengapa para pedagang kuliner selalu meramaikan tempat-tempat masyarakat berolahraga. Khususnya di akhir pekan.

Area sekitar Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor termasuk menjadi favorit bagi masyarakat setempat untuk berolahraga. Jalan kaki, jogging, senam, hingga bersepeda mengelilingi stadion.

Namun, area ini juga layaknya pasar kaget yang ramai oleh pedagang kaki lima. Mereka berjualan dari mulai pakaian, pernak-pernik, sembako, hingga tentu saja segala macam makanan dan minuman.

Salah satu jajanan kuliner yang menjadi favorit di sini adalah sate ayam pikulan. Ada banyak penjual sate di tempat tersebut, dan rata-rata setiap jarak 30 meter dapat ditemui penjual sate ayam yang ngetem menunggu pembeli.

Pesepeda pun rela singgah untuk sarapan sate ayam (foto: Widi Kurniawan).

Cukup mudah mencari penjual sate ayam pikulan di Pakansari. Telusuri saja trotoar yang mengelilingi sisi luar stadion. Biasanya penjualnya bapak-bapak atau abang-abang.

Asap yang mengepul dengan aroma sate yang khas, pertanda penjual sate sedang duduk nongkrong menghadap tungku arang. Menggugah selera orang yang berada di dekatnya.

Maka, jangan heran jika banyak orang sedang jogging atau usai senam pagi, langsung tergerak ikut nongkrong menyambangi penjual sate ini. Bahkan pesepeda pun rela menepi demi mengisi kembali kalori yang sempat terbakar. Hmmm…

Selain pikulan, ada pula yang menggunakan gerobak beroda, tapi sangat jarang ditemui. Juga ada pula tukang sate yang menggunakan sepeda kayuh.

Selain pikulan, ada pula yang menggunakan gerobak (foto: Widi Kurniawan).

Sate pikulan, maupun yang jualan tanpa warung, sepertinya memang tengah menjadi tren karena laku diminati orang-orang yang sedang jalan-jalan atau berwisata. Seperti halnya di titik nol, kawasan Malioboro Yogyakarta yang juga dipenuhi oleh penjual sate semacam ini.

Barangkali masih banyak orang yang menganggap remeh jenis sate ayam pikulan ini. Baik dilihat dari sisi tampilan dan cara jualannya, hingga ukuran daging satenya yang relatif lebih kecil dibandingkan sate yang jualan di warung atau resto.

Berjualan di keramaian (foto: Widi Kurniawan).

“Emang enak ya sate gituan?” seorang kawan pernah menanyakan ke saya saat saya bercerita tentang sate ini.

Wajar jika sate ayam pikulan ini kerap dipandang sebelah mata, dan mungkin jadi kasta terendah di jajaran sate negeri ini. Selain murah, kadang sate jenis ini identik dengan jajanan anak SD karena kerap pula nongkrong jualan di depan sekolahan.

Namun, sebagai salah satu jenis UMKM, para penjual sate ayam itu patut diapresiasi. Selain menyemarakkan spot-spot keramaian dan destinasi wisata, geliat usaha mereka juga turut memberikan berkah para pedagang daging ayam, beras, hingga bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk memasak sate.

Nongkrong di sate ayam pikulan (foto: Widi Kurniawan).

Minggu pagi ini (26/5/2024), saya menyempatkan untuk berkeliling area Stadion Pakansari Cibinong dan mencari sate ayam pikulan untuk sarapan. Dugaan saya benar, jam setengah tujuh pagi suasana di tempat itu sudah cukup ramai.

Mudah saja menemukan penjual sate ayam yang nongkrong di trotoar. Walau memang sebenarnya tak dibenarkan berdagang di trotoar, tapi nyatanya petugas patroli Satpol PP pun hanya berkeliling tanpa menegur mereka.

Murah, meriah, nikmat (foto: Widi Kurniawan).

Saya pun memesan 1 porsi sate ayam lengkap dengan lontongnya. Berbeda dengan lontong tradisional yang menggunakan bungkus daun, lontong sate ayam pikulan ini cukup dibalut dengan plastik. Ya, namanya juga biar cepat dan praktis.

Tanpa menunggu lama, seporsi sate lontong yang disajikan dalam pincuk kertas makan itu pun tersaji. Seporsi isinya 10 tusuk sate, ditambah dengan irisan lontong serta guyuran sambal kacang dan kecap.

Tampilan seporsi sate ayam yang menggoda (foto: Widi Kurniawan).

Sambal kacangnya begitu halus, cenderung encer dan manis. Mirip cita rasa sate ayam Madura yang tersohor.

“Asli Madura ya Pak?” tanya saya.

“Bukan Pak, saya mah asli Bogor. Jadi ini bukan sate Madura meskipun kata orang mirip, sate Bogor gitu lah kira-kira,” ucap si bapak penjual.

Dia kemudian bercerita mulai jualan dari jam enam pagi sampai siang atau sehabisnya.
“Kalau Minggu pagi gini ramai orang olah raga, Sabtu juga lumayan,” ujarnya.

Selanjutnya ia juga berjualan dari sore hingga larut malam. Berharap pada orang-orang yang nongkrong atau yang jalan-jalan menghabiskan malam.

Terbukti, jalan-jalan pun tak harus menguras kantong dalam-dalam. Tak harus belok ke restoran atau kafe yang mahal untuk membuat perut kenyang sekaligus mendapat sensasi yang berbeda.

Menanti pembeli di pinggir jalan (foto: Widi Kurniawan).

Harga seporsi 15 ribu rupiah terasa worth it. Dengan rasa yang ternyata di atas ekspektasi, tidak membuat kapok untuk kembali lagi. (*)

Opini merupakan Juara I Lomba Cerita Kuliner UMKM di Jakarta & Bogor.
Opini telah tayang juga di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *