Kopaja71

Jangan Malas, Pilah dari Rumah agar Sampah Tak Menumpuk! (Artikel Budi Susilo)

Seolah lumrah, kantong-kantong plastik isi sampah ditumpuk di tepi jalan. Mungkin tidak tersedia tempat penampungan sementara. Warga sekitar meletakkannya di satu sudut dengan pikiran, toh nanti ada petugas dengan truknya yang akan mengambil.
***
Berjalan lebih ke dalam, ke permukiman padat, terlihat bak penampungan terbuat dari tembok. Namun, sampah berserakan di luar kotak. Berantakan. Jorok. Buang sampah secara sembrono.

Sampah berserakan (sumber: dokumentasi pribadi).

Lebih ke dalam lagi, tampak seorang warga dengan tenang tanpa rasa bersalah membuang sampah rumah tangga ke sungai dekat rumahnya.

Sampah rumah tangga tidak terkelola dengan semestinya, maka ia menjadi tumpukan bau tak sedap dipandang mata. Bahkan, sampah mengotori tanah dan air lantaran dibuang tanpa rasa berdosa.

Tahun 2025, sumber terbesar sampah di Indonesia berasal dari sampah rumah tangga. Lebih dari setengahnya atau 56,7 persen (sumber). Berbagai sumber berbeda mengatakan bahwa sampah rumah tangga berisi sampah organik (50-60 persen), plastik (14-20 persen), kertas (10-11 persen), dan lainnya (kayu, kain, logam, kaca, karet).

Sampah organik menyumbang lebih dari setengah sampah rumah tangga. Sebelum diangkut, buangan sisa makanan dan daun itu membusuk, menguarkan bau yang mengganggu lingkungan. Apabila mau menggunakan sedikit akal dan kepedulian terhadap lingkungan, mestinya sampah rumah tangga bisa dikelola dengan lebih baik. Juga tidak malas: hanya mengandalkan petugas kebersihan yang akan mengambil sampah; tak perlu menunggu petugas membereskan semua sampah.

Jangan menunggu hingga program pengelolaan sampah beroperasi sempurna. Tidak usah menunggu realisasi instruksi Presiden Prabowo tentang teknologi pengolahan sampah level mikro (antaranews). Kelamaan!Lagi pula perkembangan rencana di atas merupakan keadaan yang tidak bisa dikontrol.

Saya tak bisa mengatakan kepada mereka, “Hei kalian, buruan kerjakan! Sampah sudah numpuk gak karu-karuan.” Lebih baik melakukan perubahan yang bisa dilakukan oleh diri sendiri; hal yang sangat mungkin dikendalikan oleh warga.

Bertahun-tahun lalu keluarga saya membuang sampah rumah tangga begitu saja. Hasil pangkasan bahan untuk, misalnya, olahan capcai disatukan dengan plastik dan kertas tak terpakai. Dibungkus kantong plastik, lemparkan ke tempat sampah tersedia di lingkungan. Masalah selesai. Ternyata eh ternyata, di dalam kantong kresek itu ada lebih dari setengah sampah organik.

Informasi selanjutnya memberikan pengetahuan, bahwa sampah sisa makanan dan daun ini bisa diolah menjadi wujud berguna. Menjadi pupuk organik, bahan penyubur tanaman secara alami. Maka keluarga saya mengelola sampah rumah dengan langkah-langkah sebagai berikut. Satu, memilah. Memisahkan antara sampah organik dengan yang nonorganik.

Sisa makanan, potongan sayur, kulit bawang, tulang ikan/ayam, kulit buah, kulit telur, ampas kopi, dan bahan organik lainnya dimasukkan dalam satu wadah. Sedangkan bekas bungkus plastik, kertas bekas pakai, dan buangan nonorganik diletakkan dalam wadah berbeda. Dua, pengomposan. Mengubur sampah organik pada satu lubang di halaman rumah sendiri, bukan pekarangan tetangga. Biarkan ia berproses secara alami. Cara lain, menggunakan komposter, alat/wadah untuk mempercepat pengomposan. Tiga, meletakkan sampah nonorganik terbungkus rapat di pagar. Petugas kebersihan dengan truknya akan mengambil sampah itu. Bila tidak ada jadwal, bolehlah sampah nonorganik tersebut dimasukkan ke tempat pembuangan sementara di lingkungan RW setempat. Masukkan ke dalam kotak, ya! Bukan diletakkan di luarnya.

Bagi sebagian orang, langkah-langkah sederhana mengelola sampah rumah tangga (memilah, mengompos, membuang pada tempatnya) amatlah merepotkan. Tepatnya, malas melakukannya! Berusaha lebih baik sedikitlah, jangan malas memilah sampah. Lalu kelola sampah organik dan nonorganik sesuai naturnya, tidak dicampur dan diletakkan begitu saja di pinggir jalan.

Dengan itu, setidaknya, setengah volume sampah rumah tangga keluarga saya sudah berkurang. Andai lebih banyak warga negara Indonesia melakukannya, berapa banyak tumpukan sampah yang bisa dikurangi?(*)

Artikel merupakan Juara III Lomba Menulis Artikel Budaya Bersih dalam Keseharianmu.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *