Jakarta adalah mimpi indah bagi banyak orang, mungkin juga adalah mimpi buruk bagi sebagian kecil lainnya. Lalu, apakah Jakarta bagi saya Jakarta adalah kota impian yang indah?
…
Nyatanya bukan, Jakarta adalah mimpi yang standar bagi saya untuk bertahan hidup lebih baik daripada kampung halaman untuk melanjutkan jenjang pendidikan untuk meraih pundi-pundi rupiah.
Tapi, kemudian Jakarta mewujud menjadi harapan-harapan kecil yang banyak, sangat banyak sampai suatu kebutuhan itu kini menjadi mimpi-mimpi yang berusaha dikejar dan gapai.
Awal mula pergi ke Jakarta adalah kesempatan untuk mengikuti SNMPTN di sini, tetapi apa daya dua tahun berturut-turut saya gagal. Alasan memilih Jakarta adalah karena almarhum Ayah saya lahir dan besar hingga meninggal di Jakarta, bertemu dengan almarhumah ibu yang pendatang dari Semarang pun di Jakarta.
Hanya karena ayah saya anak angkat dari sepasang perantau dari Kabupaten Kuningan, maka saya jadi sedikit asing dengannya di awal, muasal sebaya lantaran saya lahir besar dan tumbuh di kota kecil di ujung Jawa Barat tersebut itu.
Jakarta yang sebelumnya hanya sebatas bagaimana bertahan hidup untuk kelangsungan nasib yang lebih baik, telah membawa saya kepada kesempatan pekerjaan yang nyatanya banyak tersedia juga lebih beragam.
Mulai dari sisi yang gelap sampai yang terang, pekerjaan di Jakarta terbuka luas, dari yang legal sampai yang ilegal, bahkan tipu-tipu banyak sekali. Jadi, hati-hati untuk segala kesempatan yang kita dapat, tidak hanya di sini, tapi di mana pun berada.
Dan selama di Jakarta hingga kini, saya besar dan tinggal di Keagungan, Jakarta Barat, yang mepet Jakarta Pusat. Pasar Gang Kancil adalah yang paling seru berburu jajanan jika petang ke malam.
Kini, Jakarta akhirnya berubah menjadi tujuan dan obsesi bagi saya. Memulai pekerjaan dari pegawai bar dan diskotik yang hanya bertahan berapa waktu, sebagai sales penjual ponsel yang berhasil membawa saya dengan sales penjualan terbaik hingga dibawa jalan-jalan ke Singapura.
Kemudian, jadi kasir minimarket sampai kesempatan menjadi supervisor toko cabang lainnya sampai beralih menjadi supervisor shift di SPBU berlogo kerang dan kini bertahan menjadi administrasi di perusahaan pengelola SPBU-nya.
Lulus kuliah jurusan manajemen dari Universitas Terbuka Jakarta, juga kesempatan bagi saya yang tiada tara. Jakarta membawakan saya kultur bekerja keras dan cepat. Bangganya saya setelah 3 tahun merantau, akhirnya satu KK dengan orang tua saat itu dan kini sudah 12 tahun menjadi warga DKI Jakarta, kemudian juga, jika tidak lagi menjadi ibukota, bagi saya tidak terpengaruh.
Mungkin tumbuh drastis Jakarta juga tumbuh bersama kedatangan saya kala pertama merantau di 2009, di mana Jakarta membuka rute koridor 8 yang tahun kemudian membuka koridor 9 dan 10, sampai kini banyak rute yang terintegrasi ke berbagai kota tetangga di sekitarnya.
Sampai tak ketinggalan pernah menikmati Waterway yang memulai rute dari Karet hingga Manggarai, yang akhirnya kini hanya tinggal kenangan. Belum lagi dari UMR 1,3 ke angka 5 juta, nyaris dalam satu dekade setengah itu sesuatu sekali.
Kebangkitan KRL zaman pak Jonan dari sebelumnya masih beli tiket manual 15 menit sebelum kereta datang, dari mulai rungkad dengan jadwalnya yang tidak beres, belum lagi premanisme dan pedagang asongan, saya pernah mengalaminya.
Tapi, jadi lumayan kangen sama rute ekspresnya. Tapi, semakin di depan sekarang dengan makin banyak mengangkut penumpang, pembenahan di semua stasiun, belum lagi pembangunan stasiun baru dan integrasi ke LTR, MRT, dan Transjakarta. Terkoneksi dengan damai, walau dekat di mata, jauh di kaki.

Masa-masa pergi ke mana-mana naik angkot dan Metromini, Kopaja, Kopami, dan Koantas Jaya berbagai rute yang kini telah mengakhiri masa-masa mengukur aspalnya, menghadapi komplotan copet dan berburu VCD bajakan di glodok dan hiruk-pikuk penjaja baju di bawah tanah terminal Blok M.
Sekarang, banyak tempat terbuka, banyak hal-hal yang membawa banyak perubahan di sini, dan bangganya masih rutin Car Free Day tiap Minggu, walau sempat stop ketika pandemi melanda. Agak sedih jika sekarang ke area Blok M, beberapa tenant telah sunyi dan sepi.
Tanah Abang dari yang banjir, macet tiada akhir dan tentu berpetualang dari satu pasar ke pasar lain di dekatnya menjadi tantangan tersendiri untuk berburu pakaian grosir, jika pakaian trifting tentu Senen adalah rajanya. Kalau buku bekas ya ke Kwitang dan kue pasar subuh yang murah-murah, walau sebagian kini hanya sedang menunggu waktunya karam dimakan waktu.
Alasan saya tetap akan tinggal di Jakarta selain kesempatan dalam pekerjaan, tentunya dengan mudahnya informasi terbarukan yang hadir lebih baik, juga menjadikan saya lebih nyaman walau harga Jakarta agak mahal, tapi bagi saya tidak terlalu pricy dibanding kota lain.
Saat membuat e-KTP yang hilang pun, aplikasi JAKI sangat membantu saya juga masa-masa berburu di mana kita akan vaksin Co-19, juga membantu sekali.
Toh, wisata di sini pula bertabur museum dari sejarah seni sampai pendidikan. Malah saya lebih suka berkelana ke museum itu, selain cuci mata ke seantero mal yang banyak di sini, belum lagi korting yang kadang menyertainya. Mudahnya teknologi diadaptasi juga menjadi salah satu alasan betah di sini.
Banjir adalah tantangan yang akan dihadapi saat musim penghujan, tapi sudah biasa laksana macet yang di berbagai titik sudah membuat mati kutu jika terjebak di sana, tapi ya jalani saja dengan sabar dan besar hati. Tapi, kendaraan umum memang juaranya walau kadang ada macet, tapi setidaknya murah dan nyaman, hanya perlu sabar dan sedikit olahraga sebagaimana bentuk jembatan penyeberangan dan rute ke stasiun yang lagi-lagi jauh di kaki dekat di mata.
Selain itu, alasan kesehatan yang prasarananya mudah diakses serta kesempatan terkoneksi antara BPJS ke fasilitas kesehatan rujukan yang lebih memadai, cukup bagi saya, kaum mendang-mending. Walau sama-sama tahu, jika antreannya dapat dimulai dari subuh berakhir.
Lalu, masih ada mimpi-mimpi yang ingin saya rajut di sini, lagi-lagi, Jakarta itu dekat di mata, jauh di kaki, tapi pasti sampai kok. (*)
Fajar Novriansyah
Artikel merupakan Juara III Lomba Opini Alasan Tetap Tinggal di Jakarta.
Artikel telah tayang di Kompasiana.
