Kopaja71

Inilah 3 Alasan untuk Menikmati Tahun Baru di Taman Mini Indonesia Indah (Artikel Fajar Fathurrahman)

Tahun 2025 bukanlah tahun yang mulus bagi sebagian besar warga Indonesia. Sungguh, ini tahun yang berat. Mungkin jika diibaratkan seperti game, kita semua berada di level very-very-hard.
***
Apalagi ujian yang kurang di tahun ini? Diuji dengan inflasi dan ekonomi yang lesu, sudah. Diuji dengan berbagai ketidakpastian, hampir tiap hari. Bahkan, menjelang bulan pamungkas pun kita masih diuji dengan berbagai tragedi bencana alam yang terjadi di sejumlah area di Indonesia. Maka wajar jika saya menjuluki 2025 sebagai ‘years of survival’. Karena di tahun ini, bisa bertahan saja rasanya sudah patut disyukuri.

Itulah yang saya rasakan setelah mengarungi 12 bulan terakhir ini. Meski karir saya terasa mandek nan stagnan, meski keuangan merah berdarah-darah, bahkan kadang mental runtuh bertubi-tubi. Tapi setidaknya, saya bisa bertahan..

Saya bersyukur, saya masih hidup. Keluarga saya masih utuh, dan anak istri saya masih sehat wal-afiat. Merekalah alasan saya untuk tetap terus melangkah. Oleh karena itu, di momen penutup tahun ini, saya tak memiliki banyak target dan rencana. Tak ada resolusi yang mumpuni, tak banyak harapan yang berderetan. Bagi saya, primary goals di 2026 bukanlah mengejar target. Melainkan, upaya refleksi serta berbenah diri. Mencoba menjadi anak yang berbakti pada orang tua, menjadi suami yang mengayomi istri, dan menjadi ayah yang baik bagi anak saya.

Dan kembali lagi ke seputar rencana akhir tahun … Jika ada destinasi yang jadi tujuan terbaik untuk menikmati momen bersama keluarga, rasa-rasanya hanya satu nama saja yang muncul di kepala saya, yakni: Taman Mini. Kok tiba-tiba Taman Mini? Dan kenapa pulak harus ke Taman Mini? Hmm.. mari saya jelaskan segera alasannya.

Alasan 1: Banyak Ruang Hijau, Bebas dan Terbuka

Anak kecil bermain santai di
area hijau TMII (Sumber : Dokpri).

Momen penghujung tahun akan lebih indah, jika kita bisa berkumpul dan menikmati hangatnya kebersamaan bersama keluarga. Dan momen kumpul ini akan makin terasa hangat di lokasi yang tepat. Tempat yang tenang, teduh, dan serba hijau.

Taman Mini, memenuhi seluruh kriteria itu. Sebab, di dalam areanya seluas 150 hektar itu ada banyak sekali area yang bebas, terbuka dan serba hijau. Hampir 70 persen dari Taman Mini, itu adalah ruang hijau alias green space. Area-area inilah yang bisa kita manfaatkan untuk menggelar tikar, lalu berpiknik ria bersama keluarga. Toh, di Taman Mini pun tak ada larangan untuk membawa makanan dari luar. Sehingga kita bebas membawa kuliner apa pun yang kita mau.

Terakhir kali saya berpiknik ke sini, Ibu saya membawa rendang, cumi asin, sayur capcay, dan sejumput lalapan yang nikmat. Waduh, nikmat dunia apa lagi yang engkau dustakan?

Berpiknik Ria di Area TMII (Sumber: Dokpri)

Alasan 2: Pertunjukan Air Mancurnya Juara!

Kala mentari terbenam dan semburat senja hadir, jangan terpikir untuk segera meninggalkan Taman Mini. Tempat ini punya sebuah pertunjukan istimewa, yang memanjakan mata dan menggetarkan jiwa.

Pertunjukan Air Mancur TMII (Sumber: Dokpri)

Selepas waktu maghrib, bersiagalah di tepi archipelago, karena di sana akan ada pertunjukan ‘the dancing fountain’ yang memukau. Tak hanya menyajikan liuk tarian air yang indah, tapi juga audiovisual yang menakjubkan dan kejutan drone yang indah. Sejumlah cerita rakyat nan legendaris akan dibawa dalam pentas musikal ini.

Kumpulan Drone Membentuk Garuda
(Sumber: Dokpri).

Alasan 3: Bebas Dari Kepulan Asap Kendaraan

Saya ini sebenarnya paling tidak suka dengan yang namanya kerumunan.

Suasana Senja di Taman Mini (Sumber: Dokpri.

Berdiri di antara ratusan manusia, rasanya drain energy sekali. Itulah mengapa, biasanya di malam pergantian tahun baru itu saya lebih sering santai di rumah saja. Tapi kalaupun disuruh untuk stay di Taman Mini sampai titik pergantian tahun, saya siap untuk menyetujuinya tanpa ragu. Alasannya? Tentu saja karena kerumunan di Taman Mini ini lebih rapih dan tertata.

Seperti yang kita ketahui, akses di area Taman Mini kini dibuat lebih eksklusif. Di mana seluruh kendaraan dikumpulkan dalam satu area parkir, sementara seluruh akses di area dalam itu wajib menggunakan angkutan gratis di dalam Taman Mini. Itu berarti, sepadat apa pun kerumunan yang ada, tetap tak akan ada satu pun kendaraan berasap yang akan kita temui. Ini tentu lebih baik, daripada terjebak macet di jalanan kota dengan kepulan asap yang tebal. Apalagi, di malam tahun baru nanti, Taman Mini pun pasti akan mengadakan berbagai rangkaian acara menarik di luar dari pertunjukan kembang api.

Itulah 3 alasan saya untuk menjadikan Taman Mini sebagai destinasi favorit dalam menghabiskan sisa-sisa waktu di tahun 2025. Tak usahlah repot jauh-jauh keluar kota, toh di sekitar Jakarta pun kita bisa tetap bahagia selama berkumpul bersama. Kalau kalian, rencana tahun baru kali ini mau ke mana? Coba dong cerita di kolom komentar!

Artikel merupakan Juara II Lomba Menulis Artikel (Rekomendasikan Tempat di Jakarta untuk Menikmati Pergantian Tahun).

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *