Kopaja71

Dikepung Copet Saat Naik Metromini (Cerita Novaly Rushans)

Tepatnya tanggal berapa kejadiannya saya sudah lupa. Tapi detail kejadian saya masih ingat sekali. Saat itu Jakarta belum seperti sekarang. Trans Jakarta sudah ada namun koridor belum selengkap saat ini . Busnya juga belum sebanyak saat ini.
…

Metromini dan Bus Kota masih cukup banyak berseliwearan menaikkan dan menurunkan penumpang. Dan Kendaraan online juga belum sebanyak saat ini. Yang masih saya ingat malam itu, selesai kegiatan acara Kompasiana nangkring di sebuah hotel di samping Sarinah. Hotelnya warna warni cukup kontras terlihat dari luar. Saya juga lupa acaranya.

Rencananya selepas acara saya berniat pulang dengan kereta. Karena hanya moda jenis ini yang bisa mengantarkan saya pulang ke rumah. Dari seberang Sarinah, saya akan mencari kendaraan yang bisa mengantar saya ke stasiun kereta Tanah Abang. Salah satu cara adalah menumpang metromini yang rutenya dari Blok M ke Tanah Abang. Malam itu tak ada satu pun teman yang satu tujuan. Hanya saya sendiri yang akan ke stasiun Tanah Abang.

Setelah pamitan dengan panitia, Admin kompasiana, dan beberapa teman, saya bersiap jalan kaki dan menyeberang. Malam itu saya membawa kamera DSLR dan laptop kesayangan saya. Kamera ini belum lama saya beli dengan menabung dari hasil menang lomba. Jadi, kamera inilah barang yang paling mahal selain laptop.

Tas ransel berisi kamera DSRL dan laptop, jadi beban tas cukup berat. Tapi memang kedua barang ini selalu langganan saya bawa bawa. Biar mirip seperti wartawan pikir saya (he..he..he..). Tak lupa saya sudah memasukkan dompet dan handphone ke dalam tas ransel. Standar keamanan yang sudah saya lakukan sejak dahulu kala hingga hari ini. Semua barang berharga akan berada di dalam tas ransel.

Gerak-gerik dan Bahasa Daerah

Tak lama setelah saya menyeberang, ada satu metromini melintas, dari jarak 10 meter sudah saya perhatikan apakah ada penumpang di dalam metromini. Saya lihat ada beberapa penumpang di depan dan di belakang.

Saya awalnya tidak curiga, karena saya pikir sudah cukup malam sehingga tak banyak lagi penumpang yang akan pulang. Saya memberikan kode dengan tangan agar metromini berhenti.

Bus sedang berkapasitas 30an orang itu berhenti tepat di depan saya. Kenek segera turun memberikan jalan agar saya bisa naik. Dengan sedikit melompat (kayak film Kungfu, he..he..he..), saya naik ke dalam metromini lewat pintu belakang.

Saya mengambil duduk di posisi tengah, dan saya lihat beberapa orang (tiga orang) pindah tempat duduk ke belakang. Sebagian tetap di posisi depan. Hitungan saya, ada 8 orang semuanya termasuk kenek.

Saya jadi curiga karena semua orang di dalam metromini menggunakan bahasa daerah yang sama. Bahasa satu daerah di pulau Sumatera. Perlu saya informasikan, saya juga anak dari orang tua yang berasal dari Sumatera.

Jadi saya tahu logat bahasa daerah walau tidak sepenuhnya tahu arti dari bahasa daerah ini. Gerak-gerik mereka sepanjang perjalanan mulai aneh. Saya seperti ingin diintimidasi. Dengan duduk tak jauh dari tempat duduk saya. Dan sesekali melihat ke arah saya.

Alarm bahaya saya segera menyala. Yang saya pikirkan adalah satu, masalah keselamatan diri. Tidak lucu bila harus tewas di dalam metromini sendirian, dua, masalah benda berharga di dalam tas ransel, tiga , saya harus selamat dan pulang dengan aman dengan semua barang saya.

Malam itu saya menggunakan celana lapangan berwarna hijau mirip celana tentara. Bila malam dengan lampu mertromini sepertinya sudah mirip sekali dengan celana TNI. (saya mirip-miripkan saja biar timbul semangat sapta marga…. ups)

Rencana saya adalah saya akan turun yang saya bisa bebas bergerak dan bila diperlukan dengan jurus ‘seribu langkah” alias lari (he…he…). Pokoknya malam itu cukup menakutkan untuk saya.

Setelah sampai perempatan lampu merah Tanah Abang-Cideng-Jati baru, saya memberhentikan metro mini dengan mengetuk atap bus sebagai tanda saya akan turun. Bersama itu enam orang segera mengepung saya yang akan turun.

Saya merasakan tangan yang masuk ke dalam saku celana dan tangan yang menarik celana bagian belakang. Saya pun memberikan respon cepat. Otak reptile saya bekerja sebagai tanda bahaya.

Saya segera berontak dan mendorong orang yang menghalangi saya keluar metromini yang sudah berhenti. Dorongan keras membuat orang di depan saya terpental keluar sehingga saya bisa lompat keluar metromini.

Saya sedikit menantang sebagai upaya agar tidak dikejar kelompok ini. Setelah itu saya bergerak cepat ke arah stasiun, sambil sesekali melihat ke arah metromini yang sudah bergerak menjauh.

Perasaan was-was masih ada, khawatir mereka mencegat dibawah fly over sebelum masuk stasiun. Tindakan saya sebenarnya hanya bersifat spontan karena membela diri. Kalau dipikir logika, tindakan saya bisa berujung fatal, bila salah satu di antara mereka ada yang membawa senjata tajam.

Saya bisa jadi korban penusukan. Tapi, mau gimana lagi, tas yang berisi harta benda kesayangan saya untuk modal menulis bisa lenyap bila saya lembek dan tidak melawan.

Saya menduga, mereka komplotan yang bekerja sama dengan supir dan kenek metromini. Karena metromini tidak lagi mengambil penumpang lainnya selain saya.

Itulah pengalaman saya yang paling berkesan dan tak terlupakan ketika naik kendaraan umum di Jakarta. Tetap waspada walau transportasi zaman sekarang jauh lebih aman dan nyaman. Tindak kejahatan bisa terjadi di mana.

Salam Bahagia…
Bogor, 8/8/2023
Novaly Rushans

Cerita merupakan Juara II Lomba Berkisah Pengalaman Berkendaraan Umum di Jakarta.
Cerita telah tayang di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

This Post Has One Comment

  1. Hampir mirip pengalaman pribadi saya waktu di Yogyakarta Tahun 1994 naik minibus Umbulharjo menuju terminal bus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *