Kopaja71

Budaya Bersih: Memilah Sampah Hingga Mengompos di Rumah (Artikel Latipah Rahman)

Bersyukur dan berterima kasih kepada kedua orang tua yang membiasakan kami anak-anaknya untuk menerapkan budaya bersih mulai dari rumah. Sejak kami kecil, Mama dan Bapak mengajarkan untuk menyapu area rumah, hingga memilah sampah.
***
Kegiatan yang terasa sederhana. Niatan kedua orang tua menerapkan pola pikir: kebersihan sebagian dari iman dan orang beriman sepatutnya punya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, dimulai dari rumah.

Semasa Kecil, Bergantian Menyapu Rumah Hingga Halaman
Saya dan kedua adik, terbiasa diajarkan untuk bergantian menyapu rumah dan halaman. Tentu, saat usia kami sudah mumpuni dan sanggup mengerjakan pekerjaan tersebut secara bergantian, ada jadwalnya. Di rumah, anak laki-laki dan perempuan sama. Harus peduli pada kebersihan. Bahkan, Mama dan Bapak mencontohkan, sedari bangun tidur, yang dilakukan setelah salat malam adalah beres-beres dan bersih-bersih rumah.

Awalnya, saya dan kedua adik agak malas mengerjakan menyapu rumah dan halaman. Lama-kelamaan berkat dicontohkan langsung oleh kedua orang tua, hati kami tergerak dan pelan-pelan terbiasa menyapu.

Ilustrasi Canva pro menyapu di ruangan rumah.

Nyapu dari satu ruangan ke ruangan lain. Lalu, menyapu halaman, dan memilah sampah. Memilah sampah dilakukan sedari dulu. Apalagi kalau ada tusuk sate, Mama mengajarkan untuk membungkus tusuk sate secara rapi, tujuannya: supaya yang mengurus sampah tidak terkena tusukan baik kaki maupun tangan mereka.

Kepedulian kecil yang diam-diam saya kagumi dan terpatri dalam sanubari. Pun dengan pecahan kaca, gelas, dan barang pecah belah, dirapikan secara benar, supaya tidak melukai orang lain yang bersinggungan langsung. Kemudian, dari meja makan pun kami diajarkan untuk menghabiskan makanan. Membiasakan mengambil makanan secukupnya dan dihabiskan. Sederhana, namun ini adalah cara mengurangi keberadaan sampah dari aktivitas harian yang rutin.

Menghabiskan makanan yang diambil (Dokpri/Latipah Rahman).

Memilah Barang yang Tidak Terpakai atau Decluttering
Jauh sebelum tren decluttering viral di media sosial, sebetulnya dalam keluarga sudah dibiasakan hal tersebut. Mulai dari: apabila membeli pakaian baru, kami diminta mengecek isi lemari. Bila ada pakaian yang sudah tidak dipakai, dipilah dan dikeluarkan.

Decluttering pakaian di rumah (Dokpri/Latipah Rahman).

Kemudian dicek, masih layak atau tidak pakaian tersebut. Bila masih layak, akan ditawarkan pada tetangga atau orang terdekat yang berkenan. Kalaupun tidak, di donasikan atau dijadikan kain lap. Aksi ini bentuk nyata untuk mengurangi pakaian yang tidak terpakai. Sehingga isi lemari tidak sesak dan membiasakan membeli pakaian secukupnya. Pola hidup minimalis sedari kecil sudah diterapkan juga. Jadi, jangan heran, kalau sampai saat ini saya tidak punya banyak pakaian, sepatu, sandal, tas, dan sejenisnya. Kami terbiasa dengan barang seperlunya saja. Seringkali terlihat pakai baju itu-itu saja.

Pelan-pelan, bukan hanya pakaian, mainan, hingga semua barang yang ada di rumah pun tidak lepas dari decluttering. Barang atau benda apa pun bila tidak terpakai akan dikeluarkan. Jadi tidak heran, apabila isi folder handphone dan laptop pun saya berlakukan proses decluttering juga.

Pertama kali melakukan decluttering pakaian, ada rasa lega setelah melihat isi lemari lebih teratur dan tidak kepenuhan. Baru-baru ini pun saya mendapatkan fakta menarik terkait manfaat decluttering. Membuat rumah lebih bersih, meningkatkan produktivitas, mengurangi tingkat stres, dst (sumber). Dari serangkaian kegiatan tersebut, semakin kuatlah keinginan untuk terus menerapkan budaya bersih mulai dari rumah hingga saat bepergian.

Membawa tumbler saat ke perpustakaan (Dokpri/Latipah Rahman).

Iya, saat bepergian pun, saya berusaha untuk: membawa tumbler berisi air minum. Bersyukur saat ini ada banyak tempat isi ulang air minum (di stasiun dan di halte tertentu). Membuang sampah pada tempatnya, kalaupun belum ketemu tempat sampah, saya terbiasa menyimpan sampah di tas atau di kantong pakaian. Apalagi saya kan suka banget trekking & hiking. Jadi, budaya membuang sampah pada tempatnya hingga mengantongi sampah di tas, adalah hal yang wajar dan biasa dilakukan apabila mendaki gunung dan trekking ke alam.

Ada banyak sekali kegiatan yang bisa diupayakan untuk menjaga kebersihan. Di lingkungan rumah sudah terbiasa, di lingkungan sekitar dalam beberapa bulan sekali ada kerja bakti membersihkan selokan, jalan, dst.

Mengurangi Sampah Rumah Tangga dengan Mengompos
Sekitar tahun 2023, saya pernah ikutan acara yang membahas terkait mengompos limbah organik. Dari kegiatan tersebut, coba saya terapkan di rumah. Awalnya saya bikin sendiri tempat menampung sampah organik dari galon bekas. Lalu dicampur dengan media coklat: kardus, ranting pohon kering, daun kering, dan sejenisnya. Kemudian ditimpa dengan sampah organik (kulit buah, kulit sayuran, cangkang telur, dst).

Ilustrasi dari Canva pro Latipah Rahman: mengompos sampah organik.

Mengatur agar kompos tersebut tidak mengganggu indera penciuman. Mencari tahu apalagi yang perlu dilakukan saat mengompos. Mengajak orang tua dan adik untuk belajar mengompos. Lama-kelamaan, mengompos di rumah adalah salah satu upaya budaya bersih dengan mengurangi limbah rumah tangga.

Seperti yang kita ketahui bersama, berdasarkan informasi terkini, penyumbang terbesar dalam sampah adalah limbah rumah tangga. Seperti yang diinformasikan dan dicatat oleh situs Kementerian Lingkungan Hidup, hingga akhir 2025, capaian sampah terkelola nasional baru mencapai 25% atau sekitar 36.684 ton per hari, sementara 75% lainnya (105.483 ton per hari) belum tertangani secara memadai dan masih beresiko mencemari lingkungan. Jangan salah ya, kompasianer. Limbah rumah tangga yang menumpuk di tempat akhir pembuangan (TPA) sampah, sangat berbahaya karena proses pembusukan sampah organik ini bisa menghasilkan gas berbahaya.

Namanya gas metana, yang merupakan senyawa hidrokarbon sederhana yang dihasilkan melalui proses dekomposisi atau pembusukan bahan organik oleh bakteri di lingkungan minim oksigen (anaerobik), serta dari aktivitas ekstraksi energi. Kabar buruknya lagi, gas metana ini berbahaya, karena: mendorong pemanasan global, membentuk ozon troposfer, dan mengganggu kesehatan. (Sumber).

Sudah sangat cukup sekali ya data dan fakta terkait bahaya sampah terhadap lingkungan dan kesehatan. Jadi, budaya bersih adalah sekumpulan upaya dan usaha nyata kita selaku manusia untuk mengurangi dampak buruk dari sampah yang tidak tertangani.

Mengompos, upaya mengurangi limbah rumah tangga. Selain itu, kompos berguna untuk kasih vitamin untuk tanaman yang ada di rumah. Membersihkan rumah, membuang sampah pada tempatnya, dan memilah sampah, merupakan salah satu bentuk tanggung jawab pribadi untuk mengurangi dampak buruk dari sampah. Semakin tinggi populasi manusia di bumi, tantangan sampah dan kebersihan lingkungan kian menantang. Kalau tidak dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga, siapa yang mau peduli terhadap kebersihan lingkungan?

Setiap orang, punya andil untuk menjaga kebersihan lingkungan. Didasari oleh hal tersebut, maka harus ada kesadaran dari dalam diri untuk menerapkan budaya bersih. Bersyukur sekali karena orang tua di rumah memberi contoh baik terkait budaya bersih. Sehingga terbiasa melakukan upaya-upaya menjaga kebersihan bahkan sampai punya kepedulian mengurangi sampah rumah tangga dengan melakukan pengomposan. Beruntungnya lagi, di era kemajuan teknologi, ada banyak informasi akurat terkait cara mengompos, bahkan ada komunitas di mana kita bisa banyak belajar dan menerapkan setiap ilmu dan pengetahuan yang diperoleh.

Jadi, upaya bersih-bersih seperti apa yang teman-teman kompasianer upayakan dalam keseharian? Yuk sharing di komentar. Have a great day.(*)

Artikel merupakan Juara II Lomba Menulis Artikel Budaya Bersih dalam Keseharianmu.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *