Kopaja71

Best Practice Transformasi Sikap Pemimpin di Era Digital (Opini Sutiono Gunadi)

Kalau dulu, bahkan sekarang masih ada, type pemimpin yang bergaya boss. Staff atau anak buah harus senantiasa mengikuti kehendaknya, tanpa boleh membantah atau memberikan argumentasi solusi alternatif. Intinya anak buah harus mengikuti 100% kehendak boss tanpa alasan apa pun.
…

Meski kadang-kadang ide boss ini salah, sehingga mengalami kegagalan, namun aman bagi anak buah yang penurut karena mereka tidak akan disalahkan atau kena marah atau sanksi.

Meski tidak sempat mengikuti pendidikan tingkat tinggi, setingkat master degree, karena seringnya saya ditugaskan ke lokasi cabang, di luar kota bahkan di luar pulau, ataupun mengawasi berjalannya proyek-proyek di lapangan, saya mengatasinya dengan membaca buku-buku manajemen.

Sebagai manajer umum, posisi saya di tengah. Di atas saya masih mempunyai atasan, sebaliknya di bawah saya masih mempunyai manajer unit dan karyawan. Atasan saya masih menerapkan gaya kepemimpinan lama, yaitu antara boss dan anak buah.

Meski tidak sekaku boss tempo dulu, karena bila saya memiliki solusi yang lebih bagus, biasanya saya utarakan berdua, tidak di depan rapat, dengan tujuan tidak mempermalukan atasan.

Sebagai manajer umum, saya menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif. Jadi, berlawanan dengan gaya atasan saya, akibatnya saya sering mendapat teguran dengan alasan kurang tegas atau terlalu memberi kebebasan bagi bawahan.

Perbedaan manajemen partisipatif memberikan kebebasan kepada staff/karyawan, asalkan selalu dikoordinasikan, keuntungannya sebagai atasan, saya tidak harus menunggui mereka bekerja, mereka bekerja atas inisiatif sendiri.

Beda dengan gaya boss, bila boss tidak ada di dalam kantor, anak buah bisa liar seperti satwa ditinggal pawangnya. Harus selalu ada boss agar mereka bekerja rajin.

Untungnya teguran itu akhirnya sirna dengan sendirinya, karena saya sanggup membuktikan dengan manajemen partisipatif, target perusahaan selalu tercapai, yang berakibat profit perusahaan terus meningkat sehingga perusahaan makin berkembang.

Saya pun mengikuti banyak asosiasi bisnis sehingga pengetahuan bertambah luas dan jaringan bisnis meningkat. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh atasan saya.

Salah satu yang menjadi pegangan saya adalah bacaan dari Harvard Business Review, yang memaparkan bahwa telah terjadi transformasi pada pimpinan tahun 2012 ke tahun 2022. Khususnya mengenai hubungan atasan bawahan, komunikasi, dan penampilan.

Pada hubungan atasan bawahan terbaru, faktor integritas sudah menurun dari 63% ke 60%. Lalu, muncul hal-hal baru yang harus diperhatikan seperti hormat/respek satu terhadap yang lain serta inklusivitas. Sedangkan faktor kepercayaan diri tetap diutamakan.

Pada segi komunikasi, seorang pemimpin harus memiliki cara berbicara yang baik, tidak hanya di dalam rapat luring, juga pada rapat daring/zoom. Hal yang baru yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah kemampuan mendengar dan memiliki ide asli.

Pada sektor penampilan, yang harus diperhatikan adalah kemampuan tampil secara daring, memiliki tubuh yang selalu bugar dan mampu menghadapi era New Normal, yang mampu mengadopsi Work From Home maupun Work From Anywhere. Jadi, tidak kaku, kukuh pada kehadiran di kantor (9 to 5) atau Work From Office.

Sebagai pemimpin di era digital yang harus berhadapan dengan generasi Z yang lebih mengutamakan kreativitas dan keberhasilan daripada kehadiran belaka, maka gaya kepemimpinan perlu bertransformasi agar perusahaan tidak kehilangan karyawan bertalenta positif.

Cara yang saya tempuh dapat dijalankan sebagai best practice, tanpa memerlukan teori-teori yang rumit. (*)

Sutiono Gunadi

Opini merupakan Juara II Lomba Opini Menjadi Pemimpin Transformasional Menurutmu.
Opini telah tayang di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *