Cerpen Sastra

Menu Sebelas Tahun (Cerpen Putri Oktaviani)

Koran lampau membawa Hamid ke restoran bernama Hidangan Nusantara. Restoran terkenal akan banyaknya menu yang disajikan. Mereka memiliki tiga koki andalan, tapi yang paling top adalah Koki Hermawan. Dia adalah koki pertama yang ditunjuk oleh Askar Davinci – sang pemilik restoran yang merupakan orang blasteran.
…

Hamid mendorong pintu kaca restoran dan bertanya pada pelayan yang berdiri di meja utama, “Apakah aku masih bisa memesan?” Matanya melirik kilas jam dinding. Sang pelayan ikut melirik ke arah jam, “Sebenarnya lima menit lagi kami tutup. Tapi kamu masih bisa memesan.”

Hamid tersenyum sebelum berkata, “Aku pesan Bubur Bassang.”
Bukan hanya pelayan itu yang mematung karena mendengar pesanannya, beberapa pekerja di sekitar mereka ikut terkejut dan memandang Hamid keheranan.

“Kenapa? Kenapa kalian semua menatapku begitu?” Hamid mulai terbawa suasana di dalam restoran, dan melirik satu per satu orang yang menatapnya, “aku tidak salah bicara ‘kan?”

Pelayan yang seharusnya menuliskan pesanan Hamid lalu berlari ke dapur masih membeku. “Kau tidak bisa memesan menu itu,” tuturnya pelan. Namun, belum sempat Hamid bertanya kenapa dia tidak bisa memesan menu tersebut, pintu dari arah dapur terbuka. Memperlihatkan salah satu koki yang raut wajahnya gembira. “Kamu akan mendapatkannya dalam waktu sepuluh menit. Tolong duduk di kursi mana pun yang kamu inginkan, dan aku sendiri yang akan mengantarkannya.”

Setelah berbicara, sang koki kembali menutup pintu dengan cepat. Yang berhasil membuat pekerja lainnya bingung sekaligus ketakutan. Bukan karena menu Bubur Bassang tidak ada di daftar, melainkan bahan dasarnya yang mereka pikir tidak ada di dapur. Bahkan, tidak ada pengunjung yang memesan menu itu selama sebelas tahun terakhir. Ditambah, koki tadi adalah koki utama di Hidangan Nusantara – Koki Hermawan. Jarang sekali melihat raut wajah gembira dan seantusias itu. Biasanya koki Hermawan segan menunjukkan wajah di depan para pengecap makanannya.

Dia hanya fokus di dapur sepanjang waktu bekerja. Baginya, tidak menarik melihat wajah bahagia para pengunjung menikmati hidangannya.

Selagi Hamid menunggu di kursinya, dia tidak peduli dengan beragam mata yang setia memandangnya. Beberapa dari mereka bersiap untuk pulang. Tetapi tidak dengan pelayan yang baru saja ia ajak bicara. Bukan tanpa sebab Hamid datang ke tempat ini. Rasa penasaran akan koran lampau yang ia baca kemarin siang, mengantarkannya bertemu langsung dengan koki Hermawan. Sebuah keberuntungan baginya.

Selagi memandang pengunjung terakhir, beberapa pekerja saling berbisik. “Aku tidak tahu harus mencari kain kafan di mana.” Sementara yang satunya lagi berkata, “Lebih baik aku pulang sebelum menyaksikan hal mengerikan yang tak pernah kubayangkan seumur hidup.”

Sementara pelayan yang sedari awal berbicara dengan Hamid mendengar percakapan dua rekannya itu. Pupil matanya membesar ketika menatap pengunjung yang mengenakan kemeja hitam. Sebuah warna yang sepertinya akan mengisyaratkan kondisinya beberapa jam ke depan. Dia menjadi kikuk ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan Hamid. Kilasan tujuh tahun lalu kembali terputar di kepalanya. Saat ia pertama kali bekerja di Hidangan Nusantara. Dia diberitahu sebuah fakta dan rahasia yang bukan lagi umum oleh rekan kerjanya.

Sebuah kejadian mengerikan terjadi empat tahun silam. Seorang pengunjung tewas setelah memakan Bubur Bassang yang dibuat langsung oleh koki utama. Beritanya cukup popular di kalangan masyarakat umum terutama dunia bisnis makanan dan minuman. Namun, sang koki dinyatakan tak bersalah setelah melalui rentetan pengadilan. Pemilik Hidangan Nusantara menyewa pengacara handal demi menyelamatkan koki utama restoran. Tidak peduli berapa banyak lembar yang harus dikocek. Setelah kejadian naas itu terjadi, tidak ada pengunjung yang memesan menu Bubur Bassang lagi.

Meskipun ada beberapa yang keceplosan menyebutkan menu itu, pekerja yang tengah melayani langsung mencegah dengan memberi kode agar tak memesan menu tersebut. Namun kali ini, sang pelayan kalah cepat dengan koki utama. Membuat pengunjung pria muda berkemeja hitam menjadi pusat perhatian bagi pekerja yang tersisa. Suara pintu dapur terbuka, mengejutkan tiga pekerja tersisa dan satu pengunjung. Koki Hermawan dengan wajah sumringah membawa nampan berisikan pesanan Hamid.

“Maaf menunggu lama, seharusnya aku bisa buat buburnya lebih cepat. Tapi aku kesulitan mencari bahan-bahannya,” ujarnya menghampiri Hamid.

Hamid ikut tersenyum karena sang koki begitu antusias dengan pesanannya. Siapa sangka jika koki Hermawan memilih duduk tepat di depan Hamid.

“Biarkan aku menemanimu menyantap hidangan ini, apa kamu merasa keberatan?” tanya koki Hermawan memastikan.

Hamid bisa merasakan getaran bahagia yang dipancarkan dari wajah sang koki. Rasa gerogi timbul karena ia akhirnya bisa bertemu langsung dengan koki utama. Kepalanya mengangguk setuju dan dia mulai menyantap setiap sendok bubur hingga tak tersisa. Setiap satu sendok yang masuk ke mulut Hamid, membuat koki Hermawan tersenyum hingga memperlihatkan gigi rapinya yang masih utuh.

“Aku harap rasanya masih sama,” kata koki Hermawan berharap.
“Aku tahu kejadian itu bukan salahmu, Paman,” komentar Hamid setelah membersihkan mulutnya dengan tisu.

Koki Hermawan berhenti tersenyum. Bibirnya terbuka dan matanya memicing menatap Hamid yang memanggilnya dengan sebutan ‘Paman’. Tidak ada satu pun yang memanggilnya seperti itu kecuali ….

“Siapa kamu?”
“Aku Hamid Gunawan. Kamu pasti kenal dengan ayahku. Maksudku … mendiang ayahku.”

Sekarang sang koki memasang raut terkejut, “Kamu putranya Gunawan Ihsan?” Hamid mengangguk cepat. “Sudah hampir dua bulan aku mencari keberadaanmu. Tapi baru sekarang kita bisa bertemu.” Ucapannya bisa terdengar oleh tiga pekerja lain yang memperhatikan mereka.

“Tidak ada yang percaya padaku tentang kejadian itu pada awalnya. Hanya ayahmu yang memercayaiku.”

“Tapi aku percaya padamu, sama seperti ayahku,” balas Hamid cepat. Wajah Hermawan terangkat setelah menunduk cukup lama, mengenang kebersamaannya dengan sahabat karibnya.

“Pengunjung itu memiliki sakit asam lambung. Dia sudah sangat telat makan, dan ketika menyantap hidangan–”
“Bisakah kita tidak membahasnya?” potong Hermawan dan Hamid mengangguk setuju.

Keduanya masih terpaku di kursi masing-masing. Sementara tiga pekerja lainnya terus menguping. Salah seorang dari mereka mulai percaya tentang teori pengadilan yang berhasil membebaskan Hermawan dari tuduhan. Bahwa pengunjung yang datang itu memiliki penyakit asam lambung tingkat akut.

Banyak pekerja restoran yang mengira diamnya koki Hermawan adalah dampak dari kejadian naas itu. Tetapi Hamid tahu, bukan hanya itu yang membuat sang koki murung berkepanjangan. Menu Bubur Bassang bukan hanya sekadar menu. Menu itulah yang membuat Hermawan bertemu dengan pemilik restoran dan ditunjuk sebagai koki utama, padahal ada dua koki lain yang terlebih dahulu bekerja.

Ketertarikan akan menu tradisional Indonesia membuat Askar Davinci mengacungkan dua jempol untuk Bubur Bassang yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Menu Bubur Bassang juga yang menjadi pelopor utama Hidangan Nusantara hingga berkembang cukup pesat. Tetapi, sebagai pebisnis, tentunya ingin restorannya berkembang lagi dan lagi. Ide inovatif pun bermunculan.

Tambahan beberapa menu yang mulai mengikuti zaman dimasukkan ke dalam daftar. Dan betapa sedihnya Hermawan ketika ia mulai menghidangkan menu-menu baru tersebut. Sehingga Bubur Bassang sudah jarang ia sajikan lagi. Resep Bubur Bassang yang diwariskan turun-temurun oleh keluarga ayahnya adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya.

Hidupnya lebih terjaga dan makmur berkat resep warisan itu. Namun baginya, seberapa banyak orang yang memuji kehebatannya dalam memasak berbagai menu, Bubur Bassang tetaplah menjadi pentolan Hermawan dalam memulai karirnya. Tiap bahan yang ia campur memiliki getaran tersendiri di dadanya. Ingatan tentang mendiang ayah dan kakeknya selalu muncul ketika ia tengah menyajikan menu tersebut.

Meskipun Bubur Bassang sudah jarang dipesan setelah kejadian naas yang membuat Hermawan masuk ke ruang pengadilan, Askar Davinci tetap menuruti permintaannya agar menu tersebut tetap ada di dalam daftar. Setelah sebelas tahun lamanya, Hamid adalah orang pertama yang memesan menu itu dan menghabiskannya langsung di hadapan sang koki.

“Kamu sangat mirip dengan ayahmu,” ujar Hermawan seraya menepuk bahu Hamid.
Namun tubuh Hamid jatuh melimbung ke bawah, dan membuat ketiga pekerja yang sedari awal memperhatikan mereka mulai menghampirinya.

Suasana panik mulai terasa. Salah satu pekerja yang menyaksikan kejadian sebelas tahun lalu menatap kencang wajah Hermawan. Dia adalah pekerja yang tadinya mulai percaya dengan cerita yang baru saja didengar.

“Bawa dia ke rumah sakit!” seru Hermawan gemetar. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 7 Mei 2023

Cerpenis

Putri Oktaviani
Peminat bacaan fiksi genre thriller dan misteri. Lahir tahun 2000 dan bermukim di Tangsel. Ia menulis novel dan cerpen. Tulisannya terpercik di media dan platform digital. Bisa disapa via IG @putri.oktavn

Testimoni Putri Oktaviani
Selasa, 9 Mei 2023

Kalimat pertama, saya haturkan terima kasih karena telah mendirikan wadah bagi penulis-penulis sastra baik pemula atau bukan untuk meluapkan ide di kepala.

Cerpen_sastra begitu unik karena salah satu media sastra yang berselam di salah satu sosial media terbesar di playstore. Sehingga banyak mencakup netizen-netizen yang tidak tertarik membaca menjadi tertarik.

Sebagai cerpenis pemula di awal tahun 2023, ini adalah karya cerpen ketiga saya yang sudah dimuat. Saya banyak belajar dari cerpenis senior, bagaimana cara menulis cerpen yang baik. Karena ternyata menulis cerpen berbeda dengan novel yang merupakan basic menulis saya. Saya berharap, selain mengadakan sayembara, ke depannya cerpen_sastra juga bisa membuka seminar/workshop kepenulisan bagi penulis-penulis baru.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *