Aku belum selesai membaca cerpen itu ketika melihat sosok lelaki dengan tangan terbakar di seberang jalan. Aku langsung berdiri dari kursi pinggir jalan untuk menghampiri lelaki itu. Tangan kanan lelaki itu mengepal, dari sela-sela jarinya timbul api kemerahan. Kepalaku tidak sanggup memberikan penjelasan bagaimana bisa ada api di tangannya.
…
Mobil dan motor melintas di jalanan tanpa terpengaruh oleh keberadaan lelaki itu. Aku mencoba menyeberangi jalan, tetapi setiap kendaraan rasanya tidak ada yang mau mengalah untuk membiarkanku lewat. Lelaki itu masih di sana. Menatapku.
Aku berteriak untuk bertanya keadaannya. Dia tidak menjawab. Mungkin tidak mendengar. Kali ini kepalaku dipenuhi oleh pertanyaan: siapa lelaki itu? Kaus kumal, jin belel, dan rambut gondrongnya mengingatkanku pada seseorang. Lelaki itu punya bekas luka di pipi kiri, melengkung seperti bulan sabit. Tanda yang unik, pikirku. Namun, semakin aku mencoba untuk mengingat siapa gerangan lelaki itu, semakin kepalaku dipenuhi ketiadaan serta keberadaan.
Aku memberanikan diri untuk berjalan di antara guliran kendaraan, mengangkat tangan untuk memberi tanda bahwa aku akan menyeberang. Lelaki itu pasti kesakitan. Mungkinkah dia gila? Atau, sedang melakukan atraksi? Di kota yang penuh persaingan dan kebutuhan untuk bertahan hidup, segala cara dilakukan untuk mendapatkan uang. Aku sangat tahu itu. Aku pun bagian dari persaingan itu. Kalau benar yang dilakukan lelaki itu adalah sesuatu untuk mendapatkan uang, aku akan memberikannya. Meskipun dia membuatku terkejut.
Ketika berhasil menyeberang, aku mendekati lelaki itu. Api di tangannya tampak aneh saat kulihat lebih dekat. Rasanya seperti melihat gambar dalam TV atau ponsel. Seolah ada layar yang menghalangi rasa “nyata” dari kemunculan api itu. Dia menoleh padaku dengan ekspresi yang sama.
“Anda tidak apa-apa?” tanyaku.
Dia menggeleng.
Oh, ini bukan atraksi, pikirku. Namun, saat aku bilang akan menelepon rumah sakit atau ambulans, dia bilang tidak perlu.
“Tidak sakit,” katanya.
“Itu api beneran?” tanyaku tanpa bisa menahan diri.
Dia mengangguk. Lalu, dia bilang bahwa dia lelaki dalam cerpen. Cerpen yang belum sempat selesai kubaca. Aku menunduk untuk melihat buku tipis di tangan kananku, buku yang sebelumnya kubaca di kursi pinggir jalan untuk menghabiskan waktu. Aku menemukan buku itu di toko loak dekat stasiun. Sampulnya polos berwarna merah dengan titik-titik kecil dekat judul.
Kali ini, kupikir aku sedang berimajinasi. Lelaki itu, seperti kata psikiaterku adalah rasa duka yang berbentuk. Kepalaku mempermainkanku karena aku begitu stres oleh rasa duka, oleh kesedihan. Jadi, tidak mungkin lelaki itu nyata. Bagaimana bisa ada seseorang yang bilang bahwa dia berasal dari cerpen?
Aku melihat sekeliling untuk mencari seseorang. Aku ingin tahu apakah orang lain juga melihat lelaki ini. Namun, tidak ada seorang pun di sekitar kecuali orang-orang dalam kendaraan yang abai sekali dengan eksistensi kami berdua di pinggir jalan.
“Kamu dari cerpen ini?”
Aku mengangkat buku itu.
Dia mengangguk.
“Jadi, kamu tidak nyata?”
Dia mengerutkan dahi.
“Aku nyata.”
Aku menunjuk api di tangannya.
“Itu juga nyata?”
Dia mengangguk.
Aku diam untuk memproses percakapan kami. Kalau dia lelaki dalam cerpen, artinya dia lelaki yang kembali ke rumahnya yang terbakar. Waktu membaca tadi, aku sampai pada adegan ketika dia menyentuh tangga yang terbakar. Aku memandang wajahnya yang terus menatapku. Pertanyaanku kali ini, kenapa aku?
***
Tangannya terbakar. Api itu melahap habis lengan bajunya yang terbuat dari katun. Dia tahu bahwa sebentar lagi api itu pun akan menerkam kepalanya yang menampung otak dan dalam otak itu ada banyak ingatan, suara, dan gambaran hidupnya. Kalau dia memejam, dia bisa membayangkan giginya ditemukan di antara reruntuhan rumah yang terbakar. Orang-orang tidak akan menemukan otaknya.
Dia berlari menaiki tangga sambil mengibas-ibaskan tangannya dari api. Dia tahu dia akan mati. Tidak ada harapan baginya untuk keluar dari rumah itu dengan selamat. Kalaupun selamat, dia akan mati perlahan di luar sana dengan segala operasi dan perawatan yang rumit. Dia mungkin akan kehilangan tangan dan kaki. Apakah hidup layak dijalani tanpa tangan dan kaki? Dia tidak tahu. Dan, sebenarnya, tak ingin tahu.
Api menjilat pipinya. Dia sudah tahu bahwa rambutnya terbakar.
Sebentar lagi, pikirnya.
Ya, sebentar lagi dia akan sampai di lantai dua. Di sana, di ujung lorong, ada pintu menuju kamar ibunya. Ibunya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu saat dia masih remaja. Dia tidak berniat membunuh dirinya sendiri di kamar yang terbakar itu demi meninggal di tempat yang sama seperti ibunya. Tidak, dia tidak semenarik itu. Dia hanya ingin menyelamatkan anaknya yang dia taruh di kamar ibunya setelah makan siang. Anaknya tertidur. Dia masih ingat dengan jelas saat dia menggendong tubuh mungil itu ke atas tangga, lalu merebahkannya di kasur ibunya. Seperti ibunya dulu merebahkannya di kasur.
Kamar itu tidak terlihat karena asap dan api. Dia tidak peduli. Dia terus berlari menuju pintu kamar yang sebelumnya dia buka sedikit agar ketika bangun, anaknya bisa turun sendiri. Kalau dia tidak meninggalkan rumah dengan kompor menyala untuk menolong seorang anak yang terjatuh dari sepeda, dia mungkin bisa naik ke lantai dua lebih cepat. Api begitu cepat menjilat rumahnya.
Dia berharap anaknya berteriak. Namun, yang dia dengar hanyalah bara api. Dia tahu, dia tidak seharusnya memasak dan menyalakan kompor. Dia tidak terbiasa dengan dapur.
“Lelaki hanya tahu merusak.”
Begitu kata istrinya. Dia memang merusak pintu ibunya dengan menerjang sambil berteriak. Dia tidak tahu bisa berteriak seperti itu. Lebih tepatnya, melolong. Panjang dan menyakitkan.
Seluruh tubuhnya sudah terbakar. Dan, dia masih berharap anaknya ikut melolong. Setidaknya, dia ingin tiba sebelum anaknya habis terbakar dan meninggal seorang diri, seperti yang ditakutkan semua anak kecil.
Dia mendengar dirinya sendiri menangis. Api tanpa segan membakar air matanya.
***
Aku mendongak ke arah lelaki itu. Kepalanya terbakar. Aku masih bisa melihat ekspresinya yang sama. Datar dan tenang.
“Begitu saja?” tanyaku.
Dia mengangguk. Lalu, aku mendekatinya untuk menyentuh api di kepalanya. Rasanya seolah aku menyentuh bayangan bulan di sungai. Aku melihat bulan itu, tetapi yang sebenarnya kusentuh adalah air. “Anda berhasil keluar dari api,” simpulku.
Kali ini, dia mengubah ekspresinya. Mulutnya tertarik ke atas bersamaan dengan alisnya yang mengerut.
“Api yang keluarkan saya.”
Aku ingat pernah membaca sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata. Ceritanya tentang seorang perempuan yang diteror semalaman oleh geng anarkis di rumahnya. Perempuan itu berhasil selamat dan menuliskan ceritanya. Namun, dua tahun setelah buku itu terbit, perempuan itu membunuh dirinya sendiri dan meninggalkan catatan bahwa teror yang dia tulis di bukunya tidak cukup mewadahi perasaan serta trauma yang dia derita. Mungkinkah lelaki ini adalah bentuk trauma yang tidak bisa kuwadahi dengan membaca? Dia berasal dari kepalaku, yang berarti aku menciptakannya. Dan, mungkin aku bisa menghilangkannya.
“Kenapa Anda muncul di depan saya?”
Seluruh tubuhnya perlahan terbakar.
“Saya juga tidak tahu,” katanya. “Saya hanya ada di sini. Dan, saya nyata.”
Aku bertanya-tanya, apakah aku juga bisa menciptakan makhluk lain yang tampak nyata di sekitarku? Aku ingin menciptakan makhluk yang perutnya berlubang. Di lubang itu ada semesta beserta lubang lainnya. Kalau bisa, aku ingin masuk ke lubang itu dan lahir di dunia lain, dunia yang berbeda cerita dari yang sekarang.
“Anda harus pulang,” kata lelaki itu lalu menghilang bersama api yang membakarnya. Jangan-jangan dia temanku, pikirku. Karena seluruh temanku mengatakan hal yang sama. Bahwa aku harus pulang ke rumah itu. Rumah yang tidak sama seperti dulu. Mungkin, yang akan kulihat hanya puing-puing hitam bekas jilatan api.
Aku bahkan takut ketika aku pulang, aku akan menemukan gigi suami dan anakku. Atau, lebih parah, aku menemukan harapan yang kutinggalkan di seberang jalan saat melihat suamiku berlari ke dalam rumah yang terbakar dengan gegabah.
Kata psikiaterku, aku bisa pergi ke kuburan mereka kapan pun aku siap. Sepertinya, aku tidak akan pernah siap menghadapi dua gundukan tanah yang berisi tulang dan daging dua orang yang kucintai. Aku tidak yakin bahwa di dalam kuburan itu ada kenangan tentang mereka. Dan, aku tidak yakin bahwa di sana, aku bisa menemukan harapan yang sering orang-orang katakan.
Aku kembali menyeberang jalan, duduk di kursi, dan membaca ulang cerpen itu. Aku tahu akan pulang dan lemas oleh pengandaian. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 30 April 2023
Cerpenis
Gavin Farras Sukmadiyanto
Lahir di Ciamis, 02 Oktober 2008. Merupakan pelajar aktif dan berprestasi. Menggoreskan tinta pada lembaran-lembaran, ialah hobinya, sehingga ia akan terus menulis. Selain pecandu sastra, ia juga pecandu matematika dan sains. Ketahui lebih tentangnya di akun Instagram @dgavinfs
Testimoni Gavin Farras Sukmadiyanto
Selasa, 2 Mei 2023
Dalam hening senja, ia mendengarkan gemericik air yang mengalir di depannya. Setelah sekian lama menanti, akhirnya kabar yang dinantinya tiba. Kemenangan, sebuah hadiah yang luar biasa bagi seorang penulis. Ia merenungkan sejenak, memikirkan proses yang telah dilaluinya, segala rasa yang dituangkan dalam kata-kata, dan kerja keras yang telah ia persembahkan.
Ia merasa sangat berterima kasih kepada para juri yang telah memilih karyanya. Suatu kehormatan yang tak terhingga, sebuah pengakuan atas karyanya. Kemenangan ini membuka jalan baginya untuk terus mengasah kemampuan menulisnya, dan menginspirasi banyak orang melalui cerita-cerita yang ia sajikan.
Dalam hatinya ia berjanji, untuk terus menulis dengan penuh semangat dan dedikasi. Kemenangan ini tak hanya menjadi puncak pencapaiannya, namun juga awal dari perjalanan yang panjang. Terima kasih, @cerpen_sastra, telah memberikan sebuah kesempatan besar bagi seseorang yang percaya pada mimpinya.
