Jemaat baru itu muncul di bangku ketiga setiap lonceng pertama dibunyikan, bahkan koster belum sempat meneguk air putih. Ia tidak pernah mengetuk dan langkahnya menyeret pelan. Datang selalu dengan wajah seperti kertas lawas di pojok rak. Lingkar mata hitam menggantung di antara kerutan-kerutan halus. Sorot kosongnya membuat koster yang disebut Tumiyem ciut setiap kali ingin mendekat.
***
Jika biasanya orang membungkus uang dengan amplop, jemaat wanita itu justru membawa satu kantong tebal. Sudah sebulan memang, gereja ini menerima keresek hitam. Namun, percayalah kantongnya mampu menyihir sekitar. Koster mengamati dari ambang pintu sambil menenteng sapu dan kain lap. Mata menyipit, memperhatikan detail baju yang familiar. Kaos bolong, celana kain panjang putih yang kelunturan, dan bandana merah maroon dipamerkan.
“Dia gembel?” bisikan halus yang mengejutkan Tumiyem datang dari belakang.
“Hus, ngawur kamu, Sam. Jemaat kok dibilang gembel.”
“Lagian bajunya sama. Sebulan loh, masa nggak ganti?”
“Tuhan nggak peduli baju.”
Tukang kebun itu manggut-manggut, lalu meminta Tumiyem untuk kembali ke belakang. Ia pun menggeser memantik korek api ke seluruh lilin sebelum pergi. Misa dimulai dan semua orang jadi anak domba paling berbakti sampai romo menutup khotbah.
Suara sang jemaat baru hampir tak pernah terdengar, bahkan oleh romo. Orang dibiarkan menebak-nebak. Lagu pujiannya pun hanya mengandalkan telinga Tuhan. Sapaan dibalas senyuman, gimana mau tanya pasal identitas? Barangkali, ia memang gelandangan. Mungkin juga pengemis. Kata tetangganya, pembunuh bayaran. Lalu, duit yang dibawa dari mana? Sebab, tidak terdengar recehan, bahkan dari dekat. Jika dijejerkan—amplop putih, cokelat, merah—kantong si jemaat itulah yang paling tebal. Keresek yang juga jadi satu-satunya tak bernama, sekadar selembar tulisan MALING. Jangan tanya amplop yang lain, bisa-bisa lomba menulis gelar dan jabatan paling panjang.
Mata Tumiyem mendelik saat tulisan maling juga terpampang jelas di kaos orang yang sudah di mulut pintu usai menyetorkan kantong di kotak umat. Baru ini ia melihat jelas kaos yang dipakai sebulan itu.
“Kalau gini, Tuhan terima nggak?” tukang kebun datang lagi.
“Tuhan pemaaf. Pelacur aja dikasih minum. Jangan remehkan penilaian-Nya.”
“Maling apa kira-kira?” Alis Tumiyem naik sebelah. “Tebel gitu, maling di mana ya? Siapa tahu aku bisa ikut.”
Di halaman, ada seorang berjas menyapanya. Ia memperhatikan tulisan MALING di tangan orang itu. Ternyata ada keresek hitam lain di tangan. Entahlah sejak kapan.
“Kamu beneran maling? Nggak mungkin ah maling malah nyumbang ke sini. Atau jangan-jangan keresek ini malah hasil maling kamu di sini?”
“Bukan dari sini,” akhirnya ia bersuara.
“Jadi beneran maling? Yang suka nyolong duit, motor, barang lain di rumah-rumah?” Si jemaat baru mengangguk sekali. “Kok hasil maling dikasih ke gereja?”
Ia berjalan grusah-grusuh meninggalkan semua mata yang dari tadi menatapnya. Sandal yang kian aus menggeret kerikil tajam. Nyeri dilihat, seolah batu-batu itu hendak menancap hingga kaki keringnya.
***
Radio terdengar nyaring di kamar petak Tumiyem. Seorang reporter membacakan berita sosok gembel yang kerap berkeliaran di alun-alun. Tangan berminyak, bekas goreng bakwan, memutar volume.
…dan kembali dari pantauan lapangan kami di sekitar alun-alun kota. Baik, Pemirsa…
Suara itu berderak seperti orang baru bangun dan belum sepenuhnya sadar.
…dalam beberapa pekan terakhir, warga sekitar alun-alun melaporkan kehadiran seorang perempuan itu di gereja. Identitas gembel yang usianya diperkirakan 40 tahunan ini belum berhasil ditemukan. Ciri-ciri: rambut keriting sedikit uban, mengenakan celana putih, dan berkaos bolong. Dia juga membawa satu kantong keresek hitam bertuliskan maling. Banyak orang penasaran pada dia dan isinya, bahkan pejabat sempat bertanya.
Lantas, di sini sudah bersama kami, Bapak dari Dinsos.
“Bapak tadi bertemu gembel itu?”
“Iya, tapi katanya dia maling, bukan gembel. Saya heran, untuk siapa? Kalau untuk dia, ngapain disumbangkan? Kalau untuk gereja, kenapa sampai harus jadi maling?”
“Sudah lihat isinya, Pak?”
“Wah, sayangnya belum. Saya juga penasaran maling di mana kok bisa setebel itu dan nggak ketangkep-tangkep.”
Terpotonglah suara mereka ketika asistennya berbisik dan masuk mobil. Kemudian, terdengar orang-orang yang berebut bicara seolah suara mereka mampu jadi seterkenal dinsos.
“Itu segepok uang dari bosnya. Nah, si bos itu yang maling. Dia suruhan aja.”
“Bukan, dari korupsinya dulu.”
“Ah, mana mungkin. Kalau koruptor, kenapa dinsos tadi nggak kenal?”
“Bukan koruptor, maling.”
Kali ini, tebak-tebakan tentang kantong jemaat itu sampai di seluruh kota. Jangan sampai mereka berbondong-bondong ke gereja untuk menanyakan isi, apalagi total sumbangan si bangku ketiga. Tumiyem sendiri pun tidak pernah berani mengintip walau penasaran setengah mati. Lalu, bagaimana jika mereka bertanya pasal kesuciannya? Habis sudah.
***
Misa pertama berikutnya, makin banyak orang yang datang, mulai dari berkaos biasa sampai berkemeja kantor. Entah untuk bertobat atau melihat si jemaat baru. Mereka memuja di hadapan salib sambil sesekali melirik ke bangku ketiga. Ah, ini sudah pasti keresek hitam bertuliskan MALING makin diincar.
“Oh, ini kereseknya. Beneran maling kamu? Maling di mana? Berapa banyak?”
“Beneran nggak boleh lihat nih?”
Ia melempar keresek ke kotak dan berlari keluar. Baru kali ini rasanya melihat si jemaat pergi dengan wajah memerah di tengah misa. Tersebarlah berita baru di radio ‘Jemaat yang Rajin Menyumbang Ternyata Kasar’. Berderet mobil wartawan turut parkir di depan sana. Mereka hanya mau bertemu si jemaat keresek hitam. Nyaris tak terdengar panggilan pemegang amplop. Biasanya, mikrofon berbondong-bondong ke muka pembawa amplop dengan gelar panjang atau jabatan tinggi. Semua punya kamera masing-masing. Semua punya spotlight sendiri. Namun, kali ini justru si maling yang jadi berita utama.
“Heran, kenapa semuanya jadi penasaran sama dia sih?”
“Memang kamu nggak penasaran, Jeng?”
Mereka pun sepakat mengikuti jemaat itu. Dari mana, apa, dan berapa isinya? Kalau benar maling dan jutaan rupiah, mereka makin penasaran trik sampai tidak ditangkap. Bukankah semua orang kini sudah tahu wanita itu maling? Mengapa polisi diam saja?
“Dia benar-benar maling.”
“Maling apa?”
“Maling spotlight kita. Sejak sebulan lalu, dia mulai jadi perhatian satu gereja. Sekarang, malah media. Lagian duit hasil maling jadi berita.”
Sudah dua kali si jemaat memutari alun-alun dan dua kali pula mereka mengikutinya. Sesekali ia duduk di tepi air mancur yang hanya menelan sisa-sisa hujan dan sandal jepit putus tak bertuan. Bengong, meluruskan kaki, lalu jalan lagi. Ketika keringat amat membanjiri baju-baju mahal mereka sampai terlihat seperti kaos lima puluh ribuan, tak ada satu pun orang yang kecolongan, apalagi rumah. Nihil. Ditinggalkannya jemaat itu, biarlah jika nanti memang ada duit bertambah. Mereka sungguh tidak tahan dengan sorot matahari yang begitu tajam.
***
Lonceng yang sama di antara burung-burung gereja, ruang misa kian sesak. Semua kepala celingak-celinguk. Si gembel alias si jemaat keresek hitam tidak terlihat di bangku ketiga. Keresek hitamnya pun tak muncul. Lenyap seolah ditelan bumi. Tidak ada yang tahu sisa jejaknya. Ada yang menggerutu di tengah pujian, ada yang langsung berjalan ke pintu luar. Tentu saja suara mendesis mengisi di antara nada-nada paduan suara.
“Ke mana wanita itu?”
“Kereseknya hilang.”
“Kabur? Atau pindah ke gereja lain?”
Tumiyem, romo, tukang kebun, suster, dan seisi gereja saling bertanya meski mereka sama-sama tahu tak ada satu pun yang bisa mendekati si kantong keresek dari bangku ketiga. Tak ada lagi yang namanya gembel gereja, dana umat pakai keresek bertuliskan maling, kedatangan jemaat palsu—sekadar ingin tahu orang yang berhasil mencuri tempat di berita lokal. Amplop putih, cokelat, dan merah kembali bersaing—tidak lupa gelar yang kian panjang.
***
Di kamar sepetaknya, Tumiyem kembali memutar radio. Reporter yang sama membacakan berita terbaru pasal maling di gereja. Berhentilah ia mengunyah dan kipas dimatikan, ia membiarkan keringat mengalir dari tengkuk.
Pemirsa, kami kembali ke gereja katedral kota. Polisi telah mengepung pintu-pintu bangunan ini.
Ia berlari, nyelonong di jendela. Matanya menyapu sejauh mungkin. Bukan hanya polisi yang berbaris, kamera juga memenuhi jalanan. Ibu-ibu membawa anaknya berdiri di belakang, seolah-olah ada pertunjukan sirkus di sana. Tumiyem mencengkeram kusen yang merotol. Si bangku ketiga, pikirnya.
Dilaporkan bahwa ada sejumlah uang tunai yang terlacak menjadi dana umat. Terpantau maling-maling itu keluar dengan rompi oranye.
Begitulah mata seorang Tumiyem menangkap barisan berompi keluar di bawah teriknya kota. Wajah familier yang biasa mengangkat amplop bergelar kini ditutup masker. Rambut yang sama dengan orang-orang pembawa kamera pribadi. Dress mahal milik orang-orang yang penasaran dengan isi kantong keresek dari bangku ketiga.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 7 Juni 2026.
Tentang Cerpenis
Auranita Gibrani DarmawanBisa dipanggil dengan nama Aura. Telah mempublikasikan sejumlah karya cerpennya di berbagai media daring. Terjun ke dunia penulisan sejak tahun 2024. Cerpen-cerpennya ditulis dengan berbagai latar belakang, sudut pandang, isu masyarakat. Cerpen yang bisa dibaca lewat daring, di antaranya, cerpen “Blok Sembilan”, cerpen “Kana”, cerpen “Salam Maria”, cerpen “Yogya dan Rindu”, cerpen “Bakauheni Merak”, cerpen “Penaku Dicuri”, cerpen “Merah di Arena”, cerpen “Mata yang Ingin Didengar”, dan cerpen “Paradigma di Andalas”. IG: @auragib
Testimoni Auranita Gibrani Darmawan
Sepertinya karya ini tidak punya latar belakang yang muluk. Saya sempat stres karena berpikir karya sastra yang bagus itu ya karya-karya dengan latar belakang sesuatu yang super. Sampai ditegur oleh sahabat baik saya bahwa menulis saja apa yang kamu ingin tulis—tidak harus persoalan pelik. Lahirlah cerpen sederhana ini. Silakan menginterpretasikan ke mana pun. Anggap saja saya sedang melatih kepekaan sosial kita semua. Sebab, pada dasarnya memang sastra itu sebuah cerminan hidup yang multitafsir, bukan? Orang bebas memaknainya seperti apa.
Saya harap, cerpen ini—apa pun maknanya—mampu jadi penyumbang koleksi karya sastra Indonesia dan membantu menambah semangat minat baca masyarakat. In this economy, Cerpen Sastra lagi-lagi hadir sebagai solusi untuk yang mau baca tanpa mengeluarkan uang. In this era, semoga sastra juga tetap jadi solusi untuk bersuara dalam keindahan bahasanya. Salam hormat untuk Cerpen Sastra yang selalu jadi wadah penulis-penulis Indonesia berkarya. Saya pun terus menemukan cerita baru di setiap sayembara. Tentu, inilah yang memantik saya untuk terus berlatih menjalin fakta dan fiksi.
