Cerpen Sastra

Suaka Manusia Bertungkai (Cerpen Fafa)

Lorong yang sempit itu sesak, dipenuhi orang-orang yang berlalu-lalang. Sekumpulan tangan berusaha mendorongku hingga suara berdecit cukup nyaring terdengar. Manusia dan tungkai mereka melewatiku, sebelum berbelok hingga akhirnya punggung mereka tertelan kegelapan lorong yang kumuh. Lihatlah mereka, sudah diberi tungkai yang mampu membawa mereka ke mana-mana, namun tidak satu hari pun mereka menjalani hidup dengan bahagia. Wajah-wajah mereka mengkerut, ekspresi mereka kuyu.
***

Seorang kawan lama pernah memujiku istimewa walaupun ia tidak menjelaskan alasannya. Aku hanya pernah melihatnya sekali, di hari pertama kali aku dipindahkan ke pusat perbelanjaan ini. Sejak hari itu, sudah menjadi kebiasaan untuk memperhatikan manusia-manusia yang melewatiku.

Hari ini, dua orang wanita paruh baya dengan seragam yang sama melewatiku. Di saat keduanya lewat, bau busuk bercampur segar—sungguh perpaduan yang tidak biasa—memenuhi ruangan. Aku memperhatikan kedua wanita itu dengan lebih seksama. Baju mereka setengah basah. Itukah sumbernya?

“Ayo, Marni, ambil sapu sama pel, kita sudah ditunggu Pak Santoso! Aku saja yang membersihkan kaca,” ucap wanita berambut ikal yang berjalan di depan. Wanita yang berjalan di belakang menjawab dengan wajah cemas, “Oke, Rin, tapi kalau Pak Santoso rewel lagi gimana?”

Ingin rasanya mendekatkan diri, agar pembicaraan keduanya semakin terdengar jelas. Namun sia-sia saja, sebab aku tidak bisa bergerak ke mana-mana. Sebelum benar-benar menghilang di belokan, suara wanita bernama Rin itu terdengar untuk terakhir kalinya, “Ya, mau bagaimana lagi, Mar? Orang seperti kita itu, cuman bisa terima dan sabar. Ayo! Cepat dikit jalannya!”

Seberapa hebat Pak Santoso hingga membuat Marni ketakutan?

Pada saat-saat seperti ini, ingin sekali aku memiliki tungkai penyangga seperti manusia. Tidak perlu dua, cukup satu saja agar aku bisa lebih leluasa berpindah-pindah. Baru saja aku membayangkan jika salah satu sisiku tumbuh kaki, Rin dan Marni kembali melewatiku. Kali ini kedua tangan mereka penuh, menenteng alat-alat kebersihan.

Aku menatap keduanya bersimpati. Tentu saja mereka merasa tertekan. Lihat saja lorongnya yang sempit, cat putihnya yang tidak cemerlang lagi, atau sudut-sudut plafonnya yang dipenuhi sarang laba-laba. Bagaimana ada orang yang bisa merasa bahagia melihat kesuraman ini? Setidaknya sisi lainku melihat pemandangan yang lebih elok. Bukan lorong suram, namun lorong cantik dengan lantai, dinding, dan plafon yang dihias secara menarik. Lalu mengapa wajah Marni dan Rin justru terlihat ketakutan ketika melewati lorong yang indah itu? Kembali aku memperhatikan dua punggung yang perlahan semakin mengecil hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali.
***
Marni menyeka peluh yang bercucuran di dahinya. Meskipun tangannya bersimbah air karbol, ia tidak khawatir zat keras itu akan merusak wajahnya. Kembali ia menggerakkan tangkai pel, membersihkan sisa lantai yang masih kotor. Di saat kedua tangannya bekerja, pikiran Marni justru berkelana, teringat kampung halaman.

Ah, Ibu. Kapan terakhir kali Marni melihat Ibu?
Mungkin dua … atau tiga tahun lalu. Sebelum otaknya memutar kilas balik seluruh kenangannya dengan Ibu, Marni kembali menggerakkan pel dengan lebih cepat. Jika berbuat salah sekali lagi, bisa-bisa Marni betulan dipulangkan ke kampung.

“Sudah selesai, Mar?” tanya Mbak Rina. “Kalau sudah selesai mengepel, jangan lupa dikeringkan. Jangan sampai ada yang terpeleset lagi!”

“Baik, Mbak.”

Pikiran Marni kembali berkelana, di saat ia lupa mengeringkan lantai toko Pak Santoso yang sepi. Kecerobohan Marni membuat satu-satunya pengunjung toko itu terpeleset dan urung membeli. Marni pun mendapatkan semprotan dari atasannya. Ancamannya jelas, satu kesalahan lagi dan Marni akan diskors dengan gaji yang terpotong.

“Apa moto pusat perbelanjaan kita?” tanya atasannya waktu itu.

“Pelayanan prima, pengunjung bahagia.” 

Marni pun dilepas pergi. Walaupun sudah dua minggu berlalu, ketakutan Marni tidak juga pergi. Ia menatap masygul jadwal yang tertempel pada mading di ruang petugas. Meskipun enggan, ia tetap mengambil sapu dan pel khusus untuk lantai toko dan berjalan keluar dengan gontai bersama Rina.

Suara derit pintu menyadarkan Marni dari lamunannya. Dilihatnya pintu logam yang membatasi area petugas dengan area pengunjung. Lorong suram berganti dengan kemewahan hanya dalam satu tarikan tangan, namun rasa aman Marni justru menguap tanpa bekas. Aroma harum yang menerpa Marni tepat setelah pintu terbuka tidak juga membuat perasaannya membaik. Dengan langkah yang hati-hati dan kepala yang senantiasa menunduk, Marni berjalan di belakang Rina, menuju toko Pak Santoso.
***
Di dalam tokonya, Pak Santoso sedang sibuk menghitung stok barang. Tangannya berhenti ketika mendengar suara Rina. Setelah mempersilahkan kedua petugas kebersihan itu untuk masuk, Pak Santoso tidak beranjak dari duduknya, meskipun dengan mata lelahnya ia tetap memperhatikan Marni. Marni dapat dengan jelas merasakan amarah dan dendam Pak Santoso padanya, walaupun ia juga dapat melihat ketidakberdayaan pada wajahnya.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Marni mulai menyapu dengan teliti. Ia memastikan setiap sudut terbebas dari kotoran, tak satu pun debu ia biarkan menempel pada lantai. Setelah yakin semuanya bersih mengkilap, Marni mengambil pel dan mulai menggerakannya.

“Selamat datang!” teriakan Pak Santoso membuat Marni terkejut.

Apakah ada pelanggan yang masuk?
Marni melihat bagian lantai yang baru selesai ia pel. Cepat-cepat ia kipasi agar kering. Tunggu sebentar, seperti ada yang terlupa. Tapi apa? Sapu? Sudah. Karpet? Bersih tanpa cela. Marni melihat tangkai pel yang digenggamnya. Oh… Rambu pel yang seharusnya ia pasang ketika sedang mengepel lantai! Ia lupa mengambilnya dari gudang penyimpanan!

Marni mendelik, mengikuti pergerakan pelanggan baru itu melalui sudut matanya. Ia menambah kecepatan tangannya, berharap lantai sudah kering sebelum dilewati pelanggan. Keringat Marni mulai bercucuran. Hatinya terus berdegup kencang.

Marni menyadari pelanggan itu secara perlahan mulai mendekat ke arahnya. Tiga langkah lagi, dan pelanggan itu akan memijak lantai yang basah. Bagaimana jika pelanggan kali ini lagi-lagi terpeleset?

Ingin sekali Marni mengingatkan pelanggan agar tidak menapak lantai yang sedang ia pel. Namun ia juga diperingatkan untuk tidak terlalu banyak bercakap dengan pengunjung. Tidak elok, ia ingat atasannya mengingatkan.

Satu langkah lagi. Ketika sedang memperhatikan salah satu tas kulit pada rak yang cukup tinggi, Marni tahu mimpi buruknya akan terjadi. Benar saja, ketika kaki pelanggan itu berjinjit untuk mencapai tas yang diincarnya, salah satu kaki itu justru kehilangan keseimbangan. Terpeleset jatuh dengan suara cukup nyaring.

Pak Santoso yang sedang menjelaskan produknya buru-buru membantu pelanggan itu untuk berdiri.
“Maaf, maaf, Ibu. Lantai bagian sini sedang dipel.”

Namun wajah pelanggan itu kadung pias.
“Bagaimana saya bisa tahu? Sudahlah. Saya tidak jadi beli tasnya,” ucap pelanggan itu seraya memacu kakinya keluar dari toko. Pak Santoso mendelik ke arah Marni, Marni kaget melihat kedua matanya yang berkaca-kaca. “Lagi-lagi kamu … KALIAN BERDUA! KELUAR!”

Marni yang hendak meminta maaf dihentikan oleh Rina. Rina mengedikkan kepalanya ke arah pintu keluar. Keduanya menunduk dan undur diri dari toko Pak Santoso secara perlahan tanpa satu patah kata pun. Mungkin saja kedua mata Marni saat ini tidak akan bercucuran air mata jika Rani tidak mengatakan kondisi Pak Santoso kepadanya. Kondisi yang semakin buruk karena ulahnya.

“Pak Santoso itu sudah di ambang kebangkrutan, Mar. Baginya satu pelanggan sama berharganya dengan kerja kita selama sebulan,” ucap Rani ketika keduanya sudah cukup jauh dari toko Pak Santoso.

“Aku harap kamu tidak menyimpan dendam padanya.”
Keduanya pun melanjutkan perjalanan dalam diam.

Langkah kaki mereka membawa Marni dan Rina kembali ke area petugas. Marni melihat pintu logam yang selama ini dilewatinya setiap hari. Berusaha untuk menghapus jejak air mata dan meredam debaran jantungnya, ia memandangi dua daunnya yang tertutup damai.

Air mata kembali menyeruak keluar, entah kapan ia bisa melihat pintu itu lagi.
*
Aku ingat dengan jelas pertama kali stiker larangan masuk ini pertama kali ditempel pada salah satu sisiku. Orang yang melakukannya adalah seorang pria bertubuh kurus berkeriput. Meski wajahnya menyeramkan, pria itu menatap stiker yang sudah tertempel dengan pandangan hangat. Pria itu menepuk daunku dan memujiku istimewa. Entah apa artinya, sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti.

Satu hal yang kutahu, sejak stiker itu terpasang, jadi banyak manusia yang melewatiku. Mereka mengayunkan gagangku dengan lesu, wajah mereka masam dan kusam walaupun ada juga yang ceria. Tapi mereka tidak pernah menyerah, tidak pernah berhenti datang. Mungkin itulah yang membuat manusia istimewa, selain tungkai-tungkai kaki mereka.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 15 Maret 2026.

Tentang Cerpenis
Fafa

Seorang mahasiswi arsitektur salah satu universitas di Semarang yang memiliki kegemaran membaca dan menulis. IG: @fafa_keempat

Testimoni Fafa

Pertama kali mengirimkan “Suaka Manusia Bertungkai”, saya tidak berharap banyak cerpen saya akan memenangkan sayembara. Ini adalah cerpen pertama saya yang menggunakan sudut pandang sebuah barang mati. Upaya ini menyadarkan saya bahwa dalam mengolah cerita, sudut pandang menjadi hal yang sangat berpengaruh. Melalui sudut pandang sebuah pintu, saya berusaha untuk menggambarkan rapuhnya kehidupan rakyat kecil. Marni pada cerita ini berdiri pada wilayah abu-abu di mana ia bersalah namun pada saat mendapatkan konsekuensi yang berat untuk kesalahan yang cukup kecil.

Saya sangat berterima kasih pada Cerpen Sastra dan Pak Horas yang dengan dedikasi serta pengabdiannya, mampu membina semangat sastra di Indonesia. Saya berharap dengan adanya Cerpen Sastra sebagai wadah aspirasi dan kreativitas, maka penulis-penulis sastra muda Indonesia mampu berkembang dengan maksimal.


Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *