Cerpen Sastra

Janji yang Mengikat Laki-Laki Tua (Cerpen Suyat Aslah)

Lelaki tua itu selalu memakai sweter berlengan panjang dan memakai topi model baret berwarna abu-abu yang mulai pudar. Duduk berkawan sepi di teras sebuah gedung terbengkalai yang tak jelas pemiliknya siapa. Rokok lintingan dia hisap dengan mata terpejam, seakan menikmati sesuatu yang sudah jadi bagian hidupnya.
…

Dulu saat pulang dari sekolah dasar aku selalu melihatnya di sana, hampir setiap hari. Namun seperti ada debar menakutkan saat melewatinya, apalagi saat dia memandangku dengan sorot mata milik kegarangan. Giginya yang hitam dan rambut berwarna platinum menyembul di bawah topinya. Tak ada keberanian untuk pulang sendirian. Mesti berjalan beriringan dengan teman, setidaknya kadar ketakutan jadi berkurang. Atau dalam bayanganku, jika pun dia menangkap salah satu di antara kita, masih ada yang lain yang membantu dengan teriakan.

Tapi temanku sering kali meledeknya lalu semua lari terbirit-birit sendiri oleh ketakutan yang muncul begitu saja tanpa melihat ekspresi lelaki itu. Sesaat sampai di rumah aku sering bercerita pada nenekku tentang laki-laki tua itu. Dan dia selalu menjawabnya hanya dengan gumaman tak jelas atau melompat ke pembicaraan yang lain. Dia seperti tak peduli dengan ceritaku tentang laki-laki tua itu.

Tapi itu adalah masa ketika imajinasi yang hinggap pada jiwa anak-anak dipenuhi hal-hal ajaib. Itu sudah lima belas tahun lalu, namun sampai sekarang bahkan aku masih sering melihatnya duduk di sana sendirian. Hanya saja tak ada kesan menakutkan lagi, mungkin karena aku juga tidak terlalu bocah lagi. Tubuhnya lebih kurus dan masih suka merokok. Pakaiannya tampak masai. Kutimbang umurnya mungkin sekitar tujuh puluh tahun. Dan kemarin saat aku berjalan sendirian adalah yang pertama kali dia menerbitkan suara dan baru pertama kali pula aku mendengarnya.

“Hey, Nak! Beban apa yang kau bawa?” tanyanya. Suaranya lemah dan bergetar.

Aku menoleh dan berhenti sejenak, memastikan dia benar-benar memanggilku. “Beberapa potong roti. Anda mau, Pak?” Aku sedikit tak yakin dengan sebutan ‘Pak’ yang kuucapkan sendiri, dia seumuran dengan nenekku.

Dia tak menjawab, hanya tersenyum hampir mengatupkan bibirnya, seperti ingin menyembunyikan deretan sisa gigi-giginya. Tapi secara tidak langsung membiarkan segala pikiran simpang siur dalam kepalaku, menebak-nebak jawaban atas pertanyaanku sendiri. Pelan-pelan aku mendekatinya, sorot matanya tampak seperti orang normal pada umumnya. Tangannya mengibasi udara untuk mengusir lalat-lalat di depan wajahnya.

“Anda mau roti?” tanyaku lagi.

Dia masih tak menjawabi. Kuberikan dua potong dan masih terbungkus plastik. Dia tampak senang, senyumnya mengembang.

“Kau membelinya di toko roti Coky?” tanyanya setelah dia membaca bungkusnya.
“Ya. Anda pernah ke sana?” tanyaku sambil mencari celah untuk duduk.

“Ya, untuk beberapa kantong roti limbah yang tak terpakai. Kau tahu? Aku harus datang lebih awal agar aku dapatkan itu. Itu karena ada orang yang mau menampung limbah roti untuk pakan ikan.” Tatapannya tiba-tiba suram memandang ke titik entah. “Kau mungkin bosan melihatku di sini,” sambungnya.

“Tempat yang teduh,” gumamku.

Dia mendesah sambil membuka bungkus roti itu. Dalam kepalanya seperti banyak hal berdesakan. Lebih dulu dia mencicip roti itu dengan kunyahan kenyal, gerakan dagunya saat mengunyah itu sama dengan nenekku.

“Janji telah mengikatku di tempat ini,” katanya.

Kubiarkan dia bercerita. Sementara pandanganku sibuk merayapi wajahnya, lipatan bergaris di keningnya seperti menggambarkan dunianya yang penuh pikir dalam tahun-tahun hidupnya yang tak mudah.

“Seharusnya tempat ini adalah titik perpisahan sekaligus pertemuan kembali,” katanya.
Jakunnya naik turun saat dia menelan.
“Dia sudah begitu jauh di masa lalu,” lanjutnya.

“Siapa?” tanyaku.
“Jamilah. Kita masih muda waktu itu.”
Dia menjatuhkan pandangan.

Ada dua macam perasaan yang terbit di hati hingga percakapan kita sampai di situ. Ada rasa iba setelah mendengar sepotong kisah darinya. Tapi di lain segi aku terkejut mendengar nama ‘Jamilah’ yang dia sebut. Nenekku punya nama yang sama. Namun aku tak bisa menarik garis kesimpulan dari percakapan yang terlalu singkat itu. Jika aku membawa nama nenekku pada percakapan ini, aku takut bakal ada masalah tak terduga. Bisa saja memang ada keterkaitannya dengan nenekku, meski bisa juga tidak.

“Kau beruntung tak hidup dalam tahun huru-hara itu. Para pecinta banyak yang kandas berpisah. Pertalian orang tua dan anak diputus dalam waktu lama, hingga saat kembali anak itu bahkan tak mengenalinya. Betapa mereka kering kasih sayang orangtua. Bahkan juga banyak yang lenyap tanpa kabar selamanya,” ujarnya.

“Dan Anda terus menunggunya?”
“Ya. Sampai aku benar-benar payah untuk menunggu.”

Kakinya dia gerakkan berulang kali untuk mengusir lalat yang hinggap di jari-jari kakinya. Lalat-lalat itu mengendusi kotoran kuku yang berwarna hitam. Sepotong roti telah meluncur seluruhnya ke dalam lambungnya. Sementara yang satunya dia letakkan di samping dia duduk. Aku meraba lembaran dalam kamus percakapan di kepalaku. Dan akhirnya kupilih kalimat yang kupikir tak keluar jalur cerita.

“Apa Anda masih mengenali wajah yang berevolusi puluhan tahun?”
“Aku tak yakin. Bahkan aku sudah mulai pikun dan hampir habis kesempatanku untuk bertemu.”

Lalat-lalat itu terus beterbangan di sekelilingnya. Ada yang mampir di hidungnya, ada juga yang terbang ke dekat telinganya. Dengan gerakan tangan yang mengherankan, dia berhasil menangkap dan meremas salah satu lalat itu.

“Terima kasih untuk rotinya. Terakhir kali aku makan roti limbah sekitar satu minggu lalu. Kau tahu apa yang dikatakannya? Salah satu dari mereka yang bekerja di sana, si pemilik wajah bengal memanggilku manusia busuk. Aku tak pernah ke sana lagi setelah itu,” jelasnya sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. “Lalu bagaimana Anda mencari makan sekarang?” tanyaku.

“Jangan kau khawatirkan itu. Banyak pintu belakang restoran yang bisa kuketuk. Jika beruntung aku bahkan bisa mendapatkan daging ayam sisa yang masih besar, hanya berkurang mungkin dua gigitan.”

Kali ini tawanya seperti tak menyiratkan kesedihan secuil pun.

“Aku sebenarnya sudah terbiasa menerima panggilan manusia selokan, lalat bangkai dan panggilan-panggilan konyol yang belum pernah kaudengar. Tapi aku tak seburuk itu kurasa. Aku juga terkadang bekerja di pemilahan sampah plastik. Perlu kerja dua bulan untuk bisa membeli baju ini, aku mendapatkannya di pasar loak,” sambungnya masih bisa tertawa lagi.

Kupandangi awan yang menyelimuti matahari. Berwarna abu-abu tua. Angin menggelitik kulitku hingga ke dalam pori. Aku masih ingin mendengar ceritanya, tapi besok mungkin ada waktu yang lebih baik daripada sekarang.

“Hujan sebentar lagi tumpah. Aku akan pulang, Anda juga harus pulang,” kataku.
“Pulang hanya untuk orang yang punya rumah. Rumahku di kesepian,” jawabnya.

Aku pulang terburu-buru. Suara kerikil terdengar melesak oleh pijakan kakiku. Beban di tangan sudah berkurang. Itu berarti hanya cukup untuk nenekku. Roti dengan selai nanas di dalamnya, itu kesukaannya.

Guntur mengetuk-ngetuk langit di kejauhan. Pikiranku sesekali masih dirasuki laki-laki tua itu. Aku baru saja teringat bahwa aku lupa untuk menanyakan namanya. Harusnya aku menanyakannya, mungkin saja nenekku tahu nama itu. Atau ada cerita yang tersembunyi dalam diamnya itu. Setelah sampai di rumah, langsung aku ke kamar nenekku. Hari-hari yang selalu dia habiskan di kursi goyang. Memakai kacamata kuno sambil membaca sastra lama, atau terkadang hanya memandangi ke arah luar lewat jendela yang bertirai sarang laba-laba. Kuletakkan roti itu di atas meja kecil di sampingnya. Dia memandangku tanpa kata sambil menggoyangkan pelan kursi goyangnya.

“Laki-laki tua itu menunggu seseorang, Nek,” kataku memulai.
Gerimis mulai turun dan guntur terdengar mendekat. Aku yakin nenek mendengar kataku tadi. Tapi kali ini dia hanya memandang diam pada jendela. Aku tak bisa membongkari apa yang ada dalam pikirannya. Hanya mundur perlahan dan kubiarkan dia sendiri.

Pintu tak sepenuhnya kututup, lalu aku berdiam di baliknya. Dan yang kudengar dari nenekku adalah tangisan yang tertahan. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 23 Juli 2023

Cerpenis

Suyat Aslah
Penulis antologi cerpen ‘Puspa’ (2016) dan novel ‘Sehelai Jiwa Sepi’ (2018). Kelahiran Cilacap tahun 1995. Novel yang selesai ditulis namun belum terbit berjudul ‘Philogynik’. Beberapa cerpennya dimuat di media online dan ada juga di blog pribadinya, https://suyataslah.blogspot.com dan channel YouTubenya yang baru dibuat: Aslah S, https://youtube.com/@Aslah_S. IG: @suyat_aslah.

Testimoni Suyat Aslah
Selasa, 25 Juli 2023

@cerpen_sastra, belum lama saya mengenal media ini, mungkin karena saya hampir tak suka bergentayangan di alam medsos terutama di Instagram. Sedikit terkejut dengan format penayangan dan waktu tunggunya yang begitu singkat, namun menawarkan hadiah yang setara dengan beberapa media lain dengan masa tunggu penyeleksian yang lebih lama. Itu jelas jadi kelebihan dari media ini.

Untuk kamu yang lebih suka menyimpan rapat segala keresahan di bawah bantal atau membiarkannya lapuk dalam “gudang” jiwa. Cobalah untuk memuntahkannya lewat ujung pena, lalu kirimkan tulisanmu ke @cerpen_sastra.

Jika dimuat, penghargaannya mungkin bisa membuatmu lebih baik. Penghargaan tak melulu soal uang, dengan orang lain membaca tulisan kita saja sudah bisa membuat hati kita bersuasana senang. Setidaknya orang lain tahu perasaan kita meski tak seutuhnya. Mungkin bisa dikatakan itu adalah terapi ringan dan tak perlu keluar biaya mahal untuk membuat diri kita merasa lebih baik.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *