“Fajar, antarkan pisau ini untuk diasah Wak Surya ya, Nak!” perintah Ibu. Fajar yang asik bermain laptop berdiri dan mengambil empat pisau yang sudah di bungkus koran. Ia ingin bertanya mengapa ibu tidak memakai pengasah pisau baru yang dibelinya saat pulang dari pertukaran pelajar di Jepang, tapi menahan diri. Biarlah Nak, jawab ibu ketika menerima hadiah asahan dari Fajar, upah mengasah pisau ini bisa membantu kehidupan Wak Surya.
***
Sesampai di depan rumah Wak Surya ia memanggil, namun tidak ada jawaban. Kemudian ia membuka pagar kayu yang engselnya sudah longgar dan masuk ke halaman.
Mengeraskan suara dan memajukan diri ke tangga kayu rumah panggung itu. Terlihat dari kejauhan siluet Wak Surya yang duduk di meja makan menikmati makanannya. Mustahil tidak melihat Fajar, kali ini ia tidak berteriak, hanya mengayunkan pisau yang dibungkus koran dengan harapan Wak Surya datang melihat itu. Bener saja, siluet itu berdiri dan maju menghampiri Fajar.
“Mau diasah?” tanya Wak Surya yang muncul di depan pintu, tangan kanannya belepotan dengan nasi dan sambal.
Fajar mengangguk.
“Uwak baru makan. Dari rumah gubernur tadi banyak sekali pisau yang harus diasah.”
Setelah menyerahkan pisaunya, Fajar hendak pulang melanjutkan pekerjaannya menulis laporan student exchange-nya.
“Kau hendak menemani aku mengasah pisaunya?”
Fajar memperhatikan Wak Surya, mengenakan singlet bolong, rambutnya kusut penuh debu dan sisa sarang laba-laba, kakinya belepotan lumpur. Fajar hanya mengangguk. Begitu masuk ke dalam rumah, pandangannya langsung tertuju pada papan catur dengan medali emas di atasnya, di bawahnya terpajang foto pernikahan Wak Surya dan mendiang istrinya. Semua itu masih sama seperti saat Fajar kecil. Istrinya dulu guru ngaji di kampung mereka, namun entah mengapa Fajar tak pernah merasa nyaman belajar darinya.
“Berapa pisau yang disuruh gubernur untuk Uwak asah?” tanya Fajar mengikuti Wak Surya ke belakang rumah.
“Ada ratusan, tapi karena terlalu sibuk aku menolak mengasah semua, hanya sebagian.”
“Kapan perginya, Wak?”
“Tadi pagi, ini baru pulang diantar ajudannya.”
Fajar tersenyum. Ia tidak lagi menggubris kunjungun Wak Surya ke rumah gubernur. Mereka menuruni tangga menuju tempat kerja Wak Surya. Meja yang dilapisi spanduk kampanye partai, wajah politikus yang tersenyum itu ditutupi debu kompor tungku dengan bahan bakar kayu. Meja itu dipenuhi perkakas, martil, linggis, gergaji dan asahan pisau. Meja itu juga berfungsi sebagai tempat ia masak. Di sebelah meja kerjanya berjarak seperlempar batu terdapat kandang peliharaannya yang terdiri dari ayam, angsa, dan bebek.
Di sebelah kandang tersusun kayu bakar untuk memasak. Tak jauh dari situ ada telaga dengan ember yang digantungkan pada katrol untuk menimba air. Tanpa disuruh, Fajar menimba air dan memberikannya kepada Wak Surya yang tengah mengasah pisau.
“Wak, sebentar lagi 17-an, Uwak ga pasang bendera?”
“Besok aku pasang, aku tengah mengasah pisaumu ini, bulan ini aku sibuk sekali. Aku tadi dihubungi kapolri untuk mengamankan festival di acara kampung kita.”
Fajar tersenyum lagi, lanjut menimba air di telaga. Ia tidak menggubris bau kotoran unggas di telaga, dan bulu–bulu unggas yang jatuh di sekitaran telaga itu. Wak Surya mulai mengasah. Batu asahan dibasahi dengan air yang ditimba oleh Fajar, lalu pisau digerakkan maju-mundur dengan irama mantap. Desah napasnya berat, keringat menetes dari kening, namun gerakannya lincah untuk tubuhnya yang gendut. Fajar mendekat. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan bau keringat Wak Surya yang bercampur dengan aroma kotoran unggas—bau yang menempel setiap kali ia disuruh ibunya mengasah pisau di sini. Satu per satu pisau selesai diasah. Serbuk logam bercampur batu halus menempel di bilah, meninggalkan kilau tajam yang baru.
Melihat Wak Surya yang hidup dari upah kerja serabutan membuat Fajar iba. Wak Surya seharusnya mendapat kehidupan yang layak baik dari menteri agama atau penguasa. Ia memiliki keahlian yang disebut dengan Bilal Mayat. Ia memandikan, mengkafani, dan mengubur jenazah. Itu adalah amal wajib fardu kifayah artinya jika tidak dilaksanakan maka satu kampung akan mendapat dosa.
Fajar pernah mendengar cerita itu. Suatu hari, mayat ditemukan membusuk di kampung mereka. Penduduk gempar, tak seorang pun mengenal jasad itu, dan tak ada yang mau mengurusnya. Tubuhnya penuh tato, di dadanya tampak luka tembakan, dan bau busuk mulai menyengat. “Siapa yang bakal mengurus ini?” bisik beberapa orang. Namun, itu adalah amal wajib fardu kifayah.
Wak Surya yang turun tangan. Ia menyambung selang dari kran penduduk, menaburkan bubuk kopi di atas belatung yang merayap, lalu mulai membersihkan dan mengafani mayat itu dengan tenang. Fajar membayangkan sosok Wak Surya di tengah kekacauan itu—tubuhnya gendut, wajahnya tegas, dan tangan-tangannya cekatan menghadapi hal-hal yang membuat orang lain menjauh.
Zaman itu, kehadiran Wak Surya sangat berarti. Ia kerap menjadi satu-satunya yang bisa membantu penduduk menghadapi kenyataan pahit, mayat-mayat bertato yang ditemukan begitu saja, di kampung mereka atau kampung sebelah, yang lain hanya bisa menunduk dan berbalik pergi.
“Tapi Wak, di kampung kita tidak akan ada festival, virus yang melanda sekarang melarang kita untuk membuat acara kumpul – kumpul.”
Kening Wak Surya segera berkerut, wajahnya tampak tidak senang. Kejadian beberapa waktu lalu masih mengganggunya. Saat hendak memandikan jenazah, ia dilarang oleh tenaga kesehatan karena dianggap berbahaya. Tak banyak penduduk yang memanggilnya untuk menjadi bilal mayat sehingga setahun ke depan hidupnya hanya bergantung pada upah mengasah pisau.
“Mereka pikir aku takut sama virus itu? Dasar pengecut. Aku, jika saja kapolri tidak menelfon dan meminta kepadaku jangan mengadakan festival, pasti aku akan berkeliling merayakan kemerdekaan kita.” Ia mengelap peluhnya. Wajahnya berkeringat, semua pisau sudah dia asah.
Di sebelah tempat ia mengasah pisau, Fajar melihat tumpukan sampah kol dalam goni. Ia ingat, pagi tadi saat ke pasar bersama Ibu, Wak Surya mengutip kol-kol itu untuk pakan unggasnya. Fajar menahan diri untuk tidak bertanya. Entah kenapa, bayangan Wak Surya di pasar dan Wak Surya di rumah gubernur terasa sulit dipertemukan di kepalanya.
Pisau sudah diasah. Fajar memberikan upah, Wak Surya menerima. Ia kagum melihat hasil kerjanya, pisau itu setajam pisau silet dan berkilau seperti baru. Wak Surya menaikkan celananya yang longgar ke pinggang dan membersihkan meja kerjanya sementara Fajar pulang.
***
Fajar beruntung sempat mengikuti pertukaran pelajar sebelum virus itu melanda, dan sudah pulang sebelum semua penerbangan, baik domestik dan internasional ditutup. Kegiatannya selama pertukaran pelajar adalah bermain catur. Ia akrab dengan penduduk di sana yang kebanyakan pria lanjut usia. Dengan kosakata yang terbatas ia mencoba berkomunikasi.
“Ne ojiisan, cheesu wo shite, shigoto daijoubu?” tanya Fajar ke lelaki tua di klub catur itu. Maen catur terus, apa kau tidak bekerja?
“Jangan khawatir, Nak, aku mendapat pensiun dari pemerintah dan bekerja paruh waktu di restoran sushi cukup menghidupi orang tua seperti aku.”
“Pensiun? Apakah kamu pegawai negeri?”
Orang tua itu tertawa, “Koumuin jyanai yo. Tidak, Nak, aku tidak terlalu pintar untuk menjadi pegawai negeri, hanya saja sewaktu muda aku bekerja tiga paruh waktu dan membayar pensiun dan sekarang aku bisa menikmatinya dengan satu pekerjaan paruh waktu.”
Fajar memainkan langkah yang membuat orang tua tersebut berpikir lama. Di negeri sana, para lansia bisa merasa tenang di masa tua meski hanya bekerja paruh waktu. Tapi Wak Surya? Meski sudah berbuat banyak untuk umat dan bahkan bagi “penguasa,” jasa-jasanya tak juga membuat hidup tuanya terjamin—atau mungkin itu hanya asumsi Fajar semata.
Sekembalinya dari Jepang, ia membawa asahan pisau dan tinggal di rumah ibunya untuk sementara waktu sebelum kuliah semester baru dimulai. Kesehariannya adalah menemani ibunya ke pasar dan bermain laptop di rumah. Setelah memberi pisau yang sudah diasah kepada Ibu, ia membuka lagi oleh–oleh yang ia beli di Jepang, papan catur untuk Wak Surya.
“Bu, bolehkah aku berikan ini padanya?”
“Silakan,” kata Ibu.
“Catur dan istrinya, itu dua hal yang dulu bikin masa mudanya menarik. Setelah istrinya pergi, kau lihat sendiri kan, bagaimana hidupnya jadi berat. Eh, tadi, waktu kau mengantar pisau itu, apa ia juga mengatakan kepadamu ia bertemu pejabat?”
“Ayolah, Bu. Ibu tahu kan, ia hanya sibuk dan berkhayal di kepalanya saja.” Ibu tersenyum, lalu mereka kembali ke kesibukan masing-masing.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 14 September 2025.
Tentang Cerpenis
Ilya S
Ilya S adalah nama pena dari penulis yang lahir di Tanjung Pura, Sumut dan berdomisili di Jawa Timur. IG: @cannifalrifal
Testimoni Ilya S
Karakter Fajar saya ciptakan berdasarkan seseorang yang saya kenal. Dengan menggunakan nama fiktif, saya berusaha menggambarkan wataknya yang mudah akrab dengan para pria lanjut usia. Kedekatan Fajar dengan Wak Surya di kampung, misalnya, tecermin pula pada kemampuannya menjalin keakraban dengan pria lanjut usia di negeri lain. Resep sederhana yang pernah ia sampaikan kepada saya: mendengarkan dan bertanya. Dengan resep itu saya berusaha melebarkan cerita jika seorang anak muda tertarik mendengarkan celoteh orang yang sudah tua.
Setelah naskah selesai, orang pertama yang membacanya adalah istri saya. Ia terhibur dan memberi masukan. Pikir saya, jika tidak terpilih setidaknya bisa menghibur orang yang saya sayangi. Pengalaman mengikuti Sayembara Cerpen Minggu oleh Cerpen Sastra benar-benar menjadi media belajar yang berharga bagi saya. Cerpen-cerpen yang pernah saya kirim namun belum terpilih mendorong saya untuk terus mengeksplorasi karakter dan sudut pandang dalam menulis fiksi.
