Detak jantung sang mesin penanda waktu menggema di ruang sunyi, bagai genderang yang mengiringi kesendirian. Rana memejamkan mata, bukan untuk tidur, melainkan untuk melarikan diri dari terangnya kenyataan. Ia masih sadar sepenuhnya, malah kelewat sadar. Meskipun matanya ditutup, namun pikirannya berkeliaran liar di ruang hampa tak terbatas. Dalam gulita, ia bertarung dengan wujud tak kasatmata di dalam kepalanya.
***
“Sudah makan?”
Tanpa ketukan, suara ayahnya memecah keheningan.
Rana membuka mata tapi terlalu berat untuk bangkit dari posisinya. Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya dengan tatapan cemas, namun ragu seakan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Bentar lagi, Yah. Masih kenyang,” jawab Rana dengan alasan klise.
Ayahnya melirik sekilas ke dalam kamar. Kanvas berserakan memenuhi ruangan. Beberapa kosong,beberapa setengah jadi, beberapa lainnya hanya teronggok di pojok, berselimut debu. Dari dulu sampai sekarang penilaian ayahnya tetap sama. Tak bertepuk tangan dan hanya memalingkan muka.
“Kalau aja kamu jadi dokter. Gampang, nggak perlu cari uang dari orang. Ayah tinggal kasih modal.” Kalimat itu meluncur ringan, meski tanpa mengangkat senjata, ayahnya berhasil menjatuhkannya. Ia sudah terlalu terbiasa mendengar kecewa yang dibungkus harap. Bukan yang pertama kalimat yang sama digunakan ayahnya, namun sepertinya ayahnya ingin Rana mengingatnya dengan jelas.
“Kamarnya jangan dikunci terus,” gumam sang ayah sebelum akhirnya menghilang di balik pintu, meninggalkan sunyi yang lebih berat dari sebelumnya.
Saat kecil, Rana merasa mampu menaklukkan dunia, berlari sepuasnya tanpa takut terjatuh atau terluka, bermimpi menjelajah ruang angkasa, meramu kata tanpa beban. Tapi kini, kehidupan menunjukkan wajah aslinya yang getir. Untuk sekadar berjalan pun ia tertatih. Ruang angkasa tak lagi dikejarnya. Merangkai kata pun tak lagi disukainya. Rana adalah seorang arsitek tanpa nama, bukan karena ingin, tapi karena timbangan logika dan realita menuntunnya.
Jalur kariernya dirancang seperti bangunan kokoh dari luar, kosong di dalam. Ayahnya ingin anaknya jadi dokter, cita-cita masa mudanya yang tak tercapai. Tapi Rana mencari pelarian lewat arsitektur, dan menyelipkan cinta sejatinya yaitu melukis. Sesuatu yang perlahan ia sembunyikan dari dunia, bahkan dari dirinya sendiri. Namun kini, baik karier maupun dunia kanvasnya seolah mandek, tak jua membuahkan hasil yang memuaskan.
Realitanya, harapan demi harapan mulai menguatkan sekaligus melemahkannya. Ia mencoba berkali-kali, mengikuti lomba, mengirimkan portofolio, berharap karyanya bisa berdiri gagah di galeri atau setidaknya, diterima. Tapi hasilnya selalu sama, nyaris. Tak pernah cukup. Tak pernah dianggap. Tak pernah berdiri di podium. Lama-lama, ia mulai percaya mungkin ia memang bukan siapa-siapa. Dan yang lebih menyakitkan, mungkin ia memang tak akan pernah jadi apa-apa.
Pikirannya pun melayang ke sebuah sudut familiar di dalam dirinya, sebuah pohon besar dalam benaknya. Di sana tergantung segala tanya, tentang alasan hidup, tentang cukup atau tidak cukup, tentang eksistensi. Tapi tidak pernah ada jawaban turun dari sana. Atau mungkin, tidak ada jawaban yang mampu memuaskan dahaganya. Oasis pun tak sesulit itu untuk disinggahi. Sudut itu ramai pengunjung, tapi sedikit yang kembali. Banyak yang memilih berhenti. Rana juga berhenti. Bukan karena sampai tujuan, tapi karena ia semakin tersesat. Ia menutup matanya dan kali ini menghilangkan sebagian kesadarannya. Rana terlelap, seakan jiwanya melayang ringan tanpa ada tanya.
***
Hujan gerimis membasahi aspal sore itu saat Rana melangkah masuk ke galeri kecil kota. Ia datang bukan untuk merayakan, tapi karena undangan lomba terakhir yang seperti biasa, gagal ia menangkan. Karyanya mencapai nyaris. Lukisannya bahkan tak dipajang. Masih tergulung di rumah, teronggok seperti dirinya sendiri.
Ia menyusuri barisan lukisan demi lukisan. Semuanya berbicara lebih lantang daripada dirinya. Hingga matanya menetap pada satu karya, sebuah abstraksi penuh guratan liar dan warna menyala. Nama penciptanya tertera jelas, Wawan (gajah). Bionarasi singkat sang gajah bahkan tertulis rapi di bawah lukisan. Ia mendekat untuk memastikan kembali. Matanya tak salah, seekor gajah berhasil memamerkan karyanya.
Perlombaan umum ini bahkan menerima lukisan gajah. Harga dirinya semakin terinjak. Rana dikalahkan oleh seekor gajah. Ketika sedang meragukan dirinya sendiri, seseorang menghampirinya.
“Bagus kan, Mas?”
Pertanyaan yang sok akrab dari orang asing. Seorang pemuda yang memakai topi dengan gambar gajah. Demi menjaga kesopanan, dipakainya topeng dewasanya dan berniat menjawab secukupnya.
“Yah. Bagus,” jawab Rana singkat.
“Saya bangga, Wawan bisa menang,” ucap pemuda tersebut yang menarik perhatiannya. Rana menoleh, kali ini dengan lebih niat, ia penasaran.
“Mas kenal gajahnya?” tanya Rana. Dari pertanyaan sederhana tersebut, sang pemuda membuka kisah yang tak diminta Rana. Tipe orang yang suka bercerita bahkan pada pertemuan pertama.
“Saya Hilman. Pawangnya Wawan,” pemuda tersebut membuat gestur berkenalan. Mengulurkan tangan yang entah sejak kapan menjadi simbol keramahan. Rana menyambut uluran tangan tersebut.
Lukisan gajah tersebut abstrak dengan garis dan perpaduan warna yang bisa serasi dan menghasilkan karya yang indah. Setidaknya untuk apresiasi, Rana tak pernah meragukan karya milik yang lainnya. Ia selalu menerima fakta bahwa ada yang terbaik di antara yang terbaik. Seperti mantra, ia merapalkannya pada dirinya.
Hilman membuka mulutnya. Bercerita tentang perjalanannya menjadi pawang gajah. Usianya masih muda, 24 tahun dan pengalaman menjadi pawang selama dua tahun. Hilman bercerita kehidupannya sebagai pawang gajah, makanan yang disukai gajah, gajah yang hanya tidur empat jam sementara sisa waktunya untuk makan, ingatan luar biasa gajah, fakta bahwa gajah tidak bisa melompat sampai cerita fungsi belalai gajah yang salah satunya adalah memegang kuas dan menghasilkan karya.
Rana mendengarkan dan Hilman berhasil menarik perhatiannya. Sampai pada cerita Hilman yang bertugas membantu gajah tersebut dalam melukis. Hilman pun bercerita tentang Wawan yang bisa melukis, tentang kuas yang digantung di belalainya, tentang cat yang ia pilih dan tuangkan perlahan agar tak tercecer, tentang bagaimana seekor gajah bisa bicara lewat warna. Ternyata sama seperti dirinya, Hilman mencintai melukis. Karya gajah tersebut tidak lepas dari pengaruhnya.
Dari cerita Hilman, Rana tidak sekalipun merasa bahwa Hilman keberatan tak dikenal dan tak diberi ruang. Hilman bahkan menunjukkan foto-foto hasil lukisannya dan bukan sang gajah di ponsel keluaran lama yang masih setia digenggamnya. Rana tak tahan untuk bertanya. Lukisan – lukisan indah yang sangat layak dicintai namun hanya berakhir di ponsel yang memorinya hampir penuh. Mungkin akan segera terhapus dan dilupakan.
“Ternyata ini bukan karya gajah?”
Pertanyaan sarkastik darinya. Hilman menatapnya heran. Seakan itu adalah pertanyaan aneh.
“Lukisan Wawan kok, Mas. Saya sendiri yang kasih kuas ke belalainya,” jawab Hilman.
“Semuanya diatur manusia. Emang gak keberatan? Gak punya nama? Malah gajah yang dibanggakan?” Bertubi-tubi tanda tanya keluar dari kalimatnya.
“Saya justru senang. Karena Wawan, saya bisa ngelukis lagi,” jawab Hilman.
Hilman kembali bercerita. Ia menggunakan peralatan melukis bekas Wawan sang gajah. Tidak tepat baginya untuk mengorbankan upah yang sudah susah-payah didapat untuk memenuhi egonya. Hilman merasa cukup, dapat melakukan hal yang disukainya. Sesekali ia membagikan karyanya di media sosial. Meski tak disambut meriah bagai jenius abad 21, Hilman tak menuntut pada siapa pun. Meminta validasi dan menetapkan titik kepuasan yang harus dicapai untuk merasa ada dan dihargai.
“Karya itu punya Wawan. Dia hidup, dan pilihannya mau menggoreskan ke mana kuas ke kanvas. Saya punya karya lain yang saya buat sendiri,” ucapan Hilman menyadarkan Rana.
“Saya juga melukis,” lanjut Hilman, “pakai sisa cat Wawan. Kadang saya upload ke medsos. Nggak viral. Tapi itu bukan tujuan saya.”
“Terus buat apa?” suara Rana lirih.
“Buat ninggalin sesuatu,” ucap Hilman.
“Saya nggak harus dikenal seluruh dunia. Mungkin karya saya cuma disukai satu orang atau bahkan satu gajah. Saya percaya saya ada karena alasan. Nggak harus hebat. Kadang cukup jadi kenangan indah.”
Kata-kata itu menghantam Rana lebih tajam daripada komentar ayahnya. Ia, yang selama ini mengejar sorak-sorai di atas podium megah, justru kalah oleh seseorang yang tak menginginkan tepuk tangan dan hanya ingin memberi, bahkan rela mempersiapkan podium itu dari balik bayang.
Pertanyaan yang digantungnya di pohon tersebut akhirnya terjawab. Bukan dengan cara megah ia naik ke podium dan menerima emas. Tapi dengan sebuah lukisan gajah dan pawangnya yang menamparnya dengan realita. Bahwa manusia bisa mencintai dengan tulus tanpa mengharapkan balasan cinta yang setara. Ia bisa mencintai melukis tanpa harus mengharapkan sorak-sorai dari dunia.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 20 Juli 2025.
Tentang Cerpenis
Febrina Silalahi
Berawal dari kegemaran membaca, tumbuh pula keinginan untuk ikut bercerita. Penulis pemula yang masih terus belajar dan berkembang. Gemar mengamati hal-hal kecil di sekitar, lalu menuangkannya ke dalam cerita sebagai bentuk refleksi terhadap kehidupan. IG: @dykw_ia.
Testimoni Febrina Silalahi
Sejak dulu, saya gemar membaca dan menemukan kehidupan dari tulisan. Cerpen “Lukisan Gajah” terinspirasi dari banyaknya cita-cita yang dipendam di luar sana karena berbagai alasan, baik secara sadar maupun tidak. Terkadang, manusia terus berjalan dan berlari tanpa tahu ke mana arah tujuan sebenarnya. Pencarian akan makna kehidupan, seringkali membuat kita lupa bersyukur untuk hal sederhana dan kelelahan secara emosional.
Saya menulis cerita ini sebagai ruang kecil untuk refleksi diri. Cukup sejenak saja, untuk menguatkan hati dan mencintai diri sendiri sekali lagi. Untuk teman-teman lainnya, teruslah bercerita dari sudut mana saja. Saya percaya masih banyak kisah yang menunggu untuk disuarakan. Terima kasih kepada Cerpen Sastra yang telah menjadi wadah bagi para penulis untuk terus bercerita.
