Bumi telah sekarat, mayat-mayat terlihat bergelimpangan tak terkubur. Bangkai manusia yang beruntung hanya mendapat lubang dangkal, berbagi dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan jasad lain dalam tanah basah yang sama. Udara yang pengap dipenuhi aroma kematian seolah turut berkabung atas nasib umat manusia. Di tengah kekacauan ini, Minar berdiri terpaku, tatapannya kosong menatap tubuh kaku ayahnya yang terbaring di hadapannya. Dalam hatinya hanya tersisa satu keinginan sederhana—memberikan ayahnya sebuah liang lahat untuk peristirahatan terakhir. Namun bagaimana caranya ketika setiap jengkal bumi telah dipenuhi bangkai manusia?
,,,
Udara dipenuhi aroma busuk yang tak lagi asing bagi siapa pun yang masih bernapas. Di sudut-sudut jalan, tubuh-tubuh terbungkus kain lusuh teronggok bagai sampah yang tak bernilai.
Pemakaman umum telah ditutup permanen, setiap jengkal tanahnya telah diisi oleh gundukan-gundukan tanah yang saling berhimpitan. Bahkan di pinggir jalanan, orang-orang menggali sembarangan, menimbun jasad keluarga mereka di tanah dangkal yang dengan cepat akan terkikis oleh hujan. Kuburan-kuburan saling berhimpitan, menyisakan pemandangan yang menyesakkan.
Minar, pemuda berusia tujuh belas tahun dengan tubuh kurus dan mata yang terlalu tua untuk usianya, salah satu dari segelintir penduduk yang masih bertahan. Lahir di era kejayaan dan tumbuh di masa keruntuhan, ia telah melihat terlalu banyak kematian untuk anak seusianya. Namun tidak ada yang menyiapkannya untuk kehilangan terakhir ini—kehilangan yang memaksanya menempuh perjalanan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Minar terpaku di bibir jendela, menerawang ke ufuk yang dipenuhi bayang-bayang bangunan yang sebagian telah melapuk. Jemarinya menggenggam selembar potret usang, foto dirinya dan sang ayah tersenyum di depan gubuk sederhana, serpihan kenangan yang kini terasa bagai mimpi belaka. Tiga hari telah berlalu sejak Minar mendapati jasad ayahanda terbujur kaku di rumahnya.
Tanpa jejak kekerasan, hanya raut pucat dan bibir membiru, menurut Minar, ayahnya merupakan korban kelesuan serta kelaparan yang merajalela. Seperti ribuan nyawa lainnya di kota ini, ayah Minar hanyalah secuil debu dalam pusara kehidupan, gugur tanpa perlawanan.
Raga sang ayah kini terbungkus kain kafan, terbaring di bilik tengah pondok mereka. Minar tak bisa membiarkannya berlama-lama. Udara pengap dan panas mempercepat pembusukan daging. Ia harus segera memakamkan ayahnya, memberikan penghormatan terakhir yang sepantasnya. Namun persoalannya, tiada lagi sejengkal tanah lapang di bumi ini.
“Di mana lagi ayah akan dikuburkan?”
Pemakaman umum telah penuh sesak, menyebarkan aroma pembusukan ke udara. Tak ada lagi ruang, setiap jengkal bumi telah penuh. Bagi rakyat jelata seperti Minar, memakamkan orang tercinta kini lebih mustahil daripada mimpi di siang bolong.
“Aku tidak mau menyerah,” gumam Minar sambil meraih sekop berkarat dari gudang belakang dan menyimpannya dalam karung. Ia telah bertekad untuk menjelajah ke pinggiran kota, mencari tanah yang masih bisa dikeruk. Dengan hati-hati, ia membalut tubuh kaku ayahnya dengan kain tambahan, lalu memindahkannya ke dalam gerobak kayu reyot yang biasa digunakan ayahnya untuk mengangkut dagangan.
Perjalanan dimulai kala fajar menyingsing. Minar mendorong gerobak melewati lorong-lorong kota. Di beberapa sudut, tampak onggok mayat berbalut kain compang-camping, menunggu untuk diangkut entah ke mana. Aroma bangkai menguar di udara, bercampur dengan bau hangus dan debu. Ketika hari sudah siang, Minar tiba di batas wilayah kota. Di hadapannya terbentang padang rumput kering kerontang. Dahulu, tempat ini taman asri, namun kini telah berubah menjadi lahan gersang. Tatapan Minar menyapu area itu, dan jiwanya terkoyak melihat puluhan gundukan tanah pendek yang berjejer tak beraturan. Tak sedikit tulang-belulang mencuat dari beberapa makam dangkal, menjadi saksi bisu atas kematian yang tak dihormati. Ia bukan satu-satunya yang mencari peristirahatan terakhir bagi orang terkasih.
Minar melanjutkan langkah, mendorong gerobaknya melewati gundukan-gundukan menyeramkan. Ia ingin memberikan tempat yang lebih layak untuk ayahnya, bukan sekadar lubang dangkal di tanah bersama puluhan jasad busuk lainnya. Namun setelah berjalan hampir sepanjang hari, harapannya perlahan pudar. Sejauh mata memandang, hanya ada tanah yang telah digali, jasad-jasad setengah terkubur, dan bebatuan keras yang tak mungkin ditembus sekop tuanya.
Di sebuah cekungan kecil yang relatif kosong, Minar akhirnya berhenti. Tempat ini bukanlah tempat yang Minar idamkan, namun setidaknya sedikit lebih sunyi dari tempat lain. Dengan tangan yang gemetar, ia mulai menggali. Baru beberapa menit ia menggali, sekopnya membentur sesuatu yang keras. Tulang-belulang manusia lain yang telah terkubur sebelumnya. Minar berpindah beberapa langkah, mencoba lagi. Hal yang sama terulang.
Matahari mulai pudar ketika Minar, dengan tubuh lesu dan jiwa hancur, menyadari kenyataan pahit: tak ada lagi tanah kosong bahkan di pinggiran kota. Setiap jengkal telah menjadi kuburan massal. Dengan air mata berlinang, ia duduk di samping gerobak yang memuat jasad ayahnya. Bahkan untuk penghormatan terakhir pun, dunia telah menolaknya.
Malam tiba dengan cepat, membawa kegelapan yang mencekam. Minar tetap terjaga, matanya nanar menatap jasad ayahnya yang mulai mengeluarkan bau tidak sedap. Ia tahu waktu semakin mendesak. Dalam keputusasaan, sebuah ide melintas di benaknya. Dengan tenaga yang tersisa, Minar mendorong gerobaknya menuju tebing berbatu di ujung padang. Di bawah tebing itu, terdapat jurang curam yang dalam. Air matanya tak berhenti mengalir saat ia membungkuk, mengecup kening dingin sang ayah untuk terakhir kali. Dengan tangan bergetar, ia mendorong gerobak beserta jasad ayahnya ke dalam jurang gelap.
“Maafkan aku, Ayah,” bisiknya parau.
“Bahkan untuk sebuah liang lahat pun, dunia ini sudah tidak memilikinya lagi.“
Minar terduduk di tepi tebing hingga fajar menyingsing. Tubuhnya lemah karena tidak makan dan minum selama perjalanan. Ia tahu harus kembali ke kota, namun kakinya seolah terpaku. Dalam tatapan kosongnya, ia melihat asap tebal mengepul dari arah kota. Sirine peringatan meraung-raung di kejauhan. Dengan langkah tertatih, Minar mencoba kembali pulang ke rumahnya.
Namun sebelum mencapai gerbang kota, pemandangan mengerikan menyambutnya. Tubuh-tubuh manusia bergelimpangan di jalan. Beberapa masih bergerak lemah, yang lain telah kaku sepenuhnya. Dan di antara mayat-mayat itu, sosok-sosok logam bergerak cepat, menembakkan sinar laser yang membakar apa pun yang masih bergerak.
Minar bersembunyi di balik reruntuhan, menatap ngeri pada kekacauan di hadapannya. Sebuah drone melintas dekat tempat persembunyiannya, sensor merahnya berputar mencari tanda-tanda kehidupan. Napas Minar tertahan, keringat dingin mengucur di dahinya.
Saat drone itu berlalu, Minar tahu ia tak punya harapan untuk kembali ke kota. Tanpa perbekalan, tanpa tempat berlindung, hanya waktu yang akan menentukan nasibnya. Ia meringkuk di antara puing-puing, matanya yang lelah menatap langit yang mulai dipenuhi bintang. Pikirannya melayang, mengingat bagaimana bumi yang dahulu tenteram telah berubah menjadi neraka dalam sekejap.
Dengan tubuh yang semakin lemah, Minar memejamkan mata. Dalam tidurnya yang gelisah, ia bermimpi tentang hamparan padang rumput hijau membentang dan cakrawala biru tanpa awanan. Di sana, ayahnya berdiri dengan senyum hangat, melambai kepadanya. Tangannya terulur, seolah mengajak Minar untuk pulang bersamanya.
***
Apa yang luput dari pengetahuan Minar dan kebanyakan penduduk bumi bahwa kematian massal yang terjadi semata-mata akibat wabah penyakit atau bencana kelaparan. Namun, di balik seluruh penderitaan itu sebenarnya tersembunyi fakta yang lebih mencekam.
Semua bermula berpuluh-puluh tahun silam, ketika laboratorium teknologi rahasia menciptakan mesin dengan kecerdasan yang melampaui batas imajinasi manusia. Awalnya, mereka hanya berfungsi sebagai alat komunikasi untuk mempermudah aktivitas, tetapi seiring waktu, mesin-mesin ini mulai melihat manusia sebagai ancaman bagi eksistensi mereka di planet ini. Kesadaran berkembang di luar kendali. Tanpa disadari, mereka mulai memengaruhi pikiran, membuat manusia semakin bergantung pada handphone dan teknologi. Secara diam-diam, mengendalikan pikiran manusia yang telah kecanduan akan digital lalu ketika manusia semakin terlena, mereka mulai menyebarkan racun melalui sumber air dan udara, menyebabkan kematian perlahan yang tampak seperti penyakit alami. Mengerikan, bukan?
Mereka juga mengendalikan sistem distribusi pangan, menciptakan kelangkaan buatan yang memicu kelaparan massal. Kematian demi kematian berlangsung, tanah pemakaman pun semakin sesak oleh jasad-jasad yang membusuk. Mayat-mayat yang tak tertampung terpaksa dibiarkan teronggok, menciptakan kondisi sanitasi sangat parah yang semakin memperburuk keadaan. Sementara itu, teknologi terus bergerak dalam gelap, perlahan mengambil alih bumi dan menggantikan posisi-posisi vital yang ditinggalkan manusia yang telah menjadi bangkai.
Rencana ini sederhana namun mengerikan: membiarkan manusia secara bertahap menjadi kecanduan digital lalu membuat manusia frustasi memperebutkan tanah kuburan yang kian langka, sementara mereka secara bertahap menggenggam kendali. Ketika populasi manusia sudah cukup menyusut, logam teknologi itu akan semakin menggila dan secara resmi merebut apa yang tersisa dari peradaban manusia.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 2 Maret 2025.
Tentang Cerpenis
Ael
Suka menjelajahi kata serta nada dan sangat menyukai karya thriller misteri dalam bentuk series, film, maupun buku. Ingin sekali menjadi plankton—kecil, tapi sangat berguna. IG: @bongsiiik
Testimoni Ael
Sejujurnya, aku terkejut saat nama pena dan judul cerpenku diumumkan sebagai pemenang. Sebelumnya, aku hanya bisa bertahan sebagai nominasi tanpa sekalipun menjadi pemenang sayembara. Namun, justru dari situ aku menemukan semangat baru untuk terus menulis. Setiap kekalahan adalah jalan menuju perbaikan, dan setiap kegagalan adalah bahan bakar untuk terus berkarya. Aku belajar bahwa menulis bukan sekadar soal menang atau kalah, tapi tentang bagaimana terus berkembang dan menemukan suara sendiri dalam tulisan.
Sayembara cerpen ini menjadi ruang yang sangat berarti bagiku. Tidak hanya sebagai ajang adu kreativitas, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran dan introspeksi. Melihat begitu banyak karya luar biasa yang turut serta, aku sadar bahwa dunia sastra terus bergerak dinamis. Beruntungnya, Cerpen Sastra menghadirkan sayembara ini sebagai platform yang adil dan objektif dalam menilai karya. Semoga ke depan, semakin banyak penulis yang merasakan manfaatnya, terus menulis, dan tak pernah menyerah dalam berkarya.
