Cerpen Sastra

Pesan dari Ubud (Cerpen Iola Salsabila Rahadatul ‘Aisydewi)

“Masih hujan ya?” ucapku memecah suasana yang sedikit canggung antara aku dan Made Anuraga. Rintik hujan di Ubud malam ini menemani pertemuanku dan Raga, teman kecilku semenjak di Jogja. Suasana didukung dengan pemandangan yang indah ketika dilihat dari atas sini, kupikir Raga memesan meja yang tepat. Bulir-bulir air yang menetes dari balik jendela kaca setidaknya sedikit menarik perhatianku.
…

Raga melihat sebentar ke sebelah kanannya, “Masih agak gerimis, Yu.”

Aku kembali menaruh perhatian pada Raga.

Raga melanjutkan ucapannya, “Jujur, aku nyesal, Yu. Aku nyesal kenapa aku sering banget kelahi sama Bapak dari dulu. Kenapa aku baru dekat sama Bapak di saat-saat terakhir dia mau pergi, Yu.”

Aku tersenyum tipis memandang Raga dengan iba. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Penyesalan akan kita rasakan ketika hal yang kita anggap biasanya selalu ada tiba-tiba menghilang dan pergi lalu tak pernah kembali.

“Raga, kamu boleh menyesali hal-hal yang dulu. Kamu boleh meratapi itu, tapi kalau penyesalanmu kamu anggap angin lalu, itu bodoh namanya. Mungkin dulu kamu terlalu kecewa dan menganggap keluargamu tidak adil dan tidak pernah dukung kamu. Tapi sekarang kamu bisa berubah, kamu bisa bersikap lebih baik untuk ibu dan kakakmu. Biarkan bapak melihat dari atas sana bahwa anak lanangnya sudah lebih dewasa.”

Raga terdiam. Mencoba meresapi perkataanku.

“Bener, Yu. Pemikiranku dulu terlalu bocah, aku selalu merasa ibu sama bapak ndak adil sama aku. Aku ngerasa dibanding-bandingin sama kakakku. Tapi, sebenarnya mereka pengen yang terbaik untuk aku, cuma aku salah mengartikan maksud mereka, Yu.”

Aku mengusap telapak tangan Raga, mencoba memberinya kekuatan dengan saluran sentuhan kasih yang kuberikan. Mencoba menenangkannya.
***

Aku teringat dua bulan yang lalu. Raga menelfonku dengan panik dan suara parau, “Yu, bapak, Yu.”

Hanya itu yang dapat aku dengar sebelum sambungan telepon itu terputus.

Aku mencoba menghubungi Raga berkali-kali, namun tidak diangkat. Lalu, aku bergegas menuju rumah sakit tempat bapak Raga dirawat, sebelumnya aku pernah mengunjungi beliau dua kali di rumah sakit yang sama. Setibanya di rumah sakit, aku melihat Raga yang tengah memukul kepalanya ke tembok berulang kali.

“RAGA?!”

Raga tidak menoleh dan melanjutkan hal yang sama berulang kali. Aku menahan kepala Raga dengan telapak tanganku. Kemudian ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“Bapak udah nggak ada, Yu. Aku bodoh banget.”

Aku terkejut dengan pernyataan Raga. Om Ketut, bapak Raga yang selama ini kuanggap sebagai keluargaku sendiri kini telah pergi. Aku berdiri kaku, Raga menaruh kepalanya di pundakku, lantas menangis kencang, melampiaskan rasa sedihnya. Aku mengusap punggung Raga dan berharap ini sedikit menenangkannya.

Jenazah om Ketut disemayamkan di tanah kelahirannya. Prosesi pemakaman om Ketut dilaksanakan keesokan harinya setibanya jenazah om Ketut di Ubud, rumah masa kecilnya sekaligus tempat kelahiran Raga. Usai proses pemakaman, aku menemani Raga di rumahnya.

Sejak pulang dari Pantai Sanur sebagai tempat penghanyutan abu om Ketut, Raga belum mengatakan sepatah kata apa pun dari mulutnya. Ia juga tidak makan dan minum. Hanya air mata yang perlahan mengalir tanpa disadari.
***

“Yu, udah mulai reda nih hujannya,” aku kembali memusatkan perhatian pada Raga yang tiba-tiba mengalihkan pikiranku.

“Kamu mau pulang, Ga?”

“Kamu gimana?”

“Belum, masih pengen di sini.”

Raga mengangguk paham.

“Yu, kamu kapan balik ke Jogja? Ga kangen sama orang rumah?”

“Aku belum tau sih, Ga. Belum ada jadwal libur dari kantor, masih banyak yang perlu aku kerjain. Kalo ditanya kangen mah, ya, kangen banget.”

Sejenak hanya ada suara hujan, sebelum aku melanjutkan. “Raga, semua kehilangan itu menyakitkan, tapi aku percaya, setiap kehilangan akan selalu digantikan dengan sesuatu yang baik oleh Tuhan.”

“Tapi aku ga pengen sesuatu itu kalo gantinya harus kehilangan bapak, Yu.”

“Kadang hal baiknya bukan untuk kamu, Ga. Tapi untuk bapak. Sekarang bapak udah ga harus nahan sakit lagi kan, Ga? Bapak nggak harus diam-diam seolah baik-baik aja padahal beliau udah nahan sakit yang bahkan kita ga tau udah sesakit apa.”

Raga terdiam, ntah mengamini atau menolak kata-kataku di dalam pikirannya. Aku pun belum pernah kehilangan keluarga terdekatku, setidaknya sampai detik ini. Aku tidak mengerti rasanya seperti apa. Terlebih lagi, Raga memendam penyesalan yang begitu besar di dalam dirinya. Sesuatu yang aku tahu pasti, ini adalah hal terberat yang dirasakan Raga sepanjang aku mengenalnya selama 27 tahun.
***

“Raga, Bapak rasa kamu harus mulai pikirin masa depan kamu bakal kaya gimana, Nak.”

“Maksudnya, Pak?”

“Iya, kamu mulai untuk jadikan lukisan, tulisan dan kameramu itu sebagai hobi saja. Mulailah untuk tes di beberapa perusahaan. Atau kamu mau kerja di mana? Biar Bapak bantu cari link untuk kamu.”

“Pak, aku saat ini juga lagi mulai bangun karir aku, loh, Pak. Aku juga pengen apa yang aku lakuin ini jadi tujuan hidup aku. Mungkin Bapak pikir aku ga bakal jadi apa-apa karena belum menghasilkan apa pun dari apa yang aku kerjain sekarang! Tapi suatu saat aku bakal jadi ‘orang’ dengan usahaku sendiri. Bukan dengan lank link lank link yang Bapak bilang itu!”

“Emang dari karyamu itu, mau ngasih makan apa untuk keluargamu nanti?! Jangankan untuk keluarga, untuk dirimu sendiri saja kamu masih belum beres, Raga! Gimana bisa bapak tenang-tenang saja dan membiarkan kamu untuk melakukan semua hal sesuai yang kamu inginkan. Dunia ini tidak berputar di kamu, tidak semua hal akan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Kamu itu hidup di zaman sekarang, harus realistis, Raga! Kamu susah melakukan apa pun tanpa adanya bantuan dari orang-orang penting yang jadi kenalan Bapak. Harusnya kamu bersyukur, Bapak masih mau bantu kamu cari kerja di umur segini! Udah dua tahun kamu lulus kuliah dan fokus pada senimu itu, tapi apa yang bisa kamu hasilkan? Bapak belum lihat ada perubahan dari kamu. Bapak udah pantau kamu setiap hari tapi tetap ga ada kemajuan. Bapak khawatir kamu jadi orang terbuang kalau kaya gitu terus. Ingat Raga, sekali lagi kamu itu ga bisa hidup selalu sesuai dengan keinginanmu!”

Bapak terengah-engah karena tersulut emosi. Sejatinya orang tua menginginkan kehidupan yang baik untuk anak-anaknya. Namun, cara pandang ‘baik’ antara bapak dan Raga memang sedikit berbeda.

Bapak Raga menganggap bahwa pekerjaan kantoran akan membuat kehidupan Raga mendatang setidaknya akan baik-baik saja dan tidak akan kekurangan. Sebaliknya, menurut Raga, hidup itu harus dinikmati, yang terpenting adalah bermanfaat untuk orang sekitar. Raga juga sedang berusaha, ia berpikir akan sangat menyenangkan ketika hobi yang menjadi pekerjaan justru dibayar sekaligus makna dari karya yang ia buat bisa bermanfaat untuk orang lain.

“Bapak itu emang ga pernah ngerti apa yang aku mau!”

“Loh, ya karena bapak ngerti, makanya Bapak ngomong gini. Liat kakak kamu Raga. Dia jadi apa sekarang? Karirnya bagus. Karena apa? Ya, karena dia dengerin Bapak dari awal. Dia nurut, ga kaya kamu yang susah Bapak bilangin mulai dari jurusan kuliah kamu sampai sekarang. Susah sekali kamu dikasih tahu!”

“Iya, karena Kak Dira itu cuma boneka Bapak yang bisa disuruh apa aja sesuai kemauan Bapak, kan?!”

“Kurang ajar kamu!” Tiba-tiba saja kak Dira datang dari pintu depan. Kalau sudah begini, akan bertambah panas perdebatan yang sudah panas ini. Raga pun memutuskan untuk keluar. Ia mengabaikan teriakan-teriakan dari kakaknya yang tidak terima dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan. Itu pertengkaran terakhir Raga dengan bapak sekitar enam bulan yang lalu.
***

“Yu, sebenarnya apa yang dibilang bapak dulu juga benar. Hidup ga akan selalu sesuai dengan apa yang aku mau. Tapi, aku janji bakal buktiin kalau aku bakal hidup sesuai dengan apa yang aku mau. Aku punya tujuan hidup. Bukan sebagai orang kaya, aku cuma pengen jadi orang yang bermanfaat dari hasil karya-karya aku. Ntah itu dari foto, tulisan atau lukisan yang aku buat. Tapi aku nyesel banget waktu itu jawabnya pake bentak-bentak bapak. Padahal aku tau maksud beliau untuk hidupku itu baik. Dan aku mulai sadar hidup setelah ditinggal pergi seseorang itu rasanya ga enak banget. Aku ngerasa sangat lebih baik ketika bapak masih ada.”

Itulah akhir perbincangan kami pada malam itu. Akhir dari perkataan Raga tadi benar-benar telak menamparku. Aku jadi teringat dengan keluargaku di Jogja, dan berpikir ulang untuk memaknai apa itu sebuah keluarga dan kehidupan.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 27 Oktober 2024.

Tentang Cerpenis
Iola Salsabila Rahadatul ‘Aisydewi
Akrab dipanggil Iola. Berdomisili di Pekanbaru. IG: @iolaslsbla

Testimoni Iola Salsabila Rahadatul ‘Aisydewi

Saya sudah mengikuti akun Cerpen Sastra sejak beberapa bulan yang lalu. Beberapa postingan cerita pendek dari penulis lain menarik perhatian untuk terus dibaca. Pada saat itu, hati saya belum tergerak untuk mengirimkan cerita pendek karya sendiri karena masih ada perasaan tidak percaya diri dan masih memutuskan untuk menjadi pembaca saja.

Kemudian di awal bulan Oktober, salah satu postingan Cerpen Sastra kembali menarik hati saya dan mulai berpikir untuk membuka kembali draft cerita pendek yang sudah lama mendekam di balik layar laptop. Butuh waktu beberapa minggu untuk menyelesaikan dan mengulas kembali cerita pendek yang akan diantar ke pelabuhannya.

Hingga akhirnya, cerpen berjudul “Pesan dari Ubud” menemukan kapalnya dan saat ini tengah berlayar hingga ke tempat yang bahkan tidak bisa saya ketahui. Ucapan terima kasih tentunya saya ucapkan kepada Cerpen Sastra yang mengikutsertakan salah satu karya saya untuk dapat berlayar bersama entah sampai ke pulau yang mana. Kemudian, untuk semua orang yang telah sudi membacanya juga, saya ucapkan terima kasih, karena sudah membantu pelayaran cerpen ini.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *