Suara merdu itu membacakan bait-bait puisi yang sangat indah. Semua penonton terpukau dengan penampilannya. Terlebih lagi suara dentingan piano memberikan suasana yang lebih syahdu lagi. Bramantyo memandang takjub perempuan yang berdiri di panggung. Bram merasa dia sangat familiar dengan puisi yang dibacakan.
***
Di antara sunyi yang merayap di sela malam
namamu hadir di setiap doa yang tak pernah usai
aku mengeja rindu dalam tiap embusan napas
seolah jarak adalah luka yang belajar tak sembuh
Waktu beringsut pelan
namun rinduku tak pernah melamban
ia tumbuh liar seperti hujan yang jatuh tanpa izin
menyusup ke relung hati paling dalam
menggenang menjadi kenangan yang tak mampu kusingkirkan
Jika cinta ini adalah cahaya mentari
aku adalah langit yang setia menantinya terbit
meski gelap berkali-kali menelan harap
aku tetap menunggu dengan rindu yang tak pernah selesai
…
Bram ingat puisi itu pernah dibacanya dalam buku diari merah jambu. Buku itu dia temukan saat membersihkan kafe “St Lucha” miliknya satu bulan lalu. Buku itu terselip di bawah meja yang terletak di sudut kafe. Bram sudah mencari nama atau alamat yang mungkin tertera dalam buku diari itu. Namun, dia hanya menemukan satu kata “Rindu”.
Bram penasaran dengan isi diari merah jambu itu. Meskipun Bram tahu ia tak beretika jika membuka diari orang lain. Rasa ingin tahu mengalahkan pikirannya. Bram membuka halaman pertama, berharap dia menemukan identitas atau foto pemiliknya, tetapi nihil. Lalu Bram membuka halaman berikutnya. Ternyata diari itu sebagian besar berisi puisi. Mungkin curahan hati “Sang Rindu”.
Bram membayangkan pemilik diari ini memiliki perasaan yang lembut. Larik-larik puisinya memberikan kekuatan rasa yang bisa menghanyutkan emosi para pembaca.
Aku pernah menjadi dermaga bagi segala lelahmu
menyimpan badai agar matamu tetap teduh
Kusimpan setia seperti laut yang memeluk pantai setiap senja
meski berkali-kali karang melukai dadanya sendiri
Namun kau datang membawa senyum serupa musim semi
lalu pergi meninggalkan gigil yang lebih dingin dari air hujan
khianatmu menjelma pisau tak kasatmata
yang diam-diam menikam kenangan.
Aku tahu cinta tak selalu memiliki
kadang ia hanya kisah tentang hati yang bertahan sendirian
tentang kesetiaan yang tetap bersemayam di tengah luka
tentang asa yang selalu menyelinap dalam atma
Busyet! Isi puisi ini dalam dan menyentuh sekali. Semakin banyak puisi yang dibacanya, ada sesuatu yang diam-diam menyelinap di hatinya. Entah … Bram sendiri tak bisa memaknainya. Bram yakin “Rindu” adalah tipe perempuan yang lembut dan tegar. Rasa ingin berkenalan dengan Rindu semakin besar. Semakin lama, rasa itu berubah menjadi perasaan iba, mungkin mendekati sayang. Namun, selama sebulan dia mencari informasi tak mendatangkan hasil.
Tadi sore Anita, ponakan semata wayangnya, minta diantarkan ke GK. Taman Budaya. Dia ingin menonton pertunjukan teater “Sangga Buana” yang akan menampilkan kisah tentang “Kisah Cinta dan Kesetiaan Pronocitro dan Lorojongrang”.
Bram tak menyangka jika menemukan orang yang membacakan puisi Rindu di sini.
“Apakah dia Rindu? Mungkin saja? Aku harus menemuinya seusai pertunjukan,” tekad Bram.
Dua jam Bram harus menunggu pertunjukan itu selesai. Perasaannya gelisah dan tak sabar ingin menemui pembaca puisi tadi. Dia ingin mengetahui informasi yang sebenarnya. Sesekali dia melihat di ujung panggung, mengharapkan pembaca puisi itu tampil lagi. Namun … harapan Bram tak terwujud.
“Om mau ke toilet dulu ya,” bisik Bram kepada keponakannya, “Kamu jangan ke mana-mana, ya.”
“Siap!“ Anita berkata tanpa memalingkan wajahnya ke arah panggung.
Bram bukan sekadar ke toilet, tetapi dia menuju ke belakang panggung. Bram ingin tahu apakah gadis tadi memang Rindu, pemilik diari merah jambu.
“Mas! Ada apa datang ke tempat ini. Ini khusus untuk pemain,” hardik seorang pria berseragam safari hitam, seraya menghadang langkah Bram.
“Bisakah saya bertemu dengan gadis pembaca puisi tadi, Pak. Ini sangat penting.” Bram merayu lelaki itu.
“Pertunjukan belum selesai. Silakan, nanti setelah semuanya usai, Anda bisa kembali!“ Laki-laki itu bersikeras melarang Bram. Bram memandang pria itu dengan wajah kesal. Kini dirinya terpaksa menunggu pertandingan selesai. Bram memutuskan untuk menunggu di pintu keluar. Sambil menunggu, Bram membuka diari merah jambu yang selalu menjadi penghuni tas ranselnya. Ada satu puisi yang juga sangat menyentuh hatinya.
Hidup adalah perjuangan
berbalut aneka rasa, asa dan luka
silih berganti seiring langkah
meski arah terkadang samar bayangan
Kadang kita dipeluk tawa bahagia
Kadang kita berteman dengan duka yang menyapa
Namun dari bongkahan luka merah darah
Tersimpan kekuatan mengiringi setiap langkah
Bram merasa jantungnya berdebar setiap dia membaca bait-bait puisi dalam diari merah jambu itu.
Apakah ini jatuh cinta? Kepada gadis dalam diari merah jambu yang tak jelas? Lalu Bram kembali menemui penjaga pintu belakang dan menerangkan tujuannya. Lagi-lagi penjaga itu tidak mengizinkan Bram masuk. Terpaksa Bram menunggu para pemain keluar dari ruangan itu. Sekelebat bayangan seorang gadis melintas di depan Bram. Gadis pembaca puisi milik Rindu.
“Mbak … tunggu!” teriak Bram saat melihat gadis itu keluar dari ruangan. Gadis itu menoleh ke arah Bram.
“Maaf, Anda memanggil saya?” tanya gadis itu sambil menatap Bram.
“Iya … Mbak Rindu, bukan?” Bram balik bertanya.
Gadis itu menggeleng kepala lalu menatap Bram tajam. Ada perubahan wajah saat Bram menyebutkan nama Rindu.
“Anda kenal Rindu?“
Gadis itu menatap Bram tajam, “Saya bukan Rindu.”
“Puisi yang Mbak bacakan tadi adalah karya Rindu, kan?” Bram mencecar pertanyaan lagi.
“Ya. Kok Anda tahu itu karya Rindu?” tanya gadis itu, “Anda kawan Rindu?”
“Saya Bramantyo. Saya menemukan diari merah jambu di kafe saya. Mungkin terjatuh saat pemiliknya ada di kafe saya. Saya mencoba mencari pemiliknya selama satu bulan ini. Dan tadi Mbak membacakan puisi yang ada di dalam diari ini.” Bram menjelaskan semuanya sambil memperlihatkan diari.
“Saya Kania. Apakah Anda ingin mengembalikannya langsung?” tanya gadis itu pelan.
“Berarti, Mbak kenal dengan Rindu? Iya saya ingin sekali bertemu dengan Rindu,“ tanya Bram.
“Oke. Anda bawa kendaraan? Ikuti mobil saya ya. Kita akan pergi ke tempat Rindu.”
Setelah Anita datang, Bram mengikuti mobil Kania dari belakang.
“Om … kita akan ke mana? Bukannya kita akan pulang?” protes Anita.
“Sabar ya, Sayang. Om akan menemui teman dulu,” jelas Bram yang terus mengikuti mobil Kania.
“Om … ini kan arah ke pemakaman …. Ikh serem. Kita pulang saja, Om.” Anita protes saat tahu mobil ini menuju ke pemakaman. Mengapa Kania mengajaknya pergi ke pemakaman malam-malam begini? Jam di dashboard mobil menunjukkan angka sepuluh. Bram melihat mobil Kania berhenti di pelataran parkir TPU. Dia turun dan menunggu Bram dengan tatapan tajam. Bulu kuduk Bram merinding.
“Om … yakin mau ikut tante itu? Hati-hati, Om. Kita pulang saja ya. Aku takut?” pinta Kania memelas.
Bram penasaran dan ingin mencari jawaban. Bram membujuk keponakannya untuk tidak takut. Lalu dia menghentikan mobilnya di samping mobil Kania.
“Mengapa kita ke kuburan?” tanya Bram begitu bertemu Kania. Dia menggandeng Anita yang ketakutan.
“Ayo ikuti saya,” ajak Kania tanpa banyak bicara.
Beberapa petugas berseragam menyambut.
“Kok Mbak Kania datang malam-malam begini?” tanya salah satu petugas. “Ayo saya antarkan!“
Mereka tiba di makam baru. Di atas nisan tertulis nama Rindu Wulandari. Bram tertegun membaca nama di atas nisan itu. Nama yang sudah satu bulan ini membuat hatinya berdebar. Nama itu sudah terlanjur melekat di hatinya.
“Rindu adalah saudara kembarku. Dia menderita kanker otak stadium akhir. Satu bulan yang lalu Rindu pulang dengan keadaan menangis. Dia memutuskan kekasihnya hanya karena tak ingin kekasihnya itu berduka saat kehilangan dia. Dua hari kemudian tubuhnya kejang dan tak sadarkan diri. Dia koma selama dua minggu. Rupanya Tuhan lebih sayang kepadanya.”
Kania menjelaskan semuanya dengan terisak-isak, “Sebelum koma, Rindu mencari buku diari merah jambunya.“
Bram berjongkok dan mengeluarkan diari merah jambu itu dari dalam tasnya. Ada sesuatu yang hilang dari hatinya.
“Kamu ceroboh sampai buku berharga ini tertinggal di kafeku,” gumam Bram pelan, “maaf, aku baru mengembalikannya.”
Entah mengapa ada sesak di rongga dada Bram. Tangan Bram gemetar saat meletakkan diari merah jambu di atas nisan Rindu. Bram menunduk, menatap pusara Rindu seolah ikut merasakan kesakitan gadis itu.
Ketika luka itu terus memborok
Aku tak mampu lagi menahan pedihnya
Namun aku harus pasrah menerima iradahnya
Cinta-Nya lebih utama bagiku … selamanya(*)
Cibadak, 8 Mei 2026
Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXXIV.
Testimoni Nina Sulistiati
Saya meyakini cerpen yang menarik itu tidak hanya berasal dari kuatnya alur cerita, konflik serta karakter tokoh di dalamnya, tetapi juga kekuatan emosi yang sampai kepada pembaca. Dalam cerpen”Perempuan dalam Diari Merah Jambu”, saya mencoba mengundang emosi pembaca untuk hanyut dalam isi cerita melalui larik puisi.
Ketika saya menulis cerpen ini, perjalanan kreativitas saya ditantang di tengah kondisi saya yang mengalami writers block. Ide cerita kali ini adalah bentuk ketertarikan saya dengan diari. Buku yang saya yakini berisi kenangan, ungkapan perasaan, kepedihan, dan segala rasa yang ada. Saya ingin menyentuh sisi psikologis pembaca dengan menghadirkan suasana haru dan penuh tanda tanya melalui alur sederhana tetapi penuh rasa. Saya berusaha membangun karakter perempuan dalam diari melalui puisi-puisi yang saya buat.
Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam proses kreatif saya. Saya terbuka untuk menerima masukan dan kritikan. Semoga cerpen ini memberikan manfaat untuk para pembaca. Terima kasih semua support dari sahabat penulis kepada saya.

🫠🫠 Rindu…