Pulpen Kompasiana

Pengantin Kertas (Cerpen Iqbal Muchtar)

Toko itu terletak di ujung gang, tidak jauh dari Pasar Johar yang sudah lama kehilangan masa jayanya. Nama toko itu “Sinar Abadi”. Orang-orang menyebutnya “Toko Ong” toko perlengkapan kematian yang menjual Hio, lilin merah, amplop sembahyang, juga kertas bakar yang bentuknya mirip uang.
***

Ong Tiong Ho, pemiliknya, tinggal di lantai dua bersama adiknya yang lumpuh. Istrinya sudah lama meninggal. Tidak punya anak. Ia sudah menjalankan toko itu selama lebih dari dua puluh tahun, meneruskan usaha orang tuanya. Setiap pagi ia membuka pintu toko, menyapu halaman depan, lalu duduk di belakang meja sambil melipat kertas emas. Tidak ada yang istimewa dari hari ke hari, sama saja. Pesanan datang, pesanan selesai. Tiga hari sebelum Imlek, toko mulai ramai. Sisanya sunyi.

Tapi ada satu layanan khusus yang tidak semua orang tahu: pembuatan pengantin kertas, boneka seukuran manusia, dibuat untuk upacara pernikahan roh. Biasanya dipesan oleh keluarga yang anaknya meninggal sebelum menikah. Tradisi ini sudah jarang dilakukan, tapi Tiong Ho masih menerima permintaan khusus itu. Ia tidak pernah menolak, asalkan dibayar dan harga yang pas.

Malam itu sebelum tutup, seorang laki-laki usia lima puluhan datang, mengenakan kemeja hitam mengenakan masker. Ia hanya berkata, “Perempuan. Usia dua puluh lima. Baju pengantin warna merah. Nama: Liani.”

Ia menyodorkan sebuah foto. Wajahnya tidak terlalu jelas. Sepertinya gambar dari kamera jadul, resolusinya buram. Tapi Tiong Ho sudah biasa. Ia hanya mengangguk lalu mencatat pesanan. 

“Tiga hari, ya!” katanya.
Pria itu membayar tunai. Lalu pergi tanpa meninggalkan nomor telepon.

Tiong Ho mulai membuat rangka boneka dari bambu. Ia pakai teknik yang sudah diajarkan ayahnya sejak kecil: tubuh dibentuk dari anyaman, dilapisi kertas putih, lalu ditambahkan pakaian, rambut palsu, dan riasan wajah.

Pengantin kertas itu selesai tepat waktu. Saat boneka berdiri di sudut ruangan, lampu toko sempat padam sebentar. Tapi Tiong Ho tidak menganggapnya aneh. Listrik di daerahnya memang sering bermasalah. Ia membungkus pengantin kertas itu dengan plastik bening. Lalu menunggu.

Tiga hari berlalu. Tidak ada kabar dari laki-laki yang telah memesan boneka pengantin itu. Tiong Ho menunggu sampai sore di hari keempat, menutup toko lebih lambat dari biasanya. Boneka pengantin kertas masih berdiri di belakang, lengkap dengan baju merah, mahkota bunga plastik, serta kain tipis yang menutupi wajahnya. Di tangan boneka itu, ia selipkan amplop sembahyang dengan gulungan kertas bertuliskan nama mendiang, tradisinya memang begitu.

Laki-laki itu tidak kunjung datang.

Malamnya. Tiong Ho tidak bisa tidur. Ia mendengar suara, seperti seseorang yang menyeret sandalnya. Ia abaikan suara itu, biasanya tikus yang sering membuat keributan ketika malam. Suara itu tidak juga berhenti, akhirnya ia memutuskan turun untuk memeriksa, ia mendapati boneka kertas itu tidak berdiri di tempat semula. Untungnya boneka itu tidak rusak. Tiong Ho menarik napas, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Ia tidak bicara apa-apa. Ia sudah tua, lelah, dan rasa takutnya sudah lama tumpul.
***

Seminggu berlalu, ia memutuskan untuk membakar boneka itu sendiri. Menurut tradisi, jika keluarga tidak mengambil boneka dalam waktu seminggu, pemilik toko boleh membakarnya sebagai tanda pelepasan roh. Ia membawa boneka itu ke halaman belakang. Menyiramnya dengan sedikit minyak. Menyalakan Hio. Lalu menyalakan api. Anehnya boneka itu tidak bisa terbakar. Kertasnya menghitam, pinggirannya menggulung, tapi api padam tiap kali menyentuh bagian wajah. Ia coba lagi. Kali ini ia tuang banyak minyak. Hasilnya tetap sama. Akhirnya, ia menyerah. Ia membawa boneka itu kembali masuk. Meletakkannya di gudang belakang, di antara tumpukan kardus dan gulungan kertas. Lalu mengunci pintu.
***
Malam berikutnya, adiknya menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan, membuat Tiong Ho terbangun. Saat ia masuk ke kamar adiknya, ia melihat jendela terbuka lebar. Padahal sebelum tidur, ia sudah menutup semuanya.

Adiknya menatap langit-langit. Bola matanya bergerak cepat, napasnya tidak beraturan. Tiong Ho berusaha menenangkannya. Adiknya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya menatap kakaknya tajam.

Pagi harinya, ia melihat pintu gudang belakang sedikit terbuka, dengan kunci tergeletak di lantai. Tidak ada barang berharga di gudang, untuk apa maling mengincar tempat ini? Tangannya gemetar saat membukanya lebih lebar. Boneka pengantin kertas itu. Wajahnya tampak berbeda. Riasannya lebih halus. Bibir merahnya lebih tipis, seperti baru digambar ulang. Mata boneka itu, yang awalnya kosong dan buram, kini tampak bersinar di bawah cahaya redup. Tiong Ho melangkah mundur. Cepat- cepat ia menutup pintu tanpa bicara. Ia segera mengambil foto yang diberikan oleh laki-laki yang memesan pengantin kertas dari laci. Ia periksa ulang wajah perempuan itu. Ada kesamaan. Bukan cuma riasan. Bentuk rahang. Alis. Jarak antarmata. Wajah boneka itu kini jauh lebih mirip dengan wajah asli di foto— padahal saat pertama dibuat, semua hanya berdasarkan perkiraan saja, mana mungkin bisa serupa?

Ia menatap foto itu lama sekali. Lalu menyimpannya di saku, kemudian beranjak ke lantai dua. Ia masuk ke kamar adiknya, lalu duduk di sebelahnya untuk memastikan kondisinya baik-baik saja setelah kejadian semalam. 
***

Dua hari berlalu tanpa perubahan apa pun. Toko tetap buka. Pelanggan tetap datang. Hanya suasana di dalam rumah yang berubah. Tiong Ho mulai merasa seperti ada orang lain yang mengawasinya. Saat membuka pintu toko di pagi hari, ia mendengar bunyi langkah kaki dari dalam. Saat malam hari, lampu gudang menyala sendiri. Ia periksa saklarnya, tak ada yang rusak. Tapi lampu itu tetap menyala, meski ia matikan berkali-kali.

Malam ketiga, saat ia turun untuk mengambil air, ia melihat pintu depan terbuka lebar. Udara dingin masuk, membawa aroma Hio yang menyengat hidung. Ia melihat jejak kaki berlumpur di lantai. Bukan jejak sepatu. Bukan jejak sandal. Telapak kaki telanjang, kecil, memanjang ke arah gudang belakang. Ia tidak ikuti jejak itu. Ia kembali ke atas. Duduk di kursi di sebelah adiknya. Tidak tidur sampai pagi. 
***

Besoknya, ia cetak ulang foto yang diberikan laki-laki misterius yang datang ke tokonya. Sesuatu yang sangat mencengangkan muncul saat foto itu diperbesar, ia melihat ada yang aneh di belakang gadis yang bernama Liani.

Toko dengan tulisan “Sinar Abadi”. Perempuan itu berdiri tepat di depan tokonya. Foto itu membuat tengkuknya meremang. Perempuan yang menjadi boneka—Liani—pernah berdiri di depan tokonya. Itu berarti dia bukan orang asing. Mungkin dia pernah jadi pelanggan. Tiong Ho mencoba mengingat, menggali ingatan yang telah berlalu, sayangnya wajah itu tetap buram di kepalanya. Karena rasa penasaran, ia buka arsip lama: buku pesanan, nota pembelian Hio, catatan apa pun yang ia punya.

Tahun 2001, ia menemukan nama itu tertulis rapi. “Liani.” Tidak ada keterangan apa pun. Hanya nama.

Siapa Liani?

Sebelum adiknya kecelakaan yang membuatnya lumpuh, dia sempat dekat dengan seorang perempuan Pontianak, namanya bukan Liani.

Malam itu ia memutuskan mengusir boneka itu. Bukan dibakar. Bukan dikubur. Ia angkat tubuh bambu itu, memasukkannya ke dalam kantong plastik besar, dan menyeretnya ke luar gang. Ia tinggalkan kantong itu di dekat tempat sampah di belakang Pasar Johar. Tanpa doa. Tanpa ritual apa pun. Ia pulang tanpa menoleh.
***

Pagi harinya, toko tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Lampu gudang tetap padam dengan pintu yang tertutup rapat. Tapi saat ia menyapu halaman depan, seorang anak kecil menunjuk sesuatu di pojok pintu toko.

“Om, kenapa cewek itu duduk di dalem?“
Tiong Ho berhenti menyapu. Ia melihat ke dalam. Kosong.
“Yang mana?” tanyanya.

Anak itu menunjuk lagi, lalu lari. Tiong Ho tidak memedulikan ucapan anak itu. 
***

Malam ketiga, adiknya kembali menangis. Kali ini lebih keras. Ia mengigau, mengucap satu nama berulang-ulang:

“Liani … Liani … Liani ….”

Tiong Ho terbangun. Ia masuk ke kamar adiknya, menyalakan lampu. Adiknya duduk tegak, mata terbuka. Tangan menunjuk ke arah jendela. Ia mendekat, membuka tirai. Boneka itu berdiri di bawah lampu jalan. Masih mengenakan baju pengantin merah. Plastik pembungkusnya sobek. Salah satu matanya hilang. Tiong Ho ketakutan. Ia mundur perlahan. Menutup tirai. Memeluk adiknya. Menunggu hingga pagi. 
***

Keesokan hari, toko tutup. Pelanggan datang menggedor-gedor pintu, tapi pintu tetap tertutup. Seminggu kemudian, warga melapor. Bau aneh menyeruak dari dalam toko. Saat pintu didobrak, polisi menemukan dua jasad: Tiong Ho dan adiknya. Wajah tercengang dengan mata terbelalak. Duduk di kursi.

Di gudang belakang, ada boneka pengantin kertas. Boneka itu sedang duduk kursi. Wajahnya bukan Liani. Mirip seperti Tiong Ho.(*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXIV.

Tentang Cerpenis
Iqbal Muchtar
Nomine Best in Fiction 2023, senang membaca buku-buku filsafat. Penulis Novel Aku Ustadz Matote, Antologi Cerpen Isnin di Tanah Jawa, dan Kumpulan Para Pemalas. Menulis adalah cara untuk mengabadikan pikiran, dan membiarkannya hidup selamanya. IG: @iqbal.muchtar

Testimoni Iqbal Muchtar

Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada Juri Sayembara Pulpen XXIV, Pak Acek Rudi dan juga Pendiri Komunitas Pulpen Kompasiana Bang Horas.

Senang sekali rasanya menyandang juara pertama pada Sayembara Pulpen dengan tema yang unik, Horor Mandarin. Cerita ini lahir dengan bekal pengalaman ketika di Surabaya, tepatnya saat melihat sebuah toko perlengkapan kematian khusus bagi masyarakat Tionghoa, saya berusaha meramu ketegangan demi ketegangan di dalam cerpen tersebut. Saya pun sempat mengalami hambatan karena perbedaan budaya ketika menyusun cerita ini, beruntungnya, teman sekantor yang berasal dari provinsi Jilin, negeri Tiongkok banyak memberikan pandangan khusus tentang upacara kematian bersama dengan misteri-misterinya.

Harapan saya Pulpen terus memajukan dunia literasi di Indonesia. Semoga Pulpen semakin sukses dan terus melahirkan karya-karya terbaik bangsa.

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *