Ibu,
aku menulis surat ini bukan karena aku anak yang berbakti, tapi karena aku anak yang terlambat sadar. Kalau kesadaran bisa ditukar dengan waktu, mungkin aku akan menukar seluruh umurku yang tersisa untuk satu sore saja: duduk di dapur, melihat ibu menggoreng tempe, dan pura-pura tak ada yang berubah.
***
Rumah ini masih berdiri, meski beberapa gentengnya bocor dan temboknya mulai berjamur. Meja kayu di ruang tengah tetap miring, seperti orang tua yang keras kepala menolak diluruskan.
Dulu aku sering kesal karenanya. Sekarang aku justru membiarkannya, seolah dengan begitu ibu masih punya alasan untuk tinggal. Ibu selalu percaya pada barang-barang yang hampir rusak. Sandal putus tinggal diikat. Panci gosong tinggal disikat. Anak bandel tinggal didiamkan sampai insaf. Termasuk aku.
Aku ingat betul, ibu tak pernah memarahiku dengan suara keras. Ibu lebih suka diam, dan diamnya itu seperti utang yang terus berbunga. Setiap kali aku pulang larut, ibu hanya bertanya, “Sudah makan?” Padahal jelas aku belum. Tapi ibu tak peduli pada jawabanku. Ibu hanya ingin aku duduk, mengambil nasi, dan mengunyah hidup pelan-pelan.
Sebagai anak, aku bodoh. Aku mengira ibu akan selalu ada untuk menungguku makan.
Waktu kecil, aku sering sakit. Demam, batuk, atau pura-pura sakit supaya tak masuk sekolah. Ibu selalu tahu mana yang pura-pura, tapi tetap saja ibu mengompres dahiku dengan kain basah. “Biar cepat sembuh,” katanya. Aku baru sadar sekarang: ibu mengompres bukan hanya tubuhku, tapi masa depanku yang sering terlalu panas oleh kemalasan.
Ketika aku mulai tumbuh besar, ibu mulai mengecil. Bukan badannya meski itu juga melainkan ruangnya di hidupku. Aku sibuk menjadi orang lain: murid, mahasiswa, pekerja, calon orang penting yang sering lupa pada rumah sendiri. Telepon ibu kuterima sambil lalu. Pesannya kubaca tanpa benar-benar dibaca. Aku selalu punya alasan untuk menunda pulang.
Aku lupa bahwa ibu tak pernah menunda mencintaiku.
Hari ketika ibu pergi datang seperti tamu tak diundang. Tak mengetuk, tak permisi. Aku sedang jauh, tentu saja. Aku selalu jauh di saat-saat paling penting. Ketika kabar itu datang, aku tidak menjerit. Aku hanya duduk dan merasa bodoh, seperti orang yang baru sadar dompetnya hilang setelah berjam-jam berjalan.
Pemakaman berjalan cepat. Orang-orang datang dan pergi. Doa dibacakan. Tanah ditimbunkan. Aku berdiri seperti penonton yang tak tahu harus bertepuk tangan atau pulang. Tak ada adegan dramatis. Tak ada kalimat pamungkas. Hidup memang sering begitu: tak memberi penutup yang layak. Setelah semuanya selesai, aku kembali ke rumah. Rumah yang katanya tak pernah pindah.
Tapi rasanya rumah itu telah bergeser sedikit cukup jauh untuk membuatku asing.
Aku menemukan surat-surat ibu di lemari. Ditulis di kertas bekas, kadang di balik brosur obat. Isinya pendek-pendek, seperti ibu takut menghabiskan kata-kata. “Jangan lupa makan.” “Cuaca panas.” “Hati-hati di jalan.” Tidak ada “aku rindu” atau “aku sayang”. Ibu bukan tipe perempuan yang suka pamer perasaan. Ibu bekerja dalam diam.
Dan di situlah aku kalah telak.
Aku membaca surat-surat itu satu per satu, seperti membaca ulang hidupku sendiri. Ternyata ibu selalu hadir di saat aku menghilang. Ternyata ibu selalu menungguku pulang, meski aku tak pernah benar-benar berjanji akan datang.
Ibu, aku ingin minta maaf, tapi maaf terdengar seperti basa-basi bagi orang sepertimu. Jadi biarlah aku menulis ini sebagai pengakuan: aku belajar terlambat. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu berisik. Bahwa perhatian sering datang dalam bentuk paling membosankan: pertanyaan yang sama, nasihat yang diulang, dan kesabaran yang tak pernah ditagih.
Sekarang aku mencoba hidup dengan cara ibu. Aku memperbaiki barang sebelum membuangnya. Aku menelpon orang-orang yang penting sebelum lupa. Aku belajar diam ketika marah, dan bicara ketika perlu. Aku bahkan membiarkan meja miring itu tetap miring sebagai pengingat bahwa tak semua yang tak sempurna harus disesali.
Jika surat ini sampai kepadamu, ibu, anggap saja ini surat cinta dari anak yang terlalu lama sibuk menjadi apa-apa. Aku mungkin tak bisa membalas semua yang ibu beri, tapi setidaknya aku tak lagi lupa jalan pulang. Dan kalau suatu hari aku kembali terlambat, aku harap ibu tahu: aku akhirnya mengerti.(*)
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXI.
Tentang Cerpenis
M. Hikmal Yazid
Mahasiswa. IG: @hikmalsst
Testimoni M. Hikmal Yazid
Luar biasa suatu kebanggaan, mengikuti perlombaan ini, meskipun berkali-kali gagal, menunjukkan ketatnya proses kurasi cerpen, menunjukkan cerpen yang paling terbaik, akhirnya juga bisa juara. Karya sudah bisa setara dengan juara-juara lainya. Harapannya tetap terus berkembang, Pulpen Kompasiana, semoga bisa menghasilkan dan menemukan para penulis terbaik versi Pulpen Kompasiana. Menyala, Pulpen Kompasiana.
